Akrobat Angka Pengangguran Banten
Dahnilasimanjuntak
|  30 April 2010  |  09:38
29
2
1 dari 1 Kompasianer menilai Aktual.
Gubernur Banten menyampaikan pidato pengantar Laporan Keterangan 
Pertanggungjawaban (LKPJ) 2009 di depan paripurna anggota DPRD Provinsi Banten 
beberapa hari yang lalu. Dalam Nota Pengantar LKPJ tersebut, pemerintah 
provinsi Banten melalui Gubernur mengklaim banyak informasi keberhasilan 
pelaksanaan pembangunan Banten selama periode tahun 2009. Sebagai salah seorang 
akademisi yang berkhitmat di kajian ekonomi keuangan daerah, saya pastilah 
secara rutin mengamati dan mempelajari pelaksanaan pembangunan ekonomi di 
Banten. Setelah membaca dan mempelajari dokumen Laporan Keterangan 
Pertanggungjawaban (LKPJ) 2009, saya “agak kaget” karena banyak data-data yang 
disajikan oleh pemerintah Provinsi Banten “tidak ladzim”.
Data “tidak ladzim”
Dari beberapa data yang “tidak ladzim” tersebut, saya fokus mengamati dan 
meneliti data persentase pengangguran terbuka. Dalam Dokumen Nota Pengantar 
LKPJ 2009, di halaman 12-13 saya kutib langsung, tertulis “Keberhasilan lainnya 
pada agenda ini adalah kemampuan mempertahankan prosentase pengangguran terbuka 
Provinsi Banten sebesar 6,50% pada tahun 2009 dan 2008, yang menurun jika 
dibandingkan dengan tahun 2007 sebesar 6,71%.” Saya tersentak. Darimana asal 
data persentase ini, sangat bertolak belakang dengan data resmi publikasi BPS 
Provinsi Banten_karena saya secara rutin memperoleh data resmi publikasi 
seluruh indikator ekonomi Indonesia secara umum, maupun Banten. Dalam Publikasi 
Biro Pusat Statistik (BPS) Banten persentase pengangguran terbuka Banten pada 
tahun 2009 adalah 14,97%, setara dengan 652.462 orang. Ada apa dan kenapa bisa 
berbeda?
“Ketidak ladziman” ini kemudian masuk ke ranah publik, melalui media lokal 
Radar Banten (5/04/10). saya secara tegas menyampaikan bahwa pemerintah 
Provinsi Banten melakukan “pembohongan publik atau tidak sengaja keliru telah 
melansir data yang tidak jelas kebenarannya” karena menyajikan angka 
pengangguran terbuka yang “tidak ladzim” dan jauh berbeda dengan data resmi 
yang dipublikasikan oleh BPS. Dalam pernyataan tersebut, eksplisit, saya 
membangun perspektif “Su’dzhon dan Khusnu’zhon” secara bersamaan, dan berusaha 
mencari kebenaran, darimana asal persentase pengangguran terbuka Banten 2009 
sebesar 6,50% tersebut. Dalam perspektif “Su’dzhon dan Khusnu’zhon” yang penuh 
ketidakjelasan tersebut dan butuh jawaban dari pemerintah Provinsi Banten, 
akhirnya saya memperoleh jawaban yang valid dan mampu dipertanggungjawabkan,
Jawaban atas “Su’dzhon dan Khusnu’zhon” saya, terjawab ketika saya diminta 
menjadi narasumber dipanelkan bersama BPS Provinsi Banten, dalam PANSUS LKPJ 
DPRD Provinsi Banten, Ternyata, persentase pengangguran terbuka tahun 2009 
6,50% yang dilansir oleh pemerintah Provinsi Banten berasal dari metodelogi 
perhitungan yang berbeda, yakni Pemerintah Provinsi Banten melalui BAPEDA 
menghitung rasio pengangguran terbuka dengan cara Jumlah “Pengangguran Terbuka 
dibagi Jumlah Penduduk Banten di Kali 100%” atau dalam angka ” 652.462 dibagi 
9.782.800 di kali 100%”, dan hasilnya adalah 6,66% bukan 6,50%(beda tipis-lah) 
seperti yang dilansir Pemerintan Propinsi Banten, Menghitung dengan metode 
“tidak ladzim” saja angkanya masih agak tidak tertib. Metode ini diakui BPS 
“tidak ladzim”, namun BAPEDA menyampaikan bahwa semua pihak terkait sudah 
sepakat dengan metode ini termasuk BPS Propinsi Banten, hal ini dibuktikan 
dengan tanda tangan semua
 peserta rapat ketika penetapan angka indikator ekonomi tersebut. Saya tetap 
menolak dengan metode tersebut dan semakin meyakini bahwa perhitungan tersebut 
adalah “pembohongan publik”. Sayangnya, akrobat yang dilakukan oleh pemerintah 
Provinsi Banten melalui BAPEDA tersebut seakan mendapat pembenaran ketika BPS 
dan BI Provinsi Banten menyatakan bahwa “perhitungan rasio pengangguran terbuka 
yang disajikan oleh pemerintah Provinsi Banten memang “tidak ladzim” sehingga 
menimbulkan perbedaan persepsi”, sampai pada kesimpulan pemerintah Provinsi 
Banten melansir advertorial di Radar Banten (9/04/10) menyampaikan “Tidak Salah 
Menggunakan Sudut Pandang Berbeda”. Padahal, metodelogi yang ladzim digunakan 
ketika belajar ilmu ekonomi tentang teori pengangguran diseluruh dunia ini dan 
digunakan oleh BPS maupun lembaga-lembaga yang melakukan penelitian maupun 
perhitungan tentang persentase pengangguran terbuka adalah “Jumlah Pengangguran 
dibagi
 dengan Jumlah Angkatan Kerja dikali 100%”, dengan kata lain, apabila kita 
menghitung persentase pengangguran terbuka Banten maka 652.462 dibagi 4.357.240 
dikalikan 100%, dan hasilnya adalah 14,97%, sesuai dengan persentase 
pengangguran terbuka 2009 yang dipublikasikan oleh BPS Banten.
Akrobatik “tidak ladzim”
Bagi saya Metodelogi itu jelas SALAH BESAR. Ada dua argumentasi sederhana, 
untuk membuktikan bahwa metodelogi tersebut “ngawur“. Pertama, apabila 
pemerintah Provinsi Banten melalui BAPEDA memang mau menggunakan metodelogi 
yang berbeda, kenapa data pembentuk angka dan defenisi pengangguran masih 
menggunakan sumber dari BPS, BAPEDA menggunakan angka pengangguran terbuka dari 
BPS yakni 652.462, dimana BPS mendefenisikan pengangguran terbuka adalah mereka 
yang sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha, merasa tidak mungkin 
mendapat pekerjaan dan sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja. Disisi 
lain, apabila pemerintah Provinsi Banten membaginya dengan jumlah penduduk 
berarti pemerintah Provinsi Banten melalui BAPEDA menganggap semua penduduk 
Banten adalah angkatan kerja termasuk bayi, anak sekolah, ibu rumah tangga dan 
sebagainya yang seharusnya tidak termasuk angkatan kerja seperti defenisi BPS 
tentang angkatan kerja. BPS mendefenikan bahwa
 angkatan kerja adalah penduduk berusia 15 tahun ke atas yang sedang bekerja, 
yang memiliki pekerjaan namun sementara tidak bekerja, seseorang yang tidak 
memiliki pekerjaan dan sedang mencari pekerjaan.
Kedua, kenapa tidak menggunakan data dan metodelogi BPS saja padahal 
indikator-indikator ekonomi yang lain seperti laju pertumbuhan ekonomi (LPE) 
dan angka kemiskinan serta semua indikator yang dimuat di LKPJ 2009 merujuk 
data BPS, sedangkan data pengangguran terbuka, jumlahnya merujuk BPS tetapi 
secara persentase menggunakan metodelogi atau istilah pemerintah Provinsi 
Banten melalui BAPEDA menggunakan “Sudut Pandang Yang Berbeda”, pastilah ada 
argumentasi yang rasional. Kenapa???, yang sampai kini tidak terjawab.
Bagi saya fakta akrobatik persentase pengangguran terbuka tersebut membuktikan 
bahwa pemerintah provinsi Banten abai terhadap essensi pembangunan berorientasi 
dan berbasis kepada manusia, namun telah berbelok menjadikan orientasi 
pembangunan absurb berbasis dan bertujuan demi sebuah angka yang memiliki 
kecenderungan Akrobatik dengan berbagai motif.
Oleh: Dahnil Anzar* 

Wassalam,


Tubagus Erwin S.



Kirim email ke