SELAMATKAN INDONESIA !
www.bantenmuda.multiply.com
Sejarah adalah kontinuitas antara masa lampau, masa sekarang dan masa depan.
“Barang siapa memiliki masa sekarang yang lebih bagus dari masa lalunya, ia
tergolong orang yang beruntung; bila masa sekarangya sama dengan masa lalunya,
ia termasuk orang yang merugi; bila masa sekarangnya lebih buruk dari masa
lampaunya, ia tergolong orang yang bangkrut.” Mengutip apa yang disampaikan
oleh Nabi Muhammad SAW mengenai pentingnya kesadaran sejarah, Amien Rais
berharap Indonesia tidak termasuk bangsa yang bangkrut, sekalipun belum menjadi
bangsa yang beruntung.
Dalam kesempatan memberikan kuliah umum yang diselenggarakan oleh keluarga
alumni universitas gadjah mada (KUGAMA) di Hotel Permata Krakatau Cilegon
Selasa (8/7) lalu, Amien mencermati bahwa apa yang dirasakan dan disaksikan
dewasa ini pada hakekatnya dalam banyak hal merupakan pengulangan sejarah
kolonial. Bangkitnya imperialisme ekonomi yang dilancarkan negara-negara Barat,
negara-negara eks kolonialis, lewat apa yang dinamakan globalisasi dengan tiga
institusi pilarnya seperti IMF, Bank Dunia dan WTO mengingatkan kita akan VOC
(Vereenigde Oost-Indische Compagnie) dan Pemerintah Belandanya yang mulai
menjajah dengan menguasai kepulauan dan menguras hasil buminya terutama
rempah-rempah dan perkebunan Indonesia.
Didampingi Alfitra Salam sebagai moderator, Amien mencoba menyampaikan bahwa
di awal abad 20 ini telah terjadi fenomena korporatokrasi sistem global yang
ditentukan oleh korporasi. Bagaimana mereka membangun kekuatan politik
pemerintah, lingkaran militer, perbankan dan keuangan internasional, media
massa dan kelompok intelektual prokemapanan untuk menerobos negara-negara
berkembang dengan bantuan elite nasionalnya yang bersedia menjadi komprador
atau pelayan kepentingan korporatokrasi.
Hal ini tak ubahnya dengan apa yang dilakukan VOC yang telah menjadi
“perusahaan swasta” terbesar di dunia dengan kekayaan yang demikian dahsyat
untuk ukuran jaman itu dengan membangun kerjasama korporatokratik dari tiga
pilar utamanya yakni VOC sendiri sebagai korporasi raksasa, kekuatan politik
Pemerintah Belanda dan kekuatan militer Belanda yang selalu siap untuk
menggebuk setiap rintangan yang dihadapi VOC.
Sejarah mencatat korporasi dulu dan sekarang bisa masuk ke Indonesia karena
ada elit nasional yang membuka pintu. Sebagai misal Amangkurat I dan II yang
menggantikan Sultan Agung sebagai raja Mataram justru mempermudah jatuhnya
sebagian wilayah Jawa Barat ke tangan VOC. Ketika Amangkurat II diganti oleh
Pemerintah Belanda dengan Pamannya, Pakubuwono I, konsesi tanah yang lebih luas
lagi diberikan pada Pemerintah Belanda. Kerajaan Mataram terus mengkerut kecil,
seluruh pulau Jawa telah jatuh ke tangan Belanda, kecuali daerah Jogjakarta dan
Surakarta, itupun dipecah menjadi dua kerajaan, kesultanan dan kasunanan.
Berdasarkan perjalanan sejarah, pada dasarnya kekuatan-kekuatan
korporatokrasi di awal abad 21 ini tidak mudah, bahkan mustahil dengan gampang
bisa mengacak-acak kedaulatan ekonomi bangsa Indonesia bila elit nasionalnya
tidak membungkuk bahkan mungkin tiarap di depan berbagai korporasi
internasional itu. Membongkar mentalitas inlander yang sudah melekat itulah
yang saat ini dirasakan sangat sulit. Amien mencontohkan, banyak pemimpin
bangsa yang ‘‘ketakutan’’ dan merasa panas dingin karena Presiden Bush akan
mampir ke Indonesia di akhir 2006. Pengamanan yang diberikan kepada Presiden AS
yang dinegerinya sendiri sudah tidak populer itu sungguh berlebih dan sekaligus
agak memalukan. Tidak ada negara manapun di dunia yang menyambut Presiden Bush
seperti maharaja diraja, kecuali Indonesia di masa kepemimpinan Susilo B.
Yudhoyono. Seolah Indonesia telah menjadi vazal atau negara protektorat A.S.
Dalam sambutannya Suripno mengatakan, tema “Selamatkan Indonesia!” dalam
kuliah umum KAGAMA ini diambil dari judul buku terbaru karya Amien Rais yang
menawarkan agenda yang perlu dikerjakan bersama oleh bangsa ini. Buku ini
mengingatkan kita bahwa dalam banyak hal apa yang dialami bangsa dalam beberapa
dasawarsa terakhir ini sesungguhnya merupakan pengulangan belaka dari apa yang
kita alami pada zaman penjajahan kompeni dan pemerintahan Belanda dimasa lalu.
Perbedaan antara tempo doeloe dengan masa sekarang hanyalah dalam bentuk atau
format belaka. Dahulu pendudukan fisik dan militer Belanda menyebabkan bangsa
Indonesia kehilangan kemerdekaan, kemandirian dan kedaulatan politik, ekonomi,
sosial, hukum dan pertahanan. Sedangkan sekarang ini pendudukan fisik dan
militer asing itu secara resmi sudah tidak ada dan tidak kelihatan. Tetapi
sebagai bangsa kita telah kehilangan kemandirian, dan sampai batas yang cukup
jauh, kita juga sudah kehilangan kedaulatan ekonomi. Dalam
banyak hal, bangsa Indonesia tetap tergantung dan menggantungkan diri pada
kekuatan asing.
Dalam buku ini Amien mencoba mencari jawaban atas masalah besar yang
senantiasa dihadapi oleh bangsa ini; kemiskinan, terbelakang dan tercecer dalam
derap kemajuan bangsa-bangsa lain. Suatu bangsa dan pemerintah yang sudah
kehilangan kemandirian, tidak akan bisa lagi membedakan antara patron dan
klien, antara majikan dan pelayan, dan antara tuan dan budak. Amien mencoba
membedah masalah mendasar bangsa, agar kita tidak terus menerus terjebak dalam
kesemrawutan mental dan akan seakan bingung tentang jati diri kita sendiri:
Jati diri sebagai bagsa yang besar, merdeka, berdaulat, mandiri dan mampu
menentukan nasib sendiri tanpa bergantung pada bangsa lain atau kekuatan asing.
Bangsa yang bijak adalah bangsa yang yang bisa melihat perjalanan bangsa lain
untuk menjadi pelajaran. Banyak negara yang sukses memukul balik gelombang
globalisasi dan politik seperti Iran, India, China, Malaysia, Argentina,
Venezuela, Bolivia dan lain sebagainya. Negara-negara yang bermartabat ini
berhasil menjadi tuan rumah di negeri sendiri, berkat sukses melakukan
dekolonisasi mental dan sukses membangun sistem sosial, ekonomi dan politik
yang lebih kurang mandiri, merdeka dan berdaulat.
Selain mengkritisi, secara Fair Amien juga memberikan apresiasi beberapa
keberhasilan pemerintahan yang sekarang. Sebut saja perdamaian di Aceh Nanggroe
Darussalam, stabilitas politik nasional dapat dikatakan relatif tidak ada
gerakan-gerakan yang termasuk kategori “pemberontakan” terhadap NKRI, perang
terhadap illegal logging, narkoba dan perjudian mulai menampakkan hasil awal
yang cukup menjanjikan, citra politik Indonesia sebagai negara yang cepat
belajar dan melaksanakan demokrasi cukup bagus dipanggung internasional dan
pelaksanaan HAM yang relatif baik.
Namun Amien menunjuk kelemahan fundamental yang diderita oleh pemerintahan
sekarang adalah makin menjulangnya korupsi yang paling berbahaya, yaitu korupsi
yang telah menyandera negara, akibat tekanan kekuatan korporatokrasi yang
memang cukup dahsyat, sehingga bangsa ini seperti kehilangan harapan untuk
dapat keluar dari lingkaran kemiskinan, pengangguran, dan keterbelakangan tanpa
ujung.
Melalui bukunya Amien juga menawarkan banyak gagasan sebagai solusi bangsa
ini, seperti misalnya harus ada turun mesin kepemimpinan dan keberanian untuk
menyelamatkan sumber daya alam ini yang terus dijadikan kenduri massal oleh
bangsa asing. Salah satu diantaranya adalah dengan melakukan negoisasi ulang
kontrak karya dengan perusahaan-perusahaan asing yang bercokol di negeri ini.
Amien mencontohkan keberanian pemerintah Bolivia untuk untuk mengaudit
investasi dan keuntungan semua perusahaan migas asing dinegaranya untuk
menentukan pajak, jumlah royalti dan ketentuan operasi di masa depan. Dan migas
hanya boleh diekspor setelah kebutuhan domestik dipenuhi. Pemerintah membuat
kontrak baru secara sepihak dan memberikan waktu enam bulan kepada perusahaan
asing untuk mempelajarinya, bila tidak setuju dipersilahkan meninggalkan
Bolivia. Dan apa yang terjadi, sehari sebelum batas waktu yang ditentukan,
semua korporasi asing yang telah beroperasi di Bolivia memilih tunduk pada
kemauan pemerintah yang hakikatnya kemauan rakyat Bolivia. Amien mengatakan,
jika pemerintah kita berani meniru langkah tersebut maka akan mendapatkan
keuntungan berpuluh-puluh milyar dolar AS lebih banyak per tahunnya. *** (Wira)
www.friendster.com/bantenmudamagazine
---------------------------------
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
br>Cepat sebelum diambil orang lain!