Re: Ekstra Parlementer, Masih efektifkah? - 2

Ekstra Parlementer, masih efektifkah?
Ferizal Ramli

Meritokrasi, GCG, Pemberantasan Korupsi, Globalisasi dan Otonomi Daerah

Kembali pada pertanyaan awal; "masih efektifkah gerakan aktivis jalanan?"

Mari kita bercermin pada organisasi kemahasiswaan di Eropa. Di benua
dimana demokrasi adalah anak kandungnya.

AstA, atau student senat untuk universitas di Jerman. Kegiatan AStA
jika saya mau simpulkan menyangkut hanya pada 2 hal: Pelayanan dan
Advokasi mahasiswa.

(1) Pelayanan, misalkan informasi bea siswa, info untuk mahasiswa
baru, info pertukaran mahasiswa, info untuk mencari rumah, dan pelayan
lainnya yang memudahkan mahasiswa termasuk adanya konsultasi mahasiswa
dengan psikolog. Selain itu juga pembuatan program-2 seminar, training
untuk mahasiswa, program kursus bahasa, keakraban dan yang seperti itu.

(2) Advokasi, pemberian bantuan hukum jika ada mahasiswa yang hak-2
nya dilangkahi oleh fakultas/universitas, atau jika ada mahasiswa yang
terkena kasus hukum. Mungkin juga mengorganisir demo menentang
kebijakan universitas yang dianggap merugikan aspirasi mahasiswa.

Jadi, student senat itu berperan sangat minimalis. Di AStA tidak ada
yang namanya Presiden Mahasiswa, Menteri Mahasiswa, Gubernur Mahasiswa
atau mungkin Bupati atau Camat mahasiswa dan sebutan-2 snobish lainnya
yang membuat orang malah tersenyum geli (atau kenapa mahasiswa
Indonesia ndak lebih menggunakan identitas nasionalis saja seperti:
Patih Mahasiswa, Adipati Mahasiswa, Tumengung Mahasiswa atau Senopati
Mahasiswa, dll?)

Sementara di AStA yang ada yah cuma sebutan wajar saja: Vorsitzender
atau Chairman atau Ketua. Sebutan yang egaliter sesuai dengan semangat
mahasiswa: egaliter, bukan feodal yang keberatan sebutan jabatan! Ndak
lutjukan kita teriak-teriak menuduh Rektorat atau Pemerintah feodal
sementara kita malah menggunakan sebutan jabatan feodal.

Di Universitas Jerman, tidak ada juga lembaga yang begitu lengkap:
Eksekutif, Legislatif atau Yudhikatif Mahasiswa. Memangnya mahasiswa
ini mau ngurus negara apa, pake menggunakan filosofis „trias
politika"? Mahasiswa itu tugasnya belajar menemukan jati dirinya
selama berada di kampus bukan jadi pemerintah atau penguasa di dalam
kampus.

XXX

Lantas, apa yang dilakukan oleh mahasiswa di Universitas-2 Eropa?
Belajar! Mereka mengejar ilmu, tekun melakukan riset, ikut program-2
kursus yang diakan oleh AstA atau Universitas yang bisa menambah
pengetahuannya.

Jika tertarik pada politik maka langsung terjun bergabung ke partai
politik. Partai politik akan memberikan bea siswa pada mahasiswa yang
ingin bergabung. Jadinya, para politikus mahasiswa ini sejak muda
sudah dikader profesional oleh partai politik dan masa depannya
sebagai politisi sudah terjamin. Yang penting berprestasi selama jadi
mahasiswa.

Kenapa para mahasiswa di Eropa tidak menjadi aktivis jalanan seperti
kebanyakan para aktivis di Indonesia?
Jawabnya sederhana: karena sudah demokrasi. Aktivis mahasiswa jalanan
itu dibutuhkan pada sebuah negara yang pemerintahannya menganut
otoriter, diktaktor dan rejim tangan besi, seperti ORBA.

Pada pemerintah otoriter ini maka peran mahasiswa vital sebagai agen
perubahan. Mahasiswa relatif bersih dan masih idialis dari
kepentingan. Jika kebetulan ada sebuah momentum, maka mahasiswa yang
penuh warna akan bersatu. Biasanya momentum yang itu harus disertai
common issue dan common enemy untuk bisa menyatukan mahasiswa yang
penuh warna.

Seperti tahun 98, Momentumnya Krisis Moneter, common issue-nya KKN,
common enemy-nya Soeharto dan Keluarga. Maka saat itulah Indonesia
kelompok hijau, kuning, merah, dll bersatu. Dari aliran kanan sampai
aliran Kiri bersatu. Dari HTI, IM/KAMMI, HMI MPO, HMI Dipo, IMM, PMNI,
GMKI, PMKRI, SMID/PRD, dll bersatu. Diluar itu (tanpa momentun, common
issue dan common enemy), mimpi jika berharap mahasiswa bisa bersatu.

Jadi, kesimpulannya aktivis gerakan jalanan itu sangat dibutuhkan pada
rejim pemerintahan yang otoriter seperti terlihat pada kehancurannya
rejim ORBA dulu.

Bagaimana pada pemerintahan demokrasi seperti Indonesia saat ini?

(Kita lanjutkan nanti)

Salam,
Dari tepian lembah Sungai Spree


Ferizal Ramli
SAP Senior Consultant dan Project Manager
10179 Berlin
(Sempat jadi Pimpinan Senat UGM dan Ketua Umum Kopma UPNVY)

--- In [email protected], "Ferizal Ramli" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Re: Ekstra Parlementer, Masih efektifkah? - 1
> 
> Ekstra Parlementer, masih efektifkah?
> Ferizal Ramli
> 
> Ini adalah salah satu dari sedikit tulisan yang menarik yang saya baca
> dari aktivis mahasiswa saat ini. Menggoda, meskipun sedikit mengrenyut
> dahi saat dikatakan aktivis periode 98 gagal.
> 
> Untung saya bukan aktivis 98. Saya sudah menduduki posisi Manajer
> Administrasi di sebuah Perusahaan Multi Nasional Jepang saat reformasi
> bergulir :D
> Jadi, saat menulis tentang aktivis 98, saya terbebas dari waham-2
> kebesaran... :)
> 
> Bagi saya, jika asumsinya menghancurkan rezim otoriter ORBA yang
> militeristik maka aktivis 98 berhasil. Tapi jika asumsinya membangun
> demokrasi dengan dasar meritokrasi, Good Corporate Government (GCG)
> dan pemberantasan KKN, maka saya setuju bahwa aktivis 98 gagal atau
> minimal belum berhasil.
> 
> ---
> 
> Pertanyaan menariknya adalah: benarkah „gerakan perlawanan jalanan
> (seperti yang ditulis Mas Renggo)" adalah jalan efektif untuk
> membangun budaya meritokrasi, GCG dan pemberantasan KKN?
> 
> Ijinkanlah saya menulis sedikit yang saya ketahui…
> 
> Suatu hari di pertengahan tahun 1990-an. Isu reformasi belum bergulir.
> Saat itu saya (masih mahasiswa) sedang melakukan penelitian tentang
> „Sistem Penggajian dan Upah untuk Tenaga Kerja" disalah satu
> perusahaan di Sukoharjo. Layaknya peneliti maka tentu saja duduk di
> ruangan ber-AC bersama manajer HRD :)
> 
> Pada hari yang sama sahabat saya Andi Arief (dulu juga masih mahasiswa
> pemimpin SMID: Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi yang berafiliasi
> dengan PRD-nya Budiman Sudjatmiko, saat ini blio orang dekat lingkar
> Istana, caleg Partai Demokrat), memimpin demonstrasi menuntut kenaikan
> upah buruh di perusahaan yang sama. Tentu saja Andi Arief berjuang
> lebih heroik. Panas-2 di jalanan bersama para buruh.
> 
> Sempat saling bertemu. Saya masih ingat senyum "mengejek" Andi Arief
> ketika kita saling bertemu dan melihat saya pake dasi (mahasiswa pake
> dasi je, apa ndak terkena stigma kapitalis borjuis, hi..., hi...)
> bersama manajer HRD. Sementara Andi Arief dijalan heroik bersama para
> buruh (nah ini benar-2 simbol ideal, mahasiswa proletar pembela kaum
> marginal). Perjuangan Andi Arief, heroik sekali kala itu...
> 
> Saya yakin perjuangan Andi Arief lah yang berhasil membuat upah buruh
> perusahaan tersebut naik. Tapi angka-2 kenaikannya tampaknya mirip
> dengan angka-angka yang saya tulis dari hasil penelitian dan
> rekomendasi saya :)
> 
> Dari sana saya belajar bahwa gerakan jalanan itu efektif untuk
> mem-pressure. Tapi ketika kita bicara tentang angka dan seberapa jauh
> tujuan bisa mensejahterakan kita bersama maka kerja-2 meritokrasi lah
> yang menjawabnya.
> 
> Saya pikir saat ini Andi Arief menyadari itu, bahwa kerja meritokrasi
> itu adalah sangat penting. Nyatanya, Andi Arief men-switch metode
> perjuangannya dari aktivis jalanan menjadi inner circle di pemerintahan.
> 
> Bahkan rekan-rekan perjuangan Andi Arief seperti Budiman Sudjatmiko
> atau Dita Indah Sari pun merubah metode gerakannya dari aktivis
> jalanan menjadi aktivis Senayan-an. Budiman Sudjatmiko menjadi caleg
> PDI-P membela kamu Proletar Marginal Marheinis.
> 
> Klo Dita Indah Sari lebih menarik lagi, masuk PBR-nya Kyai Zaenuddin
> MZ. Dita yang dulu aktivis jalanan yang konon khabarnya berwarna merah
> berubah menjadi Caleg PBR (yang berwarna hijau, bukan hijau Angkatan
> Darat lho) dan akan membela kaum Dhuafa Fakir Miskin :)
> 
> Apa yang bisa ditarik dari Metamorfosis tokoh-2 aktivis mahasiswa
> tersebut? Jawabnya, mari kita melihat bagaimana metamorfosis gerakan
> mahasiswa di negara-negara Eropa dalam konteks kekinian...
> 
> (disambung nanti, kerja dulu nyambut gawe demi anak istri)
> 
> Salam,
> Dari tepian lembah Sungai Spree
> 
> 
> Ferizal Ramli
> SAP Senior Consultant dan Project Manager
> 10179 Berlin
> (Sempat jadi Pimpinan Senat UGM dan Ketua Umum Kopma UPNVY)
> 
> --- In [email protected], "Ferizal Ramli" <framliz@> wrote:
> >
> > Rekän,
> > 
> > (Teringat masa muda saat diskusi mahasiswa. Saya forward-kan tulisan
> > aktivis mahasiswa UPNVY Mas Renggo Darsono yang manarik, beserta
> > tanggapan polemik saya. Jika tidak tertarik mohon maaf, jika tertarik
> > selamat menikmati)
> > 
> > Salam
> > 
> > ----
> > 
> > Ekstra Parlementer,
> > Masih Menjadi Jalur Perjuangan Kita.
> > Oleh: Renggo Darsono
> > 
> > Saya tidak mengerti apa yang menjadi jalan pikiran dari aktivis
> > '98…saya juga
> > tidak mengerti apakah memang frustasi pada pergerakan memang
> > menggejala akut
> > disemua kalangan….atau memang profesi baru menjadi anggota legislatif
> > lebih
> > menjanjikan dibandingkan yang lain….semisal membangun kesadaran massa
> > kita yang
> > masih terlelap?
> > 
> > Pikiran saya memerawang ke belakang. Ke jauh semasa saya masih
duduk di
> > sekolah dasar. Di bangku di mana suharto dikenalkan sebagai bapak
> > bangsa. Sedang
> > Golkar sebagai partai semuanya, sehingga mengapa kuningisasi wajib di
> > setiap
> > Agustusan. Dulu saya dengar dari guru saya kalau para aktivis
> > mahasiswa(kala itu
> > sedang marak di berbagai media) yang di kemudian hari saya ketahui
> adalah
> > aktivis '98, adalah orang-orang subversif berhaluan komunis yang mau
> > merongrong
> > Negara kesatuan republik Indonesia.
> > 
> > Di bangku kuliahlah saya mampu mencerna semuanya. Mengapa `98 gagal.
> > Mengapa
> > gerakan semakin terpolarisasi menjadi bagian-bagian kecil dan mudah
> > dikonflikkan, hingga sayapun mengerti mengapa banyak yang jadi
kelompok
> > opportunis kanan maupun kiri yang tidak jelas, sampai mengapa frustasi
> > atas
> > situasi kaum gerakan(baca: aktivis) semakin menguat saja.
> > 
> > Saya membacanya dalam beberapa bagian. Yang pertama adalah tidak lagi
> > percaya
> > bahwa perubahan tak dapat berangkat dari jalanan, yang kedua realistis
> > bahwa
> > kekuatan oligarki harus ditunggangi walaupun nanti bakal dikentuti,
> > serta yang
> > terakhir adalah cari sesuap nasi untuk anak istri.
> > 
> > Jikalau kategori yang pertama, maka saya mengatakan itu adalah hal
> > terbodoh
> > dari orang yang pernah bersinggungan dengan teori social, serta
> > berkecimpung di
> > dunia pergerakan. Sebab satu sistem, seburuk apapun dari sebuah sstem
> > dan kita
> > berusaha untuk memperbaikinya, perlahan tapi pasti kita akan tergulung
> > didalamnya seta larut dalam sistem tersebut. Mirip ceritanya dengan
> > awalnya pak
> > kades dituduh korupsi oleh warganya terkait uang perkerasan-jalan
> > desa. Korupsi
> > yang sistemik, seharusnya tidak menjadikan pak kades ini ikut-ikutan
> arus.
> > Tetapi Karena ia tak mampu menampik, apalagi melawan, mau tak mau
> > iapun turut
> > serta.
> > 
> > Argument yang kedua. Kecil sekali kemungkinan orang berpikir bahwa ia
> > masuk ke
> > partai adalah untuk melakukan infiltrasi guna mengakses sekian
> > jaringan serta
> > sekian informasi rahasia dari partai. Atau bahkan merubah warna bejana
> > dengan
> > setitik noda yang ia tuang. Atau gamblangnya mengubah haluan ideology
> > partai.
> > Dari yang ga jelas menjadi revolusioner misalnya….(haha, yang bener
> ajah)
> > 
> > Kalau yang ketiga ini saya yakini sepenuhnya benar. Bahwa jaminan
hidup
> > menjadi anggota tukang "cocot" di negri ini amat tinggi nilainya.
> Gajinya
> > mengalahkan gaji pekerja paling hebat secara kemampuan apapun. Padahal
> > andil
> > buat peradaban tidak ada sama sekali selain semangkin merusak tatanan
> > Negara
> > yang sudah tak keruan juntrungannya. Yah, pastinya krena kita dipimpin
> > orang-orang keblinger.
> > 
> > Saya sendiri keluar dari mainstream dari ketiganya. Saya masih percaya
> > terhadap kekuatan organisasi pergerakan. Kekuatan yang bekerja secara
> > mandiri,
> > secara semangat, serta secara kekuatan cita-cita bersama.
> Ideologilah yang
> > merangkul kita untuk bekerja sama saling menjalin kelindan memintal
> > seluruh
> > benang untuk menjadi kain yang kuat. Menjahitnya menjadi kesatuan
besar.
> > Organisasi. Itu yang akan menjadikan kita kuat. Dan organisasi yang
> > menjadikan
> > kita belajar banyak hal. Dan di organisasi pula kita akan mengenal
> > bagaimana
> > loyal terhadap keputusan organisasi. Patuh, taat terhadap kekuatan
> > pemimpin. Di
> > organisasi pula kita siap memimpin, serta siap pula dipimpin.
> Sesungguhnya
> > mental oportunisme nampak jelas dengan banyaknya avonturir di wajah
> > perpolitikan
> > kita. Seenak wudel nyebrang partai, seenak jidat pindah payung tanpa
> > berpikir
> > panjang ideologi apa yang dinaungi, hanya yang dipikir apa yang
akan ia
> > dapat…(huh menjijikkkan sekali)
> > 
> > Soe Hok Gie dahulu ia sempat putus asa melihat kawan-kawannya yang
> begitu
> > mudahnya hijrah ke sekian partai yang memintanya singgah.
> Sampai-sampai ia
> > menjadi intelektual yang kesepian. Sendirian, dijauhi mahasiswanya
> > lantaran
> > dinilai sok idealis,
> > Padahal kesalahannya hanyalah ia tidak menemukan organisasi sebagai
> wadah.
> > Akibatnya sampai ia meninggalpun ia tak pernah tahu bahwa masih ada
> > organisasi
> > yang tidak berorientasi pada kekuasaan, tidak bekerja untuk politik
> > praktis,
> > serta giat membangun kesadaran kolektif massa rakyat
> > 
> > Tidak ada senjata lain yang lebih kuat selain organisasi!
> > Itu yang musti diingat untuk seluruh kawan-kawan…baik yang hendak
> mengenal
> > pergerakan atau yang sudah malang melintang. Sebagai pengobar api yang
> > mungkin
> > hampir padam, sekaligus sebagai pemberi humus pada semangat yang
tandus.
> > 
> > Seperti Soe Hok Gie yang sendiri. Tanpa organisasi. Itu tak ubahnya
> > hanyalah
> > seperti ide yang tak pernah terealisasi. Kenapa? Lantaran hanya
> > sendiri. Selalu
> > terhenti pada mengapa tak segera terjadi? Itu karena seorang diri.
> > Selalu dan
> > selalu bergulat dan beradu pikir dirinya sendiri tanpa melampaui
> > satupun kerja
> > menuju pergerakan. Yah, semua habis di dirinya sendiri….hiks.. :(
> > Kegunaan organisasi sendiri untuk apa, bagi kita? Saya mengutip dari
> salah
> > satu sumber:
> > "Kegunaan organisasi yang permanen adalah untuk menyediakan integrasi
> > timbal
> > balik antara pemuda dan perjuan­gan kelompok sosial lain (buruh, tani,
> > kaum
> > miskin kota) oleh para pelopornya secara terus menerus. Ini bukan
> sekadar
> > kesinambungan yang sederhana dalam batas waktu tertentu, tapi sebuah
> > kelanjutan ruang antara kelompok-kelompok sosial yang berbeda yang
> > memiliki
> > tujuan kerakyatan yang sama. "
> > Makanya pesan terakhir saya adalah: " Dan berserikatlah kamu supaya
> kuat!"
> > belajarlah-belajarlah dan bealjarlah….senada dengan pesan ho chi min
> > mengenai
> > tugas pemuda. Ada tiga yakni yang pertama berorganisasi, yang kedua
> > berorganisasi dan selanjutnya adalah berorganisasi![rd]
> > 
> > 
> > ---------------------------------
> > mahasiswa aktif jurusan administrasi bisnis UPN V Yogyakarta. Mantan
> > Gubernur BEM FISIP UPNVY, dan penggiat di KOMIK UPN (Komunitas
Mahasiswa
> > Kritis). Saat ini sedang bergelut di kelompok rembug Petani (KRP) biro
> > sektoral
> > dari FPPI-Front Perjuangan Pemuda Indonesia
> >
>


Kirim email ke