Lebak 181 Tahun

Berkaca Pada Sejarah Untuk Membangun Daerah





Judul Buku              : Lebak 181 Tahun Bara Menjadi Daya

Editor                  : Firman Venayaksa dan Fitron Nur Ikhsan

Penerbit                : Humas dan Komunikasi Kabupaten Lebak

Tebal Buku              : xx+230 halaman

Tahun Terbit            : Desember 2009

ISBN                    : 978-979-15451-4-3







Membaca buku yang berjudul Lebak 181 Tahun Bara Menjadi Daya,
mengingatkan kita pada sebuah paham di Jepang. Paham Gige Kaiping,
paham tersebut berpijak pada sejarah masa lalu untuk melakukan
perubahan-perubahan atas nama ketertinggalan yang dialami bangsa
Jepang, ketika Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh sekutu. Dalam keadaan
porak-poranda dan tanah terkena radiasi aktif yang disebabkan oleh sisa
ledakan; gedung hancur, tanah tak bisa ditanami, dan yang lebih
mengenaskan, banyaknya penduduk Jepang yang tercerai-berai dan
terbunuh. Jepang seperti negara mati, tak ada kehidupan, seusai ledakan
yang mencekam. 

Kemudian dengan kejadian yang cukup dahsyat itu, yang memukul mundur
para tentara Jepang di Indonesia. Akhirnya mereka melakukan satu
pemikiran, dalam hal ini, paham Gige Kaiping. Seperti apakah bentuk
pemikiran itu? yaitu, untuk mencintai sejarah bangsa Jepang yang diharu
-biru agar dapat bangkit dari keterpurukan pasca perang. Tidak mungkin
Jepang akan membangun pertanian dalam waktu singkat, disebabkan tanah
sudah tercemar radiasi aktif, maka, munculah ide dan gagasan Jepang
bangkit bersama dengan keunggulan teknologi. Pertanyaan yang muncul
kala itu, bukan berapa penduduk Jepang yang meninggal, juga bukan
berapa tentara Jepang yang terbunuh, melainkan berapa sisa guru yang
masih hidup. Dengan paham Gige Kaiping inilah Jepang kini kembali
bersinar dan menjadi sebuh negara yang cukup diperhitungkan di Asia.

Secara tendensius, ketika kita membaca buku Lebak 181 Tahun Bara
Menjadi Daya, semangat nasionalisme itu terlihat jelas. Semangat
perjuangan itu tergambar jelas; membangun pendidikan, membangun
perekonomian, mensejahterakan rakyat, dan membangun keadilan dan
kemandirian bagi seluruh rakyat Lebak dengan mengacu pada otonomi
daerah. Lihat saja sambutan dari Bupati Lebak di awal halaman buku ini;
Manusia yang bermartabat tidak akan puas dengan kehidupan karena belas
kasihan orang lain, dan tidak ingin bergantung pada bantuan orang lain.
Oleh karena itu, satu paradigma yang takkan pernah berubah sepanjang
sejarah manusia kebutuhan manusia akan lapangan pekerjaan. Keterbatasan
lapangan kerja, kemiskinan, ketimpangan dan keterbelakangan, adalah
empat masalah yang ingin dipecahkan dengan pembangunan. Keempat hal
tersebut, selain merupakan lawan dari keadaan sejahtera, juga merupakan
penghalang bagi upaya untuk meningkatakan kesejahteraan. Akan tetapi
juga mencerminkan ketidakadilan, dan dengan demikian, bertentangan
dengan nilai kemanusiaan.

Upaya untuk menyeimbangkan kesejahteraan sesuai dengan upaya yang
diharapkan Bupati Lebak, bukan sesuatu yang gampang, melainkan upaya
yang keras bagi seluruh elemen dan lapisan masyarakat Lebak. Tanpa
kesepahaman dan tujuan pembangunan yang sama, tentu buku ini hanya akan
jadi penghias lemari di kantor-kantor instansi. 

Buku yang diterbitkan dalam rangka hari ulang tahun yang ke 181
Kabupaten Lebak ini, cukup menarik untuk dibaca. Mengetahui secara
detail bagaimana ekonomi, pembangunan, pendidikan dan harapan
masyarakat Lebak. Buku yang di dibagi menjadi beberapa bagian, bagian
I, Menyulut Bara Menjadi Daya. Dalam bagian I ini, dituliskan sejumlah
artikel-artikel pendek yang mencoba memompa semangat masyarakat Lebak
dengan ghiroh ketertinggalan dan keterpurukan, menjadi cambuk untuk
mensejajarkan sekaligus memperkenalkan Wilayah Lebak. Bagian II,
Ketajaman Mata Pena Dari Kelembutan Matahati, dalam bagian II ini,
dituliskan artikel-artikel dari para tokoh; pendidikan, pelaku kesenian
dan kebudayaan, Orsos, Ormas Islam dan mahasiswa Banten. Untuk juga
memberikan sumbang -saran pembangunan dan sekaligus (critic building),
bagi Lebak ke depan. Beberapa di antaranya sudah tidak asing lagi bagi
kita; Hasan Alyadrus, Bonnie Tryana, Muchtar Mandala, Gola Gong, Prof.
Dr. Yoyo Mulyana, M. Ed, dan Prof. Dr. Sholeh Hidayat, M.Pd. Dan
tentunya penulis-penulis yang lain sesuai pakar dan bidangnya. Bagian
III, Pribadi Tangguh Pantang Mengeluh, pada bagian ini diceritakan
tentang perjuangan orang-orang yang mengais rizki, membangun
kemandirian, dan mengobarkan semangat perjuangan di Lebak. Dimulai dari
jasa tukang semir di stasiun. Pemilik toko seluler yang dulunya tukang
cleaning service, kemudian saat ini mengeruk keuntungan Rp. 30-50 juta
perhari. Bahkan kalau musim lebaran sampai 150 juta, hingga pengabdian
seorang guru di Cicakal Girang, sebuah tempat terpencil di Lebak yang
sangat memprihatinkan, dalam rangka menyebarkan islam sejak 17 tahun
silam sampai saat ini belum diangkat menjadi PNS. Tetapi tetap tabah
berjuang digarda terdepan dalam ruang pendidikan. (hal. 2004-2013).

Tentu sesuai isi dan harapan masyarakat Lebak pada umumnya, buku ini
diharapkan “membakar” semangat juang kebersamaan guna membangun Lebak
yang berkeadilan. Kita menyadari betul, ketertinggalan bangsa ini
karena kita mengenyampingkan dunia pendidikan. Setelah dunia pendidikan
dikesampingkan, maka akar kebudyaan yang adiluhung tersisih, menjadi
jauh dari harapan. Artikel-artikel yang terangkum pada buku Lebak 181
Tahun Bara Menjadi Daya, kita dapat menemukan benang merah, bahwa Lebak
akan mampu bersaing manakala pendidikan di nomor satukan. Seraya
mengutip pernyataan Abdus Subhan Jayani, MBA dengan tulisannya yang
berjudul “Lebak dan Pendidikan,” ….. kewajiban mendidik anak bangsa
bukanlah kewajiban parsial (fardu kipayah) yang boleh diwakilkan pada
orang lain dalam pelaksanannya. Tetapi kewajiban mendidik anak bangsa
adalah kewajiban individual (fardu ‘ain) yang harus dilakaukan secara
perorangan kepada maupun setiap warga Negara Indonesia. (hal. 144).

Baru kemudian ekonomi kerakyatan dibangun dengan berlandaskan
kepentingan rakyat Lebak dan bukan atas kepentingan golongan. Sesuai
dengan yang dikatakan editor pada halaman Sekapur Sirih yang memaknai
Bara menjadi Daya sebagai salah satu bentuk cara pandang yang berbeda.
Dengan pengibaratan dua orang yang terpenjara, terkurung begitu lama.
Lalu kemudian memandang dunia luar dari lubang kecil selebar telapak
tangan. Setiap pagi dan sore tahanan pertama selalu melihat keluar lalu
menggerutu; “Menjijikan, bau got di luar sana, berantakan sekali di
belakang gedung ini. Sial! Di dalam sumpek sekali.” Sementara tahanan
kedua setiap pagi memandang langit dan matahari yang mulai terbit dari
lubang yang sama, dia memuji “Indah sekali di luar sana, dunia luas
begitu berharga untuk menyemai kebaikan, jika aku bebas nanti tak akan
kusia-siakan kesempatan itu.” seperti itulah bara yang ditempa menjadi
daya. Sesuatu yang ditentukan oleh cara pandang, meskipun dari lubang
yang sama namun boleh jadi menghasilkan objek yang berbeda. 

Pada akhirnya, kita sadari bersama tidak ada suatu daerahpun yang
dimiskinkan oleh sang pencipta-Nya, kecuali oleh manusianya sendiri.
Asset dan potensi Lebak sudah tak bisa diragukan lagi, tinggal niat
baik dan pengembangannya saja. Mampukah Mulyadi Jayabaya memberikan
iklim dan kondisi perekonomian yang kondusip. Sebab, tidak mungkin
Lebak akan jaya, apabila ketidakadilan masih merajalela. Karena
kabupaten ini pun sudah cukup lama di kenal di tingkat dunia. Agar kita
tidak melupakan sejarah Lebak, penting kiranya kita kembali membaca
buku Multatuli. Dan menularkan ruh semangat juangnya demi menegakkan
kebenaran. Dan jika ruh Multatuli itu ada, insyaalah Lebak menjadi
kabupaten terdepan di Propinsi Banten dan manca negara. ****



Penulis, adalah Penyair. Buku puisinya yang sudah terbit Kampung Ular
(Lumbung Banten, 2009). Antologi puisi Candu Rindu (Kubah Budaya, 2009)
dan cerpennya masuk dalam antologi Gadis Kota Jerash (Lingkar Pena
Publishin; 2009). Bersama Habiburrahman El Shirazy. Juga guru sastra di
SMP-SMA Al Irsyad Waringinkurung-Serang. 

     


      Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang 
Lebih Cepat hari ini! http://id.mail.yahoo.com

Kirim email ke