Rub al Khali
Lawangbagja; Catatan buruhmigren
 
 
Bagi Wilfred Thesiger, seorang kebangsaan Inggris, ex-veteran perang dunia 
kedua dengan pangkat terakhir Mayor tidak ada kesan yang paling mendalam dalam 
perjalanan hidupnya selain menaklukan Rub al Khali bersama para Bedu. Rekor ini 
Sekaligus mencatat ia sebagai orang ke tiga ‘green horn’ (meminjam istilah Karl 
May) setelah Betram Thomas (1931) dan St. John Philby (1932). Jika dalam’ 
Winnetou’ Karl May menyebut ‘green horn’ untuk para western yang hidup di 
padang prairie maka untuk tulisan ini istilah ‘green horn’ untuk para western 
yang mencoba menaklukan rub al khali atau dikenal dengan empty quarter.
 
Rub Al Khali
 
Jika membaca peta bumi maka kita akan mendapatkan minimal 2 wilayah ekstrim 
untuk kategori tempat yang tidak layak dihuni oleh manusia. Alasannya tempat 
tersebut tidak menjanjikan kemudahan bagi manusia untuk tinggal di atasnya. 
Contoh yang pertama Antartika dengan temperatur ekstrim minus jauh dibawah nol 
derajat celcius, dengan siklus siang dan malamnya yang nyeleneh karena matahari 
tidak hadir seperti di wilayah khatulistiwa 12 jam perharinya. Tidak ada summer 
discount seperti di Dubai atau juga pantai yang menyediakan para turis untuk 
berjemur seperti di Kuta, Bali.  Tempat ekstrim kedua adalah Rub al Khali atau 
Empty Quarter. Wilayah gurun pasir yang membentang seluas 650,000  kilometer 
persegi atau 250,000 mil persegi yang membentang dari Saudi Arabia (saat ini) 
sampai meliputi wilayah Yaman, Oman, dan UAE.  Jika memakai GPS ada di posisi 
antaraa  longitud 44°30′–56°30′ timur, dan latitud 16°30′–23°00′ utara. 
 Sepadan dengan luas daratan Nederland, Belgia, Francis  plus ditambahin 
wilayah Texas kemudian digabungkan jadi satu.
 
 
Di namakan Rub al Khali atau empty quarter karena daratan kosong ini memang 
wilayah tidak berpenghuni. Jangan berpikir ada pasar, mall apalagi restoran 
karena jalan saja tidak ada. Mungkin sekilas Rub Al Khali seperti dead sea atau 
laut mati bagi satwa air. Inilah padang pasir terbesar di dunia dengan kondisi 
alam yang kejam. Ketinggian pasir dan bukit cadasnya bisa sampai setinggi 
menara Eifel 330 meter, dengan extraordinary suhu udara dengan penunjukan skala 
raksa (Hg) 55-60 derajat celcius, tidak ada air kecuali hanya di beberapa titik 
tertentu saja di sekitar wadi/lembah gurun berupa oasis. Kekejaman medannya 
jika ingin mengarungiRub Al Khali tanpa persiapan memadai lengkap dengan GPS 
sama dengan kita mengarungi samudera atlantis hanya dengan gedebong pisang.
 
Seorang keturunan Bedu mengabari saya bahwa beberapa bulan lalu empat pemuda 
ditemukan mati di dalam mobil land cruissernya saat mencoba melintas Rub al 
Khali tanpa GPS serta bekal memadai. Para pemuda nekat ini berpikir dengan 
bermodal Land Cruisser bisa mengarungi 1000 km Rub al Khali hanya dengan 4 jam. 
Bagi mobil sekelas Land Cruisser 250 km/jam adalah hal biasa di jalan raya Gulf 
namun di Rub al Khali mereka terkena batunya. Konon di satu lokasi mobil mereka 
nyangkut di Bukit Pasir setinggi menara Eiffel tadi tidak bisa digerakkan. 
Tanpa GPS mengarungi Rub al Khali seperti berjalan mundur tak tentu arah. 
Jadilah mereka merana di ’samudera’ padang pasir yang tak bertepi.
 
Dahulu tidak ada yang peduli dengan Rub al Khali. Ini bukan wilayah yang 
diminati karena sama sekali tidak ada keuntungannya. Para penguasa dari dinasti 
ke dinasti membiarkan tempat ini dikusai oleh para Bedu. Bedu atau Bedouin, 
satu-satunya jenis manusia yang bersahabat dengan Rub al Khali. Dari wilayah 
inilah konon para Bedu itu menyebar sampai ke Afrika utara. Dalam sejarah Bedu 
dikenal juga para pasukannya yang handal dan trampil seperti pasukan Gurkha di 
Nepal. Suku Juhayna adalah salah satu tribalnya Bedouin yang disewa kerajaan 
Saudi untuk menjaga dua kota suci Makkah dan Madinah. Keistimewaan Bedu juga 
menguasai medan Rub al Khali tanpa peta atau GPS sekalipun. Mereka mampu 
bertahan hidup di tengah gurun serta bisa membaca kondisi alam dengan baik 
sehingga tahu tanda-tanda kapan akan terjadi badai pasir,  dlsb.
 
Rub al Khali sebenarnya bukan hadir tanpa kisah. Konon di bawah timbunan padang 
pasir di wilayah Rub al Khali inilah terdapat  the lost city alias kota yang 
hilang. Kota ini dikenal dengan nama Iram of the Pillars atau Iram dzat al Imad 
dikenal kota seribu tiang. Kota ini pernah mencapai puncak peradaban manusia 
pada 3000 tahun sebelum masehi dan menghubungkan dua peradaban besar timur dan 
barat. Namun akhirnya kota ini tenggelam dan hilang tak berbekas. Dalam 
Al-Qur’an surat Al-Fajr ayat 6-13, disebutkan sebagai kotanya kaum ‘Ad. 
Ditenggelamkan ke dalam tanah disebabkan Raja Shaddad penguasa ‘Ad tidak mau 
mematuhi ajakan Nabi Hud A.S untuk menyembah Allah SWT.
 
Seiring waktu dan perkembangan teknologi akhirnya semua mata terbuka lebar. Rub 
al Khali wilayah tak bertuan, tandus, kering dan sunyi menjadi wilayah 
perebutan beberapa negara di jazirah Arab. Dilhat pada peta dunia sekarang ini 
Rub al Khali terletak diantara negara-negara teluk yaitu Saudi, Oman, Yaman, 
dan UAE. Saudi dengan kekuatan yang lebih dominan dibanding ketiga 
negara tetangganya menguasai hampir 6o persen wilayah Rub al Khali. Sementara 
para negara tetangganya mendapat sisanya. Wajar saja Saudi begitu bernafsu 
karena di Rub al Khali inilah kandungan  minyak dan gas sangat tinggi.
 
Para ahli geology mengungkapkan Rub al Khali adalah wilayah paling kaya minyak 
di dunia. Salah satunya yang terbesar saat ini adalah ladang Ghawwar di Saudi 
Arabia yang memproduksi minyak jenis light crude oil terletak di wilayah Rub al 
Khali. Di wilayah UAE sendiri beberapa eksplorasi gas dan oil terletak masih 
disekitar Rub al Khali, misalnya kawasan industri Habshan. Bahkan Ruwais 
sendiri masih termasuk wilayah Rub al Khali namun karena perkembangan industri 
menjadi sebuah wilayah pemukiman modern. Ke depan akan banyak wilayah Rub al 
Khali yang mulai ramai seiring terjadi perubahan gaya hidup dari para Bedu 
menjadi para pengusaha maju dan berkendaraan Mobil mewah. Untuk melihat padang 
pasir yang menghampar tak bertepi hanya butuh beberapa menit saja menuju timur 
laut untuk menuju tepian Rub al Khali. Pemerintah UAE sendiri sudah membangun 
jalan lingkar dari mulai kota Tarif, Medinat Zayed meliwati Liwa, kota asal 
dari klan An-Nahyan (pendiri
 negara UAE) sampai Ghayathi tempat pemukiman Bedu dari klan Al mansoori.  Maka 
sejak eksploitasi itu dimulai orang-orang di Gulf mulai memplesetkan Rub al 
Khali (empty quarter) menjadi Rub al Ghali ( value quarter). Dari semula 
wilayah yang dipandang sebelah mata menjadi wilayah yang sangat bernilai 
(ghali) dan tambang duit.  Maha suci Allah yang menjadikan segala sesuatu ada 
keistimewaannya. Wallahu a’lam
 
Ruwais, Dzulqa’dah 1429 H
 
Penulis adalah ambasador rumahdunia untuk UAE, sebuah komunitas literasi d bumi 
Banten. 
pengasuh www.pelangikecil.com , social engine ramah keluarga..ikutan yuk.


      

Kirim email ke