Ironi di Pasar Emas...
www.geraidinar.com
Dalam teori penawaran dan permintaan (Supply and Demand), bila barang yang
ditawarkan lebih banyak tersedia di bandingkan permintaan maka harga akan
turun; sebaliknya bila barang yang ditawarkan sedikit namun permintaannya
banyak maka harga akan naik. Dengan catatan bahwa semua hal diluar penawaran
dan permintaan tersebut sama – ceteris paribus .
Teori ini berlaku di barang apapun baik di pasar benda riil seperti beras,
jagung , kedelai – maupun di pasar modal dan pasar uang.
Teori inipun harusnya berlaku di pasar emas. Kalau permintaan emas tetap tinggi
sedangkan supply-nya tidak bertambah atau malah berkurang, mestinya harga emas
naik. Mengapa kok kenyataannya tidak ? . Banyak yang berusaha merumuskan
teori-nya tentang ini, termasuk teori saya sendiri sebagai berikut ;
Pertama; naiknya permintaan dan tidak tersedia dengan cukupnya supply ini
nampaknya benar adanya, setidaknya hal ini tercermin dari situs pedagangan emas
besar di Amerika yaitu Kitco.Com dan BullionDirect.Com yang keduanya membuat
pengumuman resmi di halaman utamanya bahwa supply mereka kemungkinan terganggu
oleh permintaan yang tinggi – mereka minta kliennya bersabar untuk ini.
Kedua adalah adanya indikasi lain dari sempat dihentikannya penjualan koin emas
American Eagle oleh US Mint karena alasan tidak tersedianya supply emas yang
cukup. Penghentian penjualan yang untuk pertama kalinya dilakukan oleh US Mint
sejak 20 tahun terakhir ini aneh; mengingat US Mint adalah bagian dari US
Treasury – kalau mereka sampai sempat kesulitan stock – lantas dimana atau
siapa yang pegang emas yang katanya lagi murah ini ?. Bukankah stock emas
mereka banyak ?, lantas mengapa mereka tidak menjualnya ? mungkinkah sebenarnya
mereka tahu bahwa harga emas tidak serendah yang di bursa ?..
Dari dua poin diataslah teori saya tentang harga emas adalah sederhana :
Permana adalah Harga Emas secara fisik sebenarnya tetap bernilai tinggi, dan
ini sejalan dengan sejarah peradaban manusia. Tidak pernah dalam peradaban
manusia dimanapun dan kapanpun dimana emas dianggap barang yang tidak berharga.
Bahkan ketika barang lain dianggap tidak berharga, emas dan perak tetap
dianggap berharga.
Sampai-sampai ada Hadits Rasulullah SAW tentang hal ini yang diriwayatkan oleh
Abu Bakar ibnu Abi Maryam bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda,
”Masanya akan tiba pada umat manusia, ketika tidak ada apapun yang berguna
selain Dinar dan Dirham.” (Masnad Imam Ahmad Ibn Hanbal).
Kedua adalah rendahnya harga emas di bursa karena memang hampir keseluruhan
transaksi di bursa hanya diatas kertas belaka, sangat-sangat sedikit yang
berujung pada transaksi riil atau fisik. Inilah ilusi bursa dmanapun dan untuk
komoditi apapun.
Harga di bursa tidak harus mencerminkan harga riil dari barang yang
diperdagangkan di bursa tersebut.
Dari 21 tahun karir saya di industri financial - 6 tahun diantaranya sebagi
direksi di perusahaan public – kita ngalami betul masa-masa dimana perusahaan
kita lagi baik tetapi harganya di lantai bursa jatuh karena adanya sentimen
pasar tertentu; sebaliknya pas lagi buruk harga di bursa bisa saja membaik
karena adanya sentimen tertentu pula.
Jadi informasi harga di bursa baik dan perlu kita pantau agar kita tahu
business environment kita secara keseluruhan; namun keputusan business harus
tetap berdasarkan kinerja riil kita di lapangan. Wallahu A’lam.