Apresiasi bangsa Arab terhadap kata sejak jaman Jahiliyyah sangat tinggi. 
Dahulu sebelum Islam turun, tumbuh dan berkembang di jazirah ini bangsa Arab 
sudah terkenal dengan kata-katanya yang indah terangkai dalam (entah) jutaan 
syair. Seperti tidak ada habisnya kata demi kata ditautkan menjadi sebuah 
untaian syair yang indah. Bahkan bagi yang tidak mengerti bahasa arab sekalipun 
bisa menikmatinya paling tidak lewat diksi syair yang diucapkan. Para penduduk 
Makkah konon saat itu lazim berkumpul menikmati setap kata yang diucapkan 
para penyairnya. Isinya bisa sebuah sanjungan, kisah heroik, ungkapan cinta, 
juga taklupa penistaan kepada sesuatu yang tidak disukai. Kesimpulannya 
apresiasi terhadap kata sangat tinggi di kalangan bangsa Arab. 
 
Mungkin hal ini pula yang menjadikan mukjizat Nabi terakhir, Muhammad yang 
Mulia adalah Al-Qur'an. Wahyu yang menjelma menjadi sebuah rangkaian kata indah 
yang berisi tuntunan jalan hidup seluruh umat manusia. Firman Tuhan yang 
membebaskan manusia dari segala jeratan perbudakan sesama makhluk. Jika koran 
berisi berita yang sudah terjadi, maka Qur'an berisikan berita yang akan 
terjadi dan kemana kita akan kembali. Ia abadi terdokumentasi dalam bentuk 
mushaf hingga suatu saat nanti jelang kehancuran semesta sebagai simbol manusia 
tak memerlukan tuntunan lagi.
 
 Dari sirah yang saya baca, bagaimana kekuatan serta keindahan gaya bahasa 
Al-Qur'an yang tinggi membuat seorang Umar Bin Khatab yang dulu terkenal bengis 
dan kejam serta hendak membunuh Nabi menjadi luluh hatinya dan menyatakan 
keislamannya di hadapan Rasulullah. Sampai-sampai saat itu ada himbauan untuk 
dilarang mendengarkan ayat-ayat Al-Qur'an. Apresiasi terhadap kata dalam bentuk 
keindahan serta kandungaan maknanya sampai saat ini masih terus terjaga di 
kalangan bangsa Arab.
 
Syair 'Million'
 
Salah satu apresiasi terhadap 'kata' di gulf dituangkan kedalam bentuk Syair 
Million. Sebuah kompetisi bergengsi antar negara-negara Arab terhadap keindahan 
kata dan makna. Pembacaan syair atau puisi ini berhadiah sampai jutaan dirham. 
Tahun ini saja berhadiah 5 juta dirham bagi pemenang pertama atau kalikan saja 
2500 rupiah untuk dikonversikan  ke dalam nilai rupiah. Kompetisi ini menjadi 
daya tarik bagi seluruh Bangsa Arab karena bukan hanya hadiahnya yang besar 
tetapi juga soal gengsi.  kefasihan, ketajaman berpikir, ketinggian pemahaman 
bisa diukur dari pemakaian kata dan bagaimana mengungkapkannya. Kalau tidak 
ingin dibilang bilang bebal maka pergunakanlah kata yang baik. Kira-kira 
seperti itu mungkin citarasa mereka dalam hal apresiasi terhadap kata.  
 
Seperti halnya sebuah kompetisi yang mengundang pro dan kontra, kompetisi ini 
pun mengundang keributan antar sponsor masing-masing negara peserta. Dari dua 
kali kompetisi diadakan pemenangnya selalu dari Qatar. Para pendukung dari 
Saudi yang merasa wakilnya lebih mampu dan indah dalam pengungkapan syair hanya 
jadi runner up. Para Hijazian tidak bisa menerima jika wakil mereka yang mashur 
dengan kefasihan serta penguasaan katanya yang tinggi harus jadi pecundang. 
Aksi boikot memboikot sempat mewarnai dunia maya. Namun akhirnya mencair 
setelah hadiahnya dinaikan ke 5 juta dirham (sebelumnya 1 jutaan dirham). 
Hampir mirip dengan kompetisi sepak bola dulu waktu di kampung. Hadiah kambing 
satu yang diperebutkan menyisakan masalah dan baku hantam antar suporter. 
Ketika hadiah dinaikan jadi kerbau, tetep juga...ribut lagi akhirnya.
 
Dengan adanya syair million saya menyaksikan sendiri tidak ada satu bangsa pun 
di dunia yang lebih hebat apresiasinya terhadap kata, syair, sastra atau apapun 
yang berkaitan dengannya selain bangsa Arab. Nilai hadiah yang diberikan 
sebesar jutaan dirham (dikalikan ke 2500 rupiah untuk konversi ke rupiah) bisa 
sebagai parameternya. Bagi kita, yang mengagungkan bahasa Indonesia sebagai 
bahasa persatuan dan nasional masih harus tertatih mengangkat dan menghidupkan 
sastra kita sendiri. Bagi para sastrawan nusantara yang berminat silahkan saja 
jalan-jalan ke website www.almillion.net sekalian lihat bagaimana cara bangsa 
Arab membacakan puisi. Biasanya si pembaca puisi duduk atau berdiri di podium 
dan sama sekali puisi atau syair yang dilatunkan  tidak melihat teks. Saya 
tidak tahu apakah puisi tersebut spontan atau memang dihapal. Link berikut akan 
menampilkan salah satu kontestan pembaca puisi dan nikmati diksi serta cara 
mereka menympaikannya;
 http://video.alapn.com/view_video.php?viewkey=d305d79c2ebc8c188342 .
 
Jadi para penyair Indonesia, siap bertarung? jangan lupa pakai bahasa Arab yah 
kekekek..!


      

Kirim email ke