Peran Arab Dalam Pembantaian Gaza 
[ 30/12/2008 - 11:46 ]    

  
Mihna Habil
Ratusan tubuh yang berserakan dengan kondisi sangat menyedihkan, bergelimpangan 
diantara puing-puing bangunan yang porak-poranda akibat gempuran roket-roket 
Israel Sabtu pagi (27/12/08). Sore hari sebelumnya, manlu Israel, Tzipi Livni 
di Kairo, ibu kota Mesir mengatakan, Tel Aviv memutuskan untuk membumi 
hanguskan Gaza. 

Pertanyaannya, dimanakah posisi para menlu Arab saat itu ??. Tentu mereka telah 
berupaya menasehati Israel agar melakukan gencatan senjata, mungkin…?
Tetapi kenyataanya membuktikan, para pemimpin Arab telah memayungi kejahatan 
Israel ini secara jelas dan terang-terangan. Ini adalah bukti yang tidak bisa 
dibantah lagi jauh-jauh hari, sejak konflik Arab-Israel itu terjadi. 
Kenyataan ini bisa dibaca sejak pertemuan Annapolis pada Nopember 2007 yang 
lalu. Kesepakatan-kesepakatan mereka tidak bisa ditutup-tutupi. 
Program-programnya sangat jelas mengarah pada pemberangusan gerakan Hamas yang 
telah memimpin Palestina sejak Juni 2006 lalu melalui pemilu jurdil dan 
transfaran. Kesepakatan Annapolis ini merupakan keputusan Israel-Amerika untuk 
mengikat pemerintah Arab agar mau melakukan kesepakatan tersebut. Akan tetapi 
perjanjian itu tidak mesti dilakukan setiap saat, hanya bersifat alternative 
saja bagi sebagian Negara Arab itu, kenapa ??
Karena apa yang terjadi di Gaza saat ini, atau sebelum adanya proyek perlawanan 
terhadap Israel dalam program pembebasan wilayah Palestina dari jajahan Israel, 
melalui paham pemikiran atau persatuan Negara Arab terkait proyek akhir 
perdamaian, sejumlah pemimpin Arab merasakan bahwa mereka tidak akan bisa eksis 
bila Israel tidak ada. Kenyataan ini belum terekspos ke dunia, namun dalam 
kasat mata tindakan-tindakan mereka mencerminkan kekhawatiran tersebut. Seperti 
proyek politik dan program-program mereka untuk meyakinkan kepada rakyatnya 
bahwa Israel adalah entitas yang sangat penting bagi bagi dunia Arab. Israel 
adalah poros dalam membina kerja sama di dunia internasional, dalam bidang 
dialog, normalisasi ekonomi atau dalam rangka menghadapi proyek penjajahan 
Iran. Kehadiran Israel dimanfaatkan juga dalam membantu Negara Arab sendiri 
untuk membebaskan tanggung jawabnya atas pemberangusan terhadap 
kelompok-kelompok yang selama ini anti pemerintahan Arab. 
Dari sini kita paham, apa yang terjadi saat ini atau yang akan terjadi kemudian 
adalah murni keputusan Negara Arab secara resmi. Mereka telah ikut ambil bagian 
dalam penganiayaan terhadap Palestina. Mereka tidaklah terpaksa atau lemah 
dalam posisi ini. Kalaulah kita tampilkan pernyataan-pernyataan mereka terhadap 
Hamas, baik dari gerakan pemutihan pada Juni 2007 ataupun yang lainya, kita 
akan menemukan bahwa mereka menentang gerakan Hamas, bahkan mereka telah 
berkoalisi dengan pihak Oslo pimpinan Abbas yang berupaya menjatuhkan usaha 
rekonsiliasi nasional dari pihak Hamas. Karena mereka tidak suka dengan proyek 
perlawanan yang diusung Hamas. 
Adapun kesepakatan untuk menjatuhkan Gaza, mereka menyangka dengan 
memberlakukan blockade terhadap Gaza akan dapat menguasai rakyatnya. Dari sini 
terlihat pemerintah Mesir, pimpinan Husni Mubarak sangat berkepentingan untuk 
melanggengkan blockade ini, sambil melakukan propaganda untuk memperoleh 
simpati rakyat Gaza dan Palestina, dan bukan dari Hamas. 
Walau sejumlah kesempatan untuk merealisasikan pedamaian yang legal yang dapat 
membebaskan rakyat Gaza dari blockade yang telah membunuhnya secara perlahan 
ada, namun pihak Mesir dan beberapa konconya dari para pemimpin Arab, tidak 
juga melakukanya. Bahkan mereka berupaya untuk menghalang-halangi setiap 
kesempatan yang dapat menjamin terrealisasinya sebagian hak-hak Gaza itu. 
Semakin jelas, apa yang terjadi saat ini merupakan realisasi dari sejumlah 
kesepakatan dengan Tel Aviv untuk memaksan Hamas menyerah dalam masalah ini. 
Terutama terkait prinsif-prinsif dasar bagi kepentingan Zionis. Hal ini bisa 
terlihat dari upaya Mesir dan Arab untuk menjatuhkan konsep pertukaran serdadu 
Giladh Shalit yang diajukan Hamas.
Hal ini semakin nampak, ketika Direktur intelijen Mesir, Umar Sulaiman yang 
menyatakan kepada Israel, beberapa hari yang lalu, bahwa Mubarak tidak kurang 
semangatnya dalam membasmi pemerintahan Gaza, dari pada Tel Aviv sendiri.  
Akan tetapi blockade semakin meningkatkan perhatian dunia internasional. 
Situasi ini tentunya semakin menyulitkan negara Arab untuk melanggengkan 
blockade. Apalagi adanya dorongan dari rakyat Arab yang semakin meningkat untuk 
menghapuskan blockade tersebut. Padahal Negara Arab ini telah mengumumkan 
keberpihaknya kepada pemerintahan Abbas dan kelompok keamananya yang menentang 
Gaza. Maka merekpuna merestui blockade, tetapi tidak berlanjut. Walau apa yang 
terjadi di lapangan begitu nampak keberpihakannya, melalui kerja sama keamanan 
dan provokasinya terhadap Gaza, namun tak urung mereka begitu murka kepada 
pihak-pihak yang berupaya menolong Gaza meski dalam urusan kemanusiaan. 
Namun ternyata, pihak keamanan atau pihak yang berada di lapangan telah gagal 
dalam menjauhkan Hamas dari Gaza atau menjauhkan rakyat Palestina dari Hamas. 
Oleh karena itu Tel Aviv mengumumkan untuk membumi hanguskan Gaza. 
Kalau kita cermati wajah, Yasir Abdu Rabbih yang berbicara tentang apa yang 
terjadi saat ini di Gaza, kita akan menemukan tersirat kebahagiaan menyelimuti 
dirinya, walau ia berusaha menyembunyikanya. Bahkan pernyataan Tayib 
Abdurrahmim (penasehat Abbas) menyusul serangan Israel ke Gaza mengatakan, 
“Pemerintahan Oslo akan berkuasa kembali di Gaza. Warga Gaza diharapkan 
bersabar. Pernyataan ini menunjukan bahwa mereka bekerja sama dalam upayanya 
membumi hanguskan Gaza, baik di lapangan maupun di tataran setrategi. 
Cukuplah bagi kita mendengar pernyataan salah seorang pejabat penting Israel, 
beberapa saat setelah penyeranganya ke Gaza. Ia mengatakan, “Kami telah 
mengemukakan rencananya kepada sejumlah Negara Arab dan Barat, sebelum kami 
memutuskan untuk menyerang Gaza”. Pernyataan ini diungkapkankanya ditengah aksi 
pembantaian terhadap rakyat Palestina di Gaza dan disaksikan mata dunia. 
Seolah-oleh Tel Aviv menyatakan, kami tidak sendirian dalam membantai rakyat 
Palestina, walau sebagian nurani menolaknya. (asy) 


      

Kirim email ke