Surat Buat Yani (dari Kompas)
www.TPGImages
/
Senin, 8 September 2008 | 23:08 WIB
oleh: Jodhi Yudono
Don, nama lelaki itu. Ia mengaku sebagai lelaki "pejalan kaki" yang kesepian.
Syukurlah, katanya suatu hari, ada Yani, perempuan yang rela menjadi kekasih
jiwanya. Kepada Yani itulah, Don biasa membagi perasaannya.
Ini kali, setelah ia melakukan perjalanan ke pantai utara Jawa, tepatnya di
Kabupaten Krw, ia pun ingin berbagi perasaan dengan kekasihnya itu dalam sebuah
surat.
Inilah bunyi surat itu:
Yani, kekasihku. Ketika bintang merah tenggelam di langit barat, aku sedang
berada di atas mobil pada jalan berlumpur yang membelah tanah persawahan di
Cmy, Kabupaten Krw.
Kegelapan melenyapkan bayangan petak-petak sawah di kanan kiriku. Kunang-kunang
pada malam ini rupanya lebih memilih tidur ketimbang mengapung di udara basah
sehabis hujan yang mendera tanah persawahan ini.
Setelah melewati sebuah tikungan, mendadak lampu mobilku menangkap bayangan dua
pengendara sepeda yang berjarak tinggal sedepa dari moncong mobil. Dua
pengendara sepeda tanpa lampu itu terseok-seok lantaran kaget oleh deru mesin
mobilku.
Ah..., seperti aku kah mereka, merubu-rubu jalan gelap untuk sampai ke rumah?
Atau..., mereka justru baru saja memulai mencari penghidupan menuju hamparan
sawah untuk berburu katak atau belut?
Mobilku terus melata melintasi jalanan berombak yang baru pertama kali ini
kulalui. Aku tak mengira, jarak begitu dekat dari pusat kekuasaan bernama ibu
kota Jakarta, tapi sarana jalan di sini masih begini jeleknya.
Barangkali lantaran orang Jakarta sudah kelewat sibuk, sehingga mereka abai
terhadap kehidupan masyarakat yang tak seberapa jauh jaraknya dari tempat
tinggal mereka.
Hari-hari datang dan pergi. Hidup di sini tak tambah baik. Lihatlah, kekasihku,
wilayah "lumbung padi" ini sekarang telah menjadi "lumbung" pengangguran yang
tak ketulungan banyaknya.
Sawah berpetak-petak dengan rumpun padi yang menghijau, bukan lagi mereka
punya. Cukuplah bagi penduduk setempat menjadi bohemian yang mendirikan
tenda-tenda di tepian jalan saat panen tiba. Mereka tidur di kemah-kemah
darurat bersama keluarga selama berhari-hari, sekedar mencari bulir-bulir gabah
sebagai upah mereka menjadi buruh pemetik padi.
Siang tadi aku sempat tersenyum sinis pada seorang pejabat Pemda saat ia
menerangkan tentang kebijakan pemerintah setempat. Katanya, sejak "tempo
doeloe" masyarakat mengenal kabupaten Krw sebagai lumbung padi Jawa Barat. Bila
sampai saat ini julukan itu masih dipertahankan, tentunya terkait dengan
kebijaksanaan Provinsi Jawa Barat yang memfungsikan Krw sebagai lahan pertanian
padi sawah.
Luas lahan sawah di wilayah ini 93.590 hektar atau sekitar 53 persen dari luas
kabupaten dan tersebar di seluruh kecamatan. Pada tahun 2001, wilayah ini
menghasilkan 1,1 juta ton padi sawah. Sementara untuk tingkat provinsi pada
tahun yang sama, Jawa Barat menghasilkan sekitar 8 juta ton padi sawah.
"Selain padi sawah, juga dihasilkan padi ladang sebanyak 1.516 ton dari 740
hektar lahan di Kecamatan Pkl. Sedangkan padi sawah dihasilkan oleh 22
kecamatan dengan Kecamatan Cmy sebagai penyumbang utama. Lahan sawah 19.312
hektar di daerah ini terluas di antara kecamatan lain dan menghasilkan tidak
kurang 115.000 ton," sambung pak pejabat.
Setelah mendengar cerita berbusa-busa pak pejabat, aku pun ngeloyor pergi
setelah beliau tak sanggup menjawab pertanyaanku. "Punya warga setempatkah
padi, sawah, dan ladang yang bapak ceritakan?"
Aku tahu kenapa Pak pejabat tak bisa menjawab pertanyaanku. Sebab dia tahu
persis, betapa orang Jakarta amat gemar menabung tanah di sini. Bahkan, menurut
seorang lelaki di Desa Cgb, seorang direktur rumah sakit di Jakarta bisa tiap
minggu membeli tanah di sini. "Pokoknya seperti beli pisang goreng gitulah,"
kata lelaki Cgb itu.
Cgb, kekasihku..., tempat tinggal lelaki yang bercerita padaku soal orang
Jakarta yang gemar beli tanah di wilayah Krw, adalah juga sebuah desa yang
sempat membuat aku shock.
Aku tiba di Cgb menjelang maghrib. Aku lihat anak-anak dengan tertib berjalan
menuju surau untuk shalat dan mengaji. Pada saat yang bersamaan, aku ditawari
singgah di sebuah rumah oleh lelaki itu yang ternyata bernama Fatur.
Tuan rumah tempat aku singgah, adalah seorang perempuan muda. Lalu, tanpa
basa-basi, Fatur menawariku untuk "tidur" bersama tuan rumah. Fatur yang
menangkap rasa was-was di mataku segera berkata, bahwa di kampungnya,
sedikitnya ada lima perempuan yang bisa diajak "tidur" di rumahnya! Fatur
bilang, kampung Cgb berada di bawah kendalinya. Untuk soal keamanan, ia cukup
bisa diandalkan. "Tenang saja, nggak ada yang akan mengganggu," katanya
meyakinkan.
Kendati keamanan terjamin, meski aku juga lelaki sejati yang memiliki hasrat
badani, tapi tak bisa aku menerima tawaran si Fatur. Kau tahu apa soalnya?
Karena engkaulah, kekasihku. Engkaulah itu, embun yang memelihara jiwaku agar
senantiasa jernih.
Yani, kekasihku. Ketika aku melintas di sepanjang jalan menuju laut, aku juga
mendapati berderet rumah penduduk yang di halamannya bertebaran kupu-kupu
malam. Mereka masih amat muda-muda, kekasihku. Bahkan di antaranya belum becus
berbedak dan bergincu. Kemiskinan, kemalasan, dan kesombongan, itulah yang aku
kira membuat anak-anak perempuan itu menjajakan diri. Ketika sawah tak lagi
mereka punya, ketika angin menciptakan gelombang laut yang membuat giris
nelayan mencari ikan, ketika panen hasil bumi gagal, ketika kemiskinan
benar-benar menelikung mereka, maka satu di antara alternatif untuk menyambung
kehidupan adalah menjual anak perempuan mereka.Alasan berikutnya adalah...,
lantaran para lelaki di desa-desa pantai utara ini sebagian adalah para
pemimpi. Mereka lebih suka menghabiskan malam-malam mereka di meja biliar,
berjudi, pasang togel, sementara para istri atau saudari mereka disuruh mencari
nafkah, tak peduli halal atau haram.
Dan kesombongan itu, kekasihku... kesombongan telah membuat perempuan-perempuan
itu bermata gelap. Sebagian di antara mereka bahkan tak peduli dari mana uang
datang, yang penting rumah mereka bagus, perhiasan mereka gemerlapan.
Hmmm...., siapa yang pantas kita salahkan sesungguhnya? Para raja kah yang dulu
dengan jumawa menetapkan perempuan sebagai salah satu upeti, sehingga tradisi
meremehkan martabat wanita bermula? Atau para prajurit Belanda yang mulai
mencengkeram pesisir utara Jawa pada abad 17 yang sekaligus juga mencengkeram
perempuan-perempuan muda untuk dijadikan pemuas birahi mereka?
Terus terang, kekasihku, saat menyaksikan perempuan-perempuan muda dengan
dandanan menor untuk menutupi wajah-wajah mereka yang pucat di muara tadi, aku
jadi ingat kisah tentang seorang perempuan belia bernama Rosario Baluyot yang
pernah aku baca.
Tahukah engkau siapa dia? Rosario adalah anak perempuan berusia sembilan tahun
yang lari ke jalanan lantaran situasi rumah adalah siksa baginya. Semuda itu ia
harus menanggung sepi sendiri di Olongapo, salah satu basis militer di Filipina
pada akhir tahun 80-an. Semuda itu ia harus menjual kemudaannya demi
mempertahankan hidup.
Oleh satu alasan untuk menyambung hidup, pada suatu hari, Rosario dan temannya
melayani dua tamu asal Austria berusia antara 30-40 tahun di sebuah hotel.
Esoknya, ketika Rosario keluar kamar, temannya melihat dia begitu kuyu dan
sulit berjalan.
Meski tidak tahu persis kenapakah Rosario berjalan bagai anjing yang terkena
rabies, temannya paham mengapa Rosario kesakitan. Karena memang biasanya para
pelanggan itu tidak hanya memaksa mereka melayani hubungan seks, tetapi sering
kali juga memasukkan berbagai barang kecil ke dalam vagina mereka.
Oleh temannya itu, Rosario dibawa ke dokter. Belum sempat dokter memeriksa,
Rosario sudah melarikan diri karena takut dilaporkan ke polisi. Maklumlah,
prostitusi yang melibatkan anak-anak dianggap sebagai tindakan kriminal di
Filipina. Sayangnya, polisi Filipina lebih banyak menangkap korbannya, yakni
anak-anak itu, dibandingkan laki-laki hidung belang yang menggunakan jasa
mereka.
Rosario yang tengah sakit kembali ke rumah sang germo. Ia tidak sempat
istirahat karena dipaksa melayani pacar "mami"-nya. Karena sakit dan tidak bisa
bekerja, Rosario diusir dari rumah germo itu. Rosario kembali menggelandang.
Suatu hari, seorang pekerja sosial menemukan Rosario terkapar di jalanan. Ia
sekarat. Suhu badannya yang kurus kering itu mencapai 40 derajat Celsius. Lalu
dari bagian bawah tubuhnya, bau busuk menyengat. Rosario kemudian dibawa ke
rumah sakit. Tetapi, semuanya sudah terlambat. Paru-paru Rosario sudah rusak
oleh uap terpentin yang terus dia isap sebagai upaya mengurangi rasa sakit.
"Dokter juga menemukan nanah dari luka yang menganga di dalam vagina beserta
serpihan kaca tipis, yang diduga berasal dari vibrator yang dimasukkan
pelanggan. Rosario tidak bisa diselamatkan. Ia meninggal pada usia 11 tahun.
Pemerintah Filipina berhasil menangkap pelakunya, seorang dokter, bernama
Heinrich Stefan Ritter dari Austria," begitulah tulis sebuah kabar yang aku
baca.
Yani, kekasihku. Mendengar cerita Fatur tempo hari, aku yakin, wilayah ini juga
telah menjadi mata-rantai traficking. Ya, perdagangan orang (traficking in
person) telah berlangsung di sini selama bertahun-tahun.
Dan aku kira, Rosario dalam bentuk yang lain juga banyak di sini. Fatur bilang,
para perempuan muda di sekitar tempat tinggalnya banyak yang merantau ke Batam,
Bongkaran-Tanah Abang dan daerah tujuan wisata lainnya untuk jadi pelacur.
Sebagian lainnya bahkan sampai ada yang ke Jepang. Kabarnya di negeri Sakura
itu mereka dijadikan teman para lelaki yang mencari hiburan di tempat "karaoke".
Ah, sayangnya Fatur cuma seorang makelar motor dan calo perempuan. Mana punya
ia data-data otentik tentang berapa banyak korban kejahatan seksual yang
menimpa perempuan-perempuan muda di desanya. Tapi yang pasti menurut Fatur,
sebagian perempuan desanya ada yang belum kembali setelah bertahun-tahun pergi.
Kekasih, aku gemetar oleh angin pancaroba yang menghadang laju mobilku. Inilah
angin dari daratan Asia yang telah menumbangkan pohonan di jalanan kota Jakarta
tempo hari. Ia bergulung-gulung, menerobos kaca jendela mobil yang aku biarkan
terbuka sebagian.
Krw telah kulalui, Ckp pun kujelang. Krw cuma satu titik dari ratusan titik di
wilayah pantai utara Jawa dan wilayah lainnya di negeri kita, yang menanggung
akibat dari kelakuan para pemilik modal yang mabuk keuntungan.
Pusat pertokoan, kondominium, mal-mal, gedung-gedung perkantoran, dan
tempat-tempat hiburan dibangun. Maka kita, kekasihku... tak siang tak malam,
dipaksa untuk bermimpi.
Sebagian kecil dari kita bisa menikmati mimpi itu, tapi sebagian besar lainnya
malah menuai mimpi buruk. Sebagian kecil berseliweran dengan mobil mewah dan
fasilitas nomer satu, sebagian besar lainnya menjadi kecoa yang hidup di
comberan sambil menikmati remah-remah pembangunan.
Wahai kekasihku, selagi apa engkau, ketika Jakarta dilanda hujan deras?