beda ama masyarakat serang ... ada yang khas... mau pagi, siang, sore atau malem ... selalu ... 'Ngopi Dingin' ...
--- In [email protected], Setiadji Achmad <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Khan ada tuh mas publi yang juga kecanduan kopi,katanya kalo tidak ngopi kepala pusing alias teu bisa mikir,atau mata ngantuk terus...kurang lebih kalo dibikin puisi yang serupa(yg di re-post oleh mr. Ibnu)....judulnya jadi begini : > ""TUHAN 200 ml /TUHAN 100 ml**" > **Kalo pake cangkir minumnya > > > ----- Original Message ---- > From: kabar banten <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected] > Sent: Monday, June 30, 2008 8:24:40 PM > Subject: Re: Balasan: Re: [WongBanten] Tuhan Sembilan Senti > > > secara ga ngerokok donk... abis bingung ... belum pernah liat bencong ngga ngerokok ... hehehe ... > > --- Pada Sen, 30/6/08, Setiadji Achmad <setiadji.achmad@ yahoo.com> menulis: > > Dari: Setiadji Achmad <setiadji.achmad@ yahoo.com> > Topik: Re: Balasan: Re: [WongBanten] Tuhan Sembilan Senti > Kepada: [EMAIL PROTECTED] ups.com > Tanggal: Senin, 30 Juni, 2008, 8:14 PM > > > Nah terus mas publikasi banten,setelah berhenti apakah kekhawatiran itu terjadi...?? ??sekarang setelah behenti dikatain apa?????? > > > > ----- Original Message ---- > From: publikasi banten <warta_banten@ yahoo.co. id> > To: [EMAIL PROTECTED] ups.com > Sent: Monday, June 30, 2008 7:16:39 PM > Subject: Balasan: Re: [WongBanten] Tuhan Sembilan Senti > > > waktu saya pertama kali berhenti merokok, saya khawatir ... > diejek teman-teman 'bencong' ... > > Tapi satu hari saya ketemu bencong beneran dijalan ... > dan ternyata bencong-bencong itu malah pada ngerokok ... > > > > Setiadji Achmad <setiadji.achmad@ yahoo.com> wrote: > Nah lo buat yang merokok..gimana dengan puisi-nya Eyang Taufik Ismail,ketika rokok dianalogikan sebagai berhala....da niat untuk meninggalkan? ???? > > > > ----- Original Message ---- > From: Ibnu Adam Aviciena <ibnuaviciena@ yahoo.com> > To: wongbanten <[EMAIL PROTECTED] ups.com> > Sent: Monday, June 30, 2008 6:52:50 PM > Subject: [WongBanten] Tuhan Sembilan Senti > > > dari milis flp banten: > Tuhan Sembilan Senti > Oleh : Taufiq Ismail > > Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, > tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak > merokok, > > Di sawah petani merokok, > di pabrik pekerja merokok, > di kantor pegawai merokok, > di kabinet menteri merokok, > di reses parlemen anggota DPR merokok, > di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, > hansip-bintara- perwira nongkrong merokok, > di perkebunan pemetik buah kopi merokok, > di perahu nelayan penjaring ikan merokok, > di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, > di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok, > > Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na'im > sangat ramah bagi perokok, > tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang > yang tak merokok, > > Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, > di ruang kepala sekolah ada guru merokok, > di kampus mahasiswa merokok, > di ruang kuliah dosen merokok, > di rapat POMG orang tua murid merokok, > di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya > apakah ada buku tuntunan cara merokok, > > Di angkot Kijang penumpang merokok, > di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk > orang bertanding merokok, > di loket penjualan karcis orang merokok, > di kereta api penuh sesak orang festival merokok, > di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, > di andong Yogya kusirnya merokok, > sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula > merokok, > > Negeri kita ini sungguh nirwana > kayangan para dewa-dewa bagi perokok, > tapi tempat cobaan sangat berat > bagi orang yang tak merokok, > > > Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, > diam-diam menguasai kita, > > Di pasar orang merokok, > di warung Tegal pengunjung merokok, > di restoran di toko buku orang merokok, > di kafe di diskotik para pengunjung merokok, > > Bercakap-cakap kita jarak setengah meter > tak tertahankan asap rokok, > bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun > menderita di kamar tidur > ketika melayani para suami yang bau mulut > dan hidungnya mirip asbak rokok, > > Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang > bergumul > saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, > tapi kita tidak ketularan penyakitnya. > Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya > mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, > kita ketularan penyakitnya. > Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS, > > Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan > nikotin paling subur di dunia, > dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun > asap tembakau itu, > Bisa ketularan kena, > > Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, > di apotik yang antri obat merokok, > di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, > di ruang tunggu dokter pasien merokok, > dan ada juga dokter-dokter merokok, > > Istirahat main tenis orang merokok, > di pinggir lapangan voli orang merokok, > menyandang raket badminton orang merokok, > pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok, > panitia pertandingan balap mobil, > pertandingan bulutangkis, > turnamen sepakbola > mengemis-ngemis mencium kaki sponsor > perusahaan rokok, > > > > Di kamar kecil 12 meter kubik, > sambil 'ek-'ek orang goblok merokok, > di dalam lift gedung 15 tingkat > dengan tak acuh orang goblok merokok, > di ruang sidang ber-AC penuh, > dengan cueknya, pakai dasi, > orang-orang goblok merokok, > > Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na'im > sangat ramah bagi orang perokok, > tapi tempat siksa kubur hidup-hidup > bagi orang yang tak merokok, > > Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, > diam-diam menguasai kita, > > Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, > duduk sejumlah ulama terhormat merujuk > kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. > Mereka ulama ahli hisap. > Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. > Bukan ahli hisab ilmu falak, > tapi ahli hisap rokok. > Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka > terselip berhala-berhala kecil, > sembilan senti panjangnya, putih warnanya, > ke mana-mana dibawa dengan setia, > satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya, > > Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, > tampak kebanyakan mereka > memegang rokok dengan tangan kanan, > cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. > Inikah gerangan pertanda > yang terbanyak kelompok ashabul yamiin > dan yang sedikit golongan ashabus syimaal? > > Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan > AC penuh itu. > Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. > Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. > Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. > Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al > hawwa'i. > Kalau tak tahan, > Di luar itu sajalah merokok. > Laa taqtuluu anfusakum. > > > Min fadhlik, ya ustadz. > 25 penyakit ada dalam khamr. > Khamr diharamkan. > 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). > Daging khinzir diharamkan. > 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. > Patutnya rokok diapakan? > > Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. > Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith. > Mohon ini direnungkan tenang-tenang, > karena pada zaman Rasulullah dahulu, > sudah ada alkohol, > sudah ada babi, > tapi belum ada rokok. > > Jadi ini PR untuk para ulama. > Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, > Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, > jangan, > > Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar > perbandingan ini. > Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan > kecil yang kepalanya berapi itu, > yaitu ujung rokok mereka. > Kini mereka berfikir. > Biarkan mereka berfikir. > Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, > dan ada yang mulai terbatuk-batuk, > > Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, > sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia > mati karena penyakit rokok. > Korban penyakit rokok > lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, > lebih gawat ketimbang bencana banjir, > gempa bumi dan longsor, > cuma setingkat di bawah korban narkoba, > > Pada saat sajak ini dibacakan, > berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di > negara kita, > jutaan jumlahnya, > bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, > dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, > diiklankan dengan indah dan cerdasnya, > > > Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, > tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada > tuhan-tuhan ini, > karena orang akan khusyuk dan fana > dalam nikmat lewat upacara menyalakan api > dan sesajen asap tuhan-tuhan ini, > > Rabbana, > beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini. > > > > ________________________________ > Dapatkan alamat Email baru Anda! > Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain! > > > ________________________________ > Dapatkan nama yang Anda sukai! > Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail. com. >
