informasi tentang pengalaman jurnalisme investigasi. menarik. sori kalou dobel.
hhd.

--- On Sun, 2/15/09, Sunny <[email protected]> wrote:
From: Sunny <[email protected]>
Subject: [pantau-komunitas] Laporan: Sukriansyah S. Latief, Missouri, Amerika 
Serikat
To: "pantau" <[email protected]>
Date: Sunday, February 15, 2009, 1:40 PM











    
            


http://www.amboneks pres.com/ index.php? act=news&newsid=25600
 


  
  
    
      Senin, 16 Feb 2009, | 1 
      
       
      
Laporan: Sukriansyah S. Latief, Missouri, Amerika 
      Serikat
Sheila Coronel dan Etika 
      'Investigative Journalism' 
  
    

  
    TAK sah rasanya 
      seorang jurnalis mengaku sebagai 'wartawan paripurna', bila tak mengenal 
      Sheila Soto Coronel dan sepak terjangnya. 
Dialah perempuan jurnalis 
      asal Filipina, yang tidak bisa dipisahkan dari perkembangan jurnalisme di 
      Asia, bahkan di belahan dunia ini, khususnya dalam perkembangan 
      'investigative journalism'. 

Dia kini memang tak muda lagi. Di 
      usianya yang ke-50 tahun, Sheila tidak lagi turun ke lapangan mencari 
      fakta dan 'membongkar' dokumen. Sekarang dia lebih banyak 'bergaul' 
dengan 
      buku dan mahasiswa pascasarjana di Universitas Columbia, New York, 
Amerika 
      Serikat. Sejak 26 Desember 2006, dia diangkat menjadi Director of The 
      Stabile Center for Investigative Journalism di kampus tersebut. Dia pun 
      sudah bergelar Professor of Professional Practice. Saya pertama kali 
      bertemu Sheila di Malaysia ketika mengikuti 'course on advantage 
      reporting' yang diadakan SEAPA, 18-20 Juli 2002. 

Ketika itu, dia 
      masih amat bersemangat memberikan materi tentang 'investigative 
reporting' 
      kepada puluhan jurnalis dari Asia Tenggara. Menurutnya, ketika itu, bukan 
      sebuah karya jurnalistik 'investigative reporting' bila jurnalis tidak 
      mengungkap fakta yang disembunyikan atau 'membongkar' dokumen dan 
hasilnya 
      bisa mengubah pandangan masyarakat, misalnya yang benar adalah A, bukan B 
      seperti yang selama ini umum diketahui. Dan yang lebih penting adalah, 
      liputan itu mempunyai dampak atau pengaruh yang lebih baik bagi 
      masyakarat.

Begitulah Sheila. Ketika bertemu kembali Jumat, dua 
      pekan lalu, di tempat kerjanya 604F, sebuah ruangan yang tak begitu luas 
      di kampus Univeristas Columbia, dia tampak sedikit lebih tua, tapi tetap 
      semangat menerima saya dan jurnalis dari TV One, Metro TV, serta Batam 
      News. Sheila kembali bercerita tentang 'investigative journalism', tapi 
      lebih banyak di ranah akademik, dan masalah etika yang sering diabaikan 
      jurnalis. Dia juga mengenang ketika beberapa tahun lalu ke Makassar. 
Masih 
      kuat dalam ingatannya, pisang epe di sepanjang Pantai Losari, dan 
      nikmatnya makan ikan bakar di Makassar. 

Sheila memulai karir 
      jurnalistiknya sebagai reporter di Philipine Panorama pada tahun 1982, 
      sebuah majalah yang punya banyak pembaca. Dia juga pernah bergabung 
      sebagai reporter politik di Manila Times, dan menulis dengan sangat baik 
      untuk The Manila Chronicle. Sheila juga pernah menjadi 'stringer' untuk 
      The New York Times di Amerika dan The Guardian di Inggris. Di bidang 
      akademik, Sheila lulus strata 1 di bidang ilmu politik di Univeritas 
      Filipina dan masternya tentang sosiologi politik di London School of 
      Economics.

Sepanjang perjalanannya sebagai jurnalis, Sheila telah 
      menghasilkan banyak liputan-liputan investigasi, termasuk pelanggaran hak 
      asasi manusia di Filipina. Baik itu ketika secara politik pemerintahan 
      Ferdinand Marcos kehilangan kekuatan, maupun di masa pemilihan 
      pemerintahan Corazon Aquino. Dalam pemerintahan Aquino, Sheila menulis 
      sedikitnya tujuh laporan investigasi tentang upaya kudeta. Tulisannya 
      tidak hanya tentang kudeta, korupsi, dan militer, tapi juga tentang 
rakyat 
      yang miskin sementara penguasa bisa berfoya-foya. 

Misalnya tentang 
      istri Ferdinand, Imelda Marcos yang punya begitu banyak koleksi sepatu 
dan 
      perhiasan. Juga tentang yayasan milik keluarga Marcos, yang ketika itu, 
      Imelda memberikan 10 juta peso per tahun kepada yayasan, lantas dari mana 
      uang sebanyak itu?
Pada tahun 1989, bersama beberapa temannya, Sheila 
      mendirikan Philippine Center for Investigative Journalism (PCIJ). 
      Organisasi ini banyak memberikan pelatihan kepada jurnalis di Filipina, 
      bahkan di Asia, tentang keterampilan melakukan pelaporan investigasi dan 
      penulisan mendalam. Di masa kepemimpinan Sheila, PCIJ berkembang pesat 
      memberikan pelatihan-pelatihan investigasi, termasuk yang bekerjasama 
      dengan SEAPA, yang memberikan pelatihan kepada wartawan di Malaysia itu. 
      Sheila makin dikenal karena menjadi editor dan menulis banyak buku 
tentang 
      'investigative reporting'. Dia pun mendapatkan banyak penghargaan, salah 
      satunya adalah Magsaysay Award for Journalism, Literature, and The 
      Creative Communication Arts, pada tahun 2003. Kini Sheila juga tercatat 
      sebagai Board of Directors pada The Center for Public Integrity, sebuah 
      lembaga swadaya masyarakat yang mendedikasikan diri untuk pembuatan 
      laporan-laporan investigasi, yang berkantor di Washington DC. 
      

Menurut Sheila, bagi seorang jurnalis, harus selalu peka terhadap 
      sebuah laporan yang kelihatannya terlalu sempurna atau benar atau 'too 
      good to be true'. Karena, kata Sheila, tidak ada yang sempurna di dunia 
      ini, pasti ada kekurangannya. Maka, kalau ada laporan peristiwa atau 
      dokumen laporan keuangan yang terlalu rapi atau sempurna, tanpa cacat, 
      maka sebagai jurnalis mestinya harus peka dan berpikir skeptis. ''Lihat 
      dokumen per dokumen, siapa di belakang pembuat dokumen, lihat apa yang 
ada 
      dalam dokumen. Ini memang butuh waktu yang lama dan juga biaya yang 
      besar,'' kata Sheila. 

Bagi Sheila, dalam melakukan liputan 
      investigasi, soal etika menjadi hal yang utama. Dua hal yang sering 
      diabaikan jurnalis adalah soal cara mendapatkan informasi dan yang kedua 
      soal proses mendapatkan informasi. Menurutnya, seorang jurnalis tidak 
      boleh membeli informasi atau membayar sumber informasi atau berita. 
Sebab, 
      bila ini dilakukan dan diketahui oleh masyarakat, maka kredibilitas 
      jurnalis dan medianya akan diragukan. Bukan tidak mungkin nara sumber itu 
      tidak memberikan informasi yang akurat atau benar, karena didasari atas 
      keinginan mendapatkan uang. Tapi, kalau data atau informasinya benar, 
maka 
      sesungguhnya bila dia menginginkan uang, maka akan lebih banyak bisa dia 
      dapatkan bila ditawari untuk membuat buku atau film dari informasi yang 
      dimiliki. ''Jadi tidak boleh membeli atau membayar narasumber,' ' tegas 
      Sheila.

Hal yang kedua adalah soal proses mendapatkan informasi. 
      Menurut Sheila, dia tidak sependapat bila jurnalis mendapatkan informasi 
      dengan sembunyi-sembunyi atau tidak mengaku sebagai jurnalis. Baginya, 
      jurnalis tidak boleh merekam atau mengambil gambar nara sumber dengan 
      sembunyi-sembunyi (hidden camera), seperti yang kini banyak dilakukan 
      jurnalis. Pada saat wawancara, lanjutnya, kita harus mengaku sebagai 
      wartawan dan meminta izin untuk melakukan rekaman. '' Tapi ini dalam 
      keadaan normal, kecuali kalau ada hal-hal yang memang sangat terpaksa, 
tak 
      ada jalan lain dan demi kepentingan umum atau masyarakat,' ' tambah 
      Sheila.

Soal membeli informasi atau data, juga ditentang Gene P. 
      Mater, konsultan media Freedom Forum, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat 
      yang bergerak di bidang kebebasan pers dan kebebasan berbicara. Menurut 
      mantan wartawan beberapa media cetak dan elektronik di Amerika ini, 
      membeli atau membayar sumber berita melanggar kode etik. ''Juga karena 
      akan membuat orang akan terbiasa dengan menjual informasi, dan ini bisa 
      membuat mereka mengarang-ngarang cerita.'' kata Mater ketika ditemui di 
      Newseum, Washington DC. Freedom Forum menjadi pengelola Newseum, tempat 
      pameran media yang sangat canggih Amerika. 

Hal sama dikemukakan 
      Bill Buzenber, Direktur Eksekutif Center for Public Integrity. Di 
      tempatnya, yang mempekerjakan beberapa jurnalis investigator, pelanggaran 
      etika tidak dapat ditolerir. Pernah ada jurnalis yang dikeluarkan, karena 
      pelanggaran etika. Bagi dia, jurnalis investigator memang harus mencari 
      dan mengungkap fakta yang disembunyikan, tidak dengan membeli atau 
      membayar narasumber. Memang LSM yang didirikan tahun 1990 di Washington 
      itu, senantiasa menjada integritas jurnalisnya dengan memperhatikan 
      masalah-masalah etika. Hasilnya, kata Buzenber, dapat dilihat dari 
      banyaknya buku yang mereka terbitkan, tentang 'investigative reporting' 
      masalah-masalah publik, di antara korupsi dan tentang tanggungjawab 
      pemerintah. 
(***) 


 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke