Cerita Seorang Aussy
 
Gregg William Landy namanya. Kemudian menjadi Luqman Hakim Landy 33 tahun yang 
lalu, tepatnya 1975. Prosesnya menjadi muslim tanpa dibimbing siapapun. Ia 
menemukan fitrah Islam dengan ’strong feeling’ yang sangat kuat seperti ada 
cairan besi mengaduk-ngaduk isi tubuhnya. Mengenal Islam hanya dia temukan di 
buku-buku emperan yang cetakannya dari kertas koran yang cepat lusuh 
itu. Sebagai mahasiswa yang sedang menyelesaikan tesis mengenai Islam di 
Indonesia memang membawanya begitu fasih berbahasa Indonesia. Beliau pun sempat 
menjadi guru bahasa Indonesia di Brisbane, Australia.
Lelaki sederhana yang selalu berpakaian jubah putih dengan kopiah serta sorban 
putih yang diikat di kepala itu sudah seharus pensiun dari aktifitasnya saat 
ini. Mengelola 109 sekolah dengan murid 10.000 (sepuluh ribu siswa) di 
kampung-kampung wilayah Banten yang sama sekali belum berdiri sekolah yang 
layak dan gratis lagi. Karena basisnya di kampung yang lugu maka beliau mengaku 
kesulitan mengembangkn sistem sebagaimana layaknya sebuah lembaga atau yayasan. 
Lewat JIMS (Jakarta International Moslem Society) beliau pontang-panting 
mencari dukungan atas kiprahnya selama ini. Dana yang dibutuhkan memang cukup 
besar untuk setiap sekolah, 4000 usd/pertahun! tidak disangka ternyata harta 
kelurga beliau pun sudah banyak dikeluarkan untuk mensupport pendidikan warga 
Indonesia di daerah terpencil.
“Tahun ini begitu berat untuk saya!”, Ujar Luqman Landy. Ia menceritakan bahwa 
dana dari keluarganya yang ada di Australia sudah distop sejak bulan Januari, 
awal tahun ini. Sementara sekolah-sekolah yang ia dirikan sangat minim mendapat 
perhatian dari departemen terkait, begitu ia mengaku. Saya sendiri mengenal 
kiprah JIMS sejak tahun 2000 an. Sempat pula saya datang ke kantornyaa di 
Ciputat. Ketika saya ingin bertemu, beliau tidak ada di tempat. “Lagi cari dana 
pak!”, begitu pengurus JIMS bilang. Dalam setahun ia mungkin hanya 1-2 bulan 
saja di Indonesia. “Ini panggilan Allah. Sifatnya fardhu Kifayah. Jadi jika 
saya mati, kalian harus meneruskan”, ujarnya pada beberapa warga Indo-Emirat 
yang berbincang-bincang malam itu. Sekalipun banyak berjasa bagi Indonesia, 
prosesnya menjadi WNI sampai sekarang belum terpenuhi. Tipikal beliau yang 
kritis, memiliki kepeduliaan tinggi dan all out berdakwah mungkin sesuatu yang 
tidak begitu disukai
 saat ini.  
Saat ini beliau sudah 4 minggu di UAE. Datang dengan undangan dari sahabatnya 
seorang Emiraty di Al-Ain yang dulu begitu dekat sewaktu studi di Australia. 
“saya datang untuk mencari dukungan ke pemerintah sini (UAE), ternyata tidak 
mudah. Semua pintu sepertinya tertutup. Tiga minggu di Dubai pontang-panting ke 
sana kemari tidak banyak memberikan hasil yang diinginkan”, beliau bercerita. 
Sekalipun datang dengan ‘modal nekat’ dengan visa on Arrival tekad beliau tidak 
mudah pupus. “Banyak pertanyaan yang ditujukan kepada saya, kenapa seorang 
Australia habis-habisan membantu warga Indonesia yang tidak ada hubungan sama 
sekali?”.
Indonesia bagi Luqman adalah rumah kedua setelah negaranya. Kepeduliaan dan 
kiprahnya selama ini tidak bisa diukur dengan materi. Semua karena panggilan 
Allah semata. Sekalipun begitu, bukan berarti beliau melupakan berdakwah di 
negerinya sendiri. Selain menggagas pembangunan mesjid di tempat tinggalnya, 
beliau pun yang mengawali penguburan secara muslim bagi warga Australia yang 
beragama Islam. Apa yang beliau lakukan belum tentu dapat dilakukan oleh orang 
Indonesia sekalipun. Ketulusan memang barang laangka yang saat ini semakin 
sulit ditemukan di setiap insan Indonesia. Selamat berjuang ‘abah’ Luqman! 
Hanya kepada Allah saja kita memang bergantung. Wallahu a’lam
Ruwais, 1429 H
Tulisan ini lahir saat penulis menerima silturahim dari seorang warga Australia 
yang Indonesianis di Ruwais, UAE


      

Kirim email ke