ulah sok nyindir atuuuh, kang, hehehehe.



________________________________
From: Setiadji N Achmad <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Wed, March 10, 2010 8:48:31 PM
Subject: Re: Bls: [WongBanten] KELOMPOK PANDEGLANG

  
kalo nyambinya ngawarung di rumah gak papa kan kang?ato tanem cabE persiapan 
bulan2 dimana harga naik..lumayaaan buat tambahan

 wassalam
Setiadji N.A







________________________________
From: halim hd <halimh...@yahoo. com>
To: wongban...@yahoogro ups.com
Sent: Wed, March 10, 2010 8:16:24 PM
Subject: Re: Bls: [WongBanten] KELOMPOK PANDEGLANG

  
kalau benar dosen asik di kampus dan menjalankan tugasnya,
itu menarik. jadikanlah kampus sebagai wilayah kerja, wilayah
laboratorium.
soal yang kita hadapi, banyak dosen atau profesor yang terlalu
banyak nyambi ini itu, dan tugas kampus ditinggalkan.
seperti juga ponpes dengan kiyainya.





________________________________
From: Ibnu Adam Aviciena <ibnuaviciena@ yahoo.com>
To: wongban...@yahoogro ups.com
Sent: Wed, March 10, 2010 6:17:04 PM
Subject: Bls: [WongBanten] KELOMPOK PANDEGLANG

  
yang hilang dari kita, menurut saya, adalah amar ma'ruf nahyi mungkar. contoh: 
dosen asik di kampus, kiyai asik di pesantren. 



--- Pada Rab, 10/3/10, machsus <mcstham...@yahoo. com> menulis:


>Dari: machsus <mcstham...@yahoo. com>
>Judul: [WongBanten] KELOMPOK PANDEGLANG
>Kepada: wongban...@yahoogro ups.com
>Tanggal: Rabu, 10 Maret, 2010, 6:03 PM
>
>
>>
>
>
>
>  >
>
> 
>>      
> 
>Ada yang hilang dari genggaman tangan, dan meluncur lewat sela-sela jari 
>(Taufik Ismail)
>
>>AKSI  tembak-tembakan ala koboi yang  diperagakan polisi di Pamulang kemarin 
>>dan di Aceh Besar beberapa hari terakhir, mengusik  hati saya. Gubernur Aceh 
>>Irwandi Yusuf, mengatakan  latihan yang dilakukan kelompok yang diduga 
>>teroris itu tak dilakukan oleh mantan gerakan Aceh Merdeka. Irwandi menuding, 
>>latihan itu dilakukan teroris, yang merupakan poros baru kelompok teroris 
>>Banten-Jawa  Barat dan Jawa Tengah. Lebih spesifiknya mereka yang dari Banten 
>>itu berasal dari Pandeglang. Di Harian Kompas hari ini, Herman RN, salah 
>>seorang mahasiswa pasca sarjana Universitas Syah kuala Bandaaceh menulis, 
>>anggota Jamaah Islamiyah yang berada di Aceh berasal dari Pandeglang. Saat 
>>ini mereka masih melakukan latihan di Pegunungan Jantho Aceh.
>>Selain kasus suap dan korupsi berjamaah, kelompok teroris,belakangan  nama 
>>kelompok Pandeglang juga dikaitkan dengan kelompok pencuri 
>>kendaraan bermotor di berbagai kota. 
>
>>Lantas apa yang terjadi di Pandeglang hingga cerita-cerita  buruk ini yang 
>>kemudian muncul? Salah apa Pandeglang, sehingga stigma buruk ini ditimpakan 
>>kepadanya? Kemana perginya tradisi religius dan semangat pantang menyerah 
>>orang –orang Pandeglang? Kemana perginya tradisi intelektual yang dipelopori 
>>Prof Bachtiar Rifai, Prof Herman Haeruman, dan Kang Eki Sjahrudin?
>
>>Saya menghibur diri, dengan mengatakan masih banyak yang memiliki semangat 
>>dan tradisi itu.  Saya beruntung menjadi saksi pada pengukuhan seorang 
>>saudara dan sahabat saya Dr Ibnu Hamad, dalam sebuah forum yang amat 
>>terhormat, menjadi seorang gurubesar di Universitas Indonesia, salah sebuah 
>>universitas yang membanggakan bagi bangsa ini akhir Februari 2010 lalu. Momen 
>>itu jadi penghibur, ditengah kegalauan saya beberapa hari terakhir ini.
>
>>Lama mengenalnya. Dengan demikian, saya tahu persis, betapa  kehormatan itu 
>>tak diperolehnya dengan mudah. Sebagai orang yang lahir di kabupaten yang 
>>sama, Pandeglang, saya tahu persis betapa Ibnu harus merebut dan mewujudkan 
>>cita-citanya dengan segala perjuangan. 
>
>>Berbagai keterbatasannya, mulai dari lingkungan , ekonomi, fasilitas belajar 
>>di sekolah  hingga komitmen pemerintah daerah mendorong putra-putra 
>>terbaiknya untuk bisa sekolah di perguruan tinggi terbaik di negeri ini, 
>>menjadi sebuah contraint bagi berkembangnya bibit-bibit unggul seperti Ibnu 
>>ini. 
>
>>Waktu itu, tak banyak lulusan SMA di kota kami yang mampu melanjutkan sekolah 
>>ke perguruan tinggi. Keterbatasan ekonomi, fasitas, membuat kami tak mempu 
>>bersaing dengan rekan-rekan kami yang berasal dari kota-kota lain. 
>
>>Namun saya menyaksikan beberapa diantara rekan kami, seperti ini Ibnu ini 
>>mampu keluar dari jebakan keterbatasan struktural. Ia tak pernah mempedulikan 
>>apakah pemerintah kabupaten mengalokasikan dana yang cukup bagi 
>>sekolah-sekolah menengah agar mengejar ketertinggalannya. Yang dia lakukan 
>>adalah berangkat ke Depok dan berjuang disana. Ibnu  tak sendirian, ada 
>>beberapa diantaranya punya potensi dan kemauan yang keras sepertinya, dan 
>>menuntut ilmu di berbagai perguruan tinggi dan mereka kita menjadi "landmark" 
>> angkatan kami. Sebut saja  Dr Mukhlis Yusuf, yang kini Dirut LKBN Antara dan 
>> Presiden Asosiasi Kantor Berita Asia Pasific (Oana), atau U Saefuddin Nur, 
>>Head of Syariah Banking CIMB Niaga yang sebelumnya sukses memimpin Bank 
>>Muamalat sebagi direktur. Rekan kami yang lain  Agus M Tauchid (Kepala Dinas 
>>Distanak Banten) dan Agus Mulyadi Randil  (Kepala Biro Umum dan Perlengkapan 
>>Provinsi Banten) memilih mengabdikan diri sebagai birokrat di kampung
> halaman.
>
>>Saat mendengar pidato itu, pikiran saya menerawang. Saya bayangkan, kalau 
>>saja uang Rp 1,5 miliar yang digunakan untuk menyuap anggota DPRD itu 
>>digunakan untuk bea siswa anak-anak berbakat, betapa banyak anak-anak yang 
>>punya potensi bisa menyelesaikan sekolahnya. Katakannya untuk mencetak 
>>seorang sarjana diperlukan dana Rp 30 juta per orang, untuk membayar SPP dan 
>>biaya hidup. Maka selama 4 tahun ada 50  orang anak-anak muda berbakat, yang 
>>bisa diluluskan dan punya komitmen yang kuat untuk membangun daerahnya, dan 
>>pasti akan punya rasa malu, untuk korupsi jika dia bekerja, karena selama dia 
>>belajar dibiayai penuh oleh rakyatnya. Dan kalau setiap tahun pemerintah 
>>daerah mengalokasikan jumlah yang sama, berarti selama masa kepemimpinan 
>>seorang bupati atau kepala daerah ini, bisa melahirkan 250 anak berbakat 
>>menjadi sarjana, yang suatu waktu kelak akan menjadi bupati, anggota DPRD 
>>atau profesor seperti Ibnu Hamad.
>
>>Berkeliling ke pelosok Pandeglang dalam dua tahun terakhir ini, saya jadi 
>>memahami betapa banyaknya faktor pendorong yang menjadikan anak-anak muda itu 
>>bertekad keluar Pandeglang. Tak perlu terlalu jauh, di sepanjang jalur 
>>pariwisata utama poros Labuan-Tanjung Lesung-Sumur saja, infrastruktur jalan 
>>kian parah. Ditengah fragmentasi dan alih fungsi  lahan yang terjadi begitu 
>>masih saat ini, sektor pertanian menjadi kian tak menarik banyak anak muda 
>>belakangan ini.
>
>>Berharap mengabdikan diri menjadi pegawai negeri. Ini juga tak mudah, hanya 
>>mereka yang beruntung bisa kuliah yang saat ini bisa jadi PNS.Itupun harus 
>>menyiapkan dana puluhan hingga ratusan juta rupiah untuk  menyuap agar bisa 
>>jadi PNS. 
>>Terlalu utopis jika saya berharap, makin banyak anak-anak muda 
>
>>Pandeglang yang mampu keluar dari berbagai jeratan dan keterbatasan 
>>struktural, seperti yang dilakukan Ibnu, atau banyak juga anak-anak muda 
>>Pandeglang yang tergabung dalam kelompok aktivis Pandeglang  yang  muncul, 
>>dan tetap memilihara semangat berjuangnya  macam Yogi, Tb Nuruljaman, Heru 
>>Fachrudin  dan Uday Syuhada .
>
>>Maka dengan sedih hati saya katakan, mereka yang tersesat menjadi teroris 
>>atau menjadi kelompok pencuri kendaraan bermotor yang terkenal dengan nama 
>>kelompok Pandeglang, adalah mereka yang frustrasi, akan semua keterbatasan 
>>yang membelenggunya. Sementara mereka tahu persis, janji manis calon wakil 
>>rakyat yang kini duduk manis, dan calon pemimpin daerah yang kini bersiap 
>>membujuk mereka, yang berjanji memperbaiki kehidupan rakyat Pandeglang, hanya 
>>manis saat kampanye. Begitu terpilih nanti, mereka itu  bakal sibuk melakukan 
>>pengumpulan sumberdaya ekonomi, dan memperkuat jaringan kekuasaan untuk 
>>bersiap melanggengkan kekuasaan menuju pemilihan berikutnya.( machsus thamrin)
>
> 

________________________________
 Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT. Rasakan bedanya sekarang! 


 


      

Kirim email ke