Hidup Berarti, Berarti Hidup

Hotel Lombok Garden - Mataram.

Selasa, 11 November 2008. Pukul 21.30 WITA

 

Sabtu sore yang lalu selepas kuliah, aku bergegas menuju pernikahan Ika 
Novianti, salah seorang sobat karibku di Ciledug Tangerang. Jauh hari sebelum 
undangan dicetak ia sudah mengabariku tentang rencana pernikahanya. Jadi, meski 
guyuran hujan lebat mengiringi angkot yang kutumpangi menuju rumahnya dan baju 
batik yang kukenakan basah dibuatnya, tetap saja tak ada alasan aku untuk tidak 
datang.  

 

Pukul 17.45 aku tiba di resepsi pernikahannya, kulongok sahabatku masih berada 
di pelaminan padahal sebelumnya aku khawatir pesta telah usai, sebab undangan 
menginformasikan bahwa pesta berakhir pukul 17.00.

 

Belum sampai aku menaiki pelaminan, Ika dan taufan suaminya terlihat sumringah 
sambil menyambutku "Ini dia yang ditunggu-tunggu, bayangin gw sengaja gak turun 
di pelaminan  nungguin lo datang" seru Ika. "Iya Tif, Ika nungguin lo tuh." 
Taufan menimpali. "Udah langsung foto aja deh, mumpung masih segar, trus abis 
ini lo makan ya, awas klo gak makan..!". 

 

"OK dech, kita foto dulu, trus gw bakal makan banyak dech, biar badan gw makin 
melar.." jawabku menimpali Ika dan Taufan. 

 

Proses pernikahan Ika yang penuh dengan perjuangan, tentunya mengguratkan 
kebahagiaan tersendiri bagiku sebagai temannya sejak sekolah dulu. Aku termasuk 
salah seorang sobatnya yang paham secara detail perjalanannya hingga ke tahap 
ini. 

 

Selain pernikahan Ika, kebahagiaan lainnya di resepsi itu adalah pertemuanku 
dengan kawan-kawan lama saat sekolah dulu. Lama tak bersua, membuatku takjub 
atas perubahan yang dialami oleh kawan-kawanku. Walaupun secara sikap dan pola 
candaan masih menggunakan gaya khas mereka yang konyol, lucu, iseng, dan kadang 
terkesan menyebalkan, tapi itulah realita kawan-kawanku dan image yang sengaja 
mereka pertahankan dalam pertemuan ini.

 

Banyak kesan yang kudapat di sana, ada rekan karib yang dengan keyakinan dan 
kesederhanaanya berani berumah tangga dan menghasilkan buah hati, ada juga 
informasi mengenai rekan yang dengan kesungguhannya konsisten di jalur dakwah 
dan pendidikan. Namun yang paling berkesan bagiku adalah pertemuan dengan 
Ferdinal, kakak kelas yang 8 tahun di atasku, jelas saat aku masuk sekolah, dia 
sudah beberapa tahun lulus.

 

Kini Ferdinal mengajar dan membina sebuah SMP swasta di bilangan Ciledug, 
sekolah ini sudah lama berdiri namun memiliki manajemen yang boleh dikatakan 
buruk bahkan terancam akan tutup. Kurikulum, administrasi, keuangan, Organisasi 
kesiswaan, dan hampir seluruh aspek dari sekolah ini menuntutnya berjuang dari 
Nol lagi. Padahal sebelumnya Ferdinal sudah memiliki kemapanan baik dari sisi 
status maupun penghasilan sebagai bagian dari manajemen salah satu 
International School di bilangan Depok. 

 

Entah apa yang mendorongnya mengambil keputusan itu, padahal dalam pandangan 
umum, tak ada kebanggaan status dan penghasilan yang didapat dari kepindahan 
itu. Boleh dibilang tindakannya itu bukan hal yang populis dan menguntungkan 
dalam ukuran bisnis dan karir pekerjaan."Are you Stupid? That's bad Choice 
Bro!" begitu barangkali orang memandangnya. 

 

Ketakjuban lainnya, saat bertemu denganku di malam pernikahan Ika, dia tengah 
menggelar acara Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa yang dilaksanakan dengan  
berkemah di bawah guyuran hujan lebat, padahal istrinya kini tengah mengandung 
sembilan bulan dan menurut dokter dalam beberapa hari ini akan melahirkan. 
Untunglah sang istri memiliki kebesaran hati dengan mendukung suaminya 
berangkat menunaikan tugas, yang merupakan salah satu program pembenahan 
kesiswaan yang tengah di cetuskannya di sekolah barunya. Tentunya rasa lelah 
dan tuntutan seberat itu tidak akan didapatnya semasa ia di sekolah mapannya 
dulu.

 

Ferdinal adalah sekelumit kisah tentang orang yang rela mengorbankan kemapanan, 
dengan memilih kehidupan yang tidak populis namun bangga dengan apa yang 
dijalani sesuai dengan pilihan hati nuraninya. Banyak hal lain yang lebih 
berharga ketimbang gemerlap status, pangkat, jabatan, kekuasaan dan harta.

 

Kisah lainnya muncul dari hangatnya kisah tentang Andy F Noya yang rela 
meninggalkan kemapanan sebagai pimpinan redaksi Metro TV dengan memilih lahan 
perjuangan yang dianggapnya lebih mewakili hati nuraninya dan membuatnya lebih 
berarti bagi orang lain. Dan banyak lagi kisah tentang pejuang yang 
mengorbankan kemapanan untuk memenuhi bisikan nuraninya. 

 

Berat memang memutuskan hal besar seperti itu, sebab akupun beberapa kali 
menghadapi hal yang sama. Keputusan paling membekas buatku dan sulit dipahami 
orang lain adalah saat baru 8 bulan aku bekerja di perusahaan terbaik nasional 
ini aku dipromosi jabatan menjadi Supervisor Marketing Area yang sangat 
menjanjikan secara jabatan dan penghasilan. Setiap orang yang kuminta pendapat, 
mereka menyatakan bahwa masa depan dan karir saya akan cepat dan cerah di sana, 
sangatlah bodoh jika saya menolak hal tersebut, karir saya akan mati jika harus 
menolak hal tersebut. 

 

Saat itu hampir tak ada seorangpun yang menanyakan apakah aku bahagia dan 
senang jika menjabat posisi itu? Apakah hal itu memang yang aku cari? Semuanya 
seakan serentak mengatakan bahwa Jabatan, Karir, dan Penghasilan adalah hal 
utama yang harus kita cari. Semuanya hampir sepakat bahwa tak perlu mencintai 
pekerjaan, kalau sudah dijalani pasti akan suka dan bahagia bersamanya. 
Semuanya mufakat bahwa perasaan harus dikorbankan untuk mencapai tujuan 
tertinggi. Namun yang aku sayangkan, tak ada yang menanyakan padaku "apa 
sesungguhnya yang kau cari di dunia ini?"

 

Hanya mama dan kakak lak-lakiku yang bijak dan mengerti aku, dengan berujar 
"semuanya kamu yang akan menjalani, kalau kamu akan merasa bahagia di sana, 
silahkan ambil dengan penuh keyakinan dan bersungguh-sungguh menjalaninya. 
Kalaupun akan menjadi beban, sebaiknya ikuti hati nuranimu, minta petunjuk-Nya. 
Tapi satu hal yang harus kamu camkan, bahwa kalau hanya kemegahan dunia yang 
kau cari, maka hanya itu yang akan kau dapat, sedangkan jika kenikmatan kekal 
yang menjadi tujuanmu, Allah tak akan menutup mata atas kehidupan dunia dan 
akhiratmu walaupun kau harus tertatih mendapatkannya. Silahkan, Semua terserah 
kamu..." 

 

Dengan Bismillah, aku menolak tawaran itu dengan tetap memilih sebagai seorang 
trainer berpangkat staff rendahan dengan gaji yang jauh lebih rendah dari 
status yang ditawarkan padaku. Namun bagiku posisi ini dipenuhi dengan tuntutan 
untuk berbagi dan mengembangkan diri bukan hanya untuk diriku, melainkan orang 
yang membutuhkan uluran tanganku. Menjadi pengajar memang cita-citaku sejak 
dulu, sejalan dengan pernyataan Ibu Muslimah pada Pak Harfan dalam Film Laskar 
Pelangi "Pak Cik, Cita-citaku bukan menjadi saudagar, Aku ingin menjadi 
guru...."

 

Lagipula, aku masih terikat janji pada Guruku untuk mengajar di sebuah 
Perguruan Tinggi di Banten. Bahwa selepas lulus kuliah aku harus mengajar dua 
tahun di sana, sedangkan jadwal kerjaku di posisi yang ditawarkan tak 
memungkinkanku menjalani keduanya secara bersamaan. Janji adalah Utang, 
Almu'miniina 'Ala Syurutihim kalaupun untuk menunaikan janji aku harus 
kehilangan sesuatu yang manis, aku tetap yakin bahwa Allah punya ganti yang 
lebih baik untukku. Mungkin saat ini, atau mungkin pula saat ajal menjemputku 
nanti.

 

Semua yang kutulis ini mengingatkanku pada sebuah pepatah lama yang mengatakan 
bahwa "gajah mati menginggalkan Gading, Manusia Mati menginggalkan Amal" lantas 
kalau kita mati apakah kita termasuk manusia yang meninggalkan amal dan 
kepergian kita ditangisi orang banyak atau malah tak berarti apa-apa.??

 

Kita tidak pernah dikatakan hidup selama kita tidak pernah memiliki arti buat 
orang sekitar kita. Jika Hidup kita berarti dan berguna buat orang lain,maka 
kita telah hidup. Hidup Berarti, berarti kita telah hidup.  Hidup hanya sekali, 
Hiduplah yang berarti Lillahi Ta'ala.

 

 

-- Catatan teruntuk Sahabat -- 

Di sekolah itu, Ferdinal ditemani oleh Empat pejuang pendidikan lainnya yaitu 
Rusdi, Nasrul, Hendri, dan Faisal. Mereka juga sobat karibku. Tulisan Ini 
hadiah permohonan maafku  yang tidak bisa menemani kalian berkemah di bawah  
guyuran hujan. Aku dukung perjaungan kalian, seperti kataku kemarin "kalau hari 
ini kiamat, maka kalian masih akan berbaris di depanku dengan amal kabaikan 
yang lebih banyak dariku". Semoga aku bisa menjalani perjuangan dengan lebih 
ikhlas  dan tidak menyesal dengan pilihan  yang diambil dengan basmalah.



ABDUL LATIEF
Sales Training Instructure
Astra International,Tbk -Honda

Email    : [EMAIL PROTECTED]
HP       : 0852 166 566 32
Tlp       : (021) 653 10 250 Ext.3546
Fax      : (021) 653 10 245
Hidup sekali, hiduplah yang berarti...






The information transmitted is intended only for the person or the entity to 
which it is addressed and may contain confidential and/or privileged material. 
If you have received it by mistake please notify the sender by return e-mail 
and delete this message including any of its attachments from your system. Any 
use, review, reliance or dissemination of this message in whole or in part is 
strictly prohibited. Please note that e-mails are susceptible to change. The 
views expressed herein do not necessarily represent those of PT Astra 
International Tbk and should not be construed as the views, offers or 
acceptances of PT Astra International Tbk.

Kirim email ke