Wahai para Akang... Wahai para Abang... Wahai para Kakak Wahai para engkong... Wahai para eneng geulis Wahai para janda muda... Wahai para janda tua.... Wahai para kakek & nenek....
Maaf saya sedikit nulis ngawur..... Memperhatikan tulisan tsb, hati saya terenyuh......sangat kontradiktif dengan jorgan2 kampanye mereka yang mengusung pembangunan ekonomi kerakyatan atau pembangunan untuk semua (development for all istilah SBY) atau pembangunan pro rakyat. Adalagi yang mengusung tentang kemandirian bangsa istilah kata memberdayagunakan seluruh potensi dengan kekuatan sendiri (mandiri). Harusnya sudah bisa mandiri sejak dari dulu dan tidak ada lagi istilah rakyat mati dilumbung padi. Istilah kemandirian bangsa ini saya sebut ketinggalan zaman. Di zaman Soekarno aja semboyan model begitu sudah digulirkan. Seharusnya sekarang sudah maju dengan kemandirian, bukan lagi ngomongin masalah kemandirian bangsa itu sendiri. Apakah bisa diprecoyo mengenai jorgan-jorgan capres sekarang. mereka bicara membangun Indonesia dengan kekuatan sendiri maka cintailah segala apa yang ada di Indonesia termasuk kepemilikan uang dengan rupiah gak perlu miara dolar!!!. Malah ema saya di kampung beli jarum jait buat nambalin kain sarung tertulis "made in China", kadang suka ngomel-ngomel. "Cing sing isin kana kalangkan, maenya jarum kecos bae jieunan China, kaciri bodo pisan bangsa urang teh". Bahkan korek api (gas) ada tulisan TOKKAI itupun "made in China", hingga tusuk gigi aja dibuat oleh China. Jadi apa yang sudah diperoleh bangsa ini selama merdeka? Permahkah anda menemukan kebutuhan sehari-hari yang bertulisan "made in Indonesia", moal manggih! Emang dasarnya bangsa kita ini mental mandor dan kuli. Kuli dinegeri sendiri karena yang memegang kendali masalah teknologi dan modal (kapital) adalah negara-negara maju. ditunjang oleha penguasa negeri yang mau jadi komprador asing. Maaf bukan menjelekkan bangsa sendiri. Lalu melihat dua level kehidupan yang timpang antara Prabowo dan Heri Golang Gong. Dari segi materi Prabowo adalah orang yang berlebihan, karena harta kekayaannnya seabrek-abrek, sedangkan Heri adalah sosok orang yang dari segi materi ibarat "SORE DAHAR ISUK HENTEU". Namun ada satu hal yang istimewa yang dimiliki oleh Heri yaitu punya komitmen sosial yang tinggi melalui gerakan RUMAH DUNIA, walau dalam kondisi hidupnya pas-pasan dan ini Insya Allah jika landasannya Ikhlas Beramal akan mendapat kehormatan dimata Alllah. Tapi Wallahu'alam dengan Prabowo sebagai Ketua HKTI. Pernahkan kita dengar prestasi yang diraih oleh para Petani Indonesia? Jual gabah aja murah dan susah ...bahkan tak jarang kita menyaksikan berita bahwa para petani hidupnya pada susah......... Barangkali yang dikelola oleh HKTI adalah petani-petani berdasi juga kan? Kalau petani gurem barangkali keluar statmen EMANG GUE PIKIRIN. Maaf sekedar intermezo. Betapa indahnya, jika sosok model Prabowo mau mengeluarkan duitnya seharga satu ekor kuda kepada rumah dunia, niscaya rencana pembebasan tanah akan rampung dengan cepat. Ada istilah pepatah "GAJAH MATI MENINGGALKAN GADING, MACAN MATI MENINGGALKAN BELANG dan MANUSIA MATI MENINGGALKAN JASA". Siapapun presidennya Comro tetap comro tidak akan berubah menjadi Dunkin Donat!!!! ________________________________ Dari: Rumah Dunia <[email protected]> Kepada: WONG BANTEN <[email protected]>; Pena Lingkar <[email protected]>; watan sabah <[email protected]>; pembacakompas fpk <[email protected]>; media care <[email protected]>; [email protected]; milis <[email protected]>; suarapembaruan sp <[email protected]>; sanggar tasik <[email protected]>; PENYAIR <[email protected]>; banten media <[email protected]>; novelis milis <[email protected]>; deni indrawan <[email protected]> Terkirim: Senin, 8 Juni, 2009 08:52:08 Judul: [WongBanten] Kuda Prabowo disumbangkan ke Rumah Dunia KUDA PRABOWO & RUMAH DUNIA Oleh: Udo Yamin Majdi Hari ini (Rabu, 20 Mei 2009) Kompas.com memberitakan bahwa cawapres Prabowo Subianto mendaftarkan binatang peliharaan kuda berjumlah 84 ekor, yang membuat dia menjadi cawapres terkaya dengan total harta Rp 1,7 triliun. Mantan Panglima Kostrad itu mendaftarkan binatang peliharaan sebagai harta kekayaan karena ternyata harganya melebihi mobil mewah. Mobil sedan BMW 750Li saja berharga sekitar Rp 2,5 miliar, atau Mercedes Benz terbaru, seri E300, sekitar Rp 1,3 miliar, sementara tiga kuda milik Prabowo mencapai harga Rp 3 miliar per ekor. "Kuda itu harganya Rp 3 miliar per ekor. Tidak ada orang lain di Indonesia yang punya kuda semahal itu. Bahkan, mungkin termahal di Asia," ungkap Emon, karyawan Nusantara Polo Club saat ditemui Persda Network di Jagorawi Golf and Country Club (JGCC), Bogor, Jawa Barat. Tidak ada yang salah dengan berita itu. Namun, serasa ada sembilu yang merobek-robek hati saya, ketika saya teringat dengan postingan Gola Gong di beberapa milis, terutama milis Rumah Dunia. Dalam postingan itu, Gola Gong minta bantuan sebab ingin memperlebar wilayah Rumah Dunia dengan membeli lahan di samping timurnya seluas 2873 meter persegi. Harga tanah Rp 250.000,-/M2, sehingga dana yang dibutuhkan adalah: 2873 x Rp 250.000,- = Rp 718.250.000, - (Tujuh Ratus Delapan Belas Juta Dua Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah). Sejak pembuatan proposal tanggal 20 April 2009 hingga tanggal 17 Mei 2009, baru terkumpul dana untuk membeli seluas 473 meter persegi. Bila Probowo melelang seekor kudanya, lalu hasil jual tersebut dia berikan untuk Rumah Dunia, maka sepertiga uang itu sudah dapat membeli tanah dan dua pertiga lagi untuk membangun fasilitas —WC Umum, Kios Seni, Kios Jajanan Kampung, Lapangan Basket Mini, Gedung Kesenian, Panggung Terbuka, Gedung Perpustakaan, dan Kantor Sekretariat— di atasnya. Mungkinkah Prabowo mau melakukannya? Sampai unta masuk lubang jarum, kecil kemungkinan Prabowo akan melakukannya. Mengapa saya pesimis seperti ini? Sebab, saya sudah terlalui sering disuguhkan dengan ironi dan sikap para power elite —istilah ini berasal dari C. Wright Mills yang mengatakan bahwa dalam masyarakat ada kelompok penguasa yang menguasai alat-alat produksi dan politik, sedangkan di bawah ada massa yang dikuasai oleh elite itu— kurang berpihak kepada rakyat. Probowo dan Gola Gong potret keironian bangsa Indonesia . Probowo sebagai elit memiliki kekayaan melimpah ruah, sedangkan Gola Gong, jangankan untuk membeli tanah seluas 2873 m persegi itu, untuk biaya berobat saja, beliau harus bekerja keras dulu menulis, baru ada uang. Saya tidak menggugat kekayaan Probowo sebagaimana saya tidak mempermasalah kemiskinan Gola Gong. Kaya dan miskin, dua hal yang wajar dan natural. Tidak ada satu ayat pun dalam Al-Quran yang melarang menjadi orang kaya (aghniya). Al-Quran juga tidak menyalahkan kemiskinan; kesenjangan natural atau kesenjangan alamiah, Al-Quran menyebutnya dengan istilah adh-dhu'afa. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa Allah melebihkan seseorang di atas yang lain (baca: QS. Al-An'am [6]: 165). Dan Islam memberikan solusi hubungan antara orang kaya dan miskin harmonis, dengan cara zakat, shadaqah, dan infaq bagi orang kaya dan menahan diri dari minta-minta bagi orang miskin. Yang menjadi masalah adalah ketidakadilan. Mengapa tidak adil? Betapa tidak, 80% kekayaan di muka bumi ini berputar hanya pada kalangan konglomerat berjumlah 20%. Begitu juga di Indonesia . Padahal dalam Al-Quran surat At-Taubah [9]:34-35 ada larangan untuk mengedarkan kekayaan hanya di kalangan orang kaya saja. Terjadilah apa yang tersebut dalam lirik lagu Rhoma Irama: Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Kemiskinan ini bukan lagi natural lagi, melainkan kemiskinan yang disengaja, atau kesenjangan struktural. Dalam Al-Quran menyebutnya dengan istilah mustadh'afin (orang tertindas). Mereka miskin, bukan karena perbedaan pengetahuan, motivasi, keterampilan, lokasi, dan mementum, melainkan mereka secara sengaja "dimiskinkan" atau dibiarkan tetap miskin oleh sebuah sistim dan kebijakan. Mereka bukan tidak mau meningkatkan tarap hidup, melainkan mereka secara sistimatis tidak diberi peluang oleh pemerintah untuk melakukannya. Bantuan, kemudahan, dan peluang itu tidak berpihak kepada mereka. Dan Gola Gong termasuk diantara mereka itu. Dalam bukunya, MENGGENGGAM DUNIA: Bukuku, Hatiku (Dar Mizan, 2006), Gola Gong menceritakan bahwa beliau sejak kecil bercita-cita menjadi guru seperti kedua orang tuanya, namun kandas gara-gara rezim Soeharto banyak membuat peraturan yang mendiskriditkan orang cacat. Karena tangan kiri beliau diamputasi hingga siku, Gola Gong tidak diberi kesempatan menjadi guru, dan akhirnya menjadi penulis. Dalam Pengantar Penulis di buku itu, Gola Gong menuturkan: "Aku menjadi penulis karena perlakukan diskriminasi dari pemerintah, karena tubuhku cacat. Menulislah, satu jenis pekerjaan, yang tidak pernah meminta persyaratan tentang seseorang harus tidak cacat atau cacat" (hal. 16). Dan power elite --dalam konteks Indonesia , elite politik dan elite bisnis-- bertanggungjawab atas terjadinya kesenjangan struktural itu. Konon, sejak zaman Yunani kuno hingga kini yang sering menguasai negara adalah militer dan/atau orang kaya. Sampai Allah mengabadikan kisah (baca QS. Al-Baqarah [2]: 246-252) pengangkatan Thalut sebagai pemimpin, terjadilah dialog antara pemuka Bani Israil dengan nabi mereka. Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu". Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa". Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki- Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah [2]: 247) Sekarang kita perhatikan, siapakah capres dan cawapres Pemilu 2009? Bukankah mereka adalah orang-orang kaya, sehingga KPK perlu memeriksa "kekayaan", bukan "harta" mereka? Sayangnya, KPK hanya mengklarifikasi jumlah kekayaan, asal muasal kekayaan. Coba, kalau KPK memakai pertanyaan Allah di akhirat nanti, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis: Tidak bergeser kedua kaki anak Adam pada hari kiamat sebelum ditanya empat perkara; 1) tentang umurnya digunakan untuk apa, 2) tentang masa muda dihabiskan untuk apa, 3) TENTANG HARTA DARI MANA IA DAPATKAN DAN UNTUK APA IA GUNAKAN; dan 4) tentang ilmu sudahkah diamalkan." (HR. Tirmidzi). Cobalah KPK bertanya kepada para capres dan cawapres itu: untuk apa kekayaan Anda selama ini? Mungkin diantara mereka ada yang kebingungan, sebab kalau mereka jujur mereka akan malu, dengan jawaban ini: "Saya pergunakan untuk kampanye, meraih kekuasaan dan kalau udah berkuasa, saya pakai untuk mempertahankan kekuasaan!" Sudah menjadi rahasia umum para politisi itu jor-joran mengeluarkan uang untuk kampanye, misalnya hanya beberapa menit di televisi tapi menghabiskan ratusan juta. Bahkan, sebelum Pileg yang lalu, ada politisi mengeluarkan uang satu milyar hanya untuk kampanye 15 menit di sebuah tempat. Luar biasa bukan? Mengapa mereka berani mengeluarkan uang sebanyak itu? Silahkan Anda tanya langsung kepada mereka! Yang pasti, saya bisa memahami mengapa mereka tidak mau membantu program seperti yang dilakukan oleh Gola Gong, sebab secara politis dan bisnis, membantu Rumah Dunia tidak menguntungkan. Berbeda dengan membantu ormas yang memiliki massa banyak. Hanya orang yang murni berbuat baik, yang bisa membantu Rumah Dunia. Sebab, mereka sadar betul dengan firman Allah ini: "Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. " (QS. Ali Imran [3]: 92) Siapkah Probowo menginfaqkan satu kuda saja dari 84 kuda yang dia cintai itu untuk Rumah Dunia? Siapkah capres dan cawapres lainnya itu melakukan hal yang sama? Jika tidak, jangan salahkan saya --mungkin juga jutaan rakyat Indonesia-- bila saya mengalami --apa yang disebut oleh almarhum Kuntowijoyo- - legitimation crisis, yaitu hilangnya kepercayaan bahwa kaum elite akan mengurusi massa. Jangan salahkan pula, jika kami berpikir bahwa ada persekongkolan antara elite politik dan elite bisnis untuk menguasai rakyat. Sekali lagi jangan salahkan saya, bila saya tidak percaya lagi dengan sila ke-5 Pancasila: :Keadilan bagi SELURUH rakyat Indonesia . Dan mohon ma'af bila saya berubah pikiran, tadinya saya tidak setuju dengan Golput, akan Golput manakala calon pemimpin itu tidak berpihak pada rakyat miskin. Dan yang lebih membuat hati saya terluka adalah setelah LAZ berhasil menyejahtrakan sebagian rakyat miskin, tiba-tiba terdengar berita bahwa pemerintah akan membuat undang-undang berisikan bahwa hanya pemerintah saja yang mengurus zakat, sedangkan masyarakat tidak boleh mengelolanya. Lucu bukan, mereka alergi dengan syari'at Islam dan sering mengatakan urusan agama adalah privacy, namun giliran tentang pengelola zakat dan haji mereka begitu bersemangat bahwa itu tugas mereka? Dan di manakah nurani kita, jika kita lebih mendahulukan membeli binatang seharga 3 milyar dibandingkan membantu orang-orang yang dengan tulus untuk membantu mencerdaskan bangsa lewat dunia kepenulisan dan perbukuan? Nah, menurut Anda, penting manakah antara Kuda Prabowo dengan Rumah Dunia? Wallahu a'lam. Tafahna El-Asyraf Mesir, 20 Mei 2009 ============ ========= ====== Tulisan ini saya buat tanpa bermaksud mencemarkan nama seseorang atau memprovokasi orang lain untuk membenci pemerintah atau ajakan Golput, melainkan saya tulis sebagai "curhat" sekaligus renungan bersama untuk memperbaiki bangsa Indonesia dengan cara apapun, tidak hanya lewat politik. Dan salah satu caranya adalah membantu orang-orang yang ingin mencerdaskan bangsa seperti yang dilakukan oleh Gola Gong dengan Rumah Dunianya. Bagi siapa saja yang merasa tertarik membantu Rumah Dunia, silahkan KLIK DI SINI: www.rumahdunia. net Cepat, Bebas Iklan, Kapasitas Tanpa Batas - Dengan Yahoo! Mail Anda bisa mendapatkan semuanya. http://id.mail.yahoo.com
