JELANG
  KONFERENSI PENULIS CILIK INDONESIA
  www.bantenmuda.multiply.com
   
  Seiring dengan diselenggarakannya Pesta Buku Jakarta 2008 yang diikuti oleh 
ratusan penerbit, pada hari minggu tanggal 5 Juli 2008 di ruang anggrek, Istora 
Bung Karno, Senayan – Jakarta, berkumpul para penulis cilik yang telah atau 
belum menerbitkan buku untuk merayakan keberhasilan mereka sebagai profesi 
penulis. Di forum ini mereka menyatakan kebersamaan dan suaranya serta meminta 
dukungan masyarakat Indonesia untuk bersama-sama memajukan dunia baca-tulis di 
Indonesia. 
   
  Penerbit Mizan sendiri selaku penggagas acara ini telah melahirkan satu seri 
bernama Kecil-Kecil Punya Karya, yang saat ini telah menerbitkan 33 judul buku 
dari 21 penulis anak. Penulis di seri ini yang mulai beranjak remaja, Sri 
Izzati dan Abdurrahman Faiz tampil didepan berbagi pengalaman tentang 
keberhasilan mereka untuk memberikan motivasi kepada rekan-rekan penulis cilik 
lainnya. 
   
  Dengan tema aku ingin menulis dan berkarya selamanya, Faiz bercerita 
bagaimana dirinya sejak kecil didukung sepenuhnya oleh kedua orantuanya untuk 
terus menulis, dengan menulis orang menjadi tahu siapa diri Faiz, menjadi 
tambah pintar dan bisa berbagi. Faiz juga berharap berharap kedepan banyak buku 
yang harganya terjangkau, penulis bisa lebih dihargai sehingga penulis bisa 
dijadikan sebagai profesi. 
   
  Disela pemaparan Faiz, kepada Banten Muda ayahanda Izzati mengamini apa yang 
menjadi harapan Faiz, hal ini didasari atas pengalamannya sendiri waktu itu ia 
sempat kesulita memasukan Izzati kesebuah sekolah walaupun dengan berbekal 
delapan buku Izzati yang sudah diterbitkan. Lain halnya bila si anak mempunyai 
prestasi di bidang olah raga ataupun kesenian misalnya. Peserta sebuah kontest 
penyanyi yang dinilai melalui polling sms bisa bertemu dan didukung penuh oleh 
kepala daerahnya. Begitu juga dengan harga buku yang mahal, membuat sang ayah 
harus mensiasati bagaimana mengulur waktu atau mengurangi frekuensi pembelian 
buku.
   
  Menurut Izzati, sejak kecil ia sudah dibiasakan untuk membaca sampai habis 
buku yang dibelinya, kemudian menceritakan kembali  kepada ibunya dan baru 
boleh membeli buku lagi. Hal ini yang kemudian menjadi motivasi bagi dirinya 
untuk segera menyelesaikan semua yang sedang dikerjakan, termasuk menulis. Bagi 
Izzati, menulis itu seperti sharing, apa yang kita tulis akan dibaca orang 
lain. Ia memberikan tips untuk selalu mencoba hal-hal yang baru sehingga 
pembaca menunggu apa yang akan disampaikan oleh penulis.
   
  Suasana menjadi lebih semarak memasuki sesi tanya jawab, para peserta yang 
mendapatkan kesempatan ternyata lebih banyak curhat tentang dirinya 
dibandingkan bertanya. Misalnya ada seorang anak yang sudah menulis novel 
sampai seratus halaman tetapi yakin karyanya bagus, anak yang lain patah hati 
saat novelnya sudah mencapai dua ratus halaman, ia malah diejek kawan-kawannya 
karena menggunakan nama-nama yang jelek dalam novel tersebut, ada juga anak 
yang bingung bagaimana cara mengirim tulisannya ke penerbit.
   
  Beni Ramdani, penulis buku anak-anak dan Manager dari Mizan mengatakan itulah 
dunia anak-anak. Dunia anak-anak berbeda dengan dunia anak-anak yang 
diimajinasikan oleh orang dewasa. Sangat sulit menembusnya, dan orang dewasa 
banyak yang tidak mampu. Yang paling pas untuk mengimajinasikan dunia anak-anak 
yaitu anak-anak itu sendiri. Ini terlihat dari hasil penjualannya yang bisa 
diatas 1000 buku, sedangkan karangan orang dewasa mencapai angka 500 saja sudah 
bagus. Berkaitan dengan karya tulis yang akan dikirim penulis, sebaiknya 
diprint dan dijilid. Kemudian dikirimkan ke alamat penerbit yang tercantum 
didalam buku. Paling lambat tiga bulan, penerbit akan memberikan konfirmasi 
apakah tulisan tersebut akan dimuat atau tidak, perlu ditambah atau dikurang, 
sesuai dengan kebutuhan.
   
  Untuk melahirkan penulis dirumah kita, Penulis Senior Helvy T. Rosa 
menyarankan untuk terus membuat iklim yang bagus dimulai dari kandungan sampai 
besar, anak-anak kita harus dikepung oleh buku. Buat perpustakaan kamar selain 
perpustakaan rumah, yaitu perpustakaan yang berisi koleksi buku-buku pribadi. 
Tumbuhkan tekad yang kuat dan memiliki kemauan. Helvy yang juga ibunda dari 
Faiz ini bercerita ada gadis kecil yang tinggal di tepi rel kereta api, gadis 
itu ingin membaca buku, tetapi tidak bisa karena ayah dan ibunya tidak bisa 
membelikan buku. Tapi ia dan adiknya tetap yakin suatu saat ia akan bisa 
memiliki buku. Setiap hari gadis kecil itu datang ke penjual buku hanya untuk 
melihat buku dari kejauhan. Walaupun dilarang membacanya, gadis kecil itu cukup 
puas dengan memandangnya setiap hari. Setiap sang ibu yang akan berjualan ke 
pasar menanyakan oleh-oleh apa yang kau ingin dari pasar, gadis kecil itu 
menjawabnya bawakan aku sebuah buku. Kemudian sang ibu selalu berusaha
 meminjam sebuah buku kepada teman-temannya dengan berjanji tidak akan merusak, 
tidak melipat halaman dan akan menyampulnya saat dikembalikan. Setiap hari 
gadis kecil itu dibawakannya sebuah buku walaupun terkadang hanya buku komik 
petruk gareng. Seperti keyakinannya meraih bintang, kini gadis kecil itu 
menjadi penulis terkenal. Gadis kecil dan adiknya itu bernama Helvy T. Rosa dan 
Asma Nadia. Sejenak peserta konferensi terkejut dan kembali melanjutkan diskusi 
yang dipandu secara jenaka oleh Andi Yudha Asfandiar.
   
  Kegiatan ini diakhiri oleh diskusi antara penulis cilik, mereka membahas 
beberapa point usulan seperti peluang dan kebebasan berkarya dilingkungan 
sekolah, apresiasi sekolah dan orang tua atas karya tulis anak-anak, apresiasi 
penerbit, media, dan lembaga atas karya tulis anak-anak, dan apresiasi 
pemerintah atas karya tulis dan pegiat karya tulis anak-anak.
   
  Ini adalah simulasi bagi anak-anak penulis dalam menjalankan proses 
pengambilan kesepakatan. Dari kesepakatan inilah, perhatian masyarakat 
diharapkan akan lebih tertuju pada potensi penulis berusia muda. Lebih luas 
lagi, perhatian masyarakat akan lebih terbuka, bahwa Indonesia masih memiliki 
aset kemajuan bangsa di masa depan.
   
  Yang lebih membanggakan diantara empat penulis cilik yang bukunya lebih dari 
dua kali cetak, tercatat nama Bella yang berasal dari Serang – Banten. Hadir 
ditemani sang ayah, Gola Gong dan istrinya, Bella membawa rombongan anak-anak 
dari lingkungannya, tentu saja ini dimaksudkan untuk memberikan semangat dan 
motivasi sesuai dengan motto Rumah Dunia yaitu mencerdaskan dan membentuk 
generasi baru.
   
  Inilah keberhasilan yang diraih oleh seluruh anak Indonesia, dan dimulai dari 
dunia perbukuan Indoesia. *** (Wira).
   
  www.friendster.com/bantenmudamagazine
  
       
---------------------------------
 Coba emoticon dan skin keren baru, dan area teman yang luas.  Coba Y! 
Messenger 9 Indonesia sekarang.

Kirim email ke