Ending tulisan dari Pak Muchsus :
"Lantas kapan kejayaan Banten itu akan kembali? Suatu ketika, ketika 
Banten memiliki pemimpin yang amanah, yang mengerti bagaimana 
mengelola dan mengoptimalisasikan potensi yang dimilikinya. Lalu 
mengembalikan semua hasilnya untuk rakyat, dengan menginvestasikan 
kembali sebagian besarnya melalui pendidikan untuk seluruh rakyat. 
Maka saat itulah kejayaan Banten akan kembali. Entah kapan..."
Pak Machsus, PD aja lah. Sekarang kan lagi gencar dimana-mana bicara masalah 
suksesi kepemimpinan dari yang sudah sepuh kepada yang muda. Maka dari itu saya 
berharap besar kepada generasi muda BANTEN yang sekarang ingin tampil untuk 
membuktikan diri sebagai pemimpin sebagaimana Pak Machus utarakan dalama 
tulisan itu yaitu : amanah, memahami dan mengerti memanage, mengelola dan 
mendayagunakan potensi yang ada kemudian mengembalikan semua hasilnya untuk 
kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, amiiin".
----- Pesan Asli ----
Dari: machsus thamrin <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Selasa, 26 Agustus, 2008 18:17:14
Topik: [WongBanten] Merebut Kembali Kejayaan Banten


Merebut Kembali Kejayaan Banten
Oleh Machsus Thamrin*

ADALAH sebuah bukti sejarah bahwa kota-kota dan negara besar di 
dunia selalu didukung oleh perdagangan dan pelabuhan internasional 
yang besar pula.

Sebagai salah satu moda transportasi, perhubungan laut merupakan 
sarana transportasi yang dikenal murah dan efisien, dari jaman dulu 
hingga saat ini. Karena itu, meski teknologi transportasi lain 
seperti angkutan udara makin berkembang dan mampu menciptakan 
pesawat dengan daya jelajah dan kemampuan angkut yang besar, namun 
moda transportasi laut masih tak tertandingi.

Karena itu, negara-negara besar selalu didukung oleh pelabuhan 
internasional sebagai tulang punggung moda transportasinya. 
Kebangkitan negara-negara Asia sebagai "macan ekonomi" dari kawasan 
ini seperti Korea dan Cina, tak lepas dari dukungan pelabuhan 
internasional yang kuat pula. Korea, misalnya, saat ini memiliki 
empat pelabuhan internasional yang sangat besar. Sementara Cina 
selain memiliki Palabuhan Shanghai, Cina juga membangun pintu-pintu 
baru di Guang Zhou, Zzen-Szen dan Hainan.

Yang terdekat adalah Singapura. Negara ini menjadi sebuah titik 
penting dalam perdagangan internasional dengan memiliki pelabuhan 
besar, sehingga kegiatan ekspor-impor negara lain disekitarnya 
tergantung pada pelabuhan tersebut.

Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa bahari yang memiliki tradisi 
kelautan yang sangat kental dan tua. Beberapa Bandar besar di masa 
lalu, seperti Sriwijaya, Makassar, Banten bahkan Sunda Kelapa 
merupakan bukti bahwa bangsa ini pernah berjaya lewat transportasi 
laut dan pelabuhan internasional sebagai tulang punggungnya.

Dalam hal ini faktor pemilihan lokasi kota menjadi sangat penting 
dalam pengembangan kota itu di kemudian hari. Kota-kota pesisir dan 
kota di pinggiran sungai, biasanya berkembang menjadi kota yang 
didukung perdagangan sebagai basis utama mata pencaharian 
penduduknya.

Seperti dikatakan Leaf (1988) yang dikutip Tjahjono, kota-kota di 
Indonesia banyak yang menemukan kejayaannya lewat air. Kota-kota ini 
berkembang dengan sistem sendiri (nagara) dan cepat berubah karena 
warganya yang lebih banyak berorientasi dagang. Dalam kota yang 
demikian, kemajemukan kebudayaan yang lebih kaya berkat silang 
budaya dengan luar dibandingkan dengan kota pedalaman (Gunawan 
Tjahjono, 1999).

Banten sebagai sebuah kota tua, memiliki tradisi itu. Pada masa 
sebelum Islam, Banten merupakan wilayah Kerajaan Sunda yang berada 
dalam jangkauan kekuasaan Padjajaran. Sutikno (1989) mengutip Ten 
Dam mengatakan pada abad ke 12-15 Banten sudah menjadi pelabuhan 
kerajaan Sunda. Menurut Ten Dam di daerah sekitar ibukota kerajaan 
Sunda, yaitu Padjajaran, yang terletak di sekitar Bogor saat ini 
memiliki dua jalur jalan darat penting yang menghubungkan daerah 
pantai utara dengan ibukota.

Dalam wilayah Padjajaran, Kerajaan Sunda memiliki pelabuhan-
pelabuhan besar yang sangat berpengaruh saat itu. Mengutip tulisan 
Tome Pires dalam Suma Oriental tahun 1951, Prof Shigeru Ikuta (1992) 
mengungkapkan terdapat enam pelabuhan kota di daerah ini yakni 
Bautan (Banten), Pomdang (Pontang), Chegugde (Muara Sungai Cisadane 
Tangerang), Tamgara (Tangerang), Calapa (Sunda Kelapa dan Chemano 
(Cimanuk).

Dengan penguasaan sarana vital inilah Kerajaan Sunda memegang peran 
penting dalam perdagangan di awal abad 13.

Masuknya Islam yang ditandai dengan penaklukan Banten oleh Aliansi 
Demak dan Cirebon, menandai berakhirnya masa Hindu di Banten. 
Perpindahan kekuasaan dari Pucuk Umum (Pajajaran) kepada Maulana 
Hasanuddin kemudian diikuti pemindahan ibukota pemerintahan Banten 
pada 1526 (michrob, 1994). Banten Girang (girang=hulu) sendiri, 
terletak kira-kira 2 km di sebelah selatan pusat kota Serang, yaitu 
di Sayabulu, dekat desa Sempu sekarang, inilah yang merupakan 
Ibukota Banten pra Islam.

Pemindahan ibukota ke daerah pantai ini dilakukan dengan alasan agar 
hubungan antara daerah pesisir utara Jawa dan pesisir Sumatera lewat 
Selat Malaka dan Samudra India menjadi mudah.

Belakangan terbukti ide ini menjadi ide yang brilian. Banten 
kemudian tumbuh menjadi sebuah pusat perdagangan yang besar, seperti 
dikatakan Hasan Muarif Ambary (1995), sejak awal sebelum masuknya 
Islam hingga Kejayaan Banten dalam pengaruh Islam, Banten dikenal 
sebagai kota Bandar yang besar.

B.Banten dari Nagara ke Commandery

Dengan bersandar pada kekuatan masyarakatnya Banten berkembang 
menjadi sebuah pusat perdagangan besar. Hasil penelitian arkeologi 
menunjukkan ciri-ciri Banten Lama sebagai kota Metropolitan. 
Kejayaan Banten ini terjadi jika ketika Sultan Ageng Tirtayasa 
menjadi raja yang diangkat pada 1651.

Hasil penelitian tersebut antara lain ditemukannya situs industri 
logam dan gerabah, serta beragam temuan barang perdagangan. Temuan 
artefak berupa barang impor seperti keramik asing dari berbagai 
negara di hampir setiap jengkal tanah di situs Banten, menunjukkan 
bahwa Banten masa itu memang pernah menjadi bandar besar.

Merujuk teori yang dikemukakan Wheatley (1983) tentang tradisi 
berkota di Nusantara yang terdiri dari dua sistem yakni sistem 
kebangkitan (generation) dan sistem paksaan (imposition) , pada 
periode ini Banten berada dalam sistem kebangkitan. Pada sistem ini, 
seluruh jaringan dan unsur-unsur terkait dalam kehidupan berkota itu 
timbul dari nilai-nilai setempat oleh masyarakatnya.
Berdasarkan teori ini, mungkin saja sistem dari luar bersinggungan 
dengan sistem tempat tersebut, namun sistem setempat mampu mengatasi 
dan menyerapnya ke dalam sistem yang ada dalam kehidupan.

Dalam konsep Wheatley, sistem kebangkitan yang terjadi seperti ini 
disebut sebagai sistem kebangkitan atau nagara. Dalam sistem ini, 
seluruh penataan sesuai dengan kebudayaan dan ruang kota dibagi 
sesuai dengan lapisan sosial dan tata nilai yang dipahami warga. 
Sedangkan pusat kekuasaan dalam nagara menjadi acuan penataan ruang 
dengan diri penguasa sebagai titik awalnya. Semakin jauh dari pusat 
semakin kurang kekuatan penataan. (Tjahjono, 1999).

Sebagai sebuah bandar perdagangan yang besar, Banten waktu itu 
memang memiliki keunggulan komparatif dibandingkan pelabuhan lain. 
Dengan dukungan sistem perdagangan, perbankan, gudang yang memadai, 
para pedagang Eropa memilih Banten sebagai basis perdagangannya di 
Nusantara dibandingkan dengan Sunda Kelapa dan harus menuruti aturan 
perdagangan Vereigde Oosindishe Compagnie (VOC) (Kompas, 14 November 
2001).

Kebesaran Banten dengan sistem nagara ini sungguh sangat merisaukan 
penguasa Belanda. Aturan perdagangan monopoli yang diberlakukan VOC 
tersandung di Banten. Karena itu, Belanda dengan berbagai cara 
berusaha melumpuhkan Banten namun pertahanan Banten waktu itu mampu 
menghalaunya. Upaya merebut Banten dan memindahkan pusat keramaian 
pelabuhan Banten ke Sunda Kelapa terus menerus dilakukan oleh 
Belanda.

Belanda kemudian menemukan sebuah momentum saat terjadinya 
perpecahan antar Sultan Ageng dengan putranya Sultan Haji. Belanda 
menjalin koalisi dengan Sultan Haji, dan memenjarakan Sultan Ageng 
dengan imbalan hak perdagangan monopoli di Banten.

Belanda lalu mengusir semua pedagang Eropa dari Banten, dan 
memindahkan saudagar Cina ke Batavia. (Kompas, 14 November 2001). 
Era ini menandai hancurnya kehidupan perniagaan dan kelas menengah 
Banten.

Benteng Speelwijk Sebuah Tonggak Transformasi ke Commanderry

Proses transformasi sistem di Banten terjadi dan ditandai dengan 
pembangunan benteng Speelwijk. Benteng ini merupakan benteng 
pertahanan milik Belanda yang dibangun pada akhir abad ke 17-an. 
Pembangunan ini, bagian dari proses tawar menawar antara Sultan Haji 
dengan VOC. Namun, tak disadari, inilah cikal bakal pemberlakuannya 
konsep commanderry di Banten.

Secara perlahan namun pasti, Belanda melakukan intervensi ke 
berbagai sisi kehidupan masyarakat Banten. Ketika Daendels menjadi 
Gubernur Jenderal, ia memerintahkan Sultan Banten waktu itu dijabat 
oleh Sultan Aliyuddin II mengirim 1000 orang warganya setiap hari, 
untuk melaksanakan pembangunan pelabuhan angkatan laut. Penolakan 
Sultan terhadap perintah itu membuat pemerintahan Belanda berang. 
Istana Banten pun dihancrkan pada 21 November 1808, sejak itu Banten 
dianeksasi dan bentuk pemerintahannya diubah dari kerajaan dengan 
dipimpin oleh Loandrostambt, semacam residen dengan tiga kabupaten 
(Nina Lubis, 2001).

Dalam konsep Wheatley (1983) sistem paksaan atau commandery ini 
sistem dari luar datang menghapus dan menindas sistem yang semula 
ada. Disinilah terdapat sebuah ketidakberdayaan lokal terhadap 
nonlokal.

Tata ruang kota commandery, seperti dikatakan Gunawan Tjahjono 
(1999) selalu menimbulkan perbenturan nilai antara yang mengatur 
dengan yang diatur. Penguasa memaksakan suatu pola yang memudahkan 
pengawasan demi pengendalian dan mempertahankan kekuasannya. Era 
inilah yang menandai selesainya sebuah proses transformasi dari 
Nagara ke Commandery di Banten sekaligus menutup episode kejayaan 
Banten.

Merebut Kembali Kejayaan Banten 

Pada saat mengakhiri penghujung abad XVI Masehi, banten telah 
berkembang menjadi suatu pusat budaya tinggi (tamaddun) Islam yang 
berwibawa di Asia Tenggara. Salah satu unsur dominan dalam tamaddun 
itu adalah kehadiran dan berkembangnya arsitektur (Michrob, 1994).

Kota Banten sebagai subsistem pemukiman tumbuh merambat dengan 
istana tetap sebagai pusat orientasi. Didukung oleh teknologi yang 
semakin diperinci dan diperluas, untuk menghasilkan produk 
arsitektural yang memenuhi kebutuhan sekaligus ekspresi seni, 
lambang status, dan kenyamanan penghuni atau pemakainya.

Dalam konteks pembentukan Kota Banten yang dirancang sedemikian 
rupa, sekaligus menunjuk pula pada realitas sosial yang hidup atau 
pernah hidup di Banten dan kecenderungan sistem religi yang dianut 
penghuninya.

Dengan perancangan kota ini, Banten kemudian mengembangkan sebuah 
sistem kebangkitan warganya dengan interaksi dengan pihak luar dalam 
sebuah sinergi perdagangan internasional. Sistem kebangkitan atau 
nagara ini, terbukti efektif dalam menjadikan daerah ini sebagai 
sebuah pusat perdagangan yang ramai dan disegani.

Banten lama mampu meletakkan pelabuhan sebagai unsur utama penyokong 
perekonomiannya. Dengan bandar laut internasional inilah Banten 
kemudian berjaya. Faktor pemilihan lokasi pusat kerajaan menjadi 
penting. Dalam teorinya Leaf mengemukakan kota-kota besar di 
Indonesia memang menemukan kejayaannya di air atau laut. Artinya 
kota-kota pesisir atau di pinggir sungai biasanya lebih maju 
dibandingkan dengan kota-kota pedalaman.

Kini berabad telah berlalu, kejayaan Banten telah lama jadi cerita. 
Kemiskinan dan disparitas pendapatan antarpenduduk dan antardaerah 
menjadi persoalan utama.

Merumuskan kembali arah pembangunan Banten, menjadi sebuah 
kemutlakan. Saya menyambut gembira pembangunan Pelabuhan Utama 
(hubport) di Bojonegoro. Telah lama dirasakan, Pelabuhan Tanjung 
Priok tak lagi bisa menampung semua dinamika ekonomi negeri. Inilah 
saatnya Banten merebut kembali kejayaanya melalui keunggulan 
geografisnya. Dengan dua gerbang utama yang dimilikinya, Bandara 
Soekarno-Hatta dan kelak pelabuhan Bojonegoro, kejayaan ekonomi 
Banten akan kembali, tinggal persoalannya adalah pengelolaan sumber 
ekonomi ini.

Banten kini punya dua momentum besar untuk mempercepat kemajuan 
wilayahnya. Yang pertama adalah pemindahan ibukota kabupaten Serang 
sebagai konsekwensi logis dibentuknya Kota Serang. Sang induk 
terpaksa harus mengalah mencari rumah lain. 

Bila memanfaatkan, momentum pembangunnan hub port di Bojonegoro, 
seharusnya para perencana di Banten, menjadikan kawasan pantai ini 
sebagai salah satu alternatif ibukota kabupaten yang baru.

Momentum kedua adalah rencana Banten menjadi tuan rumah Olimpiade 
negara-negara Islam 2013 kelak. Pembangunan sarana olahraga dan 
berbagai fasilitas penunjangnya, seharusnya bisa dimanfaatkan untuk 
membangun sebuah kota baru, yang juga beroriantasi pada pembangunan 
pesisir dan perhubungan laut.

Lantas kapan kejayaan Banten itu akan kembali? Suatu ketika, ketika 
Banten memiliki pemimpin yang amanah, yang mengerti bagaimana 
mengelola dan mengoptimalisasikan potensi yang dimilikinya. Lalu 
mengembalikan semua hasilnya untuk rakyat, dengan menginvestasikan 
kembali sebagian besarnya melalui pendidikan untuk seluruh rakyat. 
Maka saat itulah kejayaan Banten akan kembali. Entah kapan...

Penulis adalah pemerhati perencanaan kota dan warga Serang

 


      
___________________________________________________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke