Wcds, kerabat dan rekan-rekan,
Menyambung pembahasan mengenai topik 'kebugaran' ini, saya lengkapi pandanganku mengenai hal tersebut:
 
1. Tujuan dari pelatihan dengan metoda penilaian Aerobik adalah untuk kepentingan dan bermanfaat langsung bagi diri sendiri ! Secara 'indirect', tentu saja akan mempengaruhi lingkungan terdekat kita. Badan yang sehat ... mempengaruhi pikiran yang sehat, dan ... tindakan yang sehat juga ... (btw, jangan di ver-politisir, heh heh ... !)
 
2. Kategori yang diberikan pada seseorang atau diri sendiri adalah untuk mematok posisi kondisi kita pada satu saat. Selanjutnya terserah mau di-apa-kan nilai / kategori / kondisi tersebut.
Kalau badan dan pikiran kita merasa okay, ya lanjutkan saja kegiatan atau aktivitas rutin yang sedang berlaku, 'just proceed with your normal live ...'.
Namun kalau kita merencanakan suatu kegiatan atau aktivitas yang akan memerlukan tenaga dan daya tahan yang lebih daripada biasa, disini perlu persiapan atau peningkatan kondisi secara ilmiah dan alami yang dapat diukur, sehingga kita tidak akan kedodoran pada saat mengikuti pada hari H. Disinilah metoda Aerobik sangat bermanfaat.
Dalam penayangan film-film seperti 'Rocky IV' dll nampak jelas metoda ilmiah yang dilakukan salah satu pihak untuk memompa peningkatan kekuatan otot tertentu dan ... di-genjot terus sampai batas maksimum-nya ... (meskipun  tetap saja ... kalah, karena kalah simpatik ... di-depan publik, .... heh heh heh, namnya juga film US !).
3. Untuk kelompok umur berlaku perhitungan seperti ini;
Mulai dari kelompok remaja 13-15 tahun maka target peak-nya ada pada kategori 3, antara 16-18 tahun kat.4, 19-30 tahun kat.5 sedangkan 31 keatas cukup kat.4 dan 55 keatas sudah ok kalau bisa di kat.3, selanjutnya untuk kelompok 60 keatas di kat.2 lagi. Ini untuk seseorang dengan aktivitas normal dan 'bugar / fit', untuk para atlet, prajurit dll yang harus siap setiap saat maka intensitas pelatihannya saja yang ditambah, katakanlah dari 4 kali seminggu menjadi 6 kali, sehingga nilai rata-rata yang dicapai per minggu menadi diatas 40 bahkan 50 point, jauh diatas yang normal dan dianjurkan yaitu 30 point per minggu.
 
3. Dalam hal ini saya mengenang beberapa anekdote kecil; ...
 
A. Contoh yang sederhana; ... nun, ... lama berselang, ...akhir 1964, saya termasuk yang harus ikut apel pagi (satu peleton) di alun-alun, ... siap jam 06:30, ... berarti dari rumah naik sepeda sekitar 05:30, saat Bandung masih gelap dan dinginnya. Hari itu, karena terlambat bangun, ... tidak sempat sekah, sarapan atau isi perut sedikitpun. Matahari sudah muncul, eeeh, ... apel-nya baru jam 08:00, ... menunggu dalam barisan, berdiri tegak terus, upacara sudah dimulai, ... kok terasa semutan, keringat dingin, ... mau keluar dari barisan rasanya tidak pantas ... . Acaranya adalah upacara peringatan Pertahanan Sipil dimana komandan upacaranya adalah pak Gub. Samar-samar masih teringat sambutan dari inspektur upacara, ... saat dingin dibelakang punggung terasa mengalir keatas ! Dan sebelum hilang kesadaran, masih sempat cepat-cepat minta teman sebelah untuk pegangin ... . Saat sadar, ... tahunya ... sedang duduk di warung sambil terasa teh lokal yang manis-pahit-hangat mengalir lewat leher.
Kalau tadi tidak dipegang langsung ... mungkin bisa jatuh seperti ... gedebok pisang !
"Lho, kok saya disini ?" tanyaku pada kedua pendamping kiri-kanan saya.
Keduanya senyum kecut, yang mana belakangan saya tahu bahwa saya sempat memalukan Yon-1 karena waktu apel saja kok ... pingsan, belum lagi kalau ... action betulan !
DanYon tidak komentar atau negur apa-apa, tapi sejak itu saya mawas diri dengan meningkatkan stamina badan, sama mungkin seperti rekan Sodik yang di-gembleng-plonco-in oleh senior asrama Ganesha dengan berlari kuliling kampus, sampai latah ke Lembang pp, benar-benar hebat tuh !
Dan ... memang setiap kejadian membuat kita mawas diri ... untuk diambil hikmahnya.
Saat itu belum tahu bagaimana metoda-nya untuk mengukur kemampuan kita, takaran-nya berapa sehari, ... akibatnya kondisi kita tidak stabil, kapan mood muncul, baru ... naik gunung, atau ... ngapel, yang mana keduanya ... ya perlu stamina ... untuk melek juga ... heh heh heh ...
Jadi kalau mau dikatakan bahwa kondisi kita ok, ya ... tidak juga, masalahnya cuma bagaimana meng-kondisikan diri sehingga pada saat mengikuti 'event' tertentu kita-kita ini ya mbok jangan yang ketinggalan paling belakang, heh heh heh ... paling tidak 'in-the-main-stream', alias paling tengah ya cukup !
 
B. Lagi-lagi waktu di Yon-1 ...
Awal tahun 1965 ... jalan bersama pasukan lengkap dbp DanYon, Wadan, komplit dengan staf-nya ke Lembang sebelah Timur Boscha, wah acara khusus nih, banyak yang pada (harus) ikut, ... lewat jembatan Cikapundung, utara ITB, menyusuri sebelah Barat kali, terus ... nembus sebelah curug Dago, sampailah di tujuan. Senang dan bangga rasanya jalan bersama satu rombongan, ... eh pasukan, yang mengular begitu panjangnya lewat jalan setapak.
Itu belum ada ceritanya lho, ... pada ingat enggak, ... pulangnya, ada acara lainnya, ... hooreeee, yaitu ... 'free-for-all' !
DanYon memberi briefing, seolah-olah harus bantu rekan-rekan di kampus, ... jadi ... cepat-cepat pulang, ... "bantuin sono", katanya serius !
"... boleh lari ?", " ... boleh potong kompas ?", " ... boleh ngebut ?", jawabannya ... "semua boleh, asal jangan naik kendaraan atau opelet dari Dago !" jawab Wadan Cipto dengan senyum khas-nya.
Pasukan dibagi 3 kelompok (setengah peleton @ 16-18 orang) dengan kelompok ke-4 sebagai penyapu, ya staf, ya yang agak sakit atau 'malas' lari dll.
Regu A, B dan C yang masing-masing bawa bendera hijau dengan nomor A,B,C tertera kuning.
Regu saya masuk 'B' dbp ... lupa namanya, yang sekaligus sebagai pemegang bendera pertama.
Saat itu terasa 'adrenalin' alias deg-degan meningkat, saking ... senang dan tegangnya, ... sudah kepikir mau ngambil jalur mana yang pas, tapi bendera start belum juga dikibarkan.
Masing-masing regu membahas bagaimana caranya 'to-be-the-first', dan yang pegang kunci sebenarnya adalah 'si-pembawa-bendera', yang bisa memecut /merangsang kecepatan regunya.
Singkatnya, ... tanpa basa-basi, bendera di gebyar sekitar jam 11:30, ... dan masing-masing anggauta regu nempel terus di-belakang benderanya masing-masing. Setiap regu diberi selang waktu 1 menit.
Asyik juga melihat rekan-rekan di kiri-kanan pada ngoyo serius ngikutin benderanya, sebentar-sebentar yang A didepan, kadang-kadang B, sekali juga C dst bersaing begitulah.
Dari yang semula masih bisa ketawa, ... jadi serius, ... jadi keringatan, ... terengah-engah, malah jadi galak kagak mau disapa lagi, saking ngototnya mau nempel si-pembawa bendera !
Waktu bersiap start kita sudah urut-kan; yang bawa pertama adalah Ka-regu, selanjutnya rekan-1, selanjutnya rekan-2 dan 3, lalu saya kebagian cadangan-1 dan ada cadangan-2 sampai 3.
Jadi namanya gulir-kacang begitu, ... yang sudah ditentukan urutan-nya tidak boleh nyusul pembawa di-depan-nya. Itu berarti ada 7 anggauta yang besedia atau harus bawa bendera, lainnya tidak boleh. Kalau sudah mau nyampe, silahkan mana yang masih paling dol, kebut aja katanya ! Jadi saya harus menjaga jarak pada urutan ke-empat dibelakang bendera B.
Nah, ... waktu awal turun masih bagus, ... gruk, grak, ... gruk, grak, ... berirama enak didengar !
Dalam waktu tidak sampai 10 menit, dengan ada bendera lain yang saling susul, kacau deh barisan-nya. Tadinya barisan rapat dan apik seperti ular, ... jadi gedebak-gedebuk, ... bahkan mulai main sikut sama temen sendiri dari regu lain. Pasalnya, ada dua bendera yang dibawa lari barengan sih. Jadi barisannya kecampur aduk lewat jalur tanah yang sempit. Dari punggung bukit yang kita lewati nampak 3 bendera yang turun saling berkejaran, sampai ...
Menit ke 15, satu bendera tidak kelihatan lagi, entah nyelonong kemana, yaitu 'A', motong jalan? memangnya mau motong punggung bukit kemana, jalannya lurus kok ? Gedung sate kelihatan pas dihadapan kiri kok !
Menit ke 25, bendera B sudah pindah ke rekan-3, pas didepanku. Wah saya harus siap-siap nih ambil oper tongkat estafet. Bendera C ada di-depan sekitar 100 meteran dengan pengikutnya 4-5 orang saja. Menoleh kebelakang, regu saya juga masih ada 4 orang yang bajunya sudah banjir !
Sekitar menit ke 30 bendera disodorin saya tanpa diminta. Saya perlambat sedikit dan berlari sejajar dengan sisa regu B yang 5 orang ini. "Gimana, sama-sama beriringan atau boleh ngebut duluan ?" saya tanya terengah-engah. Ada yang kasih jempol, ada yang ngangguk, ada yang teriak " ... seeph, sikat aja ... ", tapi ... waduh, ada juga yang malah berhenti dan ... jalan kaki.
Sekali bendera ditangan, macam ada setroom mengalir, ditambah dorongan rekan se-regu, udah deh, itu kaki jadi meluncur deras, ... mendekati buntut regu C dan karena sendirian, mudah saja menyelinap nyusul ke-enam 'musuh' didepan dalam hitungan 5 menit. Sekali didepan, wah harus kemana nih ? Kalau kita dibelakang ya ... tinggal ngintil yang didepan, tetapi kalau kita yang didepan, ... harus nentukan arah yang benar dan ... menjadi 'the leader', itupun kalau tidak salah jalan !
Tetapi dengan berada didepan, bukannya tambah mudah, orientasinya malah harus lebih waspada ! Nah, disinilah baru kepake pengalaman blusak-blusek daerah Dago-Cisitu yang sering kulakukan. Waktu jalur yang seharusnya ke kiri mengikuti jalan tanah, lewat jembatan atas curug Dago, malah saya ambil ke kanan, langsung turun lembah.  Udah deh sekarang benar-benar sendirian, karena nampak semua regunya C ikut kekiri dengan sisa regu B dibelakangnya.
Kali ini saya pakai gagang bendera sebagai tongkat penahan, nembus belukar dan akar pohon, langsung turun lembah dan nyeberang kali sekitar 200 meter dibawah curug yang banyak batunya, nyebur sedikit dan ... melanjutkan ke arah Cisitu dan keluar di atas perumahan dosen ITB Sangkuriang. Tetap sendiri, ... dan sekali lewat jalan besar, kok rasanya malu-maluin bawa bendera, ... sendiri pula, ... banyak yang pada melongo, dikira mahasiswa gile mungkin ? Kalau jalan kaki, ya memang seperti apa kesannya, jadinya terus saja lari sambil sekali-sekali menoleh kebelakang seolah-olah ada yang ngejar, padahal sudah tahu pasti tidak ada yang ikutin !
Betul juga, sampai di pintu pagar sempit utara kampus, berhenti dan ... rasanya seperti mau mampus saking ngotot larinya. Ada warung teh kecil dekat pagar, enggak tahan, ... duduklah menjengkang dikursi kayu, enaaak banget. Haus dan capainya bukan main. Nikmatnya duduk itu ! Dan ditunggu-tunggu, mana yang lainnya ? Si bapak warung meyakini bahwa belum ada 'baju ijo' yang lewat, sambil nyodorin ... teh hangat !
Mau melanjutkan sendiri ke Mako, enggak ada orang ditempat, ... ah, si 'malas' bilang tunggu saja enakan ... !
"Wah enggak ada duitnya kang, jangan pake manis !" kata saya sambil ngiler lihat segelas teh itu, takut dia kasih harga padahal se-ketip-pun tidak bawa uang receh !
Masuklah teh hangat ke mulut, eh ... tetap aja pake gula, artinya ... ya musti bayar nantinya.
Habis minum, energi kembali, ditunggu ada 5 menit belum juga ada yang muncul, lama banget, gimana nih ? Makin lama duduk, makin lengket pantat ke kursi papan itu, alias ... malas bangun dan berdiri lagi, ... apalagi lari !
Se-menit kemudian nampak bendera hijau datang dengan 3 orang dibelakangnya, eh mereka lewat jalur jalan Dago, ... melihat mana langsung saya acungkan tongkat benderaku. Mereka melewati tempatku duduk, langsung masuk pagar, diajak minum malah tidak menoleh. Baiknya yang nomor 3 berhenti, tapi bukan untuk saya ajak minum tetapi, dimintain sepeser uang receh ... yang langsung saya berikan pada pak warung, dilanjutkan lari dibelakang regu C sampai akhirnya bisa nyusul lagi setelah dekat lapangan basket.
Sampai depan Mako, nungguin sampai semua terkumpul ada satu jam-an.
Hasilnya ? diumumkan oleh Wadan ... urutan pertama Regu C (karena masuk paling lengkap), diikuti B (hanya bendera dan satu orang) sedang A di-diskualifir, ... karena kena pasukan penyapu !
Betul-betul suatu kegiatan yang menegangkan sekaligus menyenangkan !
 
Akan hal manfaat yang diperoleh ? Regu C, meskipun lebih lambat, tapi konstan, tanpa berhenti dan ... yang paling penting ... membawa massa pendukung sekaligus pengganti pembawa bendera !
Regu B ? Meskipun sampai duluan, ngebut didepan, tapi tanpa pendukung, dan kalau ada apa-apa sama si-pembawa, tidak ada yang tahu dimana dia berada ! Bahkan anggauta regu B banyak yang gabung dengan regu C dan ... tanpa bendera, kasihan juga !
 
Saya belajar banyak dari kedua anekdote yang dialami sendiri diatas, yang dalam kehidupan sehari sering ketemu hal yang sama, ... heh heh heh ....
 
Wassalam,    joseph wardi.
 
--
--[YONSATU - ITB]------------------------------------------------------
On-line arsip : 
Moderator     : 
Unsubscribe   : 
-----------------------------------------------------------------------


Anda terdaftar di List ini dg alamat : [email protected]

Kirim email ke