Yang bikin ngacak negara ini adalah Soeharto utang di luar negri.  Partai 
Nangka masih berkuasa Rezim masih bercokol dan mengakar. Saya  predikisi 2009 
juga belum tentu mampu ada pemimpin yang mengayomi  rakyat dari kemiskinan.

  
  Fuad Hasyim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                        
    
Pak Saprudin,
   
  Saya  lihat laporan lengkapnya di Foreign Policy, Indonesia mengalami  
improvement kok by +4.8 point di banding tahun 2006. Kalau kita memang  
"setuju" dengan indikator2 dan survey method yg mereka pakai, berarti  masih 
tersedia ruang besar for improvement bagi Indonesia untuk terus  maju dan 
keluar dari daftar "The Failed States Index" itu. Siapa  yang bisa melakukan 
improvement itu? Ya siapa lagi kalo  bukan tugas kita2 dan anak2 cucu kita di 
masa depan.

SaLAM
   
  ----- Pesan Asli ----
Dari: SP Saprudin <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Senin, 3 September, 2007 9:06:22
Topik: Hal: [WongBanten] INDONESIA NEGARA GAGAL?

      
  
  Pak Lawang, masa sih negara kita gagal? Oh pantesan orang Malaysia menyebut 
bangsa kita dengan sebutan "INDON".
  Tahukan sebutan INDON, menurut orang Malaysia INDON itu  diibaratkan dengan 
GAJAH BENGKAK YANG DUNGU ALIAS IDIOT gak bisa ngurus  badannya.
   
   
SP Saprudin   

  ----- Pesan Asli ----
Dari: Lawang bagja <lawang.bagja@ yahoo.com>
Kepada: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Terkirim: Sabtu, 1 September, 2007 12:43:50
Topik: [WongBanten] INDONESIA NEGARA GAGAL?

      
     INDONESIA NEGARA GAGAL?
   
   
   
  Siapa yang tidak gundah saat tahu bahwa Indonesia sudah ada dalam  ‘red 
zone’ sebagai kategori negara gagal. Indonesia diisyaratkan  sebagai negara 
yang gagal hasil dari riset lembaga The Fund For Peace  yang dikutip majalah 
Foreign Policy edisi July 2007.
   
  
  Kegagalan itu disebabkan oleh salah pengelolaan dan hilangnya kesempatan. 
Dibanding negara jiran, Indonesia sudah jauh tertinggal. Eksploitasi 
besar-besaran kekayaan alam Indonesia sama sekali tidak menyisakan 
kesejahteraan bagi semua anak bangsa. Kemiskinan makin hari terus 
beranak-pinak. Para petani seperti sapi kurus yang tiap hari diperas tanpa 
mendapatkan jatah rumput semestinya. Para remaja dan pemuda kita tumbuh menjadi 
generasi instan  yang sangat prematur. Yang ada dalam kepala mereka hidup enak, 
nyaman  dan terkenal seperti program idol yang gandrung dipuja-puja lewat  
eksploitasi murahan. Yang menakutkan saat kita termasuk produsen NARKOBA dan 
pengguna NARKOBA yang BESAR di asia.
   
  Kegagalan makin tampak saat para pemimpin  hidup terus bercakaran dalam 
konstelasi politik yang orientasinya hanya  untuk keuntungan segelintir orang 
(partai dan pendukung setia). Siklus  pemilu 5 tahunan dan pilkadal di setiap 
daerah menjadi proses PEMBUSUKAN atas nama DEMOKRASI.  Tak peduli hidup makin 
miskin dan susah yang penting kita  ‘dikagumi’ sebagai NEGARA yang 
DEMOKRASInya sudah maju. Lalu tujuan  akhir itu semua apa? bukankah itu semua 
hanya alat bagaimana mengelola  negara yang baik? jika demokrasi membawa 
sengsara dan terpuruk nasib  bangsa, buat apa demokrasi?.
   
  KEGAGALAN Indonesia disebabkan juga karena kita menyia-nyiakan  kesempatan. 
Kesempatan yang sebenarnya sudah datang  menghampiri tidak kita manfaatkan 
sebenarnya. Dalam  sejarah perpolitikan di Indonesia kita mengalami beberapa 
momen  penting untuk berubah secara total. Pertama saat SOEKARNO  dijatuhkan di 
era 1960 an. Pada saat itu Kita bisa merubah dan menata  bangsa menjadi lebih 
baik. Saya hanya menyoroti  proses itu sebagai transisi kepemimpinan yang bisa  
merubah atmosfer secara keseluruhan. Mungkin SOEHARTO ada  benarnya saat 
mecanangkan program REPELITA. Namun sayangnya semua  skenario tidak berjalan 
secara natural alias terlalu DIKONDISIKAN  sesuai keinginan sutradara. 
REFORMASI adalah kesempatan anak bangsa merubah menjadi lebih baik namun 
kembali metah.
   
  REFORMASI yang dimotori oleh mahasiswa tidak  diselesaikan secara tuntas. 
Padahal pada saat itu semua begitu takut  tidak dibilang pro reformasi. Tentara 
saja harus bertekuk lutut dan  sembunyi di barak-barak. GOLKAR yang sudah 
dianggap sebagai kekuatan rezim lama berhasil resisten dan menjadi IMUN. jika 
politikus PDIP dan kadernya siap menerima limpahan dukungan dan mempunyai ILMU 
serta NIAT BAIK pada perubahan anak bangsa mugkin PDIP bisa memberi perubahan 
yang lebih baik. Namun dalam PRAKTEKNYA banyak kader ‘jalanan’  yang 
mengisi kesempatan tersebut akhirnya tidak menjadi lebih baik  karena mereka 
memang dari awal bukan siapa-siapa. Hanya bermodal emosi  dan nafsu belaka.
   
  Kita masih ingat saat Laksmana Soekardi menjual murah aset-aset  bangsa. 
Dahulu Soekarno berusaha menasionalisasi perusahaan asing  ironisnya para 
Soekarnois malah menjual ke  asing. Lebel asing memang menaikan harga diri dan 
membuat bangga  daripada lebel nasional. Bukan karena kita tidak mempunyai 
kemampuan  dalam mengelola tapi karena kita sudah dirusak oleh paham 
MATERIALISME.  Jalan pintas atau potong kompas menjadi trend untuk meraup 
kekayaan  melalui korupsi berjamaah. Kita pun akhirnya menjadi PERMISIF dan  
melihat itu sebagai keseharian dalam hidup kita. Nos problemos asal  saya 
kecipratan.
   
  Bopeng yang menghias wajah kita lainnya adalah persekongkolan  JAHAT antara 
para PEMILIK MODAL atau KAPITALIS dengan para PENGAMBIL  KEPUTUSAN. Kejahatan 
mereka memakan korban yang tidak berbilang  jumlahnya di pelosok tanah air. 
Mulai dari kelas teri sampai kelas  kakap. Mereka adalah drakula penghisap 
darah rakyat yang tidak punya  hati nurani memakan anggaran dan mengakali 
menjadi sebuah proyek  seolah-olah atas nama rakyat dan untuk kepentingan 
rakyat. Contoh  klasik adalah pembangunan jalan. Kenapa jalan-jalan di kita 
cepat  RUSAK? karena jenis VAMPIR itu juga doyan MAKAN ASPAL!.
  Wajah kita semakin kusam saat antrean MINYAK TANAH yang seharusnya  hanya 
terulang cukup sekali saat sebelum GESTAPU malah kembali  terulang. Media 
global seluruh dunia menyiarkan, Inilah wajah kita saat  ini. Mungkin mereka 
mencibir: “hari gene masih antri minyak  tanah?!”. Katanya negara kaya?, 
mana?!. Sekolah dasar yang menjadi  pilar pendidikan hampir merata kondisinya 
RUSAK PARAH! dan ambruk.
   
  Media televisi di Indonesia harus ikut bertanggung jawab atas  peran mereka 
yang memberikan sumbangan KEBOBROKAN MORAL!. Tayangan dari  program TV kita 
memang minim yang mendidik untuk menjadi lebih baik.  Isyarat seks bebas dijual 
terang-terangan lewat sintron remaja dan  program intertainment lainnya. Tidak 
aneh jika sekarang hampir 2 FILM  PORNO LOKAL setiap hari dibuat.
   
   
  Bagi setiap insan Indonesia memang perlu meREVOLUSI cara hidup dan  bagaimana 
untuk bertahan dalam hidup saat ini di tanah air. Semua  kembali kepada 
keyakinan bahwa tidak ada yang tidak mungkin!. Semua  menjadi mungkin saat kita 
mau berusaha KERAS. Tinggal darimana  kita mulai bergerak dan bagaimana kita 
mengakhiri. Masih banyak  jalan menuju Roma! Ayo bangkit! dan segeralah 
merevolusi hidupmu!.

    

---------------------------------
  Shape Yahoo! in your own image. Join our Network Research Panel today!   






  
---------------------------------
  Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers 

  



        
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers
      
                                                    

       
---------------------------------
Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story.
 Play Sims Stories at Yahoo! Games. 

Kirim email ke