Kang Bayu, ini saya copy paste tulisan dari sebuah milis, mudah2an menjawab 
pertanyaannya....Tapi kalau belum puas, kang bayu bisa cari dengan cepat di 
google, mungkin ada penjelasan lain yang berbeda...

RADIASI DI RUMAH SAATNYA DICERMATI
Oven microwave disebut-sebut memancarkan radiasi berbahaya karena menggunakan 
gelombang elektromagnetik tingkat tinggi sebagai sumber panasnya. Lalu 
bagaimana dengan telepon seluler dan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi 
(SUTET) jika kebetulan kita berumah di bawahnya? Simaklah penjelasan DR Rachmat 
W. Adi dari Departemen Fisika unit Fisika Medis FMIPA Universitas Indonesia 
berikut ini.

MICROWAVE 
Microwave disinyalir menimbulkan gelombang elektromagnetik yang cukup besar. 
Akan tetapi, gelombang elektromagnetik tersebut tidak dapat tembus ke luar 
karena tertahan oleh tabung logam pada microwave sehingga tubuh pun aman dari 
paparan radiasi elektromagnetik. 
Untuk lebih amannya, usahakan peralatan elektronik tersebut terpisah agak jauh 
dari tubuh pengguna. Lamanya kontak juga hendaknya diminimalkan. 
Artinya, gunakan microwave hanya untuk keperluan tertentu yang mendesak seperti 
menghangatkan penganan. Tak kalah penting, ikuti petunjuk penggunaan dengan 
baik seperti yang tertera di buku manual. 
TELEPON GENGGAM 
Telepon seluler yang makin memasyarakat tak luput dari sorotan. Karena 
gelombang elektromagnetik yang dipancarkannya mencapai 1,8 gigahertz, maka zona 
penggunaan HP yang menempel di bagian kepala menimbulkan kekhawatiran 
tersendiri. Bisakah gelombang elektromagnetik yang dipancarkannya menembus 
lapisan otak hingga suatu saat akan menimbulkan gangguan?
Berdasarkan penelitian terbaru di Denmark, pengguna HP tidak terbukti lebih 
rentan terkena kanker otak dibanding mereka yang bukan pengguna. Toh kecurigaan 
ini juga tidak dibarengi dengan kecenderungan meningkatnya populasi penderita 
kanker otak seiring dengan menjamurnya penggunaan ponsel akhir-akhir ini. 
Namun diakui bahwa jika dipakai terlalu lama, ponsel umumnya akan menimbulkan 
efek panas. Ini disebabkan gelombang turun naik pada HP yang mengakibatkan 
kumpulan energi penyebab panas. Sama halnya bila kita menggosok-gosokkan 
tangan, maka kulit yang tergosok pasti akan terasa panas. Itulah sebabnya, jika 
terlalu lama menggunakan HP, telinga kita akan terasa panas. Bahkan ada yang 
mengalami bengkak di telinga akibat HP. 
Karena itu, gunakan HP sewajarnya alias jangan terlalu lama. Kalaupun sibuk, 
sebaiknya gunakan handsfree agar jarak antara HP dengan kepala semakin jauh. 
Dengan demikian gelombang elektromagnetik yang ditimbulkannya pun bisa 
diminimalkan. 
SUTET 
SUTET diduga kuat bisa menimbulkan gangguan kesehatan pada masyarakat yang 
tinggal di bawahnya. Bermacam-macam gangguan dapat terjadi, dari leukemia, 
jantung, pusing, mual-mual dan sakit kepala. Betulkah demikian?
Secara teori SUTET yang banyak terdapat di tanah air relatif aman karena medan 
elektromagnetiknya hanya 50-60 kilohertz. Angka ini tentu tidak seberapa 
dibanding dengan kekuatan medan magnet komputer terbaru yang mencapai 3 
gigahertz. Bahkan nilai ambang batas radiasi elektromagnetik kebanyakan SUTET 
di tanah air sangatlah kecil. Rata-rata di bawah 5 KV/m atau di bawah nilai 
ambang batas WHO. 
Lagi pula keluhan masyarakat yang tinggal di bawah jaringan SUTET pun harus 
dibuktikan secara sahih lewat penelitian lengkap dan menyeluruh. Penelitian ini 
semestinya melibatkan ribuan orang di dalam dan di luar negeri. Lamanya 
penelitian idealnya tak hanya dalam hitungan bulan, melainkan bertahun-tahun. 
Nah, dari studi intensif semacam itulah baru dapat dibuktikan benarkah SUTET 
dapat menjadi salah satu penyebab leukemia seperti yang dituduhkan selama ini.
Yang harus digarisbawahi pula, sangat sedikit kelompok masyarakat yang tinggal 
berdekatan atau langsung di bawah SUTET. Padahal harus diperhitungkan pula 
bahwa semakin jauh masyarakat tinggal dari area SUTET akan semakin kecil pula 
risiko yang ditimbulkan gelombang elektromagnetik. 
Akan tetapi jika masyarakat masih meragukan keamanan SUTET, mereka bisa 
membangun rumah yang terlindung dari radiasi elektromagnetik. Rumah yang 
dimaksud adalah rumah yang pada bagian penyangga dan lantainya dilapisi logam. 
Tak ubahnya seperti sangkar Faraday, rumah tersebut tak mampu ditembus 
gelombang elektromagnetik. Hanya saja bila cara ini yang ditempuh, si penghuni 
rumah tidak bisa menikmati siaran radio kecuali bila antenanya dipasang di luar 
rumah. 
WASPADAI JUGA BAHAYA-BAHAYA "TERSEMBUNYI"
KABEL LISTRIK 
Siapa sangka kabel listrik yang bukan merupakan barang asing di rumah 
mengandung zat berbahaya bagi kesehatan. DR. rer. nat. Budiawan menjelaskan, 
kabel listrik mengandung campuran logam dan zat berbahaya. Terutama pembungkus 
kabel yang umumnya terbuat dari karet alami, karet sintetik atau yang akrab 
disebut polimer sintetik. Bahan buatan ini dianggap cocok digunakan sebagai 
pelindung karena daya hantar panasnya sangat buruk, sehingga orang bebas 
memegang kabel tanpa takut kena setrum.
Sayangnya, beberapa polimer sintetik yang dikenal saat ini memiliki kandungan 
zat-zat yang berisiko merusak kesehatan, di antaranya Poly Vinyl Chlorida (PVC) 
dan Vinyl Chlorida. Tak jarang pula bahan polimer ini masih dicampur dengan 
logam yang memiliki daya hantar panas yang buruk, antara lain timbel/Plumbum 
(Pb). 
Bahaya kabel akan muncul lewat proses pembakaran dan pemanasan. Pembakaran 
kabel, apa pun jenis kabelnya, akan menyebabkan zat-zat berbahaya yang 
terkandung dalam polimer tersebut ikut menguap ke udara. Nah, kalau udara 
beracun ini terhirup orang-orang di sekitarnya tentu akan menimbulkan gangguan 
kesehatan. Sementara besar-kecilnya gangguan yang muncul tergantung pada 
seberapa banyak udara beracun yang dihirup. 
Gejala-gejala keracunan akan muncul jika kadar racun yang dihirup sudah 
melewati ambang batas. Antara lain mual-mual, kepala pusing, dan muntah. 
Saat terjadi kebakaran, contohnya, bahaya bukan hanya muncul dari nyala api, 
melainkan juga asap yang mengandung berbagai zat racun yang keluar dari kabel, 
plastik dan paralon yang ikut terbakar. Tak heran, jika banyak korban kebakaran 
yang meninggal bukan karena api itu sendiri, melainkan karena asap. 
Selain itu, arus listrik bisa menyebabkan kabel yang dilaluinya meleleh, 
terurai dan kandungan zat-zatnya menguap. Ini bisa dideteksi dari bau khas yang 
muncul akibat pemanasan tersebut. Dampak merugikan boleh jadi memang tidak 
langsung terasa saat itu juga, melainkan lambat laun dalam jangka panjang uap 
beracun tadi akan terakumulasi dalam tubuh. Efek kronis ini akan semakin mudah 
dirasa jika orang yang kebetulan menghirupnya memiliki gangguan pernapasan 
seperti asma. 
Direktur Pustaka Kajian Risiko Keselamatan Lingkungan FMIPA Universitas 
Indonesia ini menegaskan, penjelasannya tidak bertujuan menakut-nakuti 
masyarakat luas, apalagi sampai fobia terhadap kabel. Menurutnya, sepanjang 
tidak menjadi panas dan tidak terbakar, kabel aman-aman saja kok digunakan. 
YANG PERLU DIPERHATIKAN: 
* Sedapat mungkin, pilihlah kabel yang aman. Bisa dilihat dari komposisi kabel 
yang tidak mengandung zat berbahaya tadi. Amati juga apakah kabel tersebut 
sudah lulus uji standar internasional dari kode SII (Standar Industri 
Indonesia) atau SNI (Standar Nasional Indonesia). 
* Bahaya tidaknya suatu bahan tergantung pada dua hal. Pertama, frekuensi 
kontak manusia dengan paparan zat kimia tersebut. Semakin sering, semakin 
berisiko. Kedua, mekanisme kontaknya seperti apa. Untuk bahaya kabel, 
contohnya, kontak dengan racun yang muncul akibat pemanasan tentu berbeda 
bahayanya dibanding akibat pembakaran. 
* Saat memotong atau menyambung kabel, gunakan alat khusus pemotong kabel. 
Jangan sekali-kali memanfaatkan api karena bisa menyebabkan pembakaran dan 
menguapkan bahan-bahan beracun yang terkandung di dalamnya. 
PIPA PARALON 
Tak sedikit pipa paralon yang mengandung Poly Vinyl Chlorida (PVC), yang 
disinyalir memiliki efek negatif terhadap kesehatan. Berbeda dengan kabel, PVC 
yang terdapat pada pipa paralon bisa mengelupas akibat gerusan air yang 
mengalir melaluinya, sehingga air tersebut tercemar. "Penelitian di luar negeri 
menyebutkan, air yang disalurkan melalui pipa PVC berisiko terkontaminasi racun 
PVC. Sementara air minum yang sudah tercemar PVC ini bila masuk ke dalam tubuh 
akan menumpuk yang kemudian akan memperbesar risiko terkena kanker hati," kata 
Budi. 
Sayangnya, penelitian ini mesti dibuktikan lebih lanjut, apalagi di tanah air 
hingga saat ini belum ada penelitian tentang dampak penggunaan pipa paralon 
ber-PVC terhadap gangguan kesehatan.
PERKAKAS MAKAN DARI MELAMIN 
Melamin mengandung senyawa kimia yang cukup berbahaya, yaitu formaldehid. 
Senyawa yang tahan panas ini dipilih karena dianggap sangat cocok digunakan 
sebagai wadah makanan panas ataupun digunakan dalam microwave. Padahal air atau 
makanan yang tersimpan di dalamnya akan terkontaminasi oleh formaldehid. 
Terlebih jika melamin tersebut berkualitas buruk demi "mengejar" harga jual 
yang relatif murah. 
Pengguna yang mengonsumsi makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi 
melamin, lambat laun dalam jangka panjang amat berpeluang terkena penyakit 
kanker. Namun, seberapa besar peluang tersebut masih perlu dibuktikan lebih 
jauh melalui berbagai penelitian. Itulah mengapa, "Saat ini kami sedang 
bekerjasama dengan YLKI untuk melakukan penelitian mengenai dampak penggunaan 
alat-alat makan berbahan melamin terhadap kesehatan," tambah Budi. 
YANG PERLU DIPERHATIKAN: 
* Sebaiknya hindari pemakaian perkakas makan berbahan melamin. Kalaupun 
bersikukuh ingin menggunakannya, pilihlah yang berkualitas yang umumnya 
mengandung komponen lain sebagai pelindung agar formaldehid tidak gampang 
terkelupas. 
* Melamin yang baru dibeli jangan langsung dipakai, melainkan dicuci dulu 
sebanyak tiga kali dengan sabun untuk menghilangkan formaldehid yang menempel 
di bagian luar perkakas. 
* Sebaiknya jangan menggunakan perabot melamin untuk wadah makanan panas. Ini 
perlu diperhatikan agar senyawa formaldehid dalam melamin tidak terurai lalu 
terbawa masakan panas tadi.
Saeful Imam. Foto: Iman/NAKITA 



----- Pesan Asli ----
Dari: bayu sukma <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Rabu, 9 Januari, 2008 2:06:23
Topik: Re: [WongBanten] Mohon info jelas SUTET


Apakah benar Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTET) merusak kesehatan di tempat 
saya daerah Kramat watu-Kasemen lagi gencar pembangunan SUTET.Banyak masyarakat 
menolak  karena pembangunanya  tidak jauh dari rumah dan aktivitas penduduk 
yang biasa mencuci, mandi dan tempat bermain anak-2 berenang dikali. Dimana 
masyarakat menganggap alur kali pamarayan bukan un tuk mngairi sawah saja tapi 
juga sejak dari dulu sebagai MCKnya  warga.Yang saya tahu  SUTET itu seharusnya 
ada di  perbukitan. 
Namun karena ada peraturan pemerintah yang baru yakni membebaskan jalur SUTET 
sehingga PLN sudah mengabaikan kepentingan rakyat soal radiasi  kesehatan.






Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.



      ________________________________________________________ 
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi 
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/

Kirim email ke