13 Puisi Lawangbagja
DISCLAIMER : Bagi yang tidak suka puisi, diprint saja terus kertasnya 
diinjak-injak kemduian dibuang ke tempat sampah. Jangan dibaca nanti mual 
terasa, pesan dari dokter sastra. 
 
Lirik Semusim
Di atas senja tak berpasir
Aku menari dalam lirik semusim
…
di sini tak ada debur ombak sayang
ataupun sekedar matahari yang tenggelam
karena senja ini adalah senja keabadian
yang cahayanya tak lagi kuning kemerahan
tapi biru kelam
…
Dalam bayangan akasia
kutabur benih mawar
walau wajah sudah kusam
bertabur debu kerinduan
 
 
Kau Perempuanku kau adalah perempuanku
yang hadir di tepian mimpi
antara ada dan tiada
…
Kusapa pagimu
disaat matahari tak terbit lagi
kubelai rambutmu
disaat malam tak gelap lagi
kau perempuanku
yang setia bersama angin
 
Sebatas Kelam 
Sebatas kelam
Aku terdiam dalam raut kusut
penuh debu
Dalam api
kutemukan gairah
walau rindu hanya sebatas untaian kata
yang nyaris tanpa makna
Kita hanya dinding bisu
tanpa lampu dan jendela
hanya terkadang suaramu kudengar
sekadar lapat-lapat
Tak ada pelukan atau pun ciuman
seperti yang kita inginkan
sekali lagi kuberkata:
“Mungkin kita hanya bisa bercinta diantara huruf dan kata”
Dan inilah takdir kita..
 
 
Amarah
Mimpi yang melemparkanku jauh ke sini. Sebuah negeri yang mataharinya 
menggantung di sudut jendela gedung pencakar langit. Bersama jutaan buruh 
migran yang mengaduk pasir demi sebongkah permata kehidupan, aku ikut berdiri 
diantaranya. Di mana terik panasnya seperti hendak mencabik yang menyisakan 
amarah dan air mata.
Aku seperti lelaki tanpa busana dengan kemaluan yang terikat di kepala saat 
melihat para perempuan sekampungku menjadi barang mainan nafsu yang selalu 
bergetar. Ataukah memang para perempuan kampungku yang sundal? 
Aku tidak tahu. Ingin kuludahi wajahku saat itu. Kenapa para suami mereka 
melepaskan para perempuannya pergi ?
...
Perempuan di persimpangan jalan kembalilah pulang. Suami dan anak-anakmu 
menanti.
 
Untuk Nyai
Darahku seperti ikut terhisap
saat udara kembali hangat dan basah
dari jauh engkau terus memanggilku
yang suaranya menggema bak gemuruh topan gonu
aku terhempas nyai..!
dan kapalku karam tak berwujud
kini
aku masih tersangkut diantara lumpur hitam
masih mencoba mengingat
pembicaraan kita di sore hari itu
 
 
Turun Satu Centi
udara semakin panas
Mungkin Matahari sudah turun satu centi
dan aku kian sembunyi di balik jeruji
Ingin kuminta malam tanpa henti
tapi kumalu pada mentari
Karena ia selalu mengabari
sang dewi senang memandangi
saat petang hari
***
mentari, 
Tolong kabarkan, bahwa senyum hangatnya
membuatmu turun satu centi

Gadis Bercadar
Selubung kain hitam
menutup wajah manismu
tinggi semampai, berjalan seperti putri yang sedang melambai-lambai
Siapakah gerangan wajah anggun dibalik cadar itu?
hanya harummu yang memberikan jawaban
bahwa ada bidadari sedang tersesat di gurun gersang ini
Aku memang Jakatarub
Yang mencoba mencuri pandang kepadamu
Adakah resah dan gelisah di pelupuk matamu
mana aku tahu? alismu pun aku tidak bisa menerka
Jika malam datang, Ku bisikkan pada rembulan
Tolong pantulkan wajah gadis bercadar itu
Biar semua manusia bisa melihat
lengkung bulan sabit alismu
  
Neraka di Jazirah Para Nabi
Di hempas gelombang, Dilemparkan angin
Aku seperti sekarat menahan rindu
Nafas tersekap, dalam bait satu persatu
…
Wajahku merah. Mengeluarkan api amarah. Semua benda yang aku pegang mengepul. 
Bau sangit menusuk hidung.  Aku memang sedang marah, kesal, jengkel, dan kecewa 
namun entah kepada siapa aku muntahkan sampah yang ada di rongga dadaku. Arus 
listrik yang mengalir di antara neuronku terus memercikkan api. Aku tidak ingin 
salah tangan melemparkan amarah.  Tak berdaya…akhirnya aku ledakkan dalam 
tangisan yang menganak sungai.
 
Neraka di jazirah para Nabi, sebuah kisah para perempuan yang terlalu tangguh 
untuk bisa terseret dalam cerita pilu. Asing dan bising dalam hingar bingar 
kota ajaib. Iblis di sini memang berjubah putih dengan aroma minyak kesturi. 
Para perempuanku, segeralah pulang ke kampung 
Sungai dan hijaunya gunung adalah harta yang tidak terkira
 
 
Nelayan Malang
Kepada langit yang bermandikan bintanggemintang
kepada bulan yang sembunyi di bawah ufuk
kepada pencinta malam dengan selaksa kelam
Aku nelayan malang
menebar jaring dan menanam bubu
dalam deras angin menyapu
meminta segayung rindu
Untuk anak dan istriku
 
Ratna Tantra
Aku tenggelam dalam jampi tantra
melenguh dalam guyuran peluh
ekstasi dengan semburat senyum
dan
nafasku seolah terhenti diantara degup jantung
yang kian tak beraturan
Andai saja ada Ratna
yang memainkan tarian shinta
Mungkin aku sudah mencapai Nirwana
Ratna..
mainkanlah tantra bersamaku
dalam ayunan desah dan lenguh
yang baranya hangatkan jiwaku
 
 
Minggu Pagi
Minggu pagi,
kuingin menyapamu sayang
dengan hangatnya secangkir cappucino
dan sebatang marlboro
tapi..
bukan minggu pagi milikmu!
minggu pagi milikku yang mataharinya begitu dekat
karena menyemburkan panasnya kerinduan
…
Minggu pagi,
kuingin duduk dekat disampingmu
bernaung di bawah payung rindu
dalam aroma melon dan musik cha cha
sambil menikmati hamparan pasir putih
tanpa debur dan buih
 
 
Jalan Cinta
Semalam rembulan berbicara padaku,
“Jika aku ditakdirkan tidak ada, adakah kau tetap memandang langit hitam?”
Aku tidak bisa menjawab.
Yang aku tahu, jika kau tidak ada maka tak ada kehidupan yang semestinya.
Aku katakan, “aku mencintaimu sekalipun aku tidak bisa menjamahmu”
Haruskah aku mengulangi kisah romeo yang terbunuh disaat menyaksikan 
keindahanmu bersama Juliet?
Atau seperti Majnun yang menggigil kedinginan karena mengharapkan perjumpaan 
denganmu?
Seperti inikah jalan cinta?
Hangus, mati terbakar hanya karena ingin bersama?
 
ZIKIR MULUD
Aku ingin terbang selaksa burung yang mencari kehangatan serta ramahnya alam. 
Bersahabat dengan penjuru 8 angin yang menghantarkanku pada setiap tempat yang 
ingin kusinggahi. Bertasbih bersama para malaikat yang sujud di atas awan 
gemawan. Terkadang melepas penat di antara ranting pepohonan yang rindang 
sambil menikmati segarnya semilir angin utara di musim semi. 
 
Kukepak sayapku sambil memendam rindu. Pada Sulaiman yang memegang 
singgasana Ratu Balqis dengan kalimat kasih sayang. Pada Yusuf yang menggurat 
prasasti kesabaran di atas tembok rapuh penjara sang Wazir. Pada Ayyub yang tak 
pernah merintih pilu diatas derita serta bau busuk rekayasa bisikan Iblis. Pada 
Muhammad yang mendekapku dalam kelembutan seraya berkata:”Aku diutus kepada 
semesta untuk menyempurnakan peri laku setiap makhluk. Dalam kemilaunya cahaya 
wajah dengan deretan gigi putih yang berbaris rapih kala tersenyum serta 
keharuman kesturi di setiap tetes keringat. Kutemukan cinta yang menyala pada 
setiap makhluk. Bahkan pada diriku, sekalipun hanya seekor burung!.
 
Entah kenapa aku begitu mencintai lelaki pilihan ini. Aku ingin terbang bersama 
awan yang berarak memayungi setiap langkahnya. Atau sekedar menjadi pengecoh 
para begundal yang hendak mencabiknya dengan sarang yang kubangun di muka gua. 
Bahkan kusediakan diriku untuk santap malam jika Ia merasa lapar. Biarkan aku 
terbang mengiringi tapak kakimu yang mulia di jazirah tandus yang terkadang tak 
berperi ini.
 
Pada lelaki yang menjadikan hidupnya sebagai titik arus balik perubahan peta 
dunia. Saat masa begitu terlelap dalam kegelapan. Bukankah cahaya mu yang 
pertama kali diciptakan sebelum semesta ini ada? Jika ada yang terkasih dari 
yang terkasih maka engkaulah Muhammad makhluk yang mulia itu. Maka shalawat dan 
salam tercurah untukmu. Setiap bintang berkedip. Sebanyak hembusan nafas semua 
makhluk.
 
Wahai nabi pilihan Allah, terimalah salamku…


      

Kirim email ke