Bing Slamet 
Pahlawan Kebudayaan (1927-1974)  
 Oleh Denny Sakrie
 www.bantenmuda.multiply.com


 
 Dian bahagian kini padam sudah
Derai air mata tak putus membasah
 ("Risau")
 

 
 Lirik lagu 'Risau' yang menggetarkan sukma, yang pernah dinyanyikan Bing 
Slamet semasa hidupnya seolah selaras dengan iring-iringan mobil dan motor 
sepanjang 4 kilometer mengantarkan jenazahnya ke pemakaman Karet siang 18 
Desember 1974. Bumi Jakarta basah dengan genangan air mata. ''Jasa Bing Slamet 
besar sekali, tanpa besluit, tanpa surat keputusan, tanpa kedudukan.
 Bing Slamet telah tertanam di hati sanubari kita semua. Dia seorang tokoh, 
seorang pahlawan kebudayaan,' ' ungkap seorang seniman di saat pemakaman Bing 
Slamet, seperti yang dikutip Sumohadi Marsis dalam buku Album Kenangan Bing 
Slamet (Gramedia,1975) . Titiek Puspa, sahabatnya, mendengar berita duka itu 
langsung menggurat kata dan melodi tentang Bing, dalam sebuah perjalanan dengan 
pesawat terbang.
 

 
 Tiada hari seindah dahulu lagi
Tiada mungkin kembali
Tiada nama seharum namamu lagi
Tiada....tiada Bing lagi.  
 

 
 Semua memang merasa kehilangan sosok seniman komplet itu. Terampil bermain 
gitar, berbekal suara emas. Piawai menyusun komposisi musik dan ligat dalam 
seni peran, termasuk melawak.
 Bing Slamet adalah penghibur sejati yang sangat memahami hasrat dan keinginan 
penikmatnya. Simaklah untaian nada dan kata yang dipilihnya menjadi jalinan 
lagu yang hingga kini masih kita akrabi, meski terkadang ada jaringan yang raib 
antar generasi perihal eksistensi Bing Slamet. Rasanya, tak semua generasi 
kiwari yang mengenal sosok Bing Slamet secara utuh. Ini yang patut disayangkan.
 


 Namun, upaya beberapa penyanyi sekarang semisal Glen Fredly, Dewi Sandra, 
Denny Wong Pitoe, Shelomita, dan Ruth Sahanaya, yang menafsir ulang lagu-lagu 
yang pernah dipopulerkan Bing Slamet adalah sebuah kerja yang patut diacungi 
jempol. Lagu bertajuk 'Belaian Sayang' dibawakan lagi oleh duet Glen Fredly dan 
Dewi Sandra juga dilagukan Ruth Sahanaya. Shelomita bersama grup jazz Opustre 
melantunkan 'Payung Fantasy' karya Ismail Marzuki yang lekat dengan citra Bing 
Slamet di akhir era 50-an. Denny Wong Pitoe malah mencoba menjadi impersonator 
Bing lewat 'Nurlaila', lagu yang pertamakali dinyanyikan Bing Slamet dalam film 
Bing Slamet Tukang Betjak (1959).
 Bahkan dalam film Gie (2005) besutan sutradara Riri Riza, lagu Bing Slamet 
'Gendjer Gendjer' yang terdapat pada album Mari Bersuka Ria dan dilarang oleh 
pemerintah rezim Orde Baru, tampil nyaris utuh dalam adegan yang memperlihatkan 
situasi politik di Jakarta pada era 60-an.
 

 
 Anak Cilegon
Bing Slamet adalah pengagum Bing Crosby. Saking kagumnya pada entertainer dunia 
itu, dia lalu menyusupkan nama Bing di depan namanya sendiri. Bing Slamet 
dilahirkan pada 27 September 1927 di Cilegon, Banten. Ayahnya seorang mantri 
pasar bernama Rintrik Achmad. Bing Slamet seolah dilahirkan sebagai penghibur 
yang bertugas mengibur siapa saja. Bahagia dan gelak tawa kelak merupakan jasa 
yang ditampilkan Bing dalam kesempatan apa saja termasuk menghibur para pejuang 
dengan berkeliling Indonesia antara kurun waktu 1942-1945. Di balik corong 
mikrophone radio, Bing bahkan tampil sebagai agitator yang menyemangati pejuang 
menghalau kaum penjajah.
 Sejak tahun 1939 dalam usia 12 tahun, Bing Slamet telah ikut mendukung Orkes 
Terang Bulan yang dipimpin Husin Kasimun. Bakat seninya yang luarbiasa mulai 
terlihat di sini. Setahun menjelang proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, 
Bing ikut bergabung dengan kelompok teater Pantja Warna.
 Tampaknya, seni merupakan dunia yang dipeluk Bing Slamet. Ia bahkan menampik 
keinginan orang tuanya yang mendamba sang putera tercinta untuk menjadi dokter 
maupun insinyur. Walau sempat mengenyam bangku HIS Pasundan, HIS Tirtayasa, 
Sjugakko, dan STM Pertambangan. Pilihan Bing bulat: mengabdi untuk seni.
 Bing Slamet lalu bergabung pula pada Divisi VI Brawidjaja sebagai Barisan 
Penghibur. Di sini, kemampuannya bermusik dan melawak mulai terasah. Seolah 
tanpa pamrih, Bing lalu bersedia ditempatkan di kota mana saja. Bing yang mulai 
masuk Radio Republik Indonesia (RRI) kemudian ditempatkan di Yogyakarta dan 
Malang. Ia pun sempat bergabung di Radio Perjuangan Jawa Barat.
 Di tahun 1949, untuk pertamakali suara baritone Bing Slamet menghiasi 
soundtrack film Menanti Kasih yang dibesut Mohammad Said dengan bintang A Hamid 
Arief dan Nila Djuwita .
 Kariernya di bidang tarik suara sebetulnya terlecut ketika memasuki dunia 
radio. Di RRI, Bing Slamet banyak menyerap ilmu dan pengalaman dari pemusik 
Iskandar dan pemusik keroncong tenar, M Sagi, serta sahabat-sahabat musikal 
lainnya seperti Sjaifoel Bachrie, Soetedjo, dan Ismail Marzuki. Dan, yang 
banyak memengaruhinya adalah penyanyi Sam Saimun yang dikenalnya sejak bertugas 
di Yogyakarta pada tahun 1944. Bagi Bing, Sam Saimun adalah tokoh penyanyi 
panutannya. Tak sedikit yang menyebut timbre vokal Bing sangat mirip dengan Sam 
Saimun. ''Dia guru saya,'' ungkap Bing semasa hidupnya.
 

 
 Main film
Di tahun 1950, Bing mulai menjejakkan kaki di dunia sinema sebagai aktor. 
Antara tahun 1950 sampai 1952, Bing Slamet aktif pada Dinas Angkatan Laut 
Surabaya dan Jakarta. Di tahun 1952 saat Bing ditempatkan lagi di Jakarta, dia 
bergabung di RRI Jakarta dan mulai aktif mengisi acara bersama Adi Karso. Bakat 
dan kemapuan musiknya mulai memuncak saat bergabung di RRI hingga tahun 1962.
 Pada tahun 1955, Bing Slamet mulai menoreh prestasi dengan menjadi juara 
Bintang Radio untuk jenis Hiburan. Piringan hitam Bing pun mulai dirilis pada 
label Gembira Record dan Irama Record. Ia terampil menyanyikan langgam 
keroncong hingga pop dan jazz. Selain menyanyi, Bing pun memainkan gitar 
sekaligus menulis lagu. Salah satu tembang pertama yang ditulisnya bersama 
gitaris jazz, Dick Abell, adalah 'Cemas' .
 Lalu, bermunculanlah lagu-lagu karya Bing Slamet lainnya, semisal 'Hanya 
Semalam', 'Risau', 'Padamu', 'Murai Kasih', hingga 'Belaian Sayang'. Lagu yang 
disebut terakhir dianggap sukses di mata khalayak. Masih ingatkah Anda ketika 
Bing Slamet menyanyikan dengan fasih lagu berbahasa Minang 'Sansaro' ? Atau 
dengan luwes Bing menyanyikan lagu 'Selayang Pandang' dari ranah Melayu? Tak 
pelak lagi, Bing adalah penyanyi serba bisa yang memiliki fleksibiltas tak 
tertandingi.
 Rekaman rekaman single Bing Slamet di era 50-an diiringi oleh Orkes Keroncong 
M Sagi dan Irama Quartet yang didukung Nick Mamahit (piano), Dick Abell 
(gitar), Max Van Dalm (drum), dan Van Der Capellen (bas). Bing Slamet pun 
membangun sebuah kelompok musik yang diberi nama Mambetarumpajo, merupakan 
akronim dari Mambo, Beguine, Tango, Rhumba, Passo Double, dan Joged, yang saat 
itu adalah jenis musik untuk mengiringi dansa.
 Di tahun 1963, pria ini membentuk sebuah grup musik yang diberi nama Eka Sapta 
dengan pendukungnya, antara lain Bing Slamet (gitar, perkusi, vokal), Idris 
Sardi (bass,biola) , Lodewijk 'Ireng' Maulana (gitar, vokal), Benny Mustapha 
van Diest (drum), Itje Kumaunang (gitar), Darmono (vibraphone) , dan Muljono 
(piano). Eka Sapta menjadi fokus perhatian, karena keterampilannya memainkan 
musik yang tengah tren pada zamannya. Eka Sapta lalu merilis sejumlah album 
pada label Bali Record, Canary Record, dan Metropolitan Records, yang kelak 
berubah menjadi Musica Studio's. Eka Sapta adalah kelompok musik pop yang 
terdepan di negeri ini pada era 60-an hingga awal 70-an.
 

 
 Bing Slamet hebatnya mampu membagi konsentrasi antara bermain musik, menyanyi, 
bikin lagu, melawak, dan main film layar lebar. Setidaknya ada 20 film layar 
lebar yang dibintanginya, mulai dari era film hitam putih hingga berwarna. Bing 
pun tercatat beberapa kali membentuk grup lawak antara era 50-an hingga 70-an 
di antaranya Trio Los Gilos, Trio SAE, EBI, dan yang paling lama bertahan 
adalah Kwartet Jaya bersama Ateng, Iskak, dan Eddy Soed.
 Untuk dedikasinya di bidang seni, Bing, pada 10 Juni 1972 menerima Piagam 
Penghargaan dari Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. Sayangnya baru pada saat 
pemerintahan Presiden Megawati Soekarno Puteri, Bing Slamet memperoleh Anugerah 
Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma di Istana Negara tanggal 7 
November 2003.
 Sayup-sayup masih terngiang suara Bing Slamet yang teduh dan sejuk melantunkan 
lagu 'Cemas' :
 
Sunyi kurasa sendiri jauh di alam ramai
Hanyalah bisikan angin sepoi menghembus perlahan
Menembus dada nan tak selalu bertirai
Karena ku susah menjelang surga.
 

 
 Tapi, saya yakin Bing Slamet telah berada di surga, di sana dengan senyum 
menyungging.
 

 
 Diskografi
 Beberapa Album/Singles
1. Menanti Kasih (Lokananta)
2. Nurlaila (Irama Records)
3. Puspa Ragam Lagu Indonesia No 49 'Seruan Gembala' (Irama -IRA 65) 
4. Puspa Ragam Lagu Indonesia No 50 'Aju Kesuma' (Irama -IRA 66) 
5. Kr Moritsu - Bing Slamet dan Orkes Kerontjong M Sagi (Irama - IRK 125-1)
6. Es Lilin/Panon Hideung - Bing Slamet & Melodi Ria (Gembira Records RN 003) 
7. Varia Malam Eka Sapta Nonstop Revue (Bali Record BLM 7002) 
8. Mari Bersuka Ria dengan Irama Lenso (Irama LP 1 17588)  
 9. Kisah Pasar Baru Feat. Pajung Fantasi (Irama Records) 
10. Eka Sapta - Eka Sapta (Mutiara ML 1001)
11. Burung Kutijija - Eka Sapta (Mutiara MEP 007)
12. Kasih Remadja - Eka Sapta (Bali Record BER 007)
13. Souvenir Pemilu 1971 Feat. Pohon Beringin  
 14. Bing dan Giman Bernyanyi - Eka Sapta (Bali Record 008)  
 15. Aneka Nada 12 Feat. Nonton Bioskop (Remaco RMC)
16. Bing Slamet dan Eka Sapta - Eka Sapta (Bali Records)
17. Romi dan Juli - Titiek Puspa & Bing Slamet (Canary Record TCC 1032)  
 18.Gadjah Dungkul - Titiek Puspa,Bing Slamet & Indonesia Tiga (Canary)
 9.Nah Lu - Bing Slamet (Canary/Metropolita n)  
 20. Mak Tjomblang - Bing Slamet dan Maya Sopha (Bali Record/Remaco)  
 21. Album Kenang-kenangan Bing Slamet - Bali Record BCC01  
 22. Bing Slamet Tersayang - MGM Records  
 

 
 Filmografi 
1.Solo di Waktu Malam (Borobudur Film,1952) 
2.Di Simpang Djalan (Canary Film 1955) 
3.Melati Sendja (Refic Film,1956) 

4.Pilihlah Aku (Geliga Film,1956) 
5.Radja Karet dari Singapura (Olympiad 1956) 
6.Hari Libur (Anom Pictures,1957) 
7.Tiga Buronan (Perfini 1957) 
8.Bing Slamet Tukang Betjak (Golden Arrow,1959) Nurlela, Diwajahmu Kulihat 
Bulan, Tukang Betjak 
9.Amor dan Humoir (Perfini 1961), 
10.Kisah Pelawak (PT Dara Mega Film 1961) 
11.Bing Slamet Merantau (Panah Mas Film 1962) 
12.Bunga Putih (PT Agora Film 1966) 
13.Hantjurnya Petualang (PT Sarinande Film 1966) 
14.2 X 24 Jam (PT Bola Dunia Film 1967) 
15.Juda Saba Desa (Wahju Film 1967) 
16.Bing Slamet Setan Djalanan (Safari Sinar Sakti Film 1972) 
17.Ambisi (Safari Sinar Sakti Film 1973)
 18.Bing Slamet Dukun Palsu (Safari Sinar Sakti Film 1973) 
19.Bing Slamet Sibuk (Safari Sinar Sakti Film 1973)  
 20.Bing Slamet Koboi Cengeng (safari Sinar Sakti Film 1973)  
 

 
 RUMAH MUSIK DENNY SAKRIE
 0818417357
 www.friendster.com/bantenmudamagazine
 
       
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

Kirim email ke