ending dari tulisan sebuah pertanyaan "kapan Garuda dari tenggara bisa 
melebarkan sayapnya dan mulai terbang? Koq sampai saat ini masih sibuk nyari 
kutu di sarangnya,

Barangkali Garuda Indonesia gak perlu terbang jauh2, bukankah kita semua tahu 
bahwa di kaki garuda tertulis sebuah kalimat "BHINEKA TUNGGAL IKA". Jadi 
ngapain kudu terbang jauh, ngurus kutu yang beraneka ragam corak dan bentuk gak 
beres2. Jikai ada yang ekspansi ke manca negara, itupun karena lapar 
..........contohnya TKW Indonesia.

Astagfirullah !!!


----- Pesan Asli ----
Dari: Fuad Hasyim <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: milis wongbanten <[email protected]>
Terkirim: Selasa, 9 September, 2008 06:56:11
Topik: [WongBanten] Trs: [Oil&Gas] (OOT) Fwd: Naga dari Cina, Gajah dari India, 
Garuda dari Indonesia


Bicara tentang nasionalisme para buruh migran, ada tulisan yang cukup menarik 
yang saya copy-paste dari milis sebelah. Sekedar wawasan, mudah2an bermanfaat. 

Wass
Fuad H
"Why do you say that which you do not do?" (QS. As-Saff: 1)

From: Wahyudin Trisnawan <wahyudin.trisnawan@ yahoo.co. id>
Subject: [Oil&Gas] (OOT) Fwd: Naga dari Cina, Gajah dari India, Garuda dari 
Indonesia
To: Migas_Indonesia@ yahoogroups. com
Date: Monday, September 8, 2008, 1:52 PM

Mohon maaf kalau sudah pernah diposting.

Regards,

Wahyudin Trisnawan

============ ========= ========= ========= ========= ===

pengantar:

di bawah ini asdalah tulisan seorg expat indonesia yg sudah melanglang
buana ke puluhan negara. Dalam perjalanannya dia selalu promosi ttg indonesia 
dgcaranya sendiri. Sekarang beliau menjadi PR (permanent resident) Canada.
Banyak anggota milis yg mengkritiknya krn dituduh tidak nasionalis, bla, bla, 
bla. Dan dia gantian menjawabnya dg panjang lebar.

============ ========= ========= ========= ========= ========= =

Sekedar melengkapi perang pena (mungkin istilahnya sekarang harus
diganti perang email) soal to be or not to be Indonesian dan membangun negeri 
dari dalam atau dari luar, hal-hal ini memang akan terus menjadi dilema, 
terutama bagi kita yang punya kesempatan untuk melihat dunia di luar Indonesia.
Teori brain drain memang ada benarnya. Secara kasat mata negara seperti 
Australia dan Kanada memperoleh tambahan devisa yang sangat besar dari menerima 
migran resmi seperti saya. Seorang calon migran membayar lebih dari 2000$ dan 
menginvestasikan minimal 10000$ yang tentunya diambil dari aset mereka di 
negara asal. Hampir tidak mungkin seorang migran tidak berpendidikan yang 
artinya dia punya posisi cukup penting di negaranya. 
Ambil contoh saya seorang dosen dan staf LSM spesifikasi bidang konflik dan 
bencana. Kepergian saya jelas merugikan institusi tempat saya mengajar dan saya 
tahu saya bisa memberi kontribusi cukup besar untuk industri dan bisnis konflik 
dan bencana di Indonesia (tolong berhenti berpikir bahwa bidang LSM adalah 
bidang sosial tanpa pamrih, karena pada kenyataannya itu adalah bisnis bernilai 
jutaan dolar).
Tapi apakah Indonesia tidak memperoleh keuntungan ketika saya di luar negeri? 
Dalam kurun waktu 8 tahun saya tinggal di luar negeri, saya
pernah jadi guru tari di KBRI Melbourne, Phnom Penh dan Madrid, pernah 
mempromosikan kesenian Indonesia di lebih dari 12 negara. Selama 3 tahun saya 
di Melbourne saya sudah melakukan lebih dari 300 workshop kesenian Indonesia 
(meliputi memperkenalkan angkllung, gamelan, wayang, seni membatik, tarian 
tradisional, bahasa, kehidupan agrikultur dst) ke ratusan sekolah di negara 
bagian NSW dan Victoria), sehingga anak2 Australia tahu bahwa Indonesia is not 
just Bali. Ketika saya melakukan riset bersama Ford Foundation di Cina, koran 
dan televisi Cina mewawancara saya dan mereka sangat heran karena ada orang 
Indonesia totok fasih berbahasa Cina.
Akhirnya nama Indonesianya kog yang dikenal orang karena bolak-balik dikenali 
orang 'oh kamu khan orang Indonesia yang bikin penelitian itu khan?' Jadi kalau 
ada orang mengatakan membangun dan mengharumkan nama Indonesia tidak bisa dari 
luar, saya akan katakan, siapa bilang? Tolong anda mensurvey dahulu sebelum 
berucap.

Apakah nasionalisme seseorang merosot ketika tinggal di luar negeri? ya dan 
tidak. Banyak orang Indonesia keluar dari Indonesia karena frustrasi dan kecewa 
dengan Indonesia dan itu tidak bisa disalahkan. Semakin sering saya keluar 
negeri semakin saya anti pemerintah Indonesia dan menyadari betapa brengseknya 
pemerintah kita, maka sejak dulu saya berikrar tidak akan pernah menjadi wakil 
pemerintah dalam ajang apapun, tetapi itu tidak berarti saya tidak punya 
nasionalisme karena kemanapun saya pergi, saya membawa
budaya saya. Separuh isi koper saya adalah baju tari yang selalu ikut kemanapun 
saya pergi. Makanya saya tidak pernah mencat rambut, pakai kontak lens warna 
biru, pakai dasipun tidak, karena pakaian resmi saya adalah batik. Pemerintah 
mau berbuat apa, itu bukan urusan saya, yang menjadi beban saya adalah 
mempertahankan eksistensi seni pertunjukan Indonesia dan perbaikan kualitas 
pendidikan anak bangsa. Itulah kenapa meski sering di caci maki di milis ini 
saya tetap sering menulis email karena saya tau milis ini banyak diakses oleh 
mereka yang berpendidikan yang harusnya menjadi soko guru
tatanan berbangsa.

Soal brain drain dan brain gain, mari kita belajar dari Cina dan India.
Sama seperti Indonesia, India pernah galau karena banyak sekali warga negara 
berpendidikannya yang keluar negeri, padahal secara kasat mata mereka lebih 
miskin dari Indonesia (tapi mereka tidak punya hutang luar negeri lho). Tapi 
India mengakui bahwa dengan kenyataan bahwa 60% dokter di Kanada dan Amerika 
dan sebagian besar orang IT di Australia adalah keturunan India, hal ini sangat 
memicu berkembangnya ilmu medis di negaranya (harap dicatat bahwa
jarang sekali orang India mengikuti ujian penyetaraan medical di Amerika tidak 
lulus). Filipina pun maju dengan mengadopsi standar internasional untuk 
pendidikan keperawatan sehingga perawat2 Filipina diterima di seluruh dunia.

Cina sendiri sangat bangga dengan kenyataan bahwa dua orang
walikotaAustralia (mungkin sekarang sudah ganti) adalah orang Cina
(mereka tidakbilang warga negara Aussie lho, dibilang orang Cina karena lahir 
di Cina).Cina malah mendukung warga negaranya untuk expansi keluar, menetap di 
luarkarena masyarakat CIna punya 'sense of business' yang kuat sehingga 
ketikamereka berada di luar mereka akan mencari jalan untuk mengembangkan 
bisnisdengan kerabatnya di Cina daratan. Perginya warga Cina artinya 
jugamengurangi beban pemerintah untuk mengurus para manula karena 
aturankeimigrasian biasanya mengijinkan imigran untuk membawa orang tua mereka.

Ketika saya masih aktif mensurvey program2 LSM tempat saya kerja dulu 
dilapangan, yg menjadi kendala untuk peningkatan ekonomi masyarakat kecil 
adalah distribusi dan pemasaran. Indonesia tidak punya link yang kuat di luar 
negeri sehingga produk kita tidak bisa berkibar di pasaran internasional. Usaha 
garmen India, periasan emas dan industri film Bollywoodnya tidak akan maju 
kalau tidak ada migran2 mereka di negara asing. Siapa penguasa garmen dan 
pertelevisian Indonesia? Bahkan sampai ke Afrika Selatan, Ethiopia, Qatar dan 
Uganda, bisnis garmen dan perhiasan sangat dikuasai masyarakat India. 
Keberadaan migran di luar negeri juga membuka bisnis makanan, makanya kemanapun 
kita pergi (sampai saya pernah ke kota
kecil di pelosok Luxembourg) itu ada restoran Cina. Sama halnya dengan India 
dan belakangan ini juga diikuti oleh Jepang dan Korea.

Apakah nasionalisme para migran ini rendah? Nyatanya tidak. Kemanapun kita 
pergi akan bertemu orang India mengenakan sari. Ini yang membedakan India dan 
Indonesia. Kolonial Inggris mengajarkan masyarakat India untuk bangga dengan 
budaya mereka sendiri tetapi kolonial Belanda tidak. Saya sudah mengamati bahwa 
nasionalisme masyarakat yang jauh dari kampung halamannya itu biasanya lebih 
tinggi,kepedulian mereka terhadap kebudayaan etnisnya
juga lebih tinggi. Itulah kenapa saya justru tidak pernah pentas tari di
Indonesia, karena tidak ada yang nonton, sedangkan semua pagelaran tari saya di 
luar negeri selalu sukses besar (padahal yang nonton sama-sama orang 
Indonesia). Ketika saya di Belanda banyak bertemu dengan masyarakat keturunan 
Ambon yang lari dari Indonesia pasca RMS, dan di Cina dengan masyarakat 
keturunan CIna yang pulang ke Tiongkok pasca PKI. Mereka dan keturunannya (yang 
tidak pernah menjejakkan kaki di Indonesia) kebanyakan tetap 
mengidentifikasikan diri sebagai orang Indonesia, tetap punya hasrat untuk bisa 
pulang. Kalau masyarakat yang pernah disakiti dan dibuang oleh Indonesia masih 
punya rasa nasionalisme, kenapa orang-orang yang mau migrasi
masih dicerca tidak nasionalis?

Saya punya kepercayaan, ketika seorang Asia meninggalkan kampung halaman dan 
negeri, dia tidak akan pernah memutuskan ikatan batinnya dengan tanah 
kelahirannya (duh saya nulisnya sampai nangis nich). Masyarakat Asia punya rasa 
persaudaraan dan keterikatan  kekeluargaan yang sangat tinggi dan struktur 
masyarakatnya menganut social security network. Semua orang Asia berada dalam 
suatu 'kutuk' bahwa mereka terbeban untuk mendukung keluarganya. Sehingga 
kemanapun mereka pergi, mereka akan mengirimkan uang
kembali ke tanah airnya, berusaha meningkatkan kesejahteraan kelluarga besarnya 
dst. Sedurhaka apapun orang Asia saya yakin akan berusaha menolong saudaranya. 
Ada saudara saya yang tinggal di spanyol akhirnya berhasil membuka usaha expor 
impor mebel menghidupi lebih dari 20 keluarga, meningkatkan bisnis keluarga dst.

Pemerintah kita sering mengeluh derasnya arus westernisasi di Indonesia melalu 
film, MTV dst. Padahal Asia adalah etnis terbesar di dunia (yang sayangnya juga 
menyumbang jumlah masyarakat miskin terbesar juga). Ada tiga kekuatan besar di 
Asia: Cina, India dan Indonesia yang dikenal dengan Naga dari timur, gajah dari 
selatan dan Garuda dari tenggara (yang belakang pasti belum pada dengar). Cina 
dan India sebenarnya melakukan Asianisasi dunia.
Implementasi dan ekspansi budaya dapat dilakukan dengan berbagai cara. Suku 
Hutu di Rwanda melakukannya dengan pembunuhan masal suku Tutsi, etnis Serbia 
melakukan forced pregnancy melalui perkosaan masal terhadap suku Bosnia. 
Amerika melakukan westernisasi melalui film, fast food culture, dst. India dan 
Cina juga melakukan hal yang sama melalui bantuan para migrannya, dengan 
mendirikan restoran, industri dan hiburan asli mereka. Sekarang siapa sich yang 
belum pernah makan makanan Cina? di semua kota besar di dunia ada Chinatown. 
Budaya minum teh Cina, akkupuntur, beef curry, yoga, taichi menjadi akrab di 
masyarakat barat. Ini adalah bagian dari Asianisasi budaya
mereka di barat. Sayangnya Indonesia belum seprogresif India dan Cina, padahal 
pencak silat itu sangat diminati, musik gamelan adalah musik tradisional asia 
paling diminati di Melbourne (disana ada lebih dari 13 group gamelan lho, 
sayangnya orang Indonesianya tidak sampai 5 orang), batik Indonesia dianggap 
paling tinggi kualitasnya di Kamboja, jauh diatas batik Malaysia, Singapura dan 
Vietnam

Naga dari timur dan Gajah dari selatan sekarang sudah menjadi kekuatan yang 
dipandang dan ditakuti di barat. Banyak sekali orang Indiia dan Cina bisa 
berbahasa Inggris tapi hampir tidak ada orang kulit putih bisa berbahasa Cina 
dan Hindi. Hampir seluruh produk yang beredar di barat adalah buatan Cina. 
(sampai ada joke, anak2 barat sekarang mengira St Claus yang dermawan itu sudah 
pindah dari kutub utara ke Cina, soalnya hadiahnya buatan cina semua).

Pertanyaan saya sekarang, kapankah sang Garuda dari Asia akan mulai
mengembangkan sayapnya dan mulai terbang? Kog sampai sekarang masih sibuk 
mengurusi kutu-kutu di dalam sarangnya?

[Non-text portions of this message have been removed]


________________________________
Coba emoticon dan skin keren baru, dan area teman yang luas. Coba Y! Messenger 
9 Indonesia sekarang.  


      
___________________________________________________________________________
Dapatkan situs lowongan kerja - Yahoo! Indonesia Search.
http://id.search.yahoo..com/search?p=lowongan+kerja&cs=bz&fr=fp-top

Kirim email ke