Wah hebat mau bikin jembatan di selat Sunda. Eh..selat sunda kan jalur patahan lempengan yang aktif, terus ada gunung Krakatau yang juga masih aktif. Kira-kira kayak gimana bentuk konstruksi jembatan itu ya? Kalau terjadi pergeseran lempengan di selat Sunda atau gunung Krakatu meletus, apakah akan ada dampaknya terhadap jembatan tsb? Aduh saya suka berburuk sangka jika melihat realita proyek pembangunan sarana transportasi. Sebab banyak kasus jembatan baru dibangun, tidak ada gempa, tidak ada banjir tiba-tiba ambrol. Apalagi rencana pembangunan jembatan Selat Sunda adalah mega proyek yang menelan biaya TRILYUNAN RUPIAH, Masya Allah....jika pembangunan jembatan dilakukan asal jadi, jangan-jangan......jangan...jangan....kesenggol ikan hiu juga bisa ambrol...... Mudah-mudahan saja, rencana pembangunan jembatan selat sunda dilaksanakan dengan serius. Ya serius dalam membuat konstruksinya dengan mendatangkan tenaga-tenaga ahli (pakar) dalam bidang konstruksi jembatan di laut, yang pastinya memperhatikan kontur tanah dan kondisi alam bawah laut, serius dalam penggunaan dananya tidak ucrat acret masuk kantong-kantong pribadi. Dan yang terakhir mudah-mudahan rencana pembangunan jembatan SELAT SUNDA kelak mendatangkan keberkahan bagi masyarakat kedua propinsi (Banten dan Lampung). Dan mudah-mudahan rencana pembangunan jemabatan ini bukan hanya mercu suar yang sekedar mempopulerkan nama Banten dan Lampung belaka. Namun lebih dari itu rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda bisa berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat kedua propinsi. SP Saprudin
----- Pesan Asli ---- Dari: Yusron Heryono <[EMAIL PROTECTED]> Kepada: [email protected] Terkirim: Selasa, 23 Oktober, 2007 8:57:28 Topik: [WongBanten] FW: [Manager-Indonesia] Jembatan Bakauheni-Merak, Titian Selat Seribu Rintangan Jembatan Bakauheni-Merak, Titian Selat Seribu Rintangan Jabat tangan erat itu terjadi antara Ratu Atut Chosiyah dan Sjachroedin Z.P., Rabu dua pekan lalu. Dua orang yang masing-masing menjabat sebagai Gubernur Banten dan Gubernur Lampung itu baru saja meneken memorandum of agreement (MoA) pelaksanaan pre-feasibility study pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS). Pelaksana proyek pra-studi kelayakan tersebut adalah Wiratman Associates-AG Network. Dari pihak kontraktor, penandatanganan ini dilakukan oleh Prof. Dr. Wiratman Wangsadinata. Di antara tamu yang hadir, tampak pula bos Grup Artha Graha, Tommy Winata, yang menjadi penyandang dana penelitian ini. Nota perjanjian tiga pihak itu dibuat di atas kapal pesiar mewah Tunas Wisesa 03 milik Tommy Winata yang tengah berlayar mengarungi Selat Sunda. Seremoni yang disaksikan pejabat teras kedua provinsi tersebut merupakan perkembangan lebih lanjut proyek pembangunan JSS, yang diperkirakan menelan biaya sebesar US$ 10 milyar. Sebelumnya, pertengahan Agustus lalu, Pemerintah Provinsi Banten dan Lampung telah membuat memorandum of understanding (MoU) percepatan pembangunan Jembatan Selat Sunda. Nota kesepahaman terdahulu itu membicarakan dukungan dan fasilitas yang diberikan kedua provinsi untuk mendorong percepatan realisasi jembatan sepanjang 29 kilometer tersebut. Dengan perkembangan terakhir ini, jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatera itu semakin dekat dengan kenyataan. Kesepakatan tripartit itu mengusung komitmen melakukan studi kelayakan lebih serius dan mendalam. Ratu Atut Chosiyah mengatakan, kesepakatan ini sebetulnya bukan langkah implementasi proyek JSS. "Ini merupakan studi komprehensif sebelum diputuskan apakah Jembatan Selat Sunda ini dapat dibangun atau tidak,'' kata Atut Chosiyah usai penandatanganan nota perjanjian itu. Studi ini direncanakan makan waktu hingga dua tahun. Dalam pelaksanaannya, survei mendalam ini akan melibatkan puluhan ahli dari berbagai disiplin ilmu. Mereka akan meninjau kondisi struktur tanah dan arus laut Selat Sunda dari berbagai aspek. Diharapkan, tahun 2009 diperoleh kepastian tentang kelangsungan proyek ini. Seluruh biaya studi tersebut dibiayai AG Network, anak perusahaan Kelompok Artha Graha. Tak jelas, berapa nilai penelitian ini. Menurut Gubernur Lampung, Sjachroedin Z.P., apabila studi tersebut menunjukkan hasil positif, maka kedua provinsi akan membentuk konsorsium yang menangani pelaksanaannya. Karena itu, ia meminta pemerintah pusat serius mendukung. "Kami berharap, tahun depan JSS menjadi program prioritas Bappenas," katanya. Ide menghubungkan kedua pulau penting di Indonesia itu sebetulnya digagas sejak tahun 1986. Namun wacana itu tak pernah ditindaklanjuti secara serius. Selama 20 tahun lebih, konsepnya terus mendekam di laci birokrasi. Gangguan utama proyek ini terutama masalah alur laut kepulauan Indonesia (ALKI). Selat Sunda merupakan salah satu jalur utama penghubung kepulauan Indonesia. Jalur ini menjadi prioritas lintasan kapal yang memasok berbagai komoditas produksi dan konsumsi, sehingga tidak boleh terhalang jembatan. Itulah sebabnya, dukungan pada ide ini belum bulat betul. Pihak legislatif di Banten, kabarnya, masih belum satu suara. "DPRD belum pernah menyetujui. Jadi, penandatanganan itu liar," kata anggota DPRD Banten, Zainal Abidin. Keberatan datang pula dari sebagian warga Cilegon yang menilai keberadaan jembatan itu nanti akan mematikan moda angkutan penyeberangan feri. Di pihak pelaku transportasi darat, jembatan tersebut amat ditunggu-tunggu. Keberadaannya diharapkan menjadi solusi masalah klasik kemacetan di pelabuhan. Selama ini, penyeberangan dengan kapal feri tak sepenuhnya mampu mengatasi persoalan. Pada saat volume transportasi meningkat, kemacetan di Pelabuhan Merak dan Bakauheni masih terus terjadi. Kemacetan di kedua titik itu bisa mencapai 14 kilometer. Gangguan ini bisa lebih parah oleh berbagai masalah, seperti faktor gelombang tinggi hingga buruknya pelayanan. Ini semua menciptakan rasa tidak nyaman dan inefisiensi dalam bisnis. Sampai sekarang, masalah ini masih menjadi pemandangan rutin. Padahal, jumlah kendaraan yang melintasi jalan melalui jalur itu semakin meningkat setiap tahun. Hal ini sedikit banyak mempengaruhi perekonomian di kedua daerah tersebut. Lampung dan provinsi lain di Sumatera kebanyakan merupakan penyuplai komiditas pertanian dan perkebunan yang produktif. Arus barang dari Sumatera ke Jawa dan sebaliknya selama ini amat tinggi. Setiap hari, rata-rata 25.000 unit kendaraan pribadi dan niaga beserta 70.000 orang melintasi selat ini. Berbagai komoditas juga diangkut melalui jalur ini. Untuk batu bara saja, setiap tahun tak kurang dari 1,2 juta ton diseberangkan dari Sumatera ke Pulau Jawa. Untuk itu, pendapat Atut Chosiyah barangkali ada benarnya, diperlukan regional setting dua provinsi agar ide ini cepat terwujud. Mujib Rahman [Ekonomi, Gatra Nomor 48 Beredar Kamis, 11 Oktober 2007] http://www.gatra. com/artikel. php?id=108842 ________________________________________________________ Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! http://id.yahoo.com/
