Tim Ambulan di Gaza: Maaf … Kami Tidak Bisa Menolong Kalian 
[ 10/01/2009 - 03:52 ]    


Gaza – Infopalestina: Darah mengalir dari seluruh tubuhnya. Setiap kali 
demamnya terus meningkat dan suara kesakitan semakin meninggi. Ibunya menangis 
perih. Saudara perempuannya meratap keras, menghubungu stasiun radio local. 
Yang lain memanggil Palang Merah. Yang ketiga menyeru mobil-mobil ambulan … Dan 
yang kesepuluh meminta-minta organisasi HAM. Jawabannya hanya satu: Sayang 
sekali, kami tidak bisa sampai ke tempat kalian … maafkan kami!
Beberapa jam kemudian setelah teriakan orang-orang lemah yang tidak berbuat 
apa-apa, Hamid Abu Aker mengembuskan nafasnya yang terakhir. Dia berangkat 
dengan segala ungkapan dan ekspresi. Tidak ada yang tertinggal kecuali linangan 
air mata yang deras dari para mata yang sock dan terguncang akibat perang yang 
menggila. Perang yang telah memutuskan untuk membantai kemanusiaan, tiada yang 
tersisa dari segala kosakata kemanusiaan.
Penderitaan keluarga Abu Aker tidak berakhir hingga di sini. Jasad Hamid 
tergeletak membujur kaki di hadapan mereka selama berjam-jam. Dan berjam-jam 
itu berubah menjadi berhari-hari. Mayat itu mulai terurai, bau bangkai memenuhi 
tempat. Tak seorangpun berani membuka pintu, sekedar untuk mendapatkan udara 
baru. Takut dan mengerikan!
Dengan suara yang telah kehilangan rambunya, saudara perempuan Hamid menuturkan 
apa yang terjadi di rumah mereka yang berada di ujung utara Jalur Gaza. Dia 
mengatakan, “Tiga hari yang lalu gempuran dahsyat menghantam rumah-rumah 
sekitar kami. Kami terkena sasaran salah satu mortir yang ditembakan tank-tank 
Israel. Saudaraku jatuh tersungkur berdarah-darah. Kami menghubungi tim ambulan 
dan dengan segala cara yang lain. Namun tidak ada yang bisa merespon!”
Setelah meratap keras, dia melanjutkan penuturannya. “Dia terus berlumuran 
darah tanpa henti sampai akhirnya meninggal dunia. Kami sama sekali tidak 
berani melihat keluar melalui jendela, apalagi keluar. Itu artinya kebinasaan 
buat kami. Hari ini, setelah tiga hari dia meninggal dunia, sebuah mobil 
ambulan berhasil masuk ke daerah ini dan mengeluarkan mayatnya.”
Dengan rasa pedih dan sakit, dia melanjutkan lagi. “Semua kata-kata tidak bisa 
untuk mengungkapkan kebiadaban mereka (Israel). Apa yang terjadi adalah perang 
pemusnahan etnis. Seakan kami tidak percaya bahwa kami adalah manusia.”
Dan masih banyak rumah di utara dan timur Jalur Gaza meneriakkan suara minta 
tolong untuk menyelamatkan korban-korban luka mereka dan mengeluarkan 
mayat-mayat dari keluarga mereka yang sudah meninggal. Dan ketika mobil-mobil 
ambulan atau Palang Merah mulai bergerak, desingan-desingan peluru dan missil 
maut memburu di atas kepala-kepala mereka.
Seruan Keluarga Zaqut 
Di salah satu siaran stasiun radio local, terdengan suara Ummu Ra'fat Zaqut. 
Wanita yang tinggal bersama keluarganya di kampung Zaitun, timur Gaza, ini 
meminta dengan penuh iba kepada mobil ambulan untuk mengevakuasi suaminya yang 
terluka dan anaknya yang berdarah-darah. Sesaat kemudian terdengar suara 
penyiar radio yang mengatakan: tim-tim medis tidak bisa sampai ke lokasi-lokasi 
yang membara.
Beberapa jam setelah Ummu Ra'fat menghubungi stasiun radio tersebut, radio yang 
sama menyiarkan berita yang bersifat segera: seruan dari keluarga Zaqut, dua 
orang gugur dari keluarga setelah mobil-mobil ambulan gagal sampai ke mereka 
dan menyelamatkan nyawa mereka.
Israel terus melancarkan pembantaian biadab terhadap warga sipil Palestina yang 
terisolasi, yang tidak memiliki daya dan kekuatan apapun. Pesawat-pesawat maut 
Israel melumatkan puluhan rumah keluarga-keluarga Palestina secara total. 
Membunuh anak-anak kecil dan orang dewasa dengan darah dingin. 
Abu Imad Zarqah, warga Palestina ini tinggal di ujung timur Jalur Gaza. Dia 
menceritakan salah satu kesaksian yang mengerikan. Katanya, “Keluarga Sabt 
terdiri dari 5 orang anggota keluarga. Misil Israel yang menghantam rumah 
mereka mencederai ibu dan ayah. Mereka bercucuran darah hingga mati di depan 
mata ketiga anaknya yang masih kecil. Teriakan mereka yang terakhir keluar di 
dekat anak-anak mereka yang masih polos tanpa dosa.”
Dengan suara berat penuh sedih, Abu Imad melanjutkan, “Kami tetangga mereka 
sama sekali tidak berani maju walau selangkah mendekati mereka. Empat hari, 
setelah tank-tank maut Israel mengurangi intensitasnya menebar kematian, kami 
datang ke sini dan menemukan anak-anak ini dalam kondisi mengerikan. Yang 
paling kecil, usianya tidak lebih dari 2 tahun, berada di tempat ini bersama 
kedua kakaknya yang juga masing kecil, selama empat hari tanpa makan dan minum.”
Abu Imad akhirnya tidak bisa mengendalikan diri. Dengan keras dia berteriak, 
“Mereka pembunuh. Mereka tumbuh dengan melihat darah-darah kami dan 
teriakan-teriakan tersiksa kami. Mereka menembakkan misiu-misiu mautnya tanpa 
ampun dan belas kasihan.” 
Di timur Gaza, keluarga Hadad yang terdiri dari 6 anggota keluarga mengalami 
blockade selama 4 hari. Di antara mereka ada korban meninggal selama 24 jam dan 
korban luka dalam kondisi kritis sebelum diselamatkan tim penolong. Mereka 
tidak memiliki apa-apa. Tidak ada air, tidak ada makanan dan tidak ada listik!
Bocah-bocah Tanpa Dosa di Samping Mayat Ibu-ibunya 
Palang Merang Internasional, Kamis (08/01), mengatakan para relawan tim 
penolong menemukan 4 orang bocah yang sedang kelaparan. Mereka duduk di samping 
ibu-ibunya yang sudah tidak bernyawa. Relawan juga menemukan mayat lain di 
rumah-rumah yang dihancurkan pasukan militer Israel di kotaGaza.
Dalam pernyataan yang salinannya diterima koresponen Infopalestina, Palang 
Merah Internasional menegaskan pihaknya telah meminta jaminan lalu-lintas yang 
aman agar mobil-mobil ambulan bisa sampai ke kampung Zaitun ini sejak 3 Januari 
lalu. Namun sama sekali tidak mendapatkan izin dari militer Israel kecuali, 
Rabu (07/01) siang. 
Menurutnya, “Tim gabungan antara Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit 
Merah Palestina menemukan di sebuah rumah 4 orang bocah yang sedang duduk di 
sisi jasad ibu mereka. Mereka gemetar, kondisinya sangat lemah. Sehingga untuk 
berdiri saja mereka tidak mampu.” Sementara itu anggota tim gabungan menemukan 
seorang laki-laki yang masing hidup bersama 12 jasad korban lainnya yang sudah 
meninggal.
Di rumah yang berbeda tim relawan menemukan 15 orang lain yang selamat dari 
serangan Israel, di antara mereka ada beberapa yang terluka. Di rumah yang lain 
juga ditemukan 3 jasad korban yang sudah meninggal. Kondisinya sangat 
mengenaskan.
Kepala Delegasi Palang Merah Internasional di Palestina, Bayer Fitash 
mengatakan, “Ini adalah peristiwa yang mengerikan. Dipastikan pasukan militer 
Israel mengetahui kondisi ini namun tidak mau memberikan bantuan kepada korban 
yang terluka. Mereka juga tidak mengizinkan kami dan Bulan Sabit Merah membantu 
mereka.” 
Fitash menambahkan, “Tembok tinggi dari tanah yang didirikan militer Israel 
menghalangi mobil-mobil ambulan untuk sampai ke kampung tersebut. Untuk itu, 
kami terpaksa membawa anak-anak dan korban luka ke mobil ambulan dengan 
menggunakan gerobak yang ditarik keledai.”
Dia melanjutkan, “Tim gabungan dari Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit 
Merah Palestina berhasil mengevakuasi 18 korban luka dan 12 lainnya yang 
kondisinya sangat lusuh dan kotor. Tim gabungan juga berhasil mengevakuasi dua 
jasad korban yang meninggal.”
Fitash mengisyaratkan, Palang Merah Internasional tahu bahwa di sana ada korban 
luka lain yang bersembunyi di rumah-rumah yang hancur di kampung Zaitun. 
Pihaknya meminta militer Israel memberikan jaminan keamanan kepada timnya dan 
mobil ambulan Bulan Sabit Merah Palestina untuk lewat dengan aman agar bisa 
masuk ke kampung tersebut untuk mencari korban luka yang lain.
Sampai saat ini Palang Merah Internasional belum mendapatkan kepastian apapun 
dari otoritas Israel untuk memberikan kemudahan dalam hal ini. Pihaknya menilai 
militer Israel telah mengingkari janji kewajibannya sebagaimana ditegaskan 
dalam hukum kemanusiaan internasional yang mengharuskan Israel memberikan 
perlindungan kepada korban luka dan mengevakuasi mereka. Penundaan pemberian 
izin kepada tim penolong untuk masuk ke kampung tersebut adalah hal yang tidak 
bisa diterima. (seto) 


      

Kirim email ke