Teman-teman yang baik hati,

Mencermati peristiwa kematian -tepatnya hukuman mati- Amrozi cs, saya jadi
teringat sebuah cerita yang tentunya banyak diantara kalian juga pernah
mendengarnya. Yaitu cerita tentang seorang pemuda yang beriman, yang karena
keimanannya, membuat jengah sang Raja penguasa. Karena sang Raja takut
tersaingi posisi "ketuhanannya" dengan Tuhan si Pemuda yang beriman tadi.
Singkatnya, si Raja berusaha segala cara untuk membunuhnya, tapi setiap kali
si pemuda itu terbunuh, dia mampu kembali lagi hidup dengan sempurna. Maka
tambah masyurlah ia ditengah masyarakat yang memang belum juga beriman.

Hingga akhirnya sang Raja menyerah dan bertanya langsung kepada si Pemuda
bagaimana agar dia bisa membunuhnya.
Si pemuda dengan rendah hati berkata, "Tuanku Raja, eksekusilah saya dialun2
istana, dengan anak panah yang paduka sendiri memanahnya. Tapi sebelum
memanah bacalah, Bismillahi Ya Rabbil ghulam. Insya Allah saya mati dengan
sempurna."

Maka sang Raja pun melaksanakannya. Dan eksekusipun terjadi, si pemuda
itupun mati sempurna. Ia tak pernah kembali hidup lagi.
Tapi apa yang terjadi kemudian benar2 membuat raja merana, karena akhirnya
seluruh rakyat meyakini kebenaran si Pemuda dan menjadi beriman
akibat menyaksikan peristiwa itu. Rakyatpun memberontak, dan rajapun turun
tahta atau malah mungkin mati diujung tombak rakyatnya...( saya lupa sih
endingnya...hehehe).

Pada hakikatnya, jika kita lihat betapa banyak orang2 datang melayat dan
mengelu2kan Amrozi cs pada process pemakamannya. Bahkan tak kurang aparat
terkait didaerahpun banyak yang hadir. Bahkan polisipun begitu banyak
dikerahkan untuk menjaga keamanan seluruh daerah Nusantara. Bahkan partai2
politikpun tak ketinggalan menyampaikan segala opininya. Bahkan HTI dan
ormas2 islamlainnya pun ikut pula menyampaikan opininya. Bahkan lebih besar
orang2 tertarik beritanya ketimbang peristiwa bom bali itu sendiri. Bahkan
yang mensholati jenazahnya lebih banyak dari seorang presiden negeri ini.
Bahkan kaos-kaos bergambar foto Amrozi cs pun lebih laku ketimbang foto
pahlawan kemerdekaan. Dan segala bahkan2 yang lainnya... Meskipun banyak
orang2 berkata tidak sejalan dengan yang Amrozi cs lakukan. Tapi lihatlah
betapa mereka nyata2 ikut setidaknya "menurunkan topi dan pecinya" saat
pemakaman berlangsung. Maka, tidaklah anda lihat wahai hati yang bersih,
itulah kemenangan mereka.......

So wajar jika didepan gerbang kampung halaman Imam Samudra terpasang spanduk
"Selamat Datang Mortir" meski saya lebih setuju "Selamat Jalan Mortir".



Manama, Bahrain,

09-Nov 2008

Yoki

Kirim email ke