Hamemayu Hayuning Bawono
   www.bantenmuda.multiply.com
    
   Hamemayu Hayuning Bawono diartikan sebagai kewajiban melindungi, memelihara, 
serta membina keselamatan dunia dan lebih mementingkan berkarya untuk 
masyarakat dari pada memenuhi ambisi pribadi.
    
   Falsafah ini di paparkan Sri Sultan Hamengku Buwono X saat menjadi Mentor di 
acara peluncuran Buku The Ary Suta Center Series on Strategic Management. Hadir 
berbagai tokoh diantaranya Moerti Soedibyo - Chairman Mustika Ratu, Franky 
Wilerang – CEO Bogasari, Seniman Soedjiwo Tedjo, dan Artis Senior Anwar Fuadi.
    
   Sebelumnya peraih ASC Award, Dr. Cungki Kusdarjito Ph.D memberikan 
presentasi bagaimana membangun masyarakat yang memiliki mutual trust melalui    
   kepemimpinan berbasis bidaya Indonesia. Menurutnya Penerapan demokrasi barat 
yang berbasis pada individualisme vertikal pada masyarakat yang bersifat 
kolektif ternyata menghasilkan chicken society, yaitu masyarakat yang bersifat 
selfish, egois dan korup. Oleh karena itu, pendekatan demokrasi yang berbasis 
[ada kondisi budaya lokal lebih efektif karena tidak hanya demokrasi politik, 
tetapi juga terwujudnya demokrasi sosial dan ekonomi. Agar upaya tersebut dapat 
terwujud, diperlukan kepemimpinan yang sesuai dengan budaya kolektivisme yang 
bersifat horisontal. Bridging leadership dan cross cultural leadership yang 
mendasarkan pada pendekatan musyawarah/perwakilan diharapkan dapat memperkecil 
kecenderungan ke arah terbentuknya kolektivisme vertikal, khususnya di kalangan 
elit.
    
   Sedangkan Dr. Adler Haymans Manurung secara singkat menyampaikan tulisannya 
yang berjudul ‘Probabilitas Default Perusahaan’ berusaha untuk meneliti tentang 
pengukuran resiko kegagalan bayar pada perusahaan yang sahamnya ditransaksikan 
di Bursa Efek Indonesia dengan menggunakan       Merton yang telah 
dikembangkan. Dari pengukuran tersebut, akan didapatkan estimasi kemungkinan 
default perusahaan-perusahan dalam Indeks LQ45. Hasil pengukuran menunjukkan 
bahwa perusahaan yang ada di dalam industri perbankan umumnya mempunyai 
probabilitas default lebih tinggi diantara perusahaan industri lain. Dalam 
kesimpulannya disebutkan Bank Mandiri merupakan aset terbesar dan bank ini juga 
mempunyai total hutang dan ekuitas terbesar dari seluruh perusahaan. Bahkan 
perusahan ini mempunyai simpangan baku pertumbuhan aset terkecil dibandingkan 
dengan perusahaan lainnya. Perbankan umumnya mempunyai probabilitas default 
lebih tinggi diantara perusahaan industri lain. BCA, BRI dan Mandiri
 termasuk saham yang memiliki probabilitas default kecil.
    
   Dipandu moderator Prof. Hendrawan Supratikno Ph.D, peserta dengan seksama 
menyimak penuturan Sri Sultan mengenai Strategi Managemen Kepemimpinan di 
Jogjakarta dan bagaimana pentingnya landasan budaya menjadi pondasi kehidupan 
bermasyarakat di Indonesia.
    
   Kembali Sri Sultan menyebutkan Hamemayu Hayuning Bawono yang juga dijadikan 
dasar filosofi pembangunan daerah di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, 
sebagai cita-cita luhur untuk menyempurnakan tata nilai kehidupan masyarakat 
Yogyakarta berdasarkan nilai budaya daerah yang perlu dilestarikan dan 
dikembangkan. Ini berarti budaya tersebut bertujuan untuk mewujudkan masyarakat 
ayom, ayem, tata, titi tentrem, dan karto raharjo. Dengan perkataan lain, 
budaya tersebut akan bermuara pada kehidupan masyarakat yang penuh dengan 
kedamaian, baik ke dalam maupun ke luar.
    
   Perjuangan untuk mensejahterakan masyarakat telah diupayakan dan 
dilaksanakan oleh ayahanda Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan telah diteruskan 
hingga saat ini, tetap dengan semangat Hamemayu Hayuning Bawono. Dunia yang 
dimaksud inipun mencakup seluruh peri kehidupan dalam skala kecil, yaitu 
keluarga ataupun masyarakat dan lingkungan hidupnya, dengan mengutamakan dharma 
bakti untuk kehidupan orang banyak dan tidak mementingkan diri sendiri.
    
   Dalam sebuah percakapan, sang ayah bertanya, apa yang akan dipilih oleh Sri 
Sultan, Mulyo atau Mukti? .. Sri Sultan memilih Mukti. Ayahnya kembali bertanya 
kenapa memilih Mukti? .. menurut Sri Sultan, Mulyo sudah pasti memiliki 
kekayaan yang berlimpah. Tetapi belum tentu bermanfaat. Sedangkan Mukti, 
walaupun belum tentu memiliki harta yang melimpah, tetapi sudah pasti memberi 
manfaat bagi rakyat kebanyakan.
    
   Sri Sultan juga menceritakan empat pesan ayahnya, Sultan Hamengku Buwono IX 
sebelum meninggal dunia. Yang pertama adalah dirinya harus bisa mengayomi semua 
orang tanpa kecuali, baik yang suka ataupun yang tidak kepada Sri Sultan. 
Kedua, Tidak boleh melanggar peraturan negara. Ketiga, Harus lebih berani untuk 
mengatakan apa yang benar dikatakan benar dan yang salah dikatakan salah. Dan 
yang keempat, tidak boleh berambisi apa pun kecuali cuma satu yaitu untuk 
mensejahterakan rakyat.
    
   Sri Sultan kemudian bertanya mengenai pesan yang ketiga, apa yang dimaksud 
dengan ‘lebih berani’ ? Sang ayah menjelaskan, selama ini ia telah melalui dua 
presiden, Soekarno dan Soeharto. Karena saya yakin diam itu benar, maka dalam 
banyak hal yang berbeda soal kebenaran saat berhadapan dengan kedua presiden, 
ia memilih diam. Dan ternyata sikapnya itu salah, akibat diam itu hingga saat 
ini rakyat Indonesia masih miskin dan bodoh.”
    
   Berkaitan dengan pesan keempat itulah kemudian Sri Sultan kembali menegaskan 
bahwa sampai kapan pun ia tidak akan pernah mencalonkan diri sebagai Presiden. 
Namun salah satu audience dari SCTV mengingatkan Sri Sultan dengan pertanyaan 
menggelitik, apakah tidak khawatir justru sikapnya tersebut akan mengulangi 
kesalahan sang ayah dan berakibat rakyat Indonesia tetap menderita. Secara 
diplomatis, Sri Sultan mengatakan bahwa dirinya memang tidak akan mencalonkan 
diri jadi presiden. Lain hal bila kebanyakan rakyat Indonesia menghendaki.
    
   Sekali lagi kembali kepada Hamemayu Hayuning Bawono, yang utama kewajiban 
melindungi, memelihara, serta membina keselamatan dunia dan lebih mementingkan 
berkarya untuk masyarakat dari pada memenuhi ambisi pribadi. Sri Sultan 
berseloroh, bukan hanya memenuhi ambisi dan mensejahterakan rakyat Amerika 
sendiri.
    
   Sri Sultan menyatakan keheranannya, disaat harga minyak dunia mendekati US $ 
150 perbarel, tidak satu liter pun cadangan minyak milik Amerika dikeluarkan. 
Kemudian Sri Sultan pun menganalisa bagaimana Amerika merambah negara lain yang 
sebenarnya untuk mensejahterkan rakyatnya sendiri. Afganistan diserbu dengan 
alasan Bin Laden, Irak dikuasai dengan alsan Saddam Hussein, ujung-ujungnya 
kepentingan minyak. Bahkan Sri Sultan memperkirakan Iran, Siria dan Arab Saudi 
akan menjadi incaran berikutnya. Asia Timur menjadi pilihan berikutnya untuk 
memperkaya rakyat Amerika, Indonesia yang berlimpah akan kekayaan laut, bahan 
tambang, pertanian dan hutan tentu saja akan sasaran empuk.
    
   Untuk itu dalam hal pertahanan sudah selayaknya pemerintah menggunakan 
wawasan maritim, bukan sebaliknya pertahanan darat. Idealnya kalau diurutkan, 
pertahan itu dimulai dari putih, biru baru kenudian hijau dibelakang. Sri 
Sultan mengkritisi latihan perang bersama Singapura dan longgarnya ijin 
pelayaran kapal asing di wilayah maritim Indonesia.
    
   Indonesia harus bangkit, otonomi daerah harus dijalankan. Biarkan 
masing-masing daerah melakukannya sesuai dengan kultur mereka dengan tujuan 
utama mensejahterakan rakyat. Seperti didaerahnya, Sri Sultan mengembangkan 
Budaya Pemerintahan di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Hamemayu Hayuning 
Bawono. Sebagai pegangan para aparatur birokrasi di Pemda Jogja, diciptakan 
maskot si SAPTA, Selaras –Menjaga Kelestarian dan Keselarasan Hubungan dengan 
Tuhan, Alam dan Manusia. Ahli – Profesional. Pelayanan Prima, Teladan – 
Keteladanan. Akal Budi Luhur – Jati Diri (Pribadi) Yang Berbudi Luhur. Sehingga 
mereka dalam menjalankan tugasnya tidak ada yang berseragam formal, cukup 
berbaju putih lengan pendek untuk staf dan pejabat kepala seksi ke atas berbaju 
putih lengan panjang dan berdasi. Menurut Sri Sultan, seragam dengan segala 
atributnya ternyata merupakan simbol-simbol kekuasaan atau  ingin menguasai. 
Aparatur bukan penguasa, tetapi pelayan rakyat.
   
 Di sesi terakhir, menanggapi pertanyaan salah satu peserta mengenai 
perekonomian di Indonesia. Sri Sultan ternyata cukup menguasai dan memiliki 
perhatian pada hal-hal kecil, misalnya bagaimana ia mengkritisi dan menghimbau 
kepada PT. Pos Indonesia jangan memberikan dengan uang pecahan Rp 100 ribu saat 
membagikan dana bantuan tunai langsung dari pemerintahan, tetapi pakai uang 
recehan, pecahan seribu, lima ribu, sepuluh ribu atau dua puluh ribu. Dengan 
pecahan seratus ribu, saat dibelanjakan di Desa tidak akan ada kembaliannnya. 
Kalau dikasih pecahan seratus ribu, pasti dibelanjakan di kota, sehingga tidak 
ada pertumbuhan ekonomi di Desa. Dan fakta tersebut tidak akan bermanfaat.
    
   Pada akhirnya, apapun bentuk persoalan dan kebijakan mengenai Indonesia 
kedepan, harus dilandasi kepada kepentingan mensejahterakan rakyat. Acara 
ditutup dengan penyerahan buku oleh Dr. I Putu Gede Ary Suta kepada Sri Sultan 
Hamengkubuwono X sebagai tanda diluncurkannya buku The Ary Suta Center Series 
on Strategic Management. *** (Wira).
    
   www.friendster.com/bantenmudamagazine

       
---------------------------------
  Dapatkan alamat Email baru Anda!  
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!

Kirim email ke