Aswrwb,

Saran fund manager itu bisa benar dan bisa salah, tapi ada yang 
lebih penting...jujur atau tidak jujur.

Dalam teori keuangan, walaupun jarang dibahas, ada aksioma mengenai 
konflik kepentingan antara manajer dan principal (pemegang 
saham/pemilik dana. Ini buka sekedar analisis teoritis how to 
maksimize the wealth of fund owner, tapi ada pengaruh kepentingan 
pribadi si Fund Manajer: Bonus, Kondite,dll. Ada kemungkinan 
munculnya Fraud. 

Nah dalam kasus amrik, kita lihat konflik kepentingan itu terjadi: 
pemegang dana  mau memaksimalkan kekayaannya dengan me'nyewa' 
manajer dan dibayar dengan uang si pemegang dana. seharusnya manajer 
bekerja demi sang 'majikan', namun ada kemungkinan si manajer punya 
kepentingan pribadi: bonus, kondite, komisi, dll. 

Ketika bisnis turun, sebetulnya itu hal biasa. Bisnis ada rugi ada 
untung. Fund manajer bisa benar bisa salah analisis, tapi.....kalo 
si manajer punya interest pribadi? Kasus amrik memperlihatkan si 
manajer masih dapat bonus yang sangat besar ketika perusahaan rugi, 
karena si top management punya kuasa menetapkan bonus. ini yang 
membuat banyak pemegang dana jadi tidak percaya sama manajernya atau 
pengelola dananya sendiri.

Dalam situasi ini, banyak pemegang dana menjadi sangat hati-hati, 
mereka pindah ke Emas, atau bahkan uang tunai. Dalam beberapa kasus, 
mereka tarik dana mereka dari bank umum dan bank investasi mereka. 
Di Indonesia, lebih ekstrim lagi...tahun 97-98 nasabah tarik dana 
besar-besaran dari sistem perbankan pindah ke dollar dan emas. 

Saya sendiri dalam berinvestasi sekarang lebih percaya dengan emas, 
dan kalau ada peluang langsung investasi di sektor riel. Era dollar 
sudah tamat. kedepan...mungkin seluruh mata uang harus dikaitkan 
dengan cadangan emas. Uni Eropa sudah memberi sinyal.

bagaimana Kang Ferizal dan Bang Daday?

Salam,

Guswandi

--- In [email protected], "Ferizal Ramli" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Terima kasih Mas Dayat...
> 
> Saya lanjutkan yah...
> 
> Sahabat,
> 
> Lanjutkan diskusi tentang saham blue chip, bisakah bernilai "nol"?
> 
> Setahu saya, saham blue chip itu biasanya saham dari perusahaan 
yang
> performance keuangannya baik, dilihat dari fundamental keuangan.
> Gampangnya secara likuiditas, solvabilitas dan profitablitas itu
> sehat. Akibatnya, dia menjadi favorit bursa. Jadilah disebut saham
> dari perusahaan ini adalah blue chip.
> 
> Teoritisnya perusahaan yang masuk saham blue chip tidak bangkrut.
> Hanya saya lihat misalkan Daimler-Mercedes. Dilihat dari sudut 
apapun
> Daimler itu sehat wal'afiat secara fundamental ekonomi.
> 
> Toh Daimler-Mercedes mengalami tantangan sangat berat: daya beli
> masyarakat dunia turun drastis! 
> 
> Nah apakah sanggup perusahaan yang menghadapi tantangan begitu 
berat
> akan membagikan deviden? Menjadi persoalan jika dalam 5 tahun atau
> lebih perusahaan tidak mau bagikan deviden-nya. Berarti uang yang 
kita
> tanamkan di saham tidak punya "arti apa-2 alias nol" atau "hangus"
> dong, minimal jika kita tinjau dari sudut "benefit opportunity"? 
> 
> Begini...
> Jika digunakan untuk kepentingan yang lain maka uang kita tsb bisa
> untuk banyak hal. Apalagi jika sang pemilik saham mengalami 
kesulitan
> likuiditas juga. Misalkan klo dulu dia investasi saham karena dia
> kelebihan dana. Klo sekarang usahanya yang selama ini menghasilkan
> keuntungan mendadak krisis. Lalu dia butuh dana sementara dananya
> mungkin dalam 5 tahun tidak menghasilkan apa-2. Bahkan jika suatu
> ketika menerima devidenpun sangat mungkin tidak dalam prosentasi 
yang
> signifikan... 
> 
> Jadi, dari sudut "fakta keras" saham kita mungkin tidak bernilai 
nol,
> artinya perusahaan yang sahamnya kita miliki sehat wal'afiat keluar
> dari krisis. Hanya saja dari sudut "benefit opportunity" 
(kesempatan
> yang kita buang jika dana tersebut digunakan untuk yang lain) maka
> sangat mungkin nilai saham kita itu sudah "nol".
> 
> Salam,
> 
> Ferizal Ramli
> 
> --- In [email protected], "Daday Rahmat Hidayat S, SE"
> <daday@> wrote:
> >
> > Yth. Bung Ferizal Ramli
> > Saya apresiasi dengan tulisan anda yg bisa menambah wawasan dan 
> wacana bagi 
> > pembaca awam. Saya sekedar usul, kalau bisa analisanya lebih
> berimbangdengan 
> > tetap memperhatikan berbagai kemungkinan yag terjadi.
> > Silakan diteruskan, walaupun  ada kemungkinan pihak yg tidak 
setuju.
> dan hal 
> > itu sesuatu yg wajar dalam kancah diskusi ilmiah, selanjutnya
> kewajiban anda 
> > untuk menjawab dan mengcounternya bila ada yg tidak setuju.
> > Terima kasih
> > Wassalam
> > dadayrhidayat
> > 
> > ----- Original Message ----- 
> > From: "Ferizal Ramli" <framliz@>
> > 
> > 
> > > Krisis Moneter: Rugi Investor dan Rugi Fund Manager
> > >
> > > Kemarin malam saya ditelpon sahabat akrab saya orang Amrik. 
Tapi malam
> > > itu suaranya begitu putus asa. Katanya 3 bulan yang lalu 
sahamnya
> > > masih bernilai hampir 120 ribu USD. Tapi kemarin Jumat, 
nilainya cuma
> > > 30 rb USD lebih sedikit. Dia bingung campur putus asa apa yang 
harus
> > > dilakukan?
> > >
> > > Sebelum saya jawab pertanyaannya maka saya tanya kembali ybs;
> > > "Bagaimana saran Fund Manager-mu?"
> > >
> > > Jawabnya; "Fund Manager-nya bilang, bahwa saham-2 teman saya 
itu
> > > adalah kombinasi saham progresif dan blue chip. Yang jatuh 
nilainya
> > > adalah saham-2 progresif. Memang dalam waktu dekat investasi 
saham
> > > tidak menguntungkan. Tapi dalam jangka 1 tahun atau 2 tahun 
harga
> > > saham blue chip akan pulih lagi bahkan juga akan mendapatkan 
deviden".
> > >
> > > Mendengar jawaban Fund Manager yang disampaikan oleh teman 
saya tadi
> > > maka saya mengambil dua kesimpulan:
> > >
> > > Pertama, saya positif thinking pada Fund Manager. Dia jujur 
kasih
> > > analisa ke teman saya. Kebiasaan Fund Manager itu menganalisa 
saham
> > > dengan dua teknik analisa yaitu: Market Analisis dan 
Fundamental
> > > Analisis.
> > >
> > > Klo pake Market Analisis, maka bisa betul bahwa 1-2 tahun 
lagi, harga
> > > saham yang diposisi bottom pasti suatu saat akan naik. Jadi, 
lebih
> > > baik sabar menunggu sampai sentimen pasar hilang sehingga 
harga saham
> > > naik lagi.
> > >
> > > Klo pake pendekatan fundamental, maka saham-2 blue chip 
biasanya
> > > kesehatan perusahaannya baik. Likuiditas, Solvabilitas dan
> > > Profitabilitas performance-nya baik. Jadinya, Fund Manager 
yakin harga
> > > saham blue chip akan naik atau minimal akan dapat deviden.
> > >
> > > Tapi benarkah demikian? Dalam situasi sekarang ini maka perlu
> > > dianalisa juga adalah pendekatan makro ekonomi.
> > >
> > > Analisa paling optimis tentang Amrik adalah, Amrik baru mulai 
bisa
> > > merangkak lagi paling cepat 2 tahun. Berarti selama 2 tahun ke 
depan
> > > perusahaan-2 Amrik meskipun Blue Chip memiliki beberapa 
tantangan
> besar:
> > >
> > > 1. Kesulitan untuk mendapatkan kredit dalam bentuk dana lancar 
untuk
> > > modal kerja, karena bank dan investment bank tidak mau 
pinjamin uang.
> > >
> > > 2. Andaikan sang perusahaan mempunyai dana lancar yang cukup,
> > > perusahaan juga menghadapi tantang berat yaitu daya beli 
konsumen yang
> > > turun drastis. Akibatnya, omsetnya juga turun drastis.
> > >
> > > 3. Andaikata perusahaan-2 tersebut tetap mampu survival, tetap 
saja
> > > jelas perusahaan tersebut dalam waktu cukup lama belum mau 
membagikan
> > > devidenya ke stakeholder.
> > >
> > > Kenapa? karena keuntungan perusahaan pasti akan digunakan untuk
> > > cadangan aktiva lancar sampai perusahaan yakin bahwa dunia 
perbankan
> > > punya dana cash untuk memberi pinjaman.
> > >
> > > 4. Sialnya, klo perusahaan ybs sampai bangkrut maka sahamnya 
pasti
> > > berharga nol. Kenapa? karena kompensasi kerugian terhadap 
pemilik
> > > saham itu tidak menjadi prioritas penting. Harta kekayaan dari
> > > perusahaan brankrut biasanya sudah habis untuk bayar hutang.
> > >
> > > Akhirnya, menurut saya, secara makro ekonomi ndak ada alasan 
untuk
> > > mempertahankan saham yang ada ditangan.
> > >
> > > Kedua, Berangkat dari asumsi makro itu saya berpikir negatif 
pada Fund
> > > Manager. Saya yakin para Fund Manager sebenarnya tahu persis 
bahwa
> > > saham-2 itu akan banyak sekali yang nantinya bernilai nol 
meskipun
> > > tidak semua akan bernilai nol. Tapi kemungkinan bernilai nol 
itu
> > > besar. Hanya kalo Fund Manager mengatakan yang sebenarnya maka 
siapa
> > > investor yang akan mempercayakan uangnya pada dia?
> > >
> > > Rugi investor adalah rugi kehilangan hartanya, rugi Fund 
Manager
> > > adalah rugi kehilangan pekerjaannya...
> > >
> > > Salam,
> > >
> > > Ferizal
> > >
> > >
> > >
> > > ------------------------------------
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > ----------------------------------------------
> > > Tetap Semangat Mencintai dan Membangun Banten!
> > > ----------------------------------------------
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > Yahoo! Groups Links
> > >
> > >
> > >
> > >
> >
>


Kirim email ke