Bismillah.... ssst, bisik-bisik raar banten... setelah "konspirasi" nyudutin tv lokal Banten TV dengan KPID (awas, konspirasinya pake tanda kutip) tanpa memedulikan kaidah kode etik jurnalistik (check re-check, cover both side), juga membedah berita2 Banten TV dengan nara sumber Pemred Radar Banten, yang notbene bukan praktisi TV, dan kemudian secara tendensius RADAR TV BANTEN muncul di berita berikutnya, berpose mesra dengan KPID (berita ini berturu2 2 hari dimuat), maka saya membenarkan "bisik-bisik", bahwa RADAER BANTEN memang akan mengeruk APBD Banten lewat begitu banyaknya advetorial Pemrov Banten di Radar TV. Ini kelanjutan dari advetorial di korannya. Lalu ke Radar TV. Hehehe..., asyiklah. Bagi saya, Radr Banten jadi seperti brosur. Tidak apa-apa. Kan, karyawan Radar Banten perlu makan, perlu nyicil mobil (dari 70 karyaweannya, sudah 25 orang berobil, hehehe... info ini dari mereka sendiri dan sudah jadi menu sehari-hari). Memang hebat Radar Banten itu. Melejit. Jadi, sah saja advetorial itu. Saya justru senang karyawannya sejahtera. Itu akan meningkatkan kinerja mereka, minimal tidak akan menerima amplop. Itu sudah teruji di lapangan, para wartawannya anti amplop. Hanya saja, yang mengganjal diri saya, RADAR BANEN sudah kehilangan nurani. Dulu, ada ruang sosial bagi kepentingan literasi. Bertahun-tahun RUMAH DUNIA diberi ruang SALAM RUMAH DUNIA. Lalu dihentikn dengan alasan sudah terlalu lama dan akan diberikan kepada komunitas lain. Saya mneerima. Itu bagus. Tapi, ternyata merka bilang, ruang itu bernilai ekonomi. Saya terima juga. Nggak apa-apa. Tapi, ketika suntikan dana 200 ribu perbulan untuk RUMAH UNIA, distop juga, yah... mnjeritlah hati awak. Ternyata mereka sudah tidak memiliki hati nurani. Padahal boos mereka yang sudah almarhum, Pak Mahtoem, wbti-wanti berpesan, agar 200 ribu untuk Rumah Dunia jangan dihentikan. "Itu kecil," kata almarhum. Tapi sekali lagi, nggak apa-apalah. Bisa dari kocek saya. Yang paling 'tegang", saat saya protes, halaman BUDAYA akan dihilangkan di RADAR BANTEN. Bahkan seluruh seniman/budayawan Banten mengirim sms protes ke Pemred (M. Widodo) dan direktunya, Priyo Susilo. Itulah, kenapa sekarang halaman sastra dipindah ke Radar Banten Minggu dan Malik yang megang. Radar Banten reguler sudah tidak mau berurusan dengan para seniman. Rumah Dunia saja tidak prenha muncul lagi di brita reguler, kecuali atas kebaikan Malik di Radar Banten Minggu. Hanya saja, setelah ada "kbijakan", opini nyomot dari JPNM, jadi malas juga. saya bulan Desember sudah berniat tidak akan berlangganan Radar Banten lagi. Kecuali RADAR BANTEN MINGGU yang diasuh Abdul Malik dan BANTEN RAYA POST, karena ada spirit MENDUKUNG GERAKAN LITERASI LOKAL. Begitulah RADAR BANTEN. Mereka sudah lupa pada pepatah KACANG LUPA PADA KULITNYA. Saya ingat, saat-saat mesra bersama Abdul Malik, (alm) Rys Revolta, Si Uzi (sekaran bos BANTEN RAYA POST) dan Asep GP, serta Asmianto amien (Widodo dan Priyo belum masuk) .... saya tau dan merasakan, bagimana Abdul Malik jatuhbangun membangun HARIAN BANTEN ke RADAR BANTEN. bagaimana saya dan Toto menemani Malik dengan konfliknya waktu itu. Saya ceritakan di sini, bahwa sebetulnya Malik terjepit. Dia "dibuang" ke Radar Minggu, juga Asep GP, karena kalau saya analisa, kehadiran Malik di reguler seolah-olah menjadi "duri" di dalam kepentingan bisnis Radar Banten. Malik kan dekat dengan stakeholder Banten. Juga Asep GP yang kakitangan seniman, karena dia penyair juga.Pemred dan Redpel sekarang, wah.., meneneketehe... urusannya jalan sehat melulu, bagi2 kmbing melulu... hehehe... sampai2 redaksinya bau kambing... hahahahah... kampnye melulu... bau partailah... Nah, peluang itu ada di BANTEN RAYA POST. Pada diri si Uzi, yang juga dekat dengan stakeholder Banten. TErutama para seniman Banten. Si Uzi kan seniman. Malik juga penulis. Asep GP juga. Jadi, usulan boikot Halim HD, mendingan jangan langganan RADAR BANEN edisi reguler senin hingga jumat. cukup Radar Banten Minggu saja.. semoga tulisan saya ini tidak menyinggung teman-teman press di Radar Banten. semoga juga tidak berdampak kepada adik-adik saya yang pernah aktif di Rumah Dunia, yang kini jadi wartawan di Radar Banten. Saya sudah lama ingin menulis ini, tapi khawatir dampaknya ke adik-adik saya itu.... Tapi, saya yakin, Pak Priyo dan Pak Widodo bisa mnerimakritik, bahwasemua ini karena kecintaan saya kepada Radar Banten. akhir katra, Pak Priyo dan Pak Widodo jangan melupakan, bahwa kami sebagai konsumne memiliki "hak budaya". Jangan memuaskan "hak politik" sajalah. tetap semangat mohon maaf bila ada salah, semoga surat ini tidak menyulut bara di Radar Banten. semoga kita bisa menerima kritik.. kalau mereka marah, yaah.. emang gue pikirin kata Maian Ahmad... wasalam gola gong
