Jujur judul tersebut di atas terinspirasi
oleh judul tulisan : “Untirta menuju Kelas Dunia” yang pernah menjadi polemik.
Tapi saya bukan
mau ikut-ikutan berpolemik. Saya hanya ingin meyampaikan kesan saya tentang
situasi Banten sekarang walaupun pasti
banyak ngawurnya. Saya ingin meletakkan Banten bukan lagi pada level dunia,
tetapi lebih tinggi dari kelas dunia. Kalau : “…menuju kelas dunia” artinya
masih suatu proses, sedang berupaya, walaupun entah kapan sampainya.
Sesungguhnya Banten sudah
mencapai worldclass. Sudah pernah… Banten sudah bosan menjadi kelas dunia…Orang
Banten sejak dari dulu sudah merasa menjadi juara. Jadi sekarang sudah tidak
diperlukan
lagi gelar apapun. Yang belum pernah merasa jadi juara silahkan menjadi
pemimpin Banten Banyak literatur yang mengungkapkan bahwa Banten pernah
mencapai kejayaan, kebanggaan-kebanggaan. Ibarat puncak kepuasaan maka Banten
telah mencapai rasa kepuasan. Apabila sekarang Banten sedang mendingin, sedang
mengendap, sedang berdialektika, sesungguhnya Banten sedang menuju kelas dunia
yang lain. Banten sedang menuju kerahiban, sedang bertawadhu, sedang bertapa.
Biarlah kota-kota lain, negara-negara lain atau bangsa-bangsa lain sedang sibuk
dan berbangga-bangga dengan kebersihan
dan ketertiban kotanya, kebersihan aparatnya, kejujuran pegawai-pegawainya,
kesetiaan pns-pns nya, ketertiban birokrasinya, ketulusan pemimpin-peminpinnya
atau apalah predikat-predikat lain yang pantas disandang, Buat Banten itu semua
tidak perlu… !
Buat Banten semua itu sudah
dilampauinya, buat Banten bukan itu yang ingin dicapai.. Predikat itu semua
hanyalah kamuflase, kemapanan semu, rentan terhadap kebosanan, tidak hakiki.
Yang diperlukan Banten bukan
kerapihan, ketertiban, kesopanan dan
kemajuan lahiriah. Yang diperlukan Banten adalah kemajuan batiniah dan rohaniah.
Oleh karena itulah pemimpin
Banten pandai mengelola dan mengolah masyarakatnya untuk lebih
mendahulukan ilmu batin. Pemimpin Banten
pandai untuk tidak menampilkan diri digarda depan pembangunan dan pengembangan
iptek, Pandai untuk tidak sering-sering
menampilkan diri agar masyarakatnya belajar mandiri untuk tidak tergantung pada
pemimpinnya.
Pemimpin kita sedang melatih
batin dan rohani kita agar lebih maju daripada kemajuan lahiriah. Kebudayaan
dan identitas tidak perlu ditonjol-tonjolkan karena itu adalah riya dan akan
merusak ketawadhuan, korupsi
disebarluaskan agar kita belajar ikhlas memberi, kolusi dipercanggih agar kita
belajar tak mudah berprasangka buruk, nepotisme ditumbuhsuburkan agar kita
menjadi pandai mendahulukan kepentingan orang lain, pengangguran dipelihara
agar kita pandai bersabar dan bersyukur, pelacuran politik disemai dan disirami
agar kita pandai terhadap nilai-nilai silaturahmi. Jadi yang diperlukan kita
adalah kekacauan-kekacauan menurut pardigma pembangunan. Tapi menurut paradigma
kebatinan dan kerohanian kita itulah
proses dialektika kependekaran dan kejawaraan orang Banten. Maka orang Banten
akan mencapai suatu tahap dimana kita akan merasa menjadi orang kaya dengan
tidak perlu menjadi kaya, menjadi tertib
tanpa perlu ditertibkan, menjadi canggih tanpa perlu ada mesin canggih, tak
perlu menyentuh untuk dapat me-rasa, tak perlu banyak bicara karena diam adalah
puncaknya bicara. Rasa keruhanian kita sudah mencapai puncak ma’rifat yang tak
tergoda oleh peradaban.
Kesejatian orang Banten bukan
terletak pada pembangunan ekonomi, pembangunan kedewasaan berpolitik,
pembangunan birokasi dan sistem pemerintahan, keiklasan pemimpinnya, banyaknya
profesor atau doktornya. Orang Banten tidak perlu semua itu…
Kesejatian orang Banten
terletak pada kemantapan hati dan keluasan samudra batinnya untuk mengikuti
naluri kemanusiannya. Keluasan cakrawala pandangnya terhadap keabadian. Oleh
karena itu pemimpin Banten pandai memberikan pemahaman dan keyakinan bahwa
orang-orang Banten adalah orang-orang spiritualis yang tidak perlu
berpartisipasi dalam pembangunan, tidak perlu berkotor-kotor membangun jalan,
jembatan dan tembok-tembok kantor. Tidak perlu mengantri rebutan tender karena
pasti akan menyakitkan hati orang lain. Biarlah pembangunan fisik baik sarana
maupun prasarana cukup dikerjakan dan dilakukan
oleh mereka yang merasa biasa menjadi kuli. Pemimpin Banten juga rendah hati
untuk selalu menyediakan
kerabatnya dan teman-temannya untuk disuruh-suruh dan dipekerjakan melakukan
pekerjaan-pekerjaan kasar itu.. Kita diberi kesadaran dan pengertian bahwa
kitalah pemilik Banten ini, kitalah pemilik pembangunan. Kita dididik untuk
ikhlas
bersedekah, ber-amal memberikan upah yang berlebih, tidak boleh menumpuk nafsu.
Lalu kita pun dipersilakan untuk duduk manis dan tidur
nyenyak tidak perlu bercape-cape memandori pekerjaan-pekerjaan, mengomandani
kegiatan-kegiatan, pekerjaan-peperjaan itu rentan terhadap penyakit hati; iri,
dengki, sumpah serapah…..
Kelas kita bukan lagi
memikirkan kelas dunia, kelas kita sudah melampaui kelas dunia. Kelas kita
adalah
ruang Batin (membatin), karena ruang batin lebih luas dari dunia. Kita di didik
untuk menjadi orang-orang yang saleh …
www.rekaciptamandiri.weebly.com
-
Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya sekarang!
http://id.mail.yahoo.com