Mari Kita Bicara Cinta-2 ---terinspirasi dari sebuah legenda cinta Telenovela di masa Eropa kegelapan---
Entah kesalahan apa yang dilakukan oleh Leonora, terkecuali lahir dari tempat yang salah dan waktu yang salah. Sekat sosial kasta terendah. Dalam timbunan masalah. Dalam beban yang tidak ada lagi yang perduli berapa beratnya kecuali tanpa hak bertanya kenapa beban harus tetap dipikul, untuk dipikul. Dan, ditempat itulah Leonora terlahir dalam kutukan kecantikannya. Dalam waktu dimana cita rasa kebodohan pekat yang mengganggap kecantikkan wanita adalah sebuah kekayaan keluarga. Masyarakat itulah Leonora tumbuh. Tumbuh besar mengembangkan bahasa citra dan cintanya. Tumbuh dalam keluarga besar bersatu dalam gubuk reyot, disertai irama derit-2 dipan reyot yang bergoyang pada malam harinya, sebagai ekspresi hasrat manusiawi diantara serakan dan tumpukan masalah. Kelak ternyata diketahui bahwa kecantikan itu sebenarnya sebuah kutukan. Dingin dalam kalkulasi ekonomi, Leonora adalah sebuah asset yang dianggap menyelamatkan. Transaksi rasional, tanpa pernah diijinkan cinta menemukan citranya, Leonora membuat komitmen cinta atas nama Tuhan kepada seorang Don Priyayi Tua Bangka seumur hidupnya. XXX Rodriguez adalah kharisma ksatria panglima tangguh tanpa pernah terkalahkan. Berdiri tegak dalam keyakinan, bahkan Matahari pun akan bersujud padanya. Sebagai bentuk penghormatan atas keyakinan teguh seorang lelaki. Sang Ksatria Panglima Rodriguez terdiam diatas kudanya, saat tidak sengaja kedua sorot matanya beradu menebus bola mata biru Leonora yang tanpa sengaja berjalan di hadapannya. Seketika itu juga semua berubah cepat. Bagai tsunami, kecantikan Leonora mengkreasi hasrat cinta estetika Sang Panglima. Tanpa perduli siapa itu Leonora, istri seorang Don Priyayi Tua Bangka, Ksatria Redriguez menghempaskan semua etika kebenaran yang selama ini teguh digenggamnya untuk dipertukarkan dengan hasrat cinta estetikanya. Begitu perkasakah kelembutan seorang wanita sehingga dia bisa merubah keyakinan seorang pria yang kuat dalam sekejap? Leonora yang hidup terhimpit sesak dalam kasta paria cinta, hampa kerontang, seketika melihat oase indah pemuas dahaga. Oase cinta estetika untuk pemuas hasrat kewanitaannya. Dibukakan pintu buat Redriguez. Dibiarkan Ksatria itu menyentuhnya. Mereka berdua memutuskan untuk melupakan ketaatannya atas norma, karena estetika cinta tahu bagaimana cara melanggarnya. Estetika cinta itu tahu persis bagaimana nurani kebenaran bisa didustai atas nama cinta. XXX Topan badai, Don Priyayi Tua Bangka tersentak saat halilitar mengabarkan citra hitam istri sahnya. Istri yang dia miliki diatas janji Altar Tuhan. Ego lelakinya terluka parah dan marah. Hukuman harus ditegakkan untuk membalut luka menganga pada egonya. Leonora dicerai dan harus menikah dengan seorang lelaki tua buruk rupa berpenyakitan, dan dari rahimnya harus terlahir seorang keturunan dari si buruk rupa. Tertunduk ikhlas Leonora, diterimanya hukuman itu. Kesucian itu diperoleh bukan dari wanita yang tidak pernah melakukan kesalahan. Kesucian itu diperoleh dari wanita ikhlas menerima hukuman atas kesalahan ---begitulah nurani Leonora berbicara sebagai pelita. Dalam hari-2 berat, dalam tangisan bayi mungil mereka, didampinginnya si lelaki tua buruk rupa yang bernapas begitu berat sampai napas terakhir sang lelaki sunyi 15.11.2008 Dari Tepian Lembah Sungai Isar (Dilanjutin nanti, jalan-2 dulu, lha wong batere laptop-nya sudah mau habis je, mana musim winter jadi lebah sungainya dingin buanget , hi , hi ) Salam Ferizal Ramli --- In [email protected], "Ferizal Ramli" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mari kita bicara tentang Cinta-1 > > (Teman kita ngomong cinta yah biar peace...) > > Pernah baca keindahan cinta kisah Burung-burung Manyar" Yusuf > Bilyarta Mangunwijaya? Atau kelembutan cinta Di Bawah Lindungan > Kabah" Haji Ammirudin Karim Amrulloh? Atau keagungan cinta > Sayap-Sayap Patah" Gibran Khalil Gibran? > > Diperlukan persediaan air mata yang cukup saat memahami bait demi bait > makna cintanya. Diperlukan dada yang lapang untuk menahan gejolak > emosi yang bersatu padu dalam pacuan aliran darah kita. Dibutuhkan > hati yang lembut untuk dapat memaknai keindahannya. > > Membaca Burung-burung Manyar", Di Bawah Lindungan Kabah" atau > Sayap-sayap Patah" membuat saya selalu merenung lama dalam diam. > Telah puluhan tahun, untuk pertama kalinya saya menyelesaikan bacaan > karya apik itu. Puluhan kali pula saya tidak pernah bosan untuk > mengulangnya. Tapi saya selalu gagal untuk menangkap makna hakiki > citra sejati dari cinta. > > Cinta, apakah rangkaian kata kita mampu memaknai kedalaman maknanya? > Apakah kejernihan pikiran kita mampu menghitung kalkulasi logis > kedasyahatan kekuatannya? Apakah kekuatan dan keindahan karya sastra > mampu mengimbangi kekuatan dan keindahannya? Saya tidak pernah sanggup > menjawabnya. > > Tapi ada satu yang membuat saya bergitu terluka ketika membaca ketiga > karya agung tersebut diatas tentang perwujudan sebuah cinta. YB > Mangunwijaya begitu dingin menghempaskan arti cinta: dia membunuh Atik > Prendjak" Larasati dalam sebuah kecelakaan sehingga Teto" Setadewa > tidak pernah diberi kesempatan mewujudkan citra cintanya. > > HAMKA terkenal sebagai tokoh ulama dan sastra yang begitu santun dan > lembutpun, ketika bicara cinta berubah menjadi sosok yang tega > membunuh kekasih wanitanya. Dibiarkan cinta musafir pengelana > terhempas karena kekasihnya wafat dalam penantian tugas suci. > Dibiarkan sang musafir terluka dan harus menangis memohon kekuatan > Tuhan dalam lindungan suci Baitul Kabah. Agar mendapatkan kekuatan > akibat kehilangan besar yang dideritanya, kehilangan kekasihnya. > > Gibran Khalil Gibran pun tidak kalah sadis. Dia bunuh bidadari > impiannya Salma yang terkasih dalam sebuah sakit yang menderita. > > Mengapa ketiga tokoh yang begitu santun berubah menjadi sadis ketika > mereka menulis tentang cinta? > > Suatu ketika saya pernah bertemu dengan penyair sufi Taufik Ismail. > Ketika saya bertanya tentang makna cinta, jawabnya benar-benar > menggetarkan hati saya. Keagungan sebuah cinta terletak dari > kegagalan kita mendapatkan kekasih yang kita cintai", begitu katanya > dengan senyum lembut tapi menghujam tajam bagai pisau bedah dingin > seorang dokter profesional membelah hati saya. > > Benarkah demikian? > > Penyair Sufi Jalaludin Rumi menulis indah dalam Kado Sang Pencinta", > menjawab tegas tidak. Cinta agung tetap bisa berwujud saling memiliki. > Tapi tidak berarti memiliki secara phisik. Dia bisa saling memiliki > secara spirit. Bukankah cinta adalah a materi? Jadi kepemilikan hakiki > dari cintapun bukan kepemilikan materi. Bukan kepemilikan phisik dari > orang yang dicintai. Tapi kepemilikan spirit. Energi. Semangat. Dan > siapapun yang terkena cinta suci dia akan mewujud menjadi manusia yang > bijak. Manusia yang mendedikasikan karyanya tanpa pamrih pada orang > yang dicintainya dan juga buat siapapun yang membutuhkan bantuannya. > > Ah sayang, Jalaludin Rumi terlalu sufi. Kedangkalan pengetahuan saya > tidak mampu menangkap sasmita rumit kebenaran yang diwartakan oleh > Jalaludin Rumi. Bagi saya keagungan suatu cinta diwujudkan dengan > memiliki secara phisik kekasih sejati belahan hati kita. Kebenaran > yang difatwakan oleh Jalaludin Rumi membuat saya semakin terluka > > Salam, > > Ferizal Ramli >
