gimana kalo dibandingin sama SUHARTO?
--- On Tue, 11/18/08, Setiadji Achmad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Setiadji Achmad <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [WongBanten] Fw: Empati
To: [email protected]
Date: Tuesday, November 18, 2008, 10:46 PM
hehehe..radeu- radeu mending tEh yucca tulang mah,dibandingakeun
lan SUMANTOmah.. .
From: yucca zinnia <yuccazinnia@ yahoo.com>
To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Sent: Wednesday, November 19, 2008 1:24:47 PM
Subject: Re: [WongBanten] Fw: Empati
NgGileukakeune kang Adji!!!! tekan tulang tulange! rakus pisan!
bagi bagi dong sama kang Uching! heuheue
--- On Wed, 11/19/08, Setiadji Achmad <setiadji.achmad@ yahoo.com> wrote:
From: Setiadji Achmad <setiadji.achmad@ yahoo.com>
Subject: Re: [WongBanten] Fw: Empati
To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Date: Wednesday, November 19, 2008, 9:32 AM
kalo saya terbiasa makan sampai bersih,kadang tulangnya saya makan
juga...sayang, kalo menyisakan makanan...hahahah
From: Abdul Latief <abdullatiefku@ gmail.com>
To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Sent: Wednesday, November 19, 2008 9:28:38 AM
Subject: [WongBanten] Fw: Empati
Dear
all,
A nice article,
good to share with others.
EMPATI
By: Andy F
Noya
Suatu malam, sepulang kerja,
saya mampir di sebuah restoran cepat saji
dikawasan Bintaro. Suasana sepi.
Di luar hujan. Semua pelayan sudah
berkemas.
Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah
saya yang memelas
karena lapar, salah seorang dari mereka memberi
aba-aba untuk tetap
melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka
menolak.
Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para
pelayan restoran. Ada yang
menghitung uang, mengemas
peralatan masak, mengepel lantai dan ada
pula
yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang
berantakan.
Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka
seperti itu dari hari ke hari.
Selama ini hal tersebut luput
dari perhatian saya. Jujur saja, jika
menemani anak-anak makan di
restoran cepat saji seperti ini, saya tidak
terlalu hirau akan keberadaan
mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada.
Mereka ada jika saya membutuhkan
bantuan dan mereka serasa tiada jika saya
terlalu asyik menyantap
makanan.
Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang
selama ini seakan tak
terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran
itu membersihkan
sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang
sebenarnya biasa-biasa
saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati
saya yang melihat,
pemandangan tersebut menjadi
istimewa.
Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja
yang sedang
dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa
sebenarnya yang baru
saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari
sisa-sisa makanan yang
berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar.
Tetapi yang menarik
perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu
meninggalkan sampah bekas makanan.
Sungguh pemandangan yang
menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di
atas
meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa
dijadikan tempat sampah.
Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja
juga kotor oleh tumpahan remah-remah.
Mungkin rombongan itu
membawa anak-anak.
Meja tersebut bagaikan ladang
pembantaian. Tulang belulang berserakan.
Saya tidak habis pikir bagaimana
mereka begitu tega meninggalkan sampah
berserakan seperti itu. Tak
terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa
makanan
yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh
seseorang, walau dia seorang
pelayan
sekalipun.
Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk
membuang sendiri sisa
makanan jika bersantap di restoran semacam itu.
Saya juga meminta
anak-anak
melakukan hal yang sama. Awalnya
tidak mudah. Sebelum ini saya juga pernah melakukannya.
Tetapi perbuatan saya
itu justru menjadi bahan tertawaan teman-teman.
Saya dibilang sok
kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah keluar
negeri.
Sebab di banyak
negara, terutama di Eropa dan Amerika, sudah
jamak pelanggan membuang sendiri
sisa makanan ke tong sampah.
Pelayan terbatas
karena tenaga kerja mahal.
Sebenarnya tidak terlalu sulit
membersihkan sisa-sisa makanan kita.
Tinggal meringkas lalu
membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa
menit.
Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang
melakukannya, artinya akan
besar sekali bagi para pelayan
restoran.
Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan
kecil yang punya arti
besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak
anaknya untuk
membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di
kompleks rumah mereka.
Karena setiap hari warga kompleks melihat sang
bapak dan anaknya membersihkan
sampah di situ, lama-lama mereka
malu hati untuk membuang sampah
disitu.
Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk
mengikuti jejak sang bapak
itu dan ujung-ujungnya
lingkungan perumahan menjadi bersih dan
sehat.
Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak
tersebut. Tidak ada slogan,
umbul-umbul, apalagi spanduk
atau baliho. Dia hanya memberikan
keteladanan.
Keteladanan kecil yang berdampak
besar.
Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan
senyum. Jika saja setiap
orang memberi senyum kepada paling sedikit satu
orang yang dijumpainya hari
itu, maka dampaknya akan luar
biasa. Orang yang mendapat senyum akan
merasa
bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain
yang dijumpainya.
Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas
kepada banyak orang.
Padahal asal mulanya
hanya dari satu orang yang tersenyum.
Terilhami oleh sebuah cerita di
sebuah buku "Chiken Soup", saya kerap
membayar karcis tol bagi mobil
di belakang saya. Tidak perduli siapa di
belakang. Sebab dari cerita di
buku itu, orang di belakang saya pasti akan
merasa mendapat kejutan. Kejutan
yang menyenangkan. Jika hari itu dia
bahagia, maka harinya yang indah
akan membuat dia menyebarkan virus
kebahagiaan tersebut kepada
orang-orang yang dia temui hari itu. Saya
berharap virus itu dapat
menyebar ke banyak orang.
Bayangkan jika Anda memberi
pujian yang tulus bagi minimal satu orang setiap hari.
Pujian itu akan
memberi efek berantai ketika orang yang Anda puji merasa bahagia
dan menularkan virus
kebahagiaan tersebut kepada orang-orang di
sekitarnya.
Anak saya yang di SD selalu
mengingatkan jika saya lupa mengucapkan
kata
"terima kasih" saat petugas jalan tol memberikan
karcis dan uang kembalian.
Menurut dia, kata "terima kasih"
merupakan "magic words" yang akan membuat
orang lain senang. Begitu juga
kata "tolong" ketika kita meminta bantuan
orang lain, misalnya pembantu
rumah tangga kita.
Dulu saya sering marah jika ada
angkutan umum, misalnya bus, mikrolet,
bajaj, atau angkot seenaknya
menyerobot mobil saya.
Sampai suatu hari
istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka.
Para supir kendaraan
umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran.
"Sementara kamu kan
tidak mengejar setoran?''
Nasihat itu diperoleh
istri saya dari sebuahtulisan almarhum Romo Mangunwijaya.
Sejak saat itu, jika
ada kendaraan umum yang menyerobot seenak udelnya,
saya segera teringat
nasihat istri tersebut.
Saya membayangkan, alangkah
indahnya hidup kita jika kita dapat membuat orang lain bahagia.
Alangkah
menyenangkannya jika kita bisa berempati pada perasaan orang lain.
Betapa bahagianya
jika kita menyadari dengan membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji,
kita sudah
meringankan pekerjaan pelayan restoran.
Begitu juga dengan tidak
membuang karcis tol begitu saja setelah
membayar,
kita sudah meringankan beban petugas kebersihan.
Dengan tidak membuang
permen karet sembarangan, kita sudah menghindari
orang dari perasaan kesal
karena sepatu atau celananya
lengket kena permen karet.
Kita sering mengaku bangsa yang
berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di
antara kita yang ketika berada
di tempat-tempat publik, ketika membuka
pintu, menahannya sebentar dan
menoleh kebelakang untuk berjaga-jaga
apakah
ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi
sering melihat orang yang
membuka pintu lalu melepaskannya
begitu saja tanpa perduli orang di
belakangnya terbentur oleh pintu
tersebut.
Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan.
Hal yang tidak
memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang
lain. Mulailah dari
hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih
dulu. Mulailah
sekarang juga.
--
thankfully
farjuni"jujun" sofiyanto
The information transmitted is intended only for the person or the entity to
which it is addressed and may contain confidential and/or privileged material.
If you have received it by mistake please notify the sender by return e-mail
and delete this message including any of its attachments from your system. Any
use, review, reliance or dissemination of this message in whole or in part is
strictly prohibited. Please note that e-mails are susceptible to change. The
views expressed herein do not necessarily represent those of PT Astra
International Tbk and should not be construed as the views, offers or
acceptances of PT Astra International Tbk.