Normal   0         false   false   false                             
MicrosoftInternetExplorer4             /* Style Definitions */  
table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  
mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  
mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  
mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  
mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman"; 
 mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  
mso-bidi-language:#0400;}    PPLP Banten harus kembali ke khitohnya
  www.bantenmuda.multiply.com
   
  Serang – Pembinaan yang terbaik untuk melahirkan atlet-atlet handal di 
Provinsi Banten adalah lewat Sekolah. Pembinaan berjenjang mulai dari SD, SLTP, 
SLTA serta Pusat Pengembangan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) dilakukan 
secara berjenjang dan sistematis bekerjasama dengan dinas terkait. Hal ini 
tentu saja perlu didukung oleh diselenggarakannya berbagai kejuaran baik di 
tingkat daerah maupun nasional untuk mengukur prestasi dari pembinaan yang 
sudah dilakukan.
   
  “Ketika saya mendapatkan amanat sebagai Kadispora (Kepala Dinas Pemuda dan 
Olahraga) Banten, yang pertama kali saya lakukan adalah membenahi PPLP karena 
faktanya memang tidak tertata dengan baik. Saya harus memulainya kembali dari 
nol, dan sudah saya canangkan bahwa pada tahun 2009, PPLP sudah kembali ke 
khitohnya sebagai Pusat Pengembangan dan Latihan Olahraga Pelajar,” ujar Iin 
Mansyur ditengah acara Saresehan (Hari Olahraga Nasional) Haornas XXV di 
Serang, Rabu (10/9).
   
  Suasana santai dalam saresehan yang menghadirkan Ketua Harian KONI Banten 
Yitno, Ketua Umum Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Banten Edwin 
Haris Nasution dan Koordinator Jurnalis Olahraga Banten (JOB) Yosa Sayata, 
mengundang minat para peserta untuk aktif berdiskusi seputar pembinaan olah 
raga di Banten dan persiapan menuju PON XVIII di Riau, tahun 2012.
   
  Dengan tema Refleksi Olahraga di Banten dan Konsep Pengembangan ke Depan 
dalam Rangka Memajukan Prestasi Olahraga, menurut Yitno, dana masih menjadi 
persoalan utama. Idealnya pembinaan olahraga dapat dilakukan bila dana tersedia 
secara kontinyu dan tidak tersendat-sendat. Namun demikian tidak dapat 
dipungkiri bila pembinaan olahraga memang membutuhkan dana yang tidak sedikit.
   
  Dipaparkan oleh Yitno, sejak berdiri 8 tahun yang lalu, KONI Banten bersusah 
payah membentuk sekian banyak Pengurus Daerah (Pengda). “Setelah dievaluasi, 
ada cabang olahraga yang aktif, setengah aktif bahkan ada yang tidak aktif. 
Kendalanya macam-macam, tetapi yang utama adalah dana. Harus dipahami dana dari 
KONI sifatnya hanya insentif untuk merangsang pengda mencari sumber-sumber dana 
baru. Yang menjadi prioritas utama KONI Banten saat ini adalah bagaimana 
mencari atlet berbakat, menciptakan pelatih yang memadai dan memiliki 
sertifikat, serta membuat sarana dan prasarana milik Provinsi Banten,” 
tandasnya.
   
  Hal yang sama dikemukakan oleh, Edwin Haris Nasution. Meski dana masih 
menjadi kendala utama, ia berharap pengda tidak tergantung kepada pemerintah. 
“Kita bisa mencari sponsor yang bersedia membiayai pembinaan atlet. “Yang 
penting kita bisa jelaskan untuk apa uang itu dan apa yang bisa kita berikan 
kepada mereka,” katanya seraya menegaskan pentingnya menerapkan sistem 
komunikasi terbuka baik internal maupun eksternal, begitu juga antara KONI dan 
pengda.
   
  Keterbukaan ini pula yang diharapkan Yosa dalam menentukan cabang olahraga 
(cabor) unggulan sebagai persiapan menuju PON XVIII di Riau, tahun 2012. 
Dijelaskan dalam skema,  raihan prestasi atlet Banten di PON XVI 2004 ternyata 
lebih baik dibandingkan PON XVII 2008. Selain kurang berjalannya program 
pembinaan karena tersendatnya kucuran dana, format pemilihan cabor juga belum 
menggunakan parameter yang cukup. “Menentukan cabor unggulan sedini mungkin, 
memberikan peluang kepada pengurus cabang (pengcab) dan pengda melakukan 
pembinaan melalui program latihan dan program kejuaraan sebagai ajang uji coba 
hasil latihan. Jika sudah ditetapkan, KONI dan pemprov juga harus sepakat 
memperlakukan mereka dengan lebih khusus lagi,” usul Yosa sambil mengingatkan 
bahwa cabor yang terpilih  jangan terlena karena bisa saja mereka terkena 
degradasi jika tidak memenuhi target.
   
  Menanggapi hal itu, Iin Mansyur menjelaskan bahwa dirinya telah menganggarkan 
di tahun 2009 akan ada kajian untuk menentukan cabor unggulan yang bisa 
dipertanggungjawabkan secara akademik dan empiris. Sedangkan di tahun 2010 akan 
dilakukan juga kajian untuk menentukan cabor sebagai ikon olahraga Banten. 
“Kalau di Lampung dikenal dengan angkat besinya, di Papua melekat dengan sepak 
bolanya, nah kita harus tentukan Banten ini apa? berbeda dengan kajian cabor 
unggulan yang bisa menentukan 20-30 cabor. Ikon olahraga tidak lebih dari 3 
cabor,” terang Iin.
   
  Di akhir acara, Iin berharap momentum ini bisa dijadikan tonggak awal 
komunikasi antara pemerintah daerah dengan berbagai unsur olahraga sehingga 
terjalin sinergi untuk tujuan bersama yaitu bagaimana bersama-sama memajukan 
olahraga di Provinsi Banten. ***
   
  --
  Wira Pratama – Mobile : 08568719768
  Jl. Trip K Jamaksari No. 1 Serang 42118
  Web : www.bantenmuda.com (still prepare)
  MP : www.bantenmuda.multiply.com
  FS : www.friendster.com/bantenmudamagazine
       
---------------------------------
Yahoo! Toolbar kini dilengkapi Anti-Virus dan Anti-Adware gratis.Download 
Yahoo! Toolbar sekarang .

Kirim email ke