INDONESIA NEGARA GAGAL?
Siapa yang tidak gundah saat tahu bahwa Indonesia sudah ada dalam red zone
sebagai kategori negara gagal. Indonesia diisyaratkan sebagai negara yang gagal
hasil dari riset lembaga The Fund For Peace yang dikutip majalah Foreign Policy
edisi July 2007.
Kegagalan itu disebabkan oleh salah pengelolaan dan hilangnya kesempatan.
Dibanding negara jiran, Indonesia sudah jauh tertinggal. Eksploitasi
besar-besaran kekayaan alam Indonesia sama sekali tidak menyisakan
kesejahteraan bagi semua anak bangsa. Kemiskinan makin hari terus
beranak-pinak. Para petani seperti sapi kurus yang tiap hari diperas tanpa
mendapatkan jatah rumput semestinya. Para remaja dan pemuda kita tumbuh menjadi
generasi instan yang sangat prematur. Yang ada dalam kepala mereka hidup enak,
nyaman dan terkenal seperti program idol yang gandrung dipuja-puja lewat
eksploitasi murahan. Yang menakutkan saat kita termasuk produsen NARKOBA dan
pengguna NARKOBA yang BESAR di asia.
Kegagalan makin tampak saat para pemimpin hidup terus bercakaran dalam
konstelasi politik yang orientasinya hanya untuk keuntungan segelintir orang
(partai dan pendukung setia). Siklus pemilu 5 tahunan dan pilkadal di setiap
daerah menjadi proses PEMBUSUKAN atas nama DEMOKRASI. Tak peduli hidup makin
miskin dan susah yang penting kita dikagumi sebagai NEGARA yang DEMOKRASInya
sudah maju. Lalu tujuan akhir itu semua apa? bukankah itu semua hanya alat
bagaimana mengelola negara yang baik? jika demokrasi membawa sengsara dan
terpuruk nasib bangsa, buat apa demokrasi?.
KEGAGALAN Indonesia disebabkan juga karena kita menyia-nyiakan kesempatan.
Kesempatan yang sebenarnya sudah datang menghampiri tidak kita manfaatkan
sebenarnya. Dalam sejarah perpolitikan di Indonesia kita mengalami beberapa
momen penting untuk berubah secara total. Pertama saat SOEKARNO dijatuhkan di
era 1960 an. Pada saat itu Kita bisa merubah dan menata bangsa menjadi lebih
baik. Saya hanya menyoroti proses itu sebagai transisi kepemimpinan yang bisa
merubah atmosfer secara keseluruhan. Mungkin SOEHARTO ada benarnya saat
mecanangkan program REPELITA. Namun sayangnya semua skenario tidak berjalan
secara natural alias terlalu DIKONDISIKAN sesuai keinginan sutradara. REFORMASI
adalah kesempatan anak bangsa merubah menjadi lebih baik namun kembali metah.
REFORMASI yang dimotori oleh mahasiswa tidak diselesaikan secara tuntas.
Padahal pada saat itu semua begitu takut tidak dibilang pro reformasi. Tentara
saja harus bertekuk lutut dan sembunyi di barak-barak. GOLKAR yang sudah
dianggap sebagai kekuatan rezim lama berhasil resisten dan menjadi IMUN. jika
politikus PDIP dan kadernya siap menerima limpahan dukungan dan mempunyai ILMU
serta NIAT BAIK pada perubahan anak bangsa mugkin PDIP bisa memberi perubahan
yang lebih baik. Namun dalam PRAKTEKNYA banyak kader jalanan yang mengisi
kesempatan tersebut akhirnya tidak menjadi lebih baik karena mereka memang dari
awal bukan siapa-siapa. Hanya bermodal emosi dan nafsu belaka.
Kita masih ingat saat Laksmana Soekardi menjual murah aset-aset bangsa.
Dahulu Soekarno berusaha menasionalisasi perusahaan asing ironisnya para
Soekarnois malah menjual ke asing. Lebel asing memang menaikan harga diri dan
membuat bangga daripada lebel nasional. Bukan karena kita tidak mempunyai
kemampuan dalam mengelola tapi karena kita sudah dirusak oleh paham
MATERIALISME. Jalan pintas atau potong kompas menjadi trend untuk meraup
kekayaan melalui korupsi berjamaah. Kita pun akhirnya menjadi PERMISIF dan
melihat itu sebagai keseharian dalam hidup kita. Nos problemos asal saya
kecipratan.
Bopeng yang menghias wajah kita lainnya adalah persekongkolan JAHAT antara
para PEMILIK MODAL atau KAPITALIS dengan para PENGAMBIL KEPUTUSAN. Kejahatan
mereka memakan korban yang tidak berbilang jumlahnya di pelosok tanah air.
Mulai dari kelas teri sampai kelas kakap. Mereka adalah drakula penghisap darah
rakyat yang tidak punya hati nurani memakan anggaran dan mengakali menjadi
sebuah proyek seolah-olah atas nama rakyat dan untuk kepentingan rakyat. Contoh
klasik adalah pembangunan jalan. Kenapa jalan-jalan di kita cepat RUSAK? karena
jenis VAMPIR itu juga doyan MAKAN ASPAL!.
Wajah kita semakin kusam saat antrean MINYAK TANAH yang seharusnya hanya
terulang cukup sekali saat sebelum GESTAPU malah kembali terulang. Media global
seluruh dunia menyiarkan, Inilah wajah kita saat ini. Mungkin mereka mencibir:
hari gene masih antri minyak tanah?!. Katanya negara kaya?, mana?!. Sekolah
dasar yang menjadi pilar pendidikan hampir merata kondisinya RUSAK PARAH! dan
ambruk.
Media televisi di Indonesia harus ikut bertanggung jawab atas peran mereka
yang memberikan sumbangan KEBOBROKAN MORAL!. Tayangan dari program TV kita
memang minim yang mendidik untuk menjadi lebih baik. Isyarat seks bebas dijual
terang-terangan lewat sintron remaja dan program intertainment lainnya. Tidak
aneh jika sekarang hampir 2 FILM PORNO LOKAL setiap hari dibuat.
Bagi setiap insan Indonesia memang perlu meREVOLUSI cara hidup dan bagaimana
untuk bertahan dalam hidup saat ini di tanah air. Semua kembali kepada
keyakinan bahwa tidak ada yang tidak mungkin!. Semua menjadi mungkin saat kita
mau berusaha KERAS. Tinggal darimana kita mulai bergerak dan bagaimana kita
mengakhiri. Masih banyak jalan menuju Roma! Ayo bangkit! dan segeralah
merevolusi hidupmu!.
---------------------------------
Shape Yahoo! in your own image. Join our Network Research Panel today!