Merebut Kembali Kejayaan Banten Oleh Machsus Thamrin* ADALAH sebuah bukti sejarah bahwa kota-kota dan negara besar di dunia selalu didukung oleh perdagangan dan pelabuhan internasional yang besar pula.
Sebagai salah satu moda transportasi, perhubungan laut merupakan sarana transportasi yang dikenal murah dan efisien, dari jaman dulu hingga saat ini. Karena itu, meski teknologi transportasi lain seperti angkutan udara makin berkembang dan mampu menciptakan pesawat dengan daya jelajah dan kemampuan angkut yang besar, namun moda transportasi laut masih tak tertandingi. Karena itu, negara-negara besar selalu didukung oleh pelabuhan internasional sebagai tulang punggung moda transportasinya. Kebangkitan negara-negara Asia sebagai "macan ekonomi" dari kawasan ini seperti Korea dan Cina, tak lepas dari dukungan pelabuhan internasional yang kuat pula. Korea, misalnya, saat ini memiliki empat pelabuhan internasional yang sangat besar. Sementara Cina selain memiliki Palabuhan Shanghai, Cina juga membangun pintu-pintu baru di Guang Zhou, Zzen-Szen dan Hainan. Yang terdekat adalah Singapura. Negara ini menjadi sebuah titik penting dalam perdagangan internasional dengan memiliki pelabuhan besar, sehingga kegiatan ekspor-impor negara lain disekitarnya tergantung pada pelabuhan tersebut. Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa bahari yang memiliki tradisi kelautan yang sangat kental dan tua. Beberapa Bandar besar di masa lalu, seperti Sriwijaya, Makassar, Banten bahkan Sunda Kelapa merupakan bukti bahwa bangsa ini pernah berjaya lewat transportasi laut dan pelabuhan internasional sebagai tulang punggungnya. Dalam hal ini faktor pemilihan lokasi kota menjadi sangat penting dalam pengembangan kota itu di kemudian hari. Kota-kota pesisir dan kota di pinggiran sungai, biasanya berkembang menjadi kota yang didukung perdagangan sebagai basis utama mata pencaharian penduduknya. Seperti dikatakan Leaf (1988) yang dikutip Tjahjono, kota-kota di Indonesia banyak yang menemukan kejayaannya lewat air. Kota-kota ini berkembang dengan sistem sendiri (nagara) dan cepat berubah karena warganya yang lebih banyak berorientasi dagang. Dalam kota yang demikian, kemajemukan kebudayaan yang lebih kaya berkat silang budaya dengan luar dibandingkan dengan kota pedalaman (Gunawan Tjahjono, 1999). Banten sebagai sebuah kota tua, memiliki tradisi itu. Pada masa sebelum Islam, Banten merupakan wilayah Kerajaan Sunda yang berada dalam jangkauan kekuasaan Padjajaran. Sutikno (1989) mengutip Ten Dam mengatakan pada abad ke 12-15 Banten sudah menjadi pelabuhan kerajaan Sunda. Menurut Ten Dam di daerah sekitar ibukota kerajaan Sunda, yaitu Padjajaran, yang terletak di sekitar Bogor saat ini memiliki dua jalur jalan darat penting yang menghubungkan daerah pantai utara dengan ibukota. Dalam wilayah Padjajaran, Kerajaan Sunda memiliki pelabuhan- pelabuhan besar yang sangat berpengaruh saat itu. Mengutip tulisan Tome Pires dalam Suma Oriental tahun 1951, Prof Shigeru Ikuta (1992) mengungkapkan terdapat enam pelabuhan kota di daerah ini yakni Bautan (Banten), Pomdang (Pontang), Chegugde (Muara Sungai Cisadane Tangerang), Tamgara (Tangerang), Calapa (Sunda Kelapa dan Chemano (Cimanuk). Dengan penguasaan sarana vital inilah Kerajaan Sunda memegang peran penting dalam perdagangan di awal abad 13. Masuknya Islam yang ditandai dengan penaklukan Banten oleh Aliansi Demak dan Cirebon, menandai berakhirnya masa Hindu di Banten. Perpindahan kekuasaan dari Pucuk Umum (Pajajaran) kepada Maulana Hasanuddin kemudian diikuti pemindahan ibukota pemerintahan Banten pada 1526 (michrob, 1994). Banten Girang (girang=hulu) sendiri, terletak kira-kira 2 km di sebelah selatan pusat kota Serang, yaitu di Sayabulu, dekat desa Sempu sekarang, inilah yang merupakan Ibukota Banten pra Islam. Pemindahan ibukota ke daerah pantai ini dilakukan dengan alasan agar hubungan antara daerah pesisir utara Jawa dan pesisir Sumatera lewat Selat Malaka dan Samudra India menjadi mudah. Belakangan terbukti ide ini menjadi ide yang brilian. Banten kemudian tumbuh menjadi sebuah pusat perdagangan yang besar, seperti dikatakan Hasan Muarif Ambary (1995), sejak awal sebelum masuknya Islam hingga Kejayaan Banten dalam pengaruh Islam, Banten dikenal sebagai kota Bandar yang besar. B.Banten dari Nagara ke Commandery Dengan bersandar pada kekuatan masyarakatnya Banten berkembang menjadi sebuah pusat perdagangan besar. Hasil penelitian arkeologi menunjukkan ciri-ciri Banten Lama sebagai kota Metropolitan. Kejayaan Banten ini terjadi jika ketika Sultan Ageng Tirtayasa menjadi raja yang diangkat pada 1651. Hasil penelitian tersebut antara lain ditemukannya situs industri logam dan gerabah, serta beragam temuan barang perdagangan. Temuan artefak berupa barang impor seperti keramik asing dari berbagai negara di hampir setiap jengkal tanah di situs Banten, menunjukkan bahwa Banten masa itu memang pernah menjadi bandar besar. Merujuk teori yang dikemukakan Wheatley (1983) tentang tradisi berkota di Nusantara yang terdiri dari dua sistem yakni sistem kebangkitan (generation) dan sistem paksaan (imposition), pada periode ini Banten berada dalam sistem kebangkitan. Pada sistem ini, seluruh jaringan dan unsur-unsur terkait dalam kehidupan berkota itu timbul dari nilai-nilai setempat oleh masyarakatnya. Berdasarkan teori ini, mungkin saja sistem dari luar bersinggungan dengan sistem tempat tersebut, namun sistem setempat mampu mengatasi dan menyerapnya ke dalam sistem yang ada dalam kehidupan. Dalam konsep Wheatley, sistem kebangkitan yang terjadi seperti ini disebut sebagai sistem kebangkitan atau nagara. Dalam sistem ini, seluruh penataan sesuai dengan kebudayaan dan ruang kota dibagi sesuai dengan lapisan sosial dan tata nilai yang dipahami warga. Sedangkan pusat kekuasaan dalam nagara menjadi acuan penataan ruang dengan diri penguasa sebagai titik awalnya. Semakin jauh dari pusat semakin kurang kekuatan penataan. (Tjahjono, 1999). Sebagai sebuah bandar perdagangan yang besar, Banten waktu itu memang memiliki keunggulan komparatif dibandingkan pelabuhan lain. Dengan dukungan sistem perdagangan, perbankan, gudang yang memadai, para pedagang Eropa memilih Banten sebagai basis perdagangannya di Nusantara dibandingkan dengan Sunda Kelapa dan harus menuruti aturan perdagangan Vereigde Oosindishe Compagnie (VOC) (Kompas, 14 November 2001). Kebesaran Banten dengan sistem nagara ini sungguh sangat merisaukan penguasa Belanda. Aturan perdagangan monopoli yang diberlakukan VOC tersandung di Banten. Karena itu, Belanda dengan berbagai cara berusaha melumpuhkan Banten namun pertahanan Banten waktu itu mampu menghalaunya. Upaya merebut Banten dan memindahkan pusat keramaian pelabuhan Banten ke Sunda Kelapa terus menerus dilakukan oleh Belanda. Belanda kemudian menemukan sebuah momentum saat terjadinya perpecahan antar Sultan Ageng dengan putranya Sultan Haji. Belanda menjalin koalisi dengan Sultan Haji, dan memenjarakan Sultan Ageng dengan imbalan hak perdagangan monopoli di Banten. Belanda lalu mengusir semua pedagang Eropa dari Banten, dan memindahkan saudagar Cina ke Batavia. (Kompas, 14 November 2001). Era ini menandai hancurnya kehidupan perniagaan dan kelas menengah Banten. Benteng Speelwijk Sebuah Tonggak Transformasi ke Commanderry Proses transformasi sistem di Banten terjadi dan ditandai dengan pembangunan benteng Speelwijk. Benteng ini merupakan benteng pertahanan milik Belanda yang dibangun pada akhir abad ke 17-an. Pembangunan ini, bagian dari proses tawar menawar antara Sultan Haji dengan VOC. Namun, tak disadari, inilah cikal bakal pemberlakuannya konsep commanderry di Banten. Secara perlahan namun pasti, Belanda melakukan intervensi ke berbagai sisi kehidupan masyarakat Banten. Ketika Daendels menjadi Gubernur Jenderal, ia memerintahkan Sultan Banten waktu itu dijabat oleh Sultan Aliyuddin II mengirim 1000 orang warganya setiap hari, untuk melaksanakan pembangunan pelabuhan angkatan laut. Penolakan Sultan terhadap perintah itu membuat pemerintahan Belanda berang. Istana Banten pun dihancrkan pada 21 November 1808, sejak itu Banten dianeksasi dan bentuk pemerintahannya diubah dari kerajaan dengan dipimpin oleh Loandrostambt, semacam residen dengan tiga kabupaten (Nina Lubis, 2001). Dalam konsep Wheatley (1983) sistem paksaan atau commandery ini sistem dari luar datang menghapus dan menindas sistem yang semula ada. Disinilah terdapat sebuah ketidakberdayaan lokal terhadap nonlokal. Tata ruang kota commandery, seperti dikatakan Gunawan Tjahjono (1999) selalu menimbulkan perbenturan nilai antara yang mengatur dengan yang diatur. Penguasa memaksakan suatu pola yang memudahkan pengawasan demi pengendalian dan mempertahankan kekuasannya. Era inilah yang menandai selesainya sebuah proses transformasi dari Nagara ke Commandery di Banten sekaligus menutup episode kejayaan Banten. Merebut Kembali Kejayaan Banten Pada saat mengakhiri penghujung abad XVI Masehi, banten telah berkembang menjadi suatu pusat budaya tinggi (tamaddun) Islam yang berwibawa di Asia Tenggara. Salah satu unsur dominan dalam tamaddun itu adalah kehadiran dan berkembangnya arsitektur (Michrob, 1994). Kota Banten sebagai subsistem pemukiman tumbuh merambat dengan istana tetap sebagai pusat orientasi. Didukung oleh teknologi yang semakin diperinci dan diperluas, untuk menghasilkan produk arsitektural yang memenuhi kebutuhan sekaligus ekspresi seni, lambang status, dan kenyamanan penghuni atau pemakainya. Dalam konteks pembentukan Kota Banten yang dirancang sedemikian rupa, sekaligus menunjuk pula pada realitas sosial yang hidup atau pernah hidup di Banten dan kecenderungan sistem religi yang dianut penghuninya. Dengan perancangan kota ini, Banten kemudian mengembangkan sebuah sistem kebangkitan warganya dengan interaksi dengan pihak luar dalam sebuah sinergi perdagangan internasional. Sistem kebangkitan atau nagara ini, terbukti efektif dalam menjadikan daerah ini sebagai sebuah pusat perdagangan yang ramai dan disegani. Banten lama mampu meletakkan pelabuhan sebagai unsur utama penyokong perekonomiannya. Dengan bandar laut internasional inilah Banten kemudian berjaya. Faktor pemilihan lokasi pusat kerajaan menjadi penting. Dalam teorinya Leaf mengemukakan kota-kota besar di Indonesia memang menemukan kejayaannya di air atau laut. Artinya kota-kota pesisir atau di pinggir sungai biasanya lebih maju dibandingkan dengan kota-kota pedalaman. Kini berabad telah berlalu, kejayaan Banten telah lama jadi cerita. Kemiskinan dan disparitas pendapatan antarpenduduk dan antardaerah menjadi persoalan utama. Merumuskan kembali arah pembangunan Banten, menjadi sebuah kemutlakan. Saya menyambut gembira pembangunan Pelabuhan Utama (hubport) di Bojonegoro. Telah lama dirasakan, Pelabuhan Tanjung Priok tak lagi bisa menampung semua dinamika ekonomi negeri. Inilah saatnya Banten merebut kembali kejayaanya melalui keunggulan geografisnya. Dengan dua gerbang utama yang dimilikinya, Bandara Soekarno-Hatta dan kelak pelabuhan Bojonegoro, kejayaan ekonomi Banten akan kembali, tinggal persoalannya adalah pengelolaan sumber ekonomi ini. Banten kini punya dua momentum besar untuk mempercepat kemajuan wilayahnya. Yang pertama adalah pemindahan ibukota kabupaten Serang sebagai konsekwensi logis dibentuknya Kota Serang. Sang induk terpaksa harus mengalah mencari rumah lain. Bila memanfaatkan, momentum pembangunnan hub port di Bojonegoro, seharusnya para perencana di Banten, menjadikan kawasan pantai ini sebagai salah satu alternatif ibukota kabupaten yang baru. Momentum kedua adalah rencana Banten menjadi tuan rumah Olimpiade negara-negara Islam 2013 kelak. Pembangunan sarana olahraga dan berbagai fasilitas penunjangnya, seharusnya bisa dimanfaatkan untuk membangun sebuah kota baru, yang juga beroriantasi pada pembangunan pesisir dan perhubungan laut. Lantas kapan kejayaan Banten itu akan kembali? Suatu ketika, ketika Banten memiliki pemimpin yang amanah, yang mengerti bagaimana mengelola dan mengoptimalisasikan potensi yang dimilikinya. Lalu mengembalikan semua hasilnya untuk rakyat, dengan menginvestasikan kembali sebagian besarnya melalui pendidikan untuk seluruh rakyat. Maka saat itulah kejayaan Banten akan kembali. Entah kapan... Penulis adalah pemerhati perencanaan kota dan warga Serang
