demikianlah berita tentang saudara kita di bagian laen
nusantara, yang nampaknya lebih susah kondisinya di
bandingkan di jaman kolonial. ternyata kolonial internal
lebih kejam dari bapak-ibu tiri (belanda)!
maaf kalau ganda.



----- Forwarded Message ----
From: Agus Hamonangan <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Fri, December 4, 2009 1:31:28 PM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Mari Bicara Kebenaran tentang Papua

  
http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/12/04/ 03584920/ mari.bicara. 
kebenaran. tentang.papua

Forum diskusi mengenai kekerasan terhadap perempuan, militerisme, globalisasi 
ekonomi, dan diskriminasi rasial dalam konteks Papua di Jakarta, Minggu 
(29/11), terasa pahit ketika Fientje Yarangga dari Konsultasi Independen 
Pemberdayaan Rakyat Biak menggemakan suara korban yang telah begitu lama 
kehilangan ruang.

"Kami perempuan Papua terjepit dan terkepung dari semua arah.... Sejarah rakyat 
Papua berlumur darah dan perempuan menjadi korban kekerasan aksi-aksi militer 
yang membabi buta…. Di rumah pun kami menjadi korban kekerasan bertubi-tubi… ."

Hal itu diungkapkan sebelum ia memaparkan hasil pendokumentasian bersama yang 
memberikan gambaran kekerasan terhadap perempuan dan mencoba memetakan 
peristiwa-peristiwa kunci saat perempuan Papua mengalami kekerasan.

Upaya membangun pendokumentasian bersama diawali dengan diskusi pada awal 2009. 
Atas permintaan Majelis Rakyat Papua, Komnas Perempuan melakukan penguatan 
terhadap kelompok masyarakat yang melakukan dokumentasi kekerasan terhadap 
perempuan sepanjang masa konflik di Papua.

Upaya itu dapat dijadikan bagian dari gerakan Mari Bicara Kebenaran yang 
diluncurkan dalam acara Puncak Perayaan 10 Tahun Komnas Perempuan di Jakarta, 
Senin (30/11).

Gerakan ini mengajak setiap warga bangsa membuka diri pada sejarah kelam 
Indonesia dengan menyimak penuturan para korban. Gerakan ini diharapkan menjadi 
kekuatan pengikat bangsa Indonesia untuk bersama melawan lupa dan memastikan 
kejadian serupa tak terulang lagi.

Pola kekerasan

Pendokumentasian itu juga merupakan upaya memahami pola kekerasan terhadap 
perempuan, mencakup kekerasan oleh aparat, kekerasan akibat perampasan sumber 
daya alam di Tanah Papua, dan kekerasan dalam rumah tangga yang diperparah 
masuknya minuman keras serta pengelolaan dana otonomi khusus yang tidak tepat 
sasaran.

"Persoalan alkohol impor ini terkait erat dengan operasi Freeport dan korporasi 
multinasional lain di Papua. Masalah ini lebih dari persoalan sosial. Itu 
bagian dari persoalan politik," ujar Sunila Abeysekera.

Direktur Eksekutif International Women's Rights Action Watch Asia Pacific 
(IWRAW) yang berkedudukan di Kuala Lumpur, Malaysia, itu bersama beberapa tokoh 
hak asasi manusia di kawasan regional dan internasional hadir dalam rangkaian 
acara ulang tahun ke-10 Komnas Perempuan.

"Situasi perempuan Papua sangat sulit karena di dalam budaya komunitas 
indigenous posisi perempuan sangat rentan terhadap penindasan. Dalam situasi 
itu mereka juga terpapar dan menjadi subyek kekerasan akibat kehadiran militer 
dan korporasi multinasional. Bentuk-bentuk kekerasan itu saling berinteraksi, 
menyebabkan perempuan Papua mengalami penindasan berganda," lanjut Sunila.

Dokumentasi

Persis seperti itu pula kesimpulan tim dokumentasi yang dipaparkan Fientje.

Tim dokumentasi menemukan 255 kasus kekerasan terhadap perempuan berdasarkan 
wawancara dengan 209 korban dan mencatat informasi kasus yang disampaikan 46 
saksi atau pelapor.

"Selama lebih kurang 46 tahun, penanganan masalah pembangunan di Papua 
dititikberatkan pada dua hal: pendekatan teritorial untuk integrasi wilayah 
Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dan pemupukan modal dari 
Papua ke Jakarta," ungkap Hana S Hikoyabi, Wakil Ketua Majelis Rakyat Papua.

Menurut Hana, dua pendekatan itu merupakan sumber pelanggaran hak-hak sipil, 
politik, ekonomi, sosial, dan budaya rakyat Papua. Mereka yang berani 
menyuarakan ketidakadilan selalu dianggap separatis sehingga Papua pernah 
ditetapkan sebagai daerah operasi militer.

Sunila mengatakan, posisi perempuan, terlebih perempuan dari komunitas 
indigenous, sangat rumit dalam proses pembentukan negara-bangsa. Dalam proses 
itu, perempuan senantiasa terpapar pada kekerasan dan pelanggaran.

Penegakan HAM

Kegiatan pendokumentasian, menurut Hana, dilakukan dalam konteks mewujudkan 
amanat konstitusional tentang perlunya upaya sistematis yang berkemanusiaan 
dalam rangka penegakan dan pemenuhan hak-hak asasi perempuan Indonesia, 
khususnya Papua.

"Kami mungkin terlupakan dari perencanaan pembangunan negeri ini," ujar Hana, 
"Mengapa tak ada usaha serius menahan penyebaran HIV yang tak hanya membuat 
kami, perempuan, terpojok, tetapi juga bisa menghabisi penduduk Papua?"

Penyebaran HIV terkait dengan praktik prostitusi, perdagangan perempuan, dan 
peredaran obat terlarang di wilayah eksploitasi tambang, hutan, perkebunan, dan 
perikanan. Di sisi lain, terjadi konflik sumber daya alam dengan masuknya 
investor tanpa kesepakatan dengan masyarakat pemilik hak ulayat.

Alih-alih mengatasi persoalan itu, Tentara Nasional Indonesia malah berencana 
melakukan pemekaran komando teritorial dengan menambah komando daerah militer 
(kodam) di Papua. "Akan ada dua kodam di Papua. Keputusan itu tak bisa 
diintervensi, " ujar Hana.

Menanggapi para penanya yang kritis, Mardiana dari Departemen Hukum dan HAM 
mengatakan, pelanggaran terjadi karena rendahnya pemahaman aparat mengenai hak 
asasi manusia. Jawaban itu, tentu saja, tidak memuaskan.

Akan tetapi, tampaknya memang persoalan hak asasi manusia kurang ditanggapi 
serius oleh aparat. Evaluasi TIFA, lembaga yang bekerja untuk memperkuat 
masyarakat sipil di Indonesia, memperlihatkan, Rancangan Aksi Nasional Hak 
Asasi Manusia 2004-2009 yang dibuat Departemen Hukum dan HAM, melibatkan aparat 
pemda, tokoh masyarakat dan agama, tidak berjalan efektif.

"RAN HAM sudah ada di sekitar 400 kabupaten, tetapi banyak aparat pemda 
menganggapnya hanya sebatas proyek," ujar Renata Arianingtyas, Citizenship and 
Equality Program Manager TIFA. (MH/NMP)


 


      

Kirim email ke