________________________________________________________________________
18. Indonesia = lokasi ATLANTIS yang hilang (Prof. Arysio Santos)
    Posted by: "Satrio Arismunandar" 
    Date: Wed Oct 7, 2009 1:20 am ((PDT))
From: Krisna Budiawan 
Sent: Monday, October 05, 2009 2:26 PM
Subject: FW: Indonesia Truly Atlantis
 
Dari milis tetangga,
 
--- On Sun, 10/4/09, vinazella tengku 

Ingat iklan pariwisata Malaysia yang cantik itu ? Malaysia, Truly Asia... 

Banyak
orang Kita yang sebal melihat iklan yang bagus itu, karena banyak
hal-hal yang digambarkan dalam iklan itu sebenarnya lebih banyak
dijumpai di pelbagai wilayah Indonesia dari pada di Malaysia. 
Yah, Kita selalu `keduluan´ oleh mereka. 
Hal
lain yang menyebalkan menyangkut negeri tercinta ini adalah manakala
Ada yang mengatakan bahwa banyak orang di Amerika atau di luar negeri
yang tidak mengenal Indonesia. Katanya mereka tahu Bali, tapi Indonesia
itu dimana sih...., konon tanya mereka...... 
Tapi perkembangan
terbaru rada beda ; mempromosikan Indonesia akhir-akhir ini mestinya
ibarat mendayung perahu ke hilir, yang didorong arus sungai dari
belakang. Banyak kemudahan yang didapat secara gratis. 
Bukan hanya
akibat kedatangan Hillary Rodam Clinton, tapi terutama oleh ulah Prof.
Arysio N. Dos Santos yang menerbitkan buku yang menggemparkan :
"Atlantis the Lost Continents Finally Found". 


Dimana ditemukannya ? 
Secara
tegas dinyatakannya bahwa lokasi Atlantis yang hilang sejak kira-kira
11.600 tahun yang lalu itu adalah di Indonesia (!). 
Selama ini,
benua yang diceritakan Plato 2.500 tahun yang lalu itu adalah benua
yang dihuni oleh bangsa Atlantis yang memiliki peradaban yang sangat
tinggi dengan alamnya yang sangat kaya, yang kemudian hilang tenggelam
ke dasar laut oleh bencana banjir Dan gempa bumi sebagai hukuman dari
para Dewa. Kisah Atlantis ini dibahas dari masa ke masa, Dan upaya
penelusuran terus pula dilakukan guna menemukan sisa-sisa peradaban
tinggi yang telah dicapai oleh bangsa Atlantis itu. 
Pencarian
dilakukan di samudera Atlantik, Laut Tengah, Caribea, sampai ke kutub
Utara. Pencarian ini sama sekali tidak Ada hasilnya, sehingga sebagian
orang beranggapan bahwa yang diceritakan Plato itu hanyalah negeri
dongeng semata. 
Professor Santos yang ahli Fisika Nuklir ini
menyatakan bahwa Atlantis tidak pernah ditemukan karena dicari di
tempat yang salah. 
Lokasi yang benar secara menyakinkan adalah
Indonesia, katanya. Dia mengatakan bahwa dia sudah meneliti kemungkinan
lokasi Atlantis selama 29 tahun terakhir ini. 
Ilmu yang digunakan
Santos dalam menelusur lokasi Atlantis ini adalah ilmu Geologi,
Astronomi, Paleontologi, Archeologi, Linguistik, Ethnologi, Dan
Comparative Mythology. 
Kualifikasi Santos dapat dilihat dengan cara di KLIK DISINI. 
Buku
Santos sewaktu ditanyakan ke `Amazon.com´ seminggu yang lalu ternyata
habis tidak bersisa. Bukunya ini terlink ke 400 buah sites di Internet,
Dan websitenya sendiri menurut Santos selama ini telah dikunjungi
sebanyak 2.500.000 visits. 
Ini adalah iklan gratis untuk
mengenalkan Indonesia secara efektif ke dunia luar, yang tidak
memerlukan Dana 1 sen pun dari Pemerintah RI. 
Sebagaimana dapat
diikuti dari websitenya, Plato menulis tentang Atlantis pada masa
dimana Yunani masih menjadi pusat kebudayaan Dunia Barat (Western
World). 
Sampai saat ini belum dapat dideteksi apakah sang ahli
falsafah ini hanya menceritakan sebuah mitos, moral fable, science
fiction, ataukah sebenarnya dia menceritakan sebuah kisah sejarah.
Ataukah pula dia menjelaskan sebuah fakta secara jujur bahwa Atlantis
adalah sebuah realitas absolut ? 
Plato bercerita bahwa Atlantis
adalah sebuah negara makmur dengan emas, batuan mulia, Dan `mother of
all civilazation´ dengan kerajaan berukuran benua yang menguasai
pelayaran, perdagangan, menguasai ilmu metalurgi, memiliki jaringan
irigasi, dengan kehidupan berkesenian, tarian, teater, musik, Dan
olahraga. 
Warga Atlantis yang semula merupakan orang-orang
terhormat Dan kaya, kemudian berubah menjadi ambisius. Para dewa
kemudian menghukum mereka dengan mendatangkan banjir, letusan gunung
berapi, Dan gempa bumi yang sedemikian dahsyatnya sehingga
menenggelamkan seluruh benua itu. 
Kisah-kisah sejenis atau mirip
kisah Atlantis ini yang berakhir dengan bencana banjir Dan gempa bumi,
ternyata juga ditemui dalam kisah-kisah sakral tradisional di berbagai
bagian dunia, yang diceritakan dalam bahasa setempat. 
Menurut
Santos, ukuran waktu yang diberikan Plato 11.600 tahun BP (Before
Present), secara tepat bersamaan dengan berakhirnya Zaman Es
Pleistocene, yang juga menimbulkan bencana banjir Dan gempa yang sangat
hebat. 
Bencana ini menyebabkan punahnya 70% dari species mamalia
yang hidup saat itu, termasuk kemungkinan juga dua species manusia :
Neandertal Dan Cro-Magnon. 
Sebelum terjadinya bencana banjir itu,
pulau Sumatera, pulau Jawa, Kalimantan Dan Nusa Tenggara masih menyatu
dengan semenanjung Malaysia Dan benua Asia. 

Gambar 1 : Atlantis 
Sulawesi,
Maluku Dan Irian masih menyatu dengan benua Australia Dan terpisah
dengan Sumatera Dan lain-lain itu. Kedua kelompok pulau ini dipisahkan
oleh sebuah Selat yang mengikuti garis `Wallace´. Lihat gambar 1. 


Gambar 2 : Atlantis (National Geographic Magazine) 
Posisi
Indonesia terletak pada 3 lempeng tektonis yang saling menekan, yang
menimbulkan sederetan gunung berapi mulai dari Sumatera, Jawa, Nusa
Tenggara, Dan terus ke Utara sampai ke Filipina yang merupakan bagian
dari `Ring of Fire´. 
Gunung utama yang disebutkan oleh Santos,
yang memegang peranan penting dalam bencana ini adalah Gunung Krakatau
Dan `sebuah gunung lain´ (kemungkinan Gunung Toba). Gunung lain yang
disebut-sebut (dalam kaitannya dengan kisah-kisah mytologi adalah
Gunung Semeru, Gunung Agung, Dan Gunung Rinjani. 
Bencana alam
beruntun ini menurut Santos dimulai dengan ledakan dahsyat gunung
Krakatau, yang memusnahkan seluruh gunung itu sendiri, Dan membentuk
sebuah kaldera besar yaitu selat Sunda yang jadinya memisahkan pulau
Sumatera Dan Jawa. 
Letusan ini menimbulkan tsunami dengan
gelombang laut yang sangat tinggi, yang kemudian menutupi
dataran-dataran rendah diantara Sumatera dengan Semenanjung Malaysia,
diantara Jawa dan Kalimantan, dan antara Sumatera dan Kalimantan. 
Abu
hasil letusan gunung Krakatau yang berupa `fly-ash´ naik tinggi ke
udara dan ditiup angin ke seluruh bagian dunia yang pada masa itu
sebagian besar masih ditutup es (Zaman Es Pleistocene) . 
Abu ini
kemudian turun dan menutupi lapisan es. Akibat adanya lapisan abu, es
kemudian mencair sebagai akibat panas matahari yang diserap oleh
lapisan abu tersebut. 
Gletser di kutub Utara dan Eropah kemudian meleleh dan mengalir ke seluruh 
bagian bumi yang rendah, termasuk Indonesia. 
Banjir
akibat tsunami dan lelehan es inilah yang menyebabkan air laut naik
sekitar 130 meter diatas dataran rendah Indonesia. Dataran rendah di
Indonesia tenggelam dibawah muka laut, dan yang tinggal adalah dataran
tinggi dan puncak-puncak gunung berapi. Lihat Gambar 1. 
Tekanan
air yang besar ini menimbulkan tarikan dan tekanan yang hebat pada
lempeng-lempeng benua, yang selanjutnya menimbulkan letusan-letusan
gunung berapi selanjutnya dan gempa bumi yang dahsyat. Akibatnya adalah
berakhirnya Zaman Es Pleitocene secara dramatis. 
Dalam bukunya
Plato menyebutkan bahwa Atlantis adalah negara makmur yang bermandi
matahari sepanjang waktu. Padahal zaman pada waktu itu adalah Zaman Es,
dimana temperatur bumi secara menyeluruh adalah kira-kira 15 derajat
Celcius lebih dingin dari sekarang. 
Lokasi yang bermandi sinar matahari pada waktu itu hanyalah Indonesia yang 
memang terletak di katulistiwa. 
Plato
juga menyebutkan bahwa luas benua Atlantis yang hilang itu "....lebih
besar dari Lybia (Afrika Utara) dan Asia Kecil digabung jadi satu...".
Luas ini persis sama dengan luas kawasan Indonesia ditambah dengan luas
Laut China Selatan. 
Menurut Profesor Santos, para ahli yang
umumnya berasal dari Barat, berkeyakinan teguh bahwa peradaban manusia
berasal dari dunia mereka. Tapi realitas menunjukkan bahwa Atlantis
berada di bawah perairan Indonesia dan bukan di tempat lain. 


Santos
telah menduga hal ini lebih dari 20 tahunan yang lalu sewaktu dia
mencermati tradisi-tradisi suci dari Junani, Roma, Mesir, Mesopotamia,
Phoenicia, Amerindian, Hindu, Budha, dan Judeo-Christian. 
Walau
dikisahkan dalam bahasa mereka masing-masing, ternyata istilah-istilah
yang digunakan banyak yang merujuk ke hal atau kejadian yang sama. 
Santos
menyimpulkan bahwa penduduk Atlantis terdiri dari beberapa suku/etnis,
dimana 2 buah suku terbesar adalah Aryan dan Dravidas. 
Semua suku
bangsa ini sebelumya berasal dari Afrika 3 juta tahun yang lalu, yang
kemudian menyebar ke seluruh Eurasia dan ke Timur sampai Auatralia
lebih kurang 1 juta tahun yang lalu. 
Di Indonesia mereka menemukan
kondisi alam yang ideal untuk berkembang, yang menumbuhkan pengetahuan
tentang pertanian serta peradaban secara menyeluruh. Ini terjadi pada
zaman Pleistocene. 
Pada Zaman Es itu, Atlantis adalah surga tropis
dengan padang-padang yang indah, gunung, batu-batu mulia, metal
berbagai jenis, parfum, sungai, danau, saluran irigasi, pertanian yang
sangat produktif, istana emas dengan dinding-dinding perak, gajah, dan
bermacam hewan liar lainnya. 
Menurut Santos, hanya Indonesialah yang sekaya ini (!). 
Ketika
bencana yang diceritakan diatas terjadi, dimana air laut naik setinggi
kira-kira 130 meter, penduduk Atlantis yang selamat terpaksa keluar dan
pindah ke India, Asia Tenggara, China, Polynesia, dan Amerika. 
Suku
Aryan yang bermigrasi ke India mula-mula pindah dan menetap di lembah
Indus. . Karena glacier Himalaya juga mencair dan menimbulkan banjir di
lembah Indus, mereka bermigrasi lebih lanjut ke Mesir, Mesopotamia,
Palestin, Afrika Utara, dan Asia Utara. 
Di tempat-tempat baru ini mereka kemudian berupaya mengembangkan kembali budaya 
Atlantis yang merupakan akar budaya mereka. 
Catatan
terbaik dari tenggelamnya benua Atlantis ini dicatat di India melalui
tradisi-tradisi cuci di daerah seperti Lanka, Kumari Kandan, Tripura,
dan lain-lain. Mereka adalah pewaris dari budaya yang tenggelam
tersebut. 
Suku Dravidas yang berkulit lebih gelap tetap tinggal di Indonesia. 
Migrasi
besar-besaran ini dapat menjelaskan timbulnya secara tiba-tiba atau
seketika teknologi maju seperti pertanian, pengolahan batu mulia,
metalurgi, agama, dan diatas semuanya adalah bahasa dan abjad di
seluruh dunia selama masa yang disebut Neolithic Revolution. 
Bahasa-bahasa
dapat ditelusur berasal dari Sansekerta dan Dravida. Karenanya
bahasa-bahasa di dunia sangat maju dipandang dari gramatika dan
semantik. 
Contohnya adalah abjad. Semua abjad menunjukkan adanya
"sidik jari" dari India yang pada masa itu merupakan bagian yang
integral dari Indonesia. 
Dari Indonesialah lahir bibit-bibit
peradaban yang kemudian berkembang menjadi budaya lembah Indus, Mesir,
Mesopotamia, Hatti, Junani, Minoan, Crete, Roma, Inka, Maya, Aztek, dan
lain-lain. 
Budaya-budaya ini mengenal mitos yang sangat mirip.
Nama Atlantis diberbagai suku bangsa disebut sebagai Tala, Attala,
Patala, Talatala, Thule, Tollan, Aztlan, Tluloc, dan lain-lain. 
Itulah
ringkasan teori Profesor Santos yang ingin membuktikan bahwa benua
atlantis yang hilang itu sebenarnya berada di Indonesia. 
Bukti-bukti
yang menguatkan Indonesia sebagai Atlantis, dibandingkan dengan lokasi
alternative lainnya disimpulkan Profesor Santos dalam suatu matrix yang
disebutnya sebagai `Checklist´ (KLIK DISINI). 
Terlepas dari benar
atau tidaknya teori ini, atau dapat dibuktikannya atau tidak kelak
keberadaan Atlantis di bawah laut di Indonesia, teori Profesor Santos
ini sampai saat ini ternyata mampu menarik perhatian orang-orang luar
ke Indonesia. 
Teori ini juga disusun dengan argumentasi atau hujjah yang cukup jelas. 
Kalau
ada yang beranggapan bahwa kualitas bangsa Indonesia sekarang sama
sekali "tidak meyakinkan" untuk dapat dikatakan sebagai nenek moyang
dari bangsa-bangsa maju yang diturunkannya itu, maka ini adalah suatu
proses maju atau mundurnya peradaban yang memakan waktu lebih dari
sepuluh ribu tahun. 
Contoh kecilnya, ya perbandingan yang sangat
populer tentang orang Malaysia dan Indonesia; dimana 30 tahunan yang
lalu mereka masih belajar dari kita, dan sekarang mereka relatif berada
di depan kita. 
Allah SWT juga berfirman bahwa nasib manusia ini
memang Dia pergilirkan. Yang mulia suatu saat akan menjadi hina, dan
sebaliknya. 
Profesor Santos akan terus melakukan penelitian
lapangan lebih lanjut guna membuktikan teorinya. Kemajuan teknologi
masa kini seperti satelit yang mampu memetakan dasar lautan, kapal
selam mini untuk penelitian (sebagaimana yang digunakan untuk menemukan
kapal `Titanic´), dan beragam peralatan canggih lainnya diharapkannya
akan mampu membantu mencari bukti-bukti pendukung yang kini diduga
masih tersembunyi di dasar laut di Indonesia. 
Apa yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan bangsa Indonesia ? 
Bagaimana
pula pakar Indonesia dari berbagai disiplin keilmuan menanggapi teori
yang sebenarnya "mengangkat" Indonesia ke posisi sangat terhormat :
sebagai asal usul peradaban bangsa-bangsa seluruh dunia ini ? 
Coba dong beri pula perhatian yang memadai. 
Atau
coba kita renungkan penyebab Atlantis dulu dihancurkan : penduduk
cerdas terhormat yang berubah menjadi ambisius serta berbagai kelakuan
buruk lainnya (mungkin `korupsi´ salah satunya). Nah, salah-salah
Indonesia sang "mantan Atlantis" ini bakal kena hukuman lagi nanti
kalau tidak mau berubah seperti yang ditampakkan bangsa ini secara
terang-terangan sekarang ini. 
Khususnya bagi warga Minang, Ada juga `utak-atik´ yang bisa dilakukan. 
Santos
mengatakan berdasarkan penelitiannya bahwa berbagai kisah tentang
negara bak `surga´ yang kemudian menjadi hilang, bencana banjir besar,
letusan gunung berapi, dan gempa dahsyat ditemui pada kisah-kisah
berbagai bangsa di seluruh dunia. Kisah ini mirip satu dengan lainnya. 
Apa pula kata Tambo Minangkabau tentang ranah Minang zaman baheula ? 

"....Pada
maso sabalun babalun balun, urang balun pinangpun balun, samaso tanah
ameh ko sabingkah jo Simananjuang, kok gunuang baru sabingkah batu,
tanah darek balun lai leba......, lah timbua gunung Marapi" (Pada masa
serba belum, orang belum pinangpun belum, semasa tanah emas ini masih
menyatu dengan Semenanjung, gunung baru sebingkah batu, tanah daratan
belum lebar, sudah timbul gunung Merapi). Ada lagi "...waktu bumi
basintak naiak, lauik basintak turun..." (Sewaktu daratan bergerak
naik, laut bergerak turun). 

`.........Samaso tanah ameh sabingkah jo Simananjuang´ , ini adalah masa 
sewaktu Atlantis masih exist. 

Salah satu Menhir di Mahat 

Sayang
gerombolan Krakatau nggak di bawa kesini waktu berdarma wisata.
 Padahal tinggal lewat aja .... Siapa sih tur guide nya ? 

Konon
kabarnya pula, sejumlah menhir yang berjumlah 800an buah di Mahat
posisinya menghadap kearah matahari terbit, atau kearah Timur. 
Arah
Timur dari Mahat adalah arah lokasi Atlantis versi Santos yang
tenggelam oleh tsunami, banjir, letusan gunung berapi dan gempa
bumi.Arah Timur dari Mahat adalah arah lokasi Atlantis versi Santos
yang tenggelam oleh tsunami, banjir, letusan gunung berapi dan gempa
bumi. 
Pulau Sumaterapun ternyata tertulis dalam kisah Atlantis, yang disebut sebagai 
Taprobane. 
Dulu
Taprobane ini diartikan sebagai Ceylon, tapi kalau melihat ukuran
besarnya tidak syak lagi bahwa Taprobane adalah Sumatera yang
dikisahkan kaya dengan emas, batuan mulia, dan beragam binatang
termasuk gajah. 
Itulah kira-kira teori Santos secara sangat ringkas. 
Bagi yang berminat untuk membaca lebih jelas, dapat langsung ke website 
Profesor Santos http://atlan. org/ atau membeli bukunya yang disebutkan diatas 
ke penerbit `Amazon.com´ (kalau sudah ada terbitan barunya). 
Dan....perusahaan penerbangan mana yang akan memulai dengan iklan : Indonesia, 
Truly Atlantis.........[eb]


      

Kirim email ke