MENGOPTIMALKAN POTENSI TBM
(Kiat Menggerakkan Dana Masyarakat Untuk Peningkatan Budaya Baca
Tulis)
Oleh Gol A Gong
Beberapa kali saya kedatangan tamu yang selalu minta diajari
membuat proposal pembuatan taman bacaan masyarakat. Mereka adalah para
mahasiswa.
Mereka menduga, bahwa saya mendirikan taman bacaan masyarakat bernama Rumah
Dunia dengan membuat proposal. Saya katakan kepada mereka, bahwa Rumah Dunia
tidak
dibangun dengan proposal, tapi dengan kata-kata. Juga Rumah Dunia tidak
dibangun dalam waktu satu malam. Saya memberi resep yang tentu mudah mereka
lakukan, yaitu membangun taman bacaan masyarakat dengan penuh rasa cinta, bukan
dengan proposal.
DIRI SENDIRI
Saya mulai memimpikan membangun Rumah Dunia sejak sekolah di SMA
(1980-an). Saya seolah gerilyawan; menyebarkan virus literasi dengan modal
sendiri. Bersama beberapa sahabat, Toto ST Radik (penyair) dan (Alm) Rys
Revolta, Si Uzi (Direktur BR TV), Andi Trisnahadi (percetakan Suhud
Mediapromo-Serang), terus mengetuki pintu-pintu sekolah; ini literasi, ini
literasi, siapa ingin maju! Ada
yang menyambut, ada yang tidak peduli. Padahal tak ada sepeserpun kami minta
ganti. Kami maklumi, karena di Banten masa itu lebih mementingkan otot
ketimbang otak.
Kami juga mencoba mengetuki para pembuat keputusan untuk meminta
dana pembinaan bagi pemuda, tapi nihil. Mengurusi pemuda tidak popular. Apalagi
membuat perpustakaan. Kami dicap seniman tanpa tahu aturan, karena tidak bisa
jualan proposal dengan produk serindang beringin dan dengan cara berdasi. Lalu,
kami bermarkas di trotoar, di kamar, di alun-alun, hingga lapangan parkir gedung
olahraga. Lelah juga. Staregi perangnya, mimpi harus ditunda.
Akhirnya saya membuat keputusan, idealisme harus diongkosi
sendiri. Maka bekerjalah saya di Jakarta
sejak 1989 hingga 2008; menjadi wartawan, menulis novel, dan menulis scenario
TV di televisi. Kemudian pada tahun 2000 bersama istri tercinta – Tias Tatanka
– meniatkan diri, bahwa membuat taman bacaan masyarakat adalah bagian dari
ibadah, tidak sekedar menyisihkan kewajiban sebagai warga negara yang
diamanatkan di UUD 45 atau zakat sebesar 2,5%. Ini semua karena rasa cinta
kepada anak-anak, yang juga berhak mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan
setinggi mungkin.
Itu sebabnya kami mengukir sebuah kalimat di prasasti garasi rumah:
Rumahku Rumah Dunia, kubangun dengan
kata-kata! Itu artinya, Rumah Dunia memang dibiayai dari honorarium
novel-novel saya. Dari profesi saya sebagai penulis. Lantas, alhamdulillah, kami
berhasil membeli tanah seluas 1000 M2 dari royalty novel Balada Si Roy, Al
Bahri,
dan Pada-Mu Aku Bersimpuh. Juga dari
beberapa skenario film atau sinetron yang saya tulis.
Selain rasa cinta, begitulah idealisme harus diwujudkan: dengan
uang. Dan itu harus diri sendiri yang memulai, bukan orang lain. Mengeluarkan
uang dari dompet sendiri untuk membangun taman bacaan masyarakat, memang
dibutuhkan keberanian. Bukan berarti ini keharusan. Tapi, ini memang pilihan
hidup. Jangan pernah berpikir, bahwa membangun atau mendirikan taman bacaan
masyarakat itu untuk kepentingan atau keuntungan pribadi. Apalagi untuk
kepentingan politik sesaat. Jika itu tujuannya, insya Allah, TBM kita hanya
akan hidup ketika block grant datang,
lalu hilang bulan mendatang.
PROMOSI
Kami santai saja menggerakkan Rumah Dunia. Kami hanya memikirkan
program atau kegiatan Rumah Dunia, bukan sibuk mengikuti pelatihan pembuatan
proposal yang baik untuk mendapatkan block grant. Kami tidak pernah takut,
kalau mengeluarkan uang dari kocek sendiri akan membuat kami miskin. Saya
menerapkan sebuah aturan kepada para relawan, yaitu jika tidak punya uang, maka
mari bersedekah pikiran (ilmu dan relasi), tenaga, atau bahkan do’a saja itu
lebih dari cukup.
Tapi saya tidak tinggal diam. Saya menyadari, tidak selamanya saya
mampu membiayai Rumah Dunia. Saya mulai membangun jaringan ke 1001buku, Forum
Indonesia Membaca, perusahaan-perusahaan, serta peresorangan. Setiap minggu
saya rutin menulis “Jurnal Rumah Dunia” di Koran Radar Banten dan Banten Raya
Pos, diposting di milis-milis. Jurnal itu tidak pernah terputus. Juga mencetak
brosur, liflet, baner, baliho di Suhud Media promo dengan cara barter logo.
Hingga pada Desember 2004, Andre Birowo dan Noval Y. Ramsis
menyatakan diri jadi relawan dengan membuatkan situs www.rumhdunia.net.
Bertempat di
sena...@library, Depdiknas Jakarta, www.rumhdunia.net
pun diluncurkan. Maka, Rumah Dunia semakin leluasa mempublikasikan kegiatannya.
Setiap prusahaan atau lembaga yang memndukung Rumah Dunia, logonya ditampilkan
di www.rumahdunia.net.
KARAKTER TBM
Rumah Dunia memiliki kekhasan, yaitu kemampuan para pengelolanya
di dunia sastra, jurnalistik, teater, menggambar dan film. Saya mengajar di
Kelas
Menulis Rumah Dunia (KMRD), yang bergulir pada Januari 2002. Setelah 2 tahun,
pada 2004 mulai menampakkan hasilnya. Kami menulis sekitar 5 buku kumpulan
cerpen dan 50% honor penulisnya disumbangkan ke Rumah Dunia. Para
lulusan KMRD pun bekerja menjadi wartawan dan mulai daftar sebagai donatur
tetap, mulai dari angka Rp. 50.000,-
Berkat situs www.rumahdunia.net,
akhirnya banyak televisi swasta meliput Rumah Dunia. Lembaga atau yayasan
seperti Yayasan Tunas Cendekia, Yayasan Nurani Dunia datang menyumbang buku dan
computer. Orang per-orangpun berdatangan dan siap menjadi donatur tetap.
Walaupun belum maksimal tapi sungguh sangat membantu. Terutama bagi saya dan
sekeluaga
menjadi lebih ringan membiayai kegiatan Rumah Dunia.
Karakter atau kompetensi menulis dijadikan sebagai potensi Rumah
Dunia. Kami memproduksi kata-kata. Terbukti kami banyak melakukan kerjasama
dengan penerbit; Gramedia, Gagas Media, Eles Media, Mizan, Zikrul Hakim,
Senayan Abadi, KPG, Salamadani, Bentang, Tiga Serangkai, dan GIP. Beberapa
relawan Rumah Dunia ada yang sudah menerbitkan novel. Bahkan Gagas Media dan
Mizan jadi donatur rutin perbulan. Memang belum maksimal, tapi kami sudah
merasakanm, bahwa kemampuan menulis kami ini bia dimanfaatkan untuk
penggalangan dana operasional Rumah Dunia. Terjadi simbiosis-mutualisme di
antara kami dan penerbit.
JEJARING
Semua pengelola TBM pasti merasakan, betapa sulit menghidupi TBM.
Saya juga yakin, semua pengelola TBM pasti memlainya dari kocek sendiri. Kadang
kita berharap, bahwa ada lampu Aladin nyasar ke TBM kita dan kita diberi
kesempatan 3 permintaan. Tentu saya akan meminta; pertama block grant, kedua
block grant,
ketiga juga block grant!
Tapi, jika kita hanya berharap kepada Jin Aladin bernama block grant, saya
tidak yakin TBM yang
kita kelola akan berumur panjang. Menerima block
grant sah-sah saja, itu sudah jadi hak kita. Tapi, coba bayangkan, jika semua
pembiayaan TBM di Indonesia yang ditaksir berjumlah lebih dari 5000 TBM harus
ditanggung oleh pemerintah! Saya tahu setiap tahun ada 3 jenis block grant yang
disalurkan ke TBM-TBM, yaitu tipe A (Rp. 50 jt), tipe B (25 jt), dan TBM
perintis (Rp. 15 jt). Berapa bulankah
dana itu sanggup menyambung nafas TBM?
Rumah Dunia juga pernah mendapatkan block grant dari Depdiknas 2 kali, tipe B
(Rp. 25 jt) pada 2006 dan
2007. Itu jelas tidak cukup. Inginnya kami setiap tahun mendapatkan dana block
grant, karena setiap bulan kami
harus mengongkosi operasional sebesar antara Rp. 5 jt hingga Rp. 6 jt. Berarti
setiap tahun sekitar Rp. 72 jt. Itu belum termasuk kegiatan besar berskala
nasional seperti “Ode Kampung”, “Pesta Anak”, “Pesta Rumah Dunia”, dan “Keranda
Merah Putih”, yang bisa menelan biaya puluhan juta. Tapi, juga tidak bijaksana
jika tangan kita menadahkan terus ke Depdiknas atau Dindik, berharap block
grant datang.
Lntas bagaimana caranya? Ini gampang-gampang susah atau
susah-susah gampang. Harus bersabar.
Kami di Rumah Dunia terus saja berkegiatan (ikhtiar) smbil terus berdo’a,
semoga ada orang “gila” seperti John Wood (mantan karyawan Microsoft) atau
Sampoerna Foundation atau Eka Tjipta Foundations atau Djarum atau siapa saja
yang banyak duitnya datagn ke Rumah Dunia dan menggelontorkan CSR (corporate
Social Responsibility)-nya!
Tapi bermimpi terus juga tidak baik. Maka sebagai pengelola TBM
haruslah putar otak. Kita harus mau dan rajin menulis jurnal TBM kita di
internet, menyebar brosur, atau menghadiri pameran-pameran komunitas literasi
(World Book Day versi Forum Indonesia Membaca). Dari situlah kita bisa
membangun jaringan dan menjadi tahu, bahwa sebetulnya ada peluang mencari dana
untuk menghidupi TBM. Ada
banyak dana CSR di perusahaan-perusahaan, walaupun Rumah Dunia belum maksimal
mendapatkannya. Rumah Dunia pernah mendapatkan dana CSR dari RCTI Peduli
sebesar Rp. 14 jt (2004), XL Care berupa bajay library dan uang Rp. 10 jt
(2007), Tupperware sejumlah Rp. 50 jt (2009), Bellsoap dan Marqueen untuk
pembebasan tanah Rumah Dunia sebesar Rp. 100 jt (2009). Yang paling heboh
ketika Rumah Dunia menggalang dana pembebasan tanah di jejaring social
facebook; terkumpul Rp. 300 jt lebih. Tanah seluas 970 m2 dan 225m2 berhasil
kami bebaskan berkat bantuan para facebooker!
Kami betul-betul membuka diri kepada siapa saja yang mau membantu
Rumah Dunia; tidak peduli pandangan politik atau warna seragamnya. Bahkan
mereka langsung kami tawari posisi penasehat. Kami sudah sebarkan pengumuman,
bahwa Rumah Dunia adalah rumah bersama bagi yang ingin belajar berbagi rasa,
cinta, dan ilmu. Hingga hari tercatat 25 penasehat Rumah Dunia. Tentu saja
semakin banyak penasehat, semakin banyak relasi, banyak kesempatan, banyak
donatur.
Tercatat di antaranya DR. Zulkieflimansyah, SE, MSc (anggota DPR RI), Dodi
Nandika (Sekjen Depdiknas). Ahmad Mukhlis Yusuf (Direktur Antara Nesw), dan Wien
Muldian (Direktur Forum Indonesia Membaca),
MERCHANDISE
Selain jejaring (networking), kami juga mengoptimalkan kemampuan
para relawan Rumah Dunia yang rata-rata di sastra, teater, dan film. Maka
mulailah kami menyebar; ada yang menulis novel, mengadakan pelatihan menulis,
bekerja di koran dan televisi local. Ketika gajian, mereka memberikan
infaq-sodaqahnya sekitar Rp. 50.000,-/orang. Juga membuat merchandise Rumah
Dunia; pin, stiker, gelas mug. Merchandise ini memang belum maksimal, tapi
terus kami upayakan.
Membuka lini unit usaha juga kami lakukan, yaitu membuat
penerbitan GONG Publishing. Kami
berharap, lini penerbitan ini bisa berhasil. Langkah pertama adalah menerbitkan
ulang buku-buku karya saya; Balada Si Roy.
Dengan system print on demand,
diharapkan proyek pertama ini memperoleh keuntungan. Sekitar 25% dari lba akan
disumbangkan ke Rumah Dunia.
Pada periode Firman Venayaksa sebagai Presiden Rumah Dunia, kami
sangat lentur dan menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Rumash Dunia yang
segalanya serba gratis, mulai berbenah. Program beasiswa harus tetap berjalan
dan butuh dana, wisata gambar, dongeng, mengarang, study tour bgi anak-anak
juga harus tetap bergulir. Itu semua butuh dana.
Kami berencana mulai Agustus 2010 memberlakukan system subsidi
silang. Ini adalah bagian dari mengoptimalkan dana dari masyarakat dengan cara
elegan atau win-win solutions. Mislnya, Kelas Menulis Rumah Dunia yang diasuh
Gol A Gong mulai angkatan ke-16 (Agustus 2010) tidak lagi gratis, tapi infaq Rp.
50.000,-/orang/bulan. Peserta dibatasi antara 25 – 50 orang. Ini setahap menuju
fase professional, tapi tetap berlandaskan social. Begitu juga dengan internet,
yang selama ini gratis akan kami ubah jadi warnet Rumah Dunia. Dengan cara ini,
selain dari para donatur yang belum maksimal, Rumah Dunia juga - insya Allah –
akan memiliki unit usaha yang
bisa membantu menggulirkan kegiatan Rumah Dunia.
Tahun 2010 ini, tema besar kegiatan Rumah Dnia adalah “Change With
Reading”. Kami membutuhkan dana sebesar Rp. 300 juta lebih! Agenda januari dan
Februari berhasil kami lewati. Kas kami sekitar Rp. 20 jt lagi, sisa dari
penggalangan dana pembebasan tanah Rumah Dunia tahap kedua di facebook.
Inilah penalaman yang pernah saya alami dalam memaksimalkan
potensi dana masyarakat. Selanjutnya, kita saling berbagi pengalaman saja,
karena saya yakin di antara peserta Seminar Temu Konsolidasi Forum TBM, ini ada
yang lebih profesional dibandingkan saya dalam menggali potensi dana masyarakat
untuk kemajuan TBM kita! Hidup literasi! (*)
*) Penulis adalah pendiri Rumah Dunia, novelis, wartawan, dan
Pemipin Umum www.rumahdunia.com dan www.rumahdunia.net , serta berminat jadi
Ketua Umum Forum Taman Bacaan Masyarakat. Disampaikan dalam Seminar Temu
Konsolidasi Forum TBM, LPP
Hotel, Demangan, Yogyakarta