Marhabassa' Ya Ramadhan! 
Antara Tradisi, Pelajaran Mencintai dan Kepedulian Sesama
renungan buruhmigrant; lawangbagja; www.rumahduniadubai.wordpress.com
 Tradisi Menjelang Ramadhan
Menjelang nisfu sya'ban dan yang lebih utama lagi tamu yang sangat ditunggu, 
yaitu bulan Ramadhan, izinkan saya mengawali rangkaian kata-kata ini dengan 
terlebih dahulu memohon dibuka pintu maaf kepada para hamba Allah yang di 
mailing list ini. Jika tidak tahu karena tidak membaca mohon disampaikan kalau 
saya meminta maaf dari semua yang kurang sreg nyangkol di hati para warga 
sekalian.Sebetulnya tidak ada tuntunan khusus sebelum Ramadhan apalagi nisfu 
sya'ban dianjurkan untuk saling meminta maaf. Meminta maaf dalam konteks umum 
adalah perbuatan baik kapanpun, dimanapun, dan di forum apapun. meminta maaf 
sabagai upaya pengguguran dosa atau kesalahan terutama menyangkut hak sesama 
anak adam. Kelihatannya sepele karena tinggal menyampaikan namun seringkali 
karena ego menjadi tertahan. Ini yang akhirnya menjadi bumerang karena Allah 
tidak akan turut campur urusan sesama hamba sampai sesama makhluknya sendiri 
yang menyelesaikan serta bisa saling
 mengikhlaskan.
 Dalam sebuah sumber dikatakan bahwa pada nisfu sya'ban catatan buku amal 
perbuatan anak adam ditutup, dilaporkan ke Sang Khalik dan diganti dengan buku 
catatan yang baru. Sehingga para ulama menyarankan pada hari itu dianjurkan 
puasa agar ketika buku catatan ditutup rapor atau nilai yang terakhir 
menyatakan bahwa ia sedang berpuasa dan melakukan amal shalih lainnya. Begitu 
pula dengan Ramadhan, bulan yang berisi kemulyaan dan keutamaan. Setiap 
kebaikan akan diganjar hingga tidak berbilang berapa kali pengalinya. Hanya 
Allah saja yang tahu. Saat catatan amal Ramadhan dan janji Allah akan 
ditunaikan dengan menyepuh dosa-dosa anak Adam hingga putih bersih kembali 
semua akan tertahan sampai urusan sesama hamba-Nya sudah clear terlebih dahulu. 
Sehingga atas dasar pemikiran itulah lazimnya diantara kita terutama di 
Indonesia berkirim sms ria menyampaikan permohonan maaf. Entah siap yang 
memulai namun jika ditilik-tilik, 'gak ada salahnya minta maaf
 asal tidak menganggap ini sebagai sunnah karena dikaitkan dengan dua hal tadi.
 Alasan saya sediri meminta maaf, saya ingin ketika catatan buku amal ditutup 
dan diganti dengan buku yang baru ada record bahwa saya sudah memohon 
permintaan maaf kepada msyarakat. Maklum dalam bergaul sering kali terselip 
lidah, bahasa tubuh dan semua hal yang mungkin menjadi bibit syak wasangka dan 
kebetulan nisfu sya'ban tinggal beberapa hari lagi. Mengenai Ramadhan, dari 
beberapa hari yang tersisa ke depan saya ingin sekali mempersiapkan diri dalam 
mengarunginya. Satu hal yang perlu dilakukan saya harus membebaskan urusan 
sesama makhluk tuhan. Apalah artinya bermunajat kepada Allah jika ada hak hamba 
yang belum selesai. Ramadhan kali ini semoga bisa membersihkan dan melebur 
semua dosa saya.  Itulah alasan saya meminta maaf.
 Ramadhan dan Pelajaran Mencinta
 Menjadi manusia modern ternyata tidak serta merta menjadi lebih hebat 
dari manusia di zaman sebelumnya. Menurut Erich Fromm, dalam buku the art of 
loving, manusia modern justru lebih banyak yang menderita. Penderitaan itu 
disebabkan kehausan mereka untuk dicintai oleh orang lain. Para artis yang 
melakukan berbagi upaya agar selalu dielu-elukan penggemarnya, para politisi 
yang tega berbohong agar tetap didukung oleh partisannya, para anak muda yang 
membabi buta mengekor trend zaman agar senantiasa dikelilingi teman-temannya. 
Yang dilakukan manusia modern adalah upaya untuk dicintai, bukannya untuk 
mencintai. kehidupan menunjukan bahwa semakin keras upaya untuk dicintai maka 
sering pula mereka gagal dan kecewa. Realitas hidup menunjukan pro dan kontra, 
cinta dan benci akan selalu ada dan tidak akan bisa diraih semuanya.
 Jika target hidup untuk mendapatkan cinta sesama manusia, kita akan selalu 
menemui kekecewaan. Karena kecintaan makhluk bersifat sementara saja. Menurut 
Fromm, yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan penyakit ini adalah dengan 
belajar mencintai.  Jadikan kebahagiaan hidup kita bergantung pada apa yang 
kita cintai. Sayangnya dalam literatur modern sangat sulit sekali menemukan 
pelajaran mencintai. Yang sering kita temukan adalah kiat-kiat untuk dicintai. 
Kiat disayangi atasan, disenangi teman, dicintai keluarga, dan disenangi 
teman-teman sepekerjaan. Kita justru salah kaprah saat mencintai dianggap 
sebagai sebuah kecelakaan. Itulah sebabnya dikenal dengan istilh Falling in 
Love atau jatuh cinta. Dinamakan jatuh karena sebuah kecelakaan. Bahwa proses 
mencintai lahir karena kebetulan, dadakan dan tidak disengaja. Mestinya adalah 
" Learn to Love" atau belajar mencintai.
 Ramadhan lewat ibadah shaum/puasanya mengajarkan kita untuk berempati pada 
nasib dhu'afa, fakir miskin. Yang makan saja begitu morat-marit. emphaty tu 
empati berarti, I feel what you feel. Saya ikut merasakan apa yang anda 
rasakan. Saat kita merasakan betapa nelongsonya jadi orang kere maka empati pun 
timbul. Empati inilah yang mendorong kita untuk mencintai mereka yang lemah. 
Maka Ramadhan sesungguhnya mengajarkan kita untuk  belajar mencintai. Dalam 
tangga ketakwaan, seseorang tidak akan bisa sampai maqam dekat Allah dan 
disayangi oleh-Nya sampai ia bisa mencintai Rasul sebenarnya. Jika ingin 
dianggap mencintai Rasul maka ia harus mencintai keluarganya. Jika ingin 
dicintai oleh ahlul bait Rasul maka ia juga hrus bisa mencintai fakir miskin. 
Dan Ramadhan akan menghantarkan kita pada itu semua.
 Ramadhan dan Kepedulian sesama
 Dalam Alquran, surat Lukman; 19 dikatakan, " Sesungguhnya suara yang paling 
jelek adalah suara keledai". Menurut Rumi, yang dimaksud dengan paling jelek 
suaranya bukanlah yang paling keras suaranya. Ketika Allah menciptakan semua 
makhluk kemudian ditiupkan ruh ke dalam diri mereka, semuanya hidup. Kalimat 
pertama yang diucapkan oleh mereka adalah bertasbih, memuji Tuhan. Hanya 
keledai saja yang diam. Suatu saat ketika semua binatang terdiam keledai itu 
berteriak.  Orang-orang bertanya kenapa keledai itu berteriak. Ternyata keledai 
berteriak karena ia lapar.  Kata Rumi," Suara yang paling jelek di sisi Allah 
adalah orang yang hanya bersuara ketika perutnya lapar maksudnya ia hanya 
bersuara ketika membela kepentingannya sendiri".
 Ramadhan yang selama sebulan sekali dalam setahun menggembleng manusia agar 
tidak memikirkan diri sendiri. Bukan hanya satu atau dua hari saja tapi 
benar-benar selama sebulan!. Manusia yang sering lupa harus diingatkan 
berkali-kali. Dalam sebulan tiba-tiba kita dihadapkan pada perubahan pola hidup 
yang ekstrim. Menahan lapar dan dahaga saat siang terik menyengat. Dan yang 
menarik saat tidak ada yang tahu kita benar-benar berpuasa atau tidak. Semua 
membutuhkan ketulusan dalam menjalankannya. Dengan merasakan kesusahan seperti 
yang fakir miskin rasakan setiap harinya. Dimaksudkan lewat proses 'merasakan' 
itulah tumbuh kecintaan yang tulus pada sesama makhluk tuhan. Kecintaan yang 
tulus itulah pada akhirnya yang menjadi tantangan besar bagi manusia modern 
saat ini.
 Dalam buku Essential of Sufism dikatakan, bahwa manusia modern  sangat sulit 
untuk mencintai dengan tulus. Karena kecintaan dengan tulus membawa resiko yang 
banyak. Resiko yang pertama adalah keterlibatan seluruh kepribadian kita. 
sementara orang modern inginnya mandiri,bebas, independen, tidak mau terlalu 
banyak terlibat. Akhirnya mereka tidak berhasil mencintai siapapun, kecuali 
dirinya sendiri. Ramadhan lewat syariat yang sudah baku, Allah Menghancurkan 
keakuan manusia modern sehingga dalam sebulan itu kita diharapkan lahir kembali 
menjadi pribadi-pribadi yang dipenuhi hatinya dengan kecintaan yang tulus 
sesama ummat manusia.
 Menjelang Ramadhan, mari kita menyiapkan semua perangkat lahir dan bathin kita 
untuk mengarungi Ramadhan dengan khusyu dan khidmat. Semoga meraih cita dan 
cinta dari Sang Khalik karena hanya dengan kecintaan yang tulus kita semua 
kembali dengan selamat. Marhabassa' ya Ramadhan (Most Welcome wahai bulan 
Ramadhan!). Mari berbenah diri menikmati jamuan anggur Cinta sang Khalik. 
Wallahu a'lam
  
; sumber Road to Allah, etc


      

Kirim email ke