mungkin bisa memancing gagasan dan praktek.
hhd.
--- On Fri, 11/7/08, ayu nimas <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: ayu nimas <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Warung Pintar dengan Perpustakaan di Jalan
Tempuling
To: "forum PK" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Friday, November 7, 2008, 1:20 AM
Teman2 milis,
Ketika semua media dan pembicaraan orang berkisar atas kemenangan OBAMA,
tulisan berikut menyentil perhatian saya.
ya, tak usah terlalu muluk berharap ada 'OBAMA' lain di Indonesia. Atau para
pejabat negeri ini berkaca padanya. Tetapi apa yang dilakukan pak Maskur - ini
cukup berarti dan konkrit dalam membantu pembelajaran dan pencerdasan orang2
disekitarnya.
Semoga semakin banyak orang - orang seperti ini.
Salam,
agnes k.
Warung Pintar dengan Perpustakaan di Jalan Tempuling
Kompas/Aufrida Wismi Warastri / Kompas Images
Selain berwujud warung makan, warung pintar di Jalan Tempuring 130, Medan, juga
menyediakan buku bacaan yang bisa dibaca pelanggan warung maupun pembaca umum
secara gratis, Kamis (6/11). Sejumlah peserta pelatihan kewirausahaan kerja
sama Lembaga Pendidikan Perkebunan, Medan, dan PTPN IV, Kamis (6/11), saat
berada di warung tersebut.
Jumat, 7 November 2008 | 03:00 WIB
Menjadi pintar memang sebuah pilihan. Namun, karena fasilitas di negeri ini
untuk menjadi pintar masih minim, beruntunglah mereka yang terfasilitasi untuk
menjadi pintar.
Fasilitas untuk menjadi pintar ini disediakan sebuah warung makan sate ikan
Ponorogo di Jalan Tempuling 130, Medan. Di Ponorogo, Jawa Timur, diakui pemilik
warung memang tidak ada sate ikan. Sate ikan merupakan temuan baru pemilik
warung. Bumbu sate memang berasal dari bumbu Ponorogo.
Warung sederhana itu menyediakan ruangan besar untuk buku-buku dan
majalah-majalah yang bisa dibaca baik oleh pelanggan warung maupun oleh siapa
pun yang datang untuk membaca bacaan yang ada.
Pemilik warung itu adalah Ani Kosasih (42). Warung model baru itu ide dari
suaminya, Maskur Abdullah. ”Orang yang makan bisa baca, orang yang baca juga
bisa makan,” tutur Maskur yang keturunan Ponorogo itu.
Ide ini sebenarnya diilhami pengalaman Maskur saat remaja yang membuka taman
bacaan. Kuliahnya, salah satunya, ia selesaikan dari pemasukan di taman bacaan.
Akan tetapi, kini cukup sulit menemukan taman bacaan. Banyak anak-anak yang
lebih suka berjam-jam bermain game yang perlu dana Rp 3.000 untuk sewa per
jamnya. Dengan uang Rp 5.000, game usai cepat sekali.
”Kami hanya berpikir, mungkin menarik kalau warung sate dipadukan dengan taman
bacaan,” kata Maskur. Taman bacaan bisa mencerdaskan dan bisa dibaca gratis
sekaligus memberi nilai lebih pada warung.
Ani dan keluarganya masih mencari buku-buku bacaan anak-anak untuk meningkatkan
minat baca anak-anak di Jalan Tempuling dan sekitarnya. Buku yang tersedia
masih banyak yang merupakan buku pengetahuan orang dewasa dan majalah-majalah
dewasa.
Kamis (6/11) kemarin, warung didatangi peserta pelatihan bisnis dan
kewirausahaan dampingan PTPN IV yang diselenggarakan di Lembaga Pendidikan
Perkebunan, Medan. Sebanyak 18 peserta pelatihan angkatan VI bersama para
pelatihnya juga berdiskusi di warung itu sekaligus melakukan penutupan
pelatihan. Beberapa orang sempat membaca buku dan majalah. Namun, saat
menyantap sate, memang tidak disarankan tetap membaca buku. Buku berisiko
terkena bumbu sate.
Alim alias Juk Lim, produsen kue Ikan Mas di Tanjung Mulia, Medan, salah satu
yang hadir siang itu, bercerita, ia membangun usaha dari nol, bermodal tepung 5
kilogram dari berutang.
Waktu berjualan kue, sepedanya pernah jatuh, dan dagangannya berhamburan. ”Saya
menangis ketika memunguti kue saya,” tutur Alim.
Setelah belasan tahun, ia kini mempunyai 300 karyawan yang bekerja di dua
pabriknya. Ia masih akan melipatgandakan karyawan jadi 600 orang. Alim dengan
senang hati berbagi perjuangannya, dan ditanggapi peserta bahwa perjuangan
mereka belum apa-apa dibandingkan Alim.
Keluarga Maskur sendiri berprinsip membuka bisnis tidak sekadar untuk
keuntungan materi, tetapi juga untuk mencerdaskan bangsa.
Warung itu sendiri sudah dijalankan sejak awal tahun lalu. Namun, perubahan
warung menjadi warung pintar memang baru diresmikan, Sabtu pekan lalu. ”Masih
banyak pembenahan yang kami lakukan. Kami merencanakan ada diskusi-diskusi di
warung ini,” tutur Maskur yang aktif menggiatkan usaha kecil-menengah itu.
Beberapa orang sudah menyatakan bersedia menjadi pembicara gratis.
Di depan warung itu terpampang pula neon box warung pintar Sofyan Tan.
Pembangunan fasilitas perpustakaan terbuka dan buku-buku memang dibantu oleh
Sofyan Tan. Warung buka pukul 15.00 hingga 23.00. Perpustakaan buka sejak pukul
10.00. Untuk seporsi sate cukup merogoh Rp 10.000. (WSI)