tulisan bagus, analisis bagus dan informatif. semoga bermanpaat. sori kalou 
dobel.

--- On Mon, 1/26/09, Agus Hamonangan <[email protected]> wrote:
From: Agus Hamonangan <[email protected]>
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] "Obamalek" dan "Obamateks"
To: [email protected]
Date: Monday, January 26, 2009, 12:13 PM










    
            Oleh P ARI SUBAGYO



http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/01/24/ 01245716/ obamalek. 
dan.obamateks



"From language perspective, Obama is a great speaker. I do not like a

lot of his political views, but I do like his speaking".



Demikian seorang warga AS menulis di blog-nya saat Obama dan McCain

masih bersaing sengit merebut hati warga AS.



Pernyataan itu menggambarkan bahwa kemenangan Barack Obama dalam

Pilpres Amerika Serikat (4/11/2008) juga berkat penampilan berbahasa

(language performance) -nya. Obama memang fenomenal. Obama adalah

fenomena bahasa.



Sebagai fenomena bahasa, Obama telah menjadi akar istilah-istilah

baru, seperti obamania, obamamentum, obamacize, obamanomics, dan

obamanation. Selain itu, juga muncul fenomena "obamalek" dan

"obamateks". Keduanya telah menyumbang bagi kemenangan Obama.



"Obamalek"



"Obamalek" atau ragam bahasa Obama ditandai struktur dan logat bahasa

Inggris standar, tetapi terdengar lebih "berat". Maklum, Obama

keturunan Afrika. Organ bicaranya khas sehingga suaranya bertipe

bariton, tetapi enak didengar.



"Obamalek" berbeda dari variasi yang disebut Wardhaugh (An

Introduction to Sociolinguistics, 1992) sebagai Black English (BE),

Black English Vernacular (BEV), atau Nonstandard Negro English (NNE).



Menurut Stewart, Labov, Dillard, dan Rickford, BE, BEV, atau NNE

banyak melanggar kaidah bahasa Inggris standar. Maka, penuturnya layak

mengalami kesialan-kesialan (disadvantages) dalam pergaulan maupun

pendidikan. Keamerikaan mereka disangsikan.



Namun, "obamalek" justru telah mengukuhkan keamerikaan Obama,

sekaligus orisinalitasnya sebagai pewaris anatomi organ bicara Afrika.

Apalagi Obama seorang Afro-Amerika. Pengasuhan kakek-nenek Amerikanya,

Stanley Armour Dunham dan Madelyn Payne, tentu amat mewarnai bahasa

Inggris Obama. Atau, secara alamiah, bahasa Inggris black American

generasi Obama jauh lebih standar dibandingkan dengan 40-an tahun lalu.



Warga AS yang menulis di blog itu menambahkan, "Menurut saya, Obama

memiliki kemampuan menggunakan bahasa, sesuai kelompok pemilih yang

disasarnya". Dari "obamalek" dia mendapat pelajaran: "Orang yang

kehilangan ketenangan, habislah dia! Jika Anda mampu menjaga

ketenangan saat bicara, Anda dapat merangkul banyak orang! Jika Anda

mampu menggunakan bahasa sederhana 'untuk mereka' (to people) daripada

sekadar 'kepada mereka' (at people), Anda akan dapat memengaruhi mereka!"



Jadi, pesona "obamalek" terletak pada larasnya yang santun, tenang,

tulus, sahaja, dan berdaya sentuh. Dalam berbagai pidato maupun debat,

"obamalek" selalu memperlihatkan nuansa santun, tenang, tulus, sahaja,

dan daya sentuh. "Obamalek" jauh dari kesan emosional, tetapi mampu

menggugah inspirasi dan empati. "Obamalek" memadukan visi yang jelas,

pemahaman teori yang mantap, wawasan praktis yang lengkap, dan

kematangan seorang senator—senatum (Latin) berarti 'matang'.



"Obamalek" tidak "asbun" (asal bunyi) atau "toni" (Jawa: waton muni,

asal bicara), tetapi memadukan estetika bicara beserta kecerdasan isi.

"Obamalek" mematuhi rambu komunikasi bahasa: "Cara mengatakan sama

pentingnya dengan apa yang dikatakan".



"Obamateks"



Blaustein dan Zangrando (eds.) dalam Civil Rights and the Black

American: A Documentary History (1970) secara lengkap mengabadikan

perjalanan panjang kaum kulit hitam di AS untuk memperoleh hak-hak

sipilnya. Tak dapat dimungkiri, mereka telah menjadi bagian dari

kehidupan bangsa Amerika sejak hari-hari pertama kaum kulit putih

Eropa memasuki Dunia Baru (AS).



Mereka memainkan peran vital dalam menaklukkan dan mengolah Dunia

Baru. Namun, kedudukan mereka hanyalah warga kelas dua. Bahkan,

seperti dicatat Blaustein dan Zangrando, sejak tahun 1619 kaum kulit

hitam mengalami ironi. Status mereka justru turun, dari semula servant

(pembantu) menjadi slave (budak) yang dapat diperjualbelikan.



Declaration of Independence (1776) yang mengakui kesetaraan manusia

sebagai ciptaan Allah pun belum mampu menjamin hak-hak warga kulit

hitam. Sekarang hak-hak itu memang makin terjamin. Namun, subdominasi

tetap terjadi. Perasaan sebagai warga negara kelas dua terus menghantui.



Dalam situasi seperti itu, "obamateks" (Obama sebagai wacana atau

teks) hadir menyeruak. Latar belakang Obama sebenarnya tidak seperti

umumnya kaum kulit hitam di Amerika Serikat. Ayahnya, Barack Hussein

Obama, datang ke AS bukan sebagai pelayan atau budak, tetapi sebagai

mahasiswa yang dibiayai negaranya (Kenya). Namun, sulit dimungkiri,

Obama merupakan teks nyata poskolonial. Obama menjadi ikon

kemenangan—atau sekurangnya simbol kesetaraan—antara the colonized dan

the colonizer.



"Obamateks" didukung fakta berharga. Obama menjadi pengalam

(experiencer) berbagai situasi yang saling kontras. Dia merupakan

internalis dari komunitas kulit putih AS, masyarakat kulit hitam AS,

warga Kenya (Afrika), dan pernah tinggal di Indonesia (Asia).

"Obamateks" adalah teks yang kaya perspektif dan transenden.



Pernyataan "Saya kangen nasi goreng, bakso, dan rambutan" yang

dikemukakan kepada Presiden Yudhoyono dengan bahasa Indonesia yang

fasih (Kompas, 26/11/2008), membuktikan kekayaan perspektif dan

transendensi "obamateks".



Helen, dosen muda sebuah universitas swasta di Jakarta, dengan gembira

berkisah di www. myrmnews.com. Pada Mei 2006, dia bertamu ke kantor

Obama di Chicago. Sang Senator dengan ramah menyapa, "O, ini dari

Indonesia, ya?".



Obama menggunakan bahasa secara cerdas dan bermartabat. Dengan

"obamalek" dan "obamateks", dia tidak bermaksud—menurut J Kristiadi

dalam "Iklan Politik dan Nasib Bangsa" (Kompas,

25/11/2008)—menyelim uti kekurangan, mengecoh, bahkan menyesatkan

konsumennya.



Tanggal 20 Januari 2009, Obama dilantik menjadi presiden ke-44 negara

adidaya AS. Semoga "obamalek" dan "obamateks" turut membangun tata

dunia baru yang damai, sejahtera, dan memartabatkan semua orang. Juga

menginspirasi para politisi di negeri ini.



P ARI SUBAGYO Penggulat Linguistik di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke