masih mau nyontreng?

--- On Tue, 3/24/09, Ostaf Al Mustafa <[email protected]> wrote:

From: Ostaf Al Mustafa <[email protected]>
Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] DPT (Daftar Pemilih Tipuan)
To: [email protected]
Date: Tuesday, March 24, 2009, 11:53 PM











    
            Bung Adhie, sebenarnya ada masalah apa dengan dengan DPT (Daftar 
Pemilih Tipuan)? Bukankah setiap pemilu, pemilih selalu tertipu oleh politikus! 
Tipuan baru ala DPT, hanyalah menggenapkan semua jenis tipuan yang selalu 
kelihatan ganjil dalam pemilu.



____________ _________ _________ __

From: Adhie Massardi <massardispoke@ yahoo.com>

To: Kompas Pembaca <forum-pembaca- kom...@yahoogrou ps.com>

Cc: ANTV Karyawan <wowke...@yahoogroup s.com>; Naratama TV <naratam...@yahoogro 
ups.com>

Sent: Tuesday, March 24, 2009 11:42:56 PM

Subject: [Forum-Pembaca- KOMPAS] DPT (Daftar Pemilih Tipuan)



Bayi Tabung

DPT (Daftar Pemilih Tiouan)



Oleh Adhie M Massardi



PRIMADONA pemilu 2009 ternyata bukan partai, juga bukan caleg, melainkan DPT 
(daftar pemilih tetap) dan Herman S Sumawiredja, jenderal polisi bintang dua. 
Lho. kok polisi, bukannya politisi? Memang bukan politisi. Tapi polisi dan 
politisi sekarang kan nyaris tak ada bedanya. Paling tidak, itu yang dirasakan 
Irjen Herman. Soalnya, konon gara-gara mau menindak Ketua KPUD Jatim, yang 
“patut dapat diduga” menyulap DPT pada pilgub Jatim, sehingga kandidat dukungan 
partainya Presiden menang, jabatannya sebagai Kapolda Jawa Timur langsung 
dicopot Kapolri. 



Petinggi Polri, ternyata juga seperti bos partai politik zaman Orba bila 
me-recall anggota DPRnya yang tidak sejalan, membantah keras Mabes intervensi 
urusan demokrasi. “Itu hanya pergantian antar-waktu biasa, PAW yang sudah 
dipersiapkan jauh hari sebelumnya!” Kita hanya bisa ketawa mendengar alasan 
klise parpol yang begini. Ketawa kita jadi lebih keras karena alasan model 
begini masih juga dipakai, oleh Mabes Polri lagi. Padahal zaman sudah kian 
transparan. Informasi apa pun gampang diakses. Termasuk info siapa yang bisa 
menembus mesin DPT, dan menggelembungkan angkanya.



Makanya, masuk akal bila bos sejumlah parpol, seperti Jusuf Kalla, Prabowo, 
Megawati, dan beberapa lainnya yang tak perlu disebut namanya, langsung 
meradang melihat modus operandi yang canggih di Jatim itu. Apalagi setelah 
terbukti di banyak tempat ternyata juga muncul DPT fiktif itu. Angka 
penggelembungannya berkisar antara 20 hingga 30 persen. 



Jadi kalau total DPT nasional 171.265.442 sesuai Perppu No 1/2009, maka jumlah 
pemilih yang dikategorikan “pemilih siluman” itu sekurang-kurangnya 42,8 juta, 
setara dengan 25 persen. Artinya, bila pemilih siluman itu di-pool di satu 
partai, tanpa harus kerja keras dan cukup tiduran di rumah, parpol perekayasa 
DPT siluman itu sudah bisa dipastikan bakal lahir sebagai pemenang pemilu 2009.



Jadi bila ini dibiarkan, maka pemilu 2009 untuk pertama kalinya dalam sejarah 
pemilu di muka bumi, akan melahirkan “bayi tabung”. Kok bayi tabung? Lho, bayi 
tabung itu kan bayi yang “proses pembuahanny


      

Kirim email ke