Normal   0         false   false   false                             
MicrosoftInternetExplorer4          st1\:*{behavior:url(#ieooui) }       /* 
Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  
mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  
mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  
mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  
mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman"; 
 mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  
mso-bidi-language:#0400;}    Cerpen Niduparas Erlang :
   
  SEKADAR INGATAN-INGATAN
  www.bantenmuda.multiply.com
   
  Selama tiga tahun berjalan, mencarinya, tak banyak yang bisa kulakukan. 
Selain terus menerus mempertajam ingatan, dan menuliskan sesuatu tentangnya 
sambil menceritakan pula kondisiku saat ini. Kutulis secara serampangan di 
secarik kertas. Dan aku menyebutnya sebagai surat. Namun, walaupun aku 
menyebutnya surat, aku tak pernah bermaksud untuk mengirimkannya ke alamatnya. 
Sebab aku pun tak tahu keberadaannya. Ini hanyalah sebuah upaya untuk merekam. 
Mengabadikannya lewat tulisan. Dan telah begitu banyak coretan-coretan itu. Dan 
kubiarkan saja menumpuk di dalam tas hitamku yang telah lusuh. Jika kau, kawan, 
bersedia mendengarkannya, baiklah akan kubacakan beberapa coretanku tentangnya:
  Sayap rinduku membentang semakin lebar. Tapi sepertinya, masih begitu luas 
ruang yang menjaraki kebersamaan kita. Masih ada sekat yang sengaja kau 
pertahankan dalam pekat. Ah, Non, ingin kupugar pagar ragumu dengan segenap 
kesungguhanku. Walau bulu-bulu sayapku terkadang dirontokkan cuaca, dicukur 
ocehan-ocehan beberapa kawan yang merasa mengerti dan banyak mengalami cinta. 
Namun ketika hujan mendera, menggenangi ceruk hati, membikin rumah-rumah udara 
pendek usia, selalu aku kembali ke lampau waktu. Mengingat kenangan denganmu. 
Ya, rindangnya hujan selalu mengingatkanku pada rindang rambutmu yang nampak 
basah yang pernah kudapati di sebuah pagi yang panas. Dan bukankah pertemuan 
kita kerap ditandai dengan hujan? Kemudian bulu-bulu sayapku kembali 
bertumbuhan. Lebih rimbun dan lebih melebar lagi. Aku ingin merengkuhmu, Nona. 
Mesti ada dekap untuk menyelamatkan kewarasanku. Karena bulu sayapku yang 
rontok, tak kujadikan penanda jalan untuk mengantarku pulang. Dan aku telah
 melupakan muasal. Telah pula kutanggalkan pakaianku. Agar aku merdeka dari 
segala dalam perjalanan lamat ini. Perjalanan yang mempertemukanku dengan 
berbagai hal. Begitu banyak kutemui peristiwa, fragmen, yang sebelumnya tak 
terpikirkan sama sekali. Peristiwa-peristiwa yang terkadang membuatku harus 
menceburkan diri ke dalam kubangan kerbau. Dapatkah kau rasakan baunya? 
Terkadang juga aku mesti berebut tulang dengan anjing-anjing gila. Atau 
seringnya aku tersesat dalam labirin hari. Tapi, tak semua layak dan menarik 
untuk kuceritakan padamu. Sebab hujan dan angin yang kali ini menghampiriku, 
tak sedikitpun memberi kabar tentang keberadaanmu, atau paling tidak 
menyampaikan selarik berita tentang kondisimu. Apa kau telah sembuh dari sakit 
yang menyebabkanmu harus meninggalkan kota tempat kali pertama kita bersua dan 
bercengkrama? Yang membuatmu meninggalkanku? Akan tetapi, aku berharap, disaat 
angin dingin dan hujan menerpa senja raya seperti saat ini, kau sedang menikmati
 matahari yang seperti buah jeruk di ufuk barat. Namun sejenak kemudian, hujan 
tiba-tiba saja mereda. Hanya daun yang terceraikan ranting jatuh menimpah 
kegelisahanku. Aku pikir, barangkali inilah cenderamata darimu. Bahwa kau juga 
sama merindunya kepadaku. Walau aku tahu kau masih ragu. Dan aku pun tahu bahwa 
aku masih takut. Atau kita sama-sama pengecut. Aih, ternyata jujur telah 
melebur dalam warna-warna kabur. Tak seperti warna lengkung pelangi yang kendak 
kutiti itu. Yang barangkali di ujung sana tempatmu kini. Berluluran cahaya 
sembari mandi dan mengusir debu-debu yang melekat di tubuhmu. Dan aku ingin 
menemuimu setelah kau usai. Tubuhmu segar. Bolehkah aku memintanya secangkir 
saja? Agar kerongkonganku sedikit basah. Agar tulang lidahku tak kelu saat 
kukatakan: aku mencintaimu, mengagumi seluruhmu. Tapi simpul penat yang 
membebat kaki ini belum selesai kurelai. Istirah beberapa jenak ternyata tak 
mengembalikan energi yang tercecer seharian. Dan sedari tadi aku masih
 tergeletak di bawah pohon ini. Merenungi senja. Menikmati gemercik dan 
jeram-jeram liar dari sebatang sungai berair bening. Yang kemudian berkelebat 
keinginan untuk menghanyutkan diri di arusnya yang tak begitu deras. Manut 
mengikuti alurnya. Adakah ini akan bermuara di matamu? Ah, Non, matamu 
membuatku iri. Sekaligus membuatku takut jika terlalu lama berkaca pada 
beningnya. Tetapi, aku pun enggan berpaling jika sudah menatapnya. Aku memilih 
terhisap ke dalam pusaran arus matamu. Sebab bentuknya penuh dengan mosaik atau 
ornamen memesona, menyimpan misteri asing yang nampak akrab. Sorotnya 
mengalirkan denyutan yang meluncur kencang di dalam sarafku. Dan aku pun 
tenggelam. Berputar-putar seperti gasing yang dibanting tangan-tangan perkasa, 
dan menimbulkan suara desing yang sengau. 
  Seperti itulah surat yang kutulis di tahun pertama. Ditulis di tepi sungai, 
sebelum masuk ke sebuah perkampungan yang penduduknya ramah-ramah. Entahlah 
bagaimana aku bisa sampai ke kampung itu. Karena waktu itu, aku hanya berjalan 
mengikuti kehendak hati. Dan membiarkan saja kakiku melangkah semaunya. Hingga 
tengah malam, aku merasa lelah dan membaringkan tubuhku begitu saja di depan 
rumah panggung seorang warga. Esoknya aku terbagunkan oleh gonggongan anjing 
yang menggigiti sepatuku. Lalu segerombolan bocah-bocah yang hendak berangkat 
sekolah, terkesima menontoniku yang berebut sepatu dengan seekor anjing. Mereka 
tertawa-tawa nyaring. Dan setelah aku berhasil mengusir anjing itu, mereka 
pergi sembari terus tertawa-tawa. Kulihat ada seorang anak lelaki yang 
memiringkan telunjuknya di keningnya. Dan disambut anggukan kepala dari 
kawan-kawannya yang lain.
  Tak lama setelah itu, si empunya rumah, seorang lelaki yang sudah lumayan tua 
keluar dari dalam rumah ini dan mendekatiku. Kukira, ia akan banyak menanyaiku 
perihal mengapa aku bisa tidur di rumahnya, atau semacamnya. Tetapi tak. Ia 
hanya melemparkan senyum sesaat. Lalu berkata: “Ikut saya.” Aku bingung, tak 
tahu mesti menjawab apa. Dan nampaknya pak tua itu dapat membaca kebingunganku 
dari air mukaku. “Tidak usah takut. Ayo,” ajaknya. Dan ia masuk kembali ke 
dalam rumahnya. Aku semakin bimbang. Apa gerangan yang akan dia lakukan? Dan 
mengapa ia mengajakku masuk ke dalam rumahnya. “Mari Nak, sini. Sarapan 
sama-sama.” Suara yang kudengar kemudian berbeda dari suara lelaki tadi, dan 
sepertinya suara perempuan. Ah, barangkali istrinya. Namun, mendengar kata 
sarapan, makhluk-makhluk liar di dalam perutku meronta. Mencabik-cabik 
lambungku. Dan tiba-tiba saja rasa lapar begitu sangat terasa menyiksa. Dan aku 
yang memang sudah dari kemarin tak makan, mendapat tawaran
 yang bagus, amat sayang untuk dilewatkan. Maka, kulepas sepasang sepatu yang 
solnya sudah menipis itu, dan dengan sedikit malu, agak canggung, aku mengendap 
masuk ke dalam rumah panggung itu. 
  Di dalam ternyata mereka telah menggelar makanan di atas tikar pandan. Dan 
hanya dua orang yang duduk menghadap makanan. Satu lelaki tua yang tadi 
mengajakku masuk, dan satunya lagi seorang perempuan yang sangat mungkin yang 
tadi suaranya terdengar mengajakku sarapan. Lalu dipersilakannya aku duduk. 
Kupandangi wajah mereka satu-satu. Dan mereka hanya tersenyum ramah. Apalagi 
perempuan tua itu. Lekuk dan kerut di wajahnya mengingatkanku pada nenek. Aih, 
nenek, maafkan aku yang tak bisa merawatmu—tapi maaf, aku tak hendak 
menceritakan nenekku.
  Kemudian pak tua itu memimpin doa, dan yang perempuan mengamininya. Aku 
ikut-ikutan. Walau tak tahu doa apa yang mereka baca. Sebab, jika aku mau 
makan, makan saja. Tak pernah berdoa dulu. 
  “Mari, silakan. Makanan kami seadanya. Maklum di kampung,” kata perempuan itu 
sembari memberikan piring padaku. 
  Akh, apa-apaan ini. Mengapa mereka begitu menghargaiku. Seolah aku adalah 
tamu yang sengaja mereka undang. Dan perempuan itu bilang, makanan kami 
seadanya, padahal aku bisa dengan jelas melihat bahwa menu sarapan mereka 
sangat istimewa. Betapa tidak. Selain nasi putih yang masih mengepul di dalam 
bakul. Lauk yang mereka sajikan begitu beraneka; tempe goreng, tahu goreng, 
ikan asin panggang, tumis kangkung, sayur toge beserta irisan tahu, daun 
singkong yang direbus, mentimun, sambal, bahkan kerupuk. Jarang-jarang aku bisa 
temukan sarapan seperti ini. Biasanya sarapanku cuma seiris roti, dan segelas 
kopi, dan sebatang rokok. Dan itu harus bisa tahan sampai sore hari. Namun kali 
ini aku disuguhkan makanan yang begitu melimpah. Jelas tak akan aku sia-siakan. 
Rasa malu serta canggung yang tadi masih memuncak, tiba-tiba saja lenyap. 
Menguap entah ke mana. Lesap ke dasar entah.
  Kusendok nasi yang masih hangat itu ke atas piringku sampai menggunung. 
Kulirik lagi wajah-wajah mereka. Dan lagi-lagi hanya senyum yang kudapati. Dan 
aku menafsirkannya sebagai ungkapan mempersilakan untuk mengambil 
sebanyak-banyaknya. Dua iris tempe, dua iris tahu, sepotong ikan asin, tumis 
kangkung, sayur toge, mentimun, daun singkong, sambal, dan kerupuk. Tumplek 
semua di atas piringku. Dan tanpa basa-basi, aku melahap makananku dengan 
rakusnya. Dalam hitungan beberapa menit saja, semuanya ludes, dan berpindah ke 
dalam perutku. Hingga aku benar-benar merasa kenyang, puas, dan bersendawa. 
  Tetapi perempuan ini masih menawariku untuk menambah order makanan. Dan aku 
menolak, sebab perutku sudah tak lagi sanggup menampung. Kemudian lelaki itu 
menawariku rokok. Jarum coklat. Tanpa malu-malu, kulolos sebatang dari 
bungkusnya. Namun, ketika ingin kupinta pemantik api dari tangannya, ia malah 
menyalakannya terlebih dulu dan menjulurkannya pada rokokku. “Terima kasih,” 
ucapku dibarengi embusan asap rokok.
  Sementara istrinya membereskan piring dan semua sisa sarapan, aku dan lelaki 
itu saling melempar senyum sembari menikmati rokok masing-masing. Terkadang 
asap yang kukeluarkan dari mulutku membentuk lingkaran-lingkaran. Selang 
beberapa jenak, istrinya kembali sambil membawa dua gelas kopi hitam pekat dan 
menaruhnya di antara aku dan lelaki itu yang duduk tak tepat berhadapan. Dan 
mulai lagi pertanyaan-pertanyaan berseliweran di dalam kepalaku. Semakin lama, 
perasaanku semakin tak keruan. Serasa ada sesuatu yang janggal tengah terjadi. 
Maka, pelan-pelan kukumpulkan keberanianku untuk mengungkapkan semua pertanyaan 
yang berkelindan di otakku dan menyoal perlakuan mereka yang seolah menyambut 
kedatanganku.
  Dan dari berondongan pertanyaanku, akhirnya aku beroleh sebuah pengakuan dari 
lelaki itu. Bahwa sepuluh tahun yang lalu, anak perempuannya satu-satunya, 
diperkosa sekelompok orang tak dikenal. Lalu anak perempuannya kehilangan 
kewarasaannya. Ia lupa menyimpan alamat akal sehatnya. Sehingga ia tersesat di 
entah mana. Dan orang-orang kampung menyebutnya gila.
  “Bapak sudah mencoba mengobatinya dengan berbagai cara, tapi Sumyati, Sumyati 
tidak sembuh-sembuh.”
  Di ambang pintu menuju dapur, kulihat istrinya tertunduk dan bersedih. Lalu 
ia menceritakan bahwa, seorang dukun yang pernah ditemuinya untuk mengobati 
anaknya itu, memberikan semacam wewejang. Agar ia dan istrinya mau bersabar dan 
memberi makan kepada sembilan puluh tujuh orang yang secara tak sengaja mampir 
ke rumahnya. Dan menurut pengakuannya, aku adalah orang yang kedelapan puluh 
tiga selama sepuluh tahun ini.
  “Apakah saya boleh melihat anak bapak?”
  Ia dan istrinya saling menatap. Kemudian hening mengambang. Hanya derit pilu 
amben yang terdengar ketika aku memperbaiki posisi dudukku. “Boleh, pak,” 
pintaku lagi. Kulihat istrinya mengangguk pelan. Dan lelaki ini pun 
mengiyakannya. Lantas, diajaknya aku ke belakang rumahnya, ke tempat Sumyati 
dikurung.
  Dan betapa tersentaknya aku ketika melihat anaknya terkerangkeng di dalam 
sebuah kandang. Ya, sekotak ruangan yang lebih mirip kandang kambing ketimbang 
tempat manusia. Dan siapa yang akan mengira kalau di dalamnya ternyata ada 
seorang perempuan yang dipasung karena dianggap gila.
  “Bapak terpaksa memasungnya. Karena anak-anak kecil di sini, kerap 
melemparinya dengan batu dan mengolok-oloknya. Padahal, Sumyati tidak pernah 
mengamuk atau mengacak-acak apa pun.”
  Sementara itu, Sumyati seperti tak menyadari kehadiran kami. Ia seakan asyik 
terpekur tanpa bergerak sedikit pun. Wajahnya sepenuhnya tertutupi rambut yang 
menjuntai ke depan. Kakinya berselonjor—atau terpaksa berselonjor—karena 
pergelangan kakinya diapit dua balok besar. Dan entah apa yang tiba-tiba 
merasuki tubuhku. Sebab aku begitu penasaran dan ingin melihat wajahnya. Maka 
pelan-pelan kudekati ia. Ayahnya memegang lenganku sambil mengisyaratkan agar 
aku jangan mendekati anaknya. Namun kubilang, tak akan apa-apa. “Saya hanya 
ingin menyapa anak bapak.”
  Perlahan, kusibakkan rambutnya yang agak lengket berminyak dan sedikit 
menggimbal. Ah, perempuan malang. Dan Sumyati perlahan pula mengangkat 
wajahnya. Seberkas cahaya yang masuk lewat jendela, menyentuh kulit wajahnya 
yang pucat. Dan aku kembali tersentak, terkesiap, ada sesuatu meledak di dalam 
diriku. Tak mungkin! Bukan, bukan, dia…, aku tergagap, megap-megap. Kutilik 
lebih jeli lagi lekuk-lekuk wajahnya. Dan aku semakin tak percaya dengan apa 
yang kulihat. Mengapa wajahnya begitu mirip dengan seorang Nona yang aku cari 
selama ini. Ya, nyaris tak ada yang berbeda. Hanya saja, mata Sumyati kosong 
melompong. Tak menyiratkan tanda-tanda kehidupan. Bahkan ketika mata kami 
bersirobok hanya kekosongan yang kudapati. Akan tetapi, ada sesuatu yang 
sungguh tak dapat kucerna. Sesuatu yang rumit, yang berkitar-kitar di antara 
kami.
  Sumyati tersenyum. Sedang aku terempas, retak. Diriku porak-poranda. Lebih 
dahsyat ketimbang aku mereguk senyum yang tersungging dari bibir Nona. Kini, 
aku tak hanya mabuk, melainkan juga hancur. Remuk-redam.  
  *  *  *
  Dan aku kembali menulis surat:
  Nona, kutemukan dirimu yang bukan engkau di dalam diri seorang, di dalam 
kondisi yang mengenaskan. Siapakah Sumyati? Siapakah engkau? Adakah kalian 
saling mengenal? Nona, sebenarnya aku yang telah benar-benar gila. Sebab telah 
kusingkirkan sekat pembatas gila dan waras. Kulupakan semuanya. Kubiarkan 
engkau membawa semua akal sehatku. Dan kini aku sungguh sekarat, sakitku bukan 
hanya psikis, melainkan juga fisik. Aku tersiksa, memang. Tetapi…, ah, biarlah. 
Engkau tak perlu merasa terbebani deritaku. Engkau hanya perlu tersenyum. 
Tersenyumlah! 
  *  *  *
  Kutinggalkan kampung Sumyati dengan perasaan nyeri yang aneh. Aku mulai 
merasa asing pada diriku sendiri. Benarkah wajah Sumyati mirip dengan Nona? 
Atau itu hanya karena aku tak ingin melepaskan ingatanku tentangnya? Atau…, 
akh, serta merta saraf-saraf di kepalaku berdenyar. Sakit. Hingga tanganku 
terpaksa mencengkeram rambut. Menahan siksa. Tapi semakin lama aku menahan rasa 
sakit, seekor makhluk buas yang tengah merajam isi kepalaku semakin ganas 
mencabik. Tubuhku ingin berontak namun tak mampu. Aku hanya bisa meronta-ronta. 
Lalu terjerembab. Dan menggeliat-geliat seperti belut yang kepalanya dipukul 
benda tumpul.
  Aku meraung. Lalu terkapar….
  *  *  *
  “Lalu apa yang terjadi setelah itu?” barangkali kau, kawan, akan bertanya 
begitu.
  Tak banyak lagi yang bisa kuingat. “Ia sakit, lalu pulang ke kampungnya.” 
Demikianlah kata seorang perempuan yang menggantikan posisinya sebagai kasir di 
wartel itu. Sementara aku yang semakin takut menerima kenyataan sebab mulai 
berpikir; bagaimana jika ia…? Hanya mampu berceloteh banyak menanyakan apa saja 
yang mungkin kuperlukan pada perempuan itu. Hanya saja, perempuan itu tak tahu 
banyak. Bahkan, ia tak tahu di mana alamat si Nona. Ia hanya menyebutkan sebuah 
nama kota kecamatan; Legok. 
  Ya, Legok. Sebuah kota kecamatan yang baru kali pertama kudengar. Agak asing. 
Namun, keinginan yang kuat memompa darah sampai ubun-ubun. Muncrat sampai ke 
kota senja, kota yang nyaman untuk melepaskan ruh. Dan ternyata, kota si Nona 
tak ada dalam peta, juga tak bermukim dalam malam yang kerap melemparkanku pada 
kegelisahan dan simpulan yang bukan-bukan.
  Demikianlah, ingatan-ingatan dan kemungkinan-kemungkinan yang pernah tercatat 
dalam sejarah muram perjalanan. Tak semuanya bisa kau percaya. Dan memang kau 
perlu percaya, sebab aku pun sudah tak lagi bisa membedakan antara yang pernah 
kualami dengan yang kurekayasa. Namun semua itu terdapat pada bagian-bagian 
tubuhku. Hilang atau berkurang sedikit saja berarti cacat. Maka ceritaku itu 
harus tetap seperti itu. Sebab kini, tatkala aku mendusin, aku tak lagi bisa 
mengingat apa-apa. Bahkan, kemarin, aku lupa kenapa aku bisa terkapar di atas 
kuburan. Di atas segunduk tanah merah, yang di nisannya tercetak nama: EVA 
HERLIYANA. [#]
   
  Rangkasbitung, 11022008
   
   
  Niduparas, lahir di Serang 11 Oktober 1986. [menjadi] Niduparas Erlang hanya 
jika menulis cerper—agar terkesan agak genit sedikit. Karir kepenulisannya 
dimulai sejak bergabung dengan Akademi Sastra Tangerang (Astra), sebuah wadah 
atau semacam workshop hasil bentukan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) berkerja 
sama dengan Dewan Kesenian Tangerang (DKT). Tulisannya berupa Puisi, Cerpen, 
Esai, Resensi, tercecer di beberapa media massa cetak dan syber, sementara 
coret-moret omong kosongnya cuma untuk konsumsi pribadi. Kini bergiat di 
Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Banten, Forum Kesenian Banten (FKB), Komunitas 
Musikalisasi Puisi (Kompi) Banten, dan Bengkel Penulisan Sastra 
(Belistra-Untirta). Selain itu, ia juga sebagai Redaktur Budaya Tabloid Kaibon 
dan penggiat Jurnal Sastra Ra’kata. Sampai saat ini masih tercatat sebagai 
mahasiswa Diksatrasia, Fak. Bahasa dan Seni, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa 
(Untirta). 



--
Wira Pratama - 0856.871.9768
Banten Muda Digital Magazine

Jl. Trip K. Jamaksari No. 1 Serang 42118
MP: www.bantenmuda.multiply.com
FS: www.friendster.com/bantenmudamagazine
WB: www.bantenmuda.com

  
       
---------------------------------
  Dapatkan alamat Email baru Anda!  
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!

Kirim email ke