Euforia Lebaran Masa Jadul catatan buruhmigren Lebaran tinggal 2 hari lagi. Sudah kebayang betapa sibuknya di pasar-pasar tradisional dan mal-mal di Indonesia. Dulu saat kecil di Bogor, pasar Anyar sampai jembatan Merah tumpah ruah oleh pedagang kaki lima. Jika Di Serang Mulai dari Pertokoan Royal nyambung ke pasar lama sampai terus ke Rawu. Kawasan pavorite untuk para uda, saudara kita dari Padang menggelar barang jualan. Saat itu, lalu lintas sudah tidak karuan jalurnya. Angkot yang antre dan tidak henti-hentinya menyembunyikan klakson, Becak yang sama-sama tidak sabar menyerobot setiap celah diantara hiruk- pikuknya manusia berjubel yang kesulitan untuk melangkah. Mungkin ini bagian cerita yang paling menarik menjelang idul fitri selain dari reportase mudik. Jika ada hadist nabi yang memberikan tuntunan bahwa saat solat Ied sebaiknya menggunakan pakaian yang bersih/suci dan berwarna putih (Semoga saya tidak salah) maka bukan berarti membeli baju baru menjadi sebuah kewajiban. Salah kaprah pemahaman masyarakat kita sudah terlalu banyak. Ditambah yang satu ini, membeli baju baru buat lebaran!. Saya sendiri bukan bermaksud nyinyir tidak suka pada pedagang yang tajir besar saat musim Lebaran tiba, apalagi menghujat tuntunan Nabi namun sekali lagi kita salah memahami kontek sebuah aturan. Mana yang wajib dan mana yang sunnah. Apa maksudnya wajib dan apa artinya sunnah?. Semua harus kembali pada hukum asal, lagi pula Rasul hanya menganjurkan itupun pakaiannya yang bersih dan putih bukan baju-baju baru dengan model kekurangan bahan alias bujal muncrat kemana-mana. Saya bersyukur pada Allah yang telah menempa kehidupan saya dari miskin hingga sekarang masih tetap miskin :). Saya tidak mau menyatakan kaya soal harta apalagi memang tidak punya apa-apa, tapi soal kaya hati, Insya Allah in progress!. Semoga selalu dekat dengan taufik hidayah-Nya. Sebagai salah satu keluarga prajurit yang pangkatnya hampir gak pernah naik-naik. Kami sudah terbiasa ditinggal tugas hingga 2 sampai 3 bulan. Jika para eksptariat yang saat ini bekerja di PEA dengan gaji berpuluh-puluh juta ditinggal 3 bulan pun tidak masalah. Tetapi itu menjadi masalah buat kami. gaji prajurit macet yang sudah dipotong oleh pinjaman koperasi, dana pensiun, dll menjadi tidak seberapa jumlahnya. Toh! kami tetap menjalankan puasa dengan buka alakadarnya, tetap Alhamdulillah!. Bagaimana dengan lebaran? sejak kecil dengan kondisi seperti itu terus terang lebaran menjadi mimpi buruk bagi saya. Buruk dalam arti sebagai anak-anak lazimnya sudah barang tentu banyak berharap. Apalagi tetangga depan, sebelah, belakang sampai teman-teman di sekolah sudah pamer baju lebaran. Alamaak! saya hanya bisa gigit jari dan tersenyum kecut mengagumi baju-baju baru yang mereka punyai. Mulai dari sepatu, sepatu sandal, kaos kaki, celana kodoray, kaos, kemeja, sampai dompet semua baru!. Bahkan mereka yang orang tuanya mampu sudah membelikannya sebelum puasa tiba. Walhasil saya memilih tinggal di rumah bersama bunda yang baik hati. Biasanya beliau bercerita tentang baju lebarannya yang di wantek berulang kali sama emak. Diwantek itu diwarnai dengan cara bahan baju direbus bersama pewarna. Sayangnya warna yang jadi bisa jauh dari keinginan. Apalagi jika warna sebelumnya warna tua. Cerita itu memang sengaja diceritakan berulang-ulang agar dengan maksud saya tidak terlalu sedih. Bahasa vulgarnya, biasa aja seehh..tradisi miskin sudah dari sananya. Pokoknya yang penting puasa ‘khatam’ satu bulan dan tidak bocor!. Namun tak urung saya selalu gundah dan menanyakan kapan bapak datang dan membawa baju baru. Keluarga kami waktu itu ketitipan beberapa anak yatim dari kakak Bapak (uwa) yang sudah meninggal. Jika lebaran akan tiba mereka adalah orang yang paling dicari. undangan santunan anak yatim digelar dimana-mana. Dan posisinya ajaib!, mereka justru lebih siap menghadapi lebaran dibanding saya yang masih punya bapak. Saya sempat protes hal itu sama ibu (saya memanggilnya umi), “Mi (umi)..! Jadi bapak statusnya ada atau tidak sih? dibilang ada tidak pulang-pulang! dibilang tidak ada belum ada kuburannya!” . Saya protes karena minimal status saya jelas waktu itu. Kalau yatim maka, hehe..saya dapat baju baru. Seperti itulah anak-anak dengan pemahaman polosnya. Entah sampai kapan suasana lebaran di Indonesia bisa berubah. Bagaimanapun efek dominonya sangat luar biasa. Masyarakat menjadi membabi buta mengejar setoran untuk lebaran. seolah-olah lebaran tanpa baju baru menjadi sesuatu yang sangat menyakitkan! lebih sakit dari cerita siti Nurbaya. Coba saja perhatikan, ibadah di masjid semakin mengendur. Jika Rasul ajarkan kencangkan ikat pinggang untuk beribadah alias konsentrasi full beribadah, ini malahan sibuk bulak-balik ke pasar. Menghitung apa saja yang belum dibeli. Parahnya catatan kreditan makin bertambah. Semua terkondisikan oleh euforia materialisme. Entah kemana nilai-nilai Ramadhan, yang ada tingkat kejahatan semakin meningkat. Lahaula..Illa billah!. Sekarang saya sudah terbiasa dengan lebaran tanpa baju baru. Serpihan mozaik kehidupan menjadi lampu kristal yang berpendar warna-warni. Semua episode selalu ada akhirnya. kasih sayang Allah pada semua hamba tiada pernah terputus. Dan selalu jangan pernah melewatkan satu waktu pun menghujat atas keputusan-Nya. Saat sahur di penghujung Ramadhan, saya selalu berbagi cerita dengan isteri tentang kisah-kisah lucu menjelang lebaran saat kecil. Semua terasa manis saat saya harus bercerita sampai berlinang airmata karena tertawa tiada habisnya. Wallahu a’lam
