Bahan Bakar dari Limbah 
Oleh trubusid 
Selasa, Juni 17, 2008 23:46:07         
Di atas wastafel di sebuah rumah di Bojonggede, Kabupaten Bogor, Siti Aisyah 
membersihkan ikan mujair dan lele. Ia mengeluarkan isi perut kedua ikan itu dan 
membungkusnya dalam kantong plastik ganda, lalu membuangnya jauh. 'Kalau 
dibuang di tempat sampah depan rumah malah berceceran dimakan kucing,' kata 
perempuan 20 tahun itu. Padahal, jika diolah perut ikan itu menghasilkan minyak 
sebagai bahan bakar kompor.
Selain perut ikan atau sohor sebagai jeroan, bagian tubuh satwa perairan itu 
seperti kepala, ekor, dan tulang, juga potensial sebagai bahan bakar. Bahkan 
ikan busuk sekalipun. Potensi limbah ikan itu amat besar. Sebagai gambaran, 
volume limbah pengalengan ikan di Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, 
saja mencapai 50-60 ton per bulan. Perusahaan farmasi dan makanan memang 
menyuling limbah itu menjadi senyawa aktif omega 3. 'Namun, jumlahnya masih 
tetap melimpah,' kata Ir Kristio Budiasmoro MSi, peneliti Universitas Sanata 
Darma (USD), Yogyakarta. 
Ia membuktikan limbah ikan potensial sebagai bahan bakar. Menurut kepala Pusat 
Studi Lingkungan Universitas Sanata Darma itu limbah ikan kaya minyak. Untuk 
mengolahnya pun sederhana. Mula-mula ia memotong-motong limbah itu dan 
memanaskan hingga terbentuk minyak. Alumnus Universitas Gadjah Mada itu 
memanaskan kembali minyak ikan pada suhu 60oC. Lantas, ia menambahkan pelarut 
semipolar dan campuran asam kuat asam sulfat serta air aki hingga diperoleh 
bilangan asam 3 mg KOH/g minyak. 
'Rendemen limbah ikan mencapai 68%,' kata Kristio. Itu artinya untuk 1 liter 
minyak bakar hanya perlu 1,6 kg limbah ikan. Agus Unggul ST dari Fakultas Sains 
dan Teknologi di USD menguji daya bakar minyak limbah ikan. Hasilnya, nilai 
panas minyak ikan lebih tinggi dibandingkan minyak bakar fosil, tetapi di bawah 
minyak tanah. Nilai panas minyak ikan 9.270 kal/g; minyak bakar fosil 8.760 
kal/g; dan minyak tanah 11.000 kal/g. Kandungan air minyak limbah ikan lebih 
tinggi dibanding minyak tanah, 10,4% : 2,5%. 
Biaya untuk menghasilkan 1 liter minyak limbah ikan Rp2.167-Rp3.500. Kristio 
memang baru membuatnya dalam skala laboratorium. Namun, dengan cara yang sama, 
Saint Peter's, pabrik pengolah ikan di Amerika Serikat mampu memanfaatkan 
limbahnya untuk menggerakkan 10 truk dan 8 bus angkutan bagi 1.500 karyawannya 
setiap hari. Pabrik itu menghasilkan 1.135.000 liter biodiesel per tahun dari 
kepala, kulit, dan organ 25-juta kg ikan. Limbah tapioka 
Penghematan energi listrik maupun fosil dengan memanfaatkan limbah secara 
besar-besaran dilakukan Budi Acid Jaya Tbk di Way Abung, Lampung. Produsen 
tepung tapioka terbesar di Indonesia itu melakukan penghematan biaya produksi 
sebesar Rp18,2-miliar/tahun. Pabrik yang memproses 800 ton singkong/hari itu 
mengolah 2.800 m3 limbah/hari untuk menghasilkan energi listrik sebesar 2,2 
megawatt. 
Sebelumnya, limbah hasil proses produksi tepung tapioka itu hanya diolah dengan 
mengendapkannya di kolam-kolam agar kandungan chemical oxygen demand COD 
berkurang. 'Butuh banyak kolam yang besar-besar untuk menampung limbah itu,' 
kata Ir Sudarmo Tasmin, wakil presiden PT Budi Acid Jaya Tbk. Oleh sebab itu, 
pengolahan limbah menyita lahan lebih luas dibandingkan pabriknya sendiri. 
Selain itu kolam-kolam itu mengeluarkan gas metan cukup tinggi lantaran tidak 
tertutup. 
Seiring peningkatan harga solar dan tarif dasar listrik, Budi Acid Jaya 
melakukan inovasi berupa pendirian instalasi biogas berbahan limbah tapioka. 
'Itu juga sejalan dengan komitmen perusahaan terhadap Protokol Kyoto untuk 
mereduksi limbah methan,' kata Sudarmo. Awal 2007 silam, instalasi pengolahan 
limbah mulai beroperasi dengan investasi pendirian mencapai US$1-juta. 
Ternyata, pengolahan limbah itu tak cuma menghasilkan listrik untuk menjalani 
seluruh produksi. Budi Acid Jaya juga memperoleh tambahan pendapatan melalui 
penjualan CER certified emission reduction ke salah satu perusahaan di Jepang. 
CER merupakan sertifikat yang dikeluarkan oleh PBB untuk perusahaan yang 
berhasil menurunkan jumlah emisi dan limbah. Sertifikat itu kemudian 
diperjualbelikan ke perusahaan-perusahaan yang memiliki kewajiban menurunkan 
emisi limbahnya sesuai perjanjian Kyoto. Jumlah emisi yang berhasil diturunkan 
Budi Acid Jaya mencapai 230.000 CERs. Sebanyak 140.000 CERs terjual dengan 
harga US$1,7-juta. Itu sebagai pemasukan tambahan karena mengolah limbah. 
Briket sampah 
Energi yang paling mudah diciptakan adalah briket sampah. Bahan bakunya hanya 
sampah organik seperti kayu-kayu sisa, daun-daun kering, makanan sisa, dan 
kertas. Cara pembuatannya mirip pembuatan arang. Bahan-bahan itu dibakar sampai 
berbentuk arang berwarna hitam pekat. Saat bara api merata ke seluruh bagian 
bahan, segera disiram air. Hasil berupa arang itu ditumbuk menggunakan alat 
penumbuk atau martil. Kemudian tambahkan daun-daun tanaman segar yang lunak dan 
tinggi kandungan air. 
Daun-daunan itu dapat diambil dari sisa-sisa sampah pasar atau sayuran seperti 
bayam, kangkung, atau sawi yang sudah terbuang. Persentase komposisi bahan 
pembuatan briket organik adalah 80% arang sampah organik kering dan 20% 
campuran daun segar. Jadi, bila dicampurkan 800 g sampah organik butuh 200 g 
daun segar. Setelah tercampur rata, adonan dicetak dengan ukuran dan bentuk 
sebagai briket. Briket itu dijemur di bawah sinar matahari sampai kering. 
Tanda-tanda briket sudah kering dengan cara meletakkan dan mengangkatnya di 
telapak tangan. Briket kering terasa ringan dan jelaga di permukaan tidak 
terlalu mengotori telapak tangan. 
Langkah-langkah itu dilakukan oleh warga Kampung Panoram, Purwakarta, Jawa 
Barat, guna membuat bahan bakar kompor untuk memasak. Dengan begitu, mereka tak 
perlu waswas menunggu kedatangan mobil pengangkut minyak tanah dan berdiri 
dalam antrean yang mengular panjang. (Vina Fitriani/Peliput: Andretha Helmina)  


      

Kirim email ke