Wcds, kerabat dan rekan-rekan,
Pertama salam untuk rekan ABS, Purnomo R dan pak Giri Suseno yang katanya sempat mengikuti beberapa cuplikan posting ini. Kenapa ?
Karena kebetulan dalam cerita ini juga, sempat saya dengar entah dalam posisi bagaimana pak Giri S pernah terlibat dalam urusan jalur selatan yang kebetulan pas saya gambarkan dibawah !
 
Subuh, 05:00 Jum'at 27 Juli terhenyak bangun, samar-samar terdengar gemuruh ombak yang ternyata tidak terlalu jauh dari penginapan. Kemarin malamnya kok tidak terdengar ? Tidur pulas mengkali ! Cepat-cepat beberes, c/o, isi bbo ... lodeh dan telor 1/2 mtg di warung pojok, mampir di Wartel yang belum buka dan ... drive nyeberang jembatan ke ... Barat, selanjutnya melalui pepohonan kelapa, semak, lewat dua jembatan lagi, dengan tetap menyusuri pantai yang kadang jauh kadang dekat sekali dengan jalan dan ... sampailah di suatu tempat dengan pemandangan yang unik, ... 11 km dari Cipatujah, ... 'Batu Pacakup' yang sangat indah. Sebelah kiri / selatan laut ... eh ... samudra yang tidak terbatas, sebelah kanan bukit setinggi 100 meteran dan diantara jalan ke pantai masih tersisa genangan air yang bening hijau selebar 100 meter sepanjang 300 meter, semacam muara tanpa sungai atau teluk yang pada waktu surut tertutup alirannya oleh gosong pasir.
Feeling saya banyak ikannya disini, ... tapi ... jala bambu juga banyak terpancang sekeliling pinggirnya, jadi ... "lupakan saja tempat ini" ... cetus hatiku sebel, ... "kok dimana ada ikan yang gampang, orang yang 'nge-book' dan berebut banyak bener sih ?"
Dalam perjalanan sampai sini memperhatikan dengan seksama bahwa jalan kasar ber-aspal telah sampai ke desa ... Cikaengan (meskipun belum sampai tingkat 'hot-mixed'), sekitar 14 kilo arah Barat Cipatujah yang direncanakan dapat tembus sampai Pameungpeuk (selatan Garut), selanjutnya Sindang Barang dan ... Ujung Genteng / Pelabuhan Ratu.
Selebihnya ke arah Barat belum dapat dilalui kendaraan umum roda 4 kecuali dengan 'off-roaders'
atau dengan 'nge-trail' asyik deh !
Sebelum sampai disini sempat 'spot' satu tempat dimana jalan mepet ke ... pantai karena bebatuan kaki bukit menjorok ke laut. Nah diantara lubang pepohonan bakau sempat nampak suatu pulau kecil di laut, sekitar 1 km pas depan bukit daratan ini. Wow, "jalur yang bagus nih !", tapi lokasinya dibelakang gulungan gelombang no 3 dan ... deburan ombak sebelah selatan pulo ini gede juga ! "Dapat satu spot nih, entar di tengok lagi !" ... kata saya sebelum meneruskan perjalanan.
Karena di depan medan-nya sudah mulai datar, tidak interesting lagi, berhentilah di pinggir bukit ini dengan niat mutar balik. Serentak terpikir ah ... mau lihat dari atas dulu pemandangan sekitar, maka sambil noleh kanan kiri apakah aman ninggalin barang ditengah jalan begini, diputuskan ok saja ! Nampak beberapa anak-anak kecil berseragam SD lewat dan memperhatikan.
Dan karena untuk 'turun-air' toh harus manas-in badan dulu, pergilah aku naik bukit ini yang cukup lebat, jalan setapaknya jelas tapi licin dipagi hari begini. Makin lama pemandangan makin bagus, ... makin luas, ...karena ... makin tinggi.
Naik terus sekitar 15 menit, kenapa belum sampai, padahal rasanya sudah cukup tinggi, sekitar ketinggian Citatah itu lho! Dari tujuan iseng jadi penasaran mana puncak bukit-nya ?
Sedikit keringat sudah terasa ... dilanjutkan naik lagi, makin lama makin sulit, camera yang tadinya digenggam masuk kantong, agar bisa leluasa pegangan batang dan akar, sampai tempat yang curam, terpotong oleh bekas longsoran, ada sekitar 10 meter ke-atas terputus, tanahnya kabur ke bawah ! "Gimana nih ?" ... tanggung nih karena di seberang kelihatan ada dataran berumput yang pastilah ujungnya. Tapi ... kok ngeri lewatin ini, benar juga ... begitu lihat kebawah nampak ... 'a good steep-sliding muddy sand with rocks at the bottom'.
Dasar tabiat waktu Yon-1 muncul lagi, ... ah, coba lewatin, tanggung nih, maka segera buka sandal yang kemarin sempat ngilang itu,  ... taruh begitu saja di pinggir, karena mikir paling 5 menit pp balik lagi habis motret dari atas, easy-lah !
Begitulah dengan merayap pada bukit kanan, ceker jempol kaki nancep ke tanah lunak dan ... beringsut mendekati sambungan jalan yang diatas.
Baru 4 meter maju kok tanpa dinyana terasa ada yang memperhatikan ... belakang telingaku bergetar, ... langsung berhenti, ... karena artinya 'warning'. Lihat ke belakang masih dekat, ... ke bawah waduh curamnya, ... ke-atas, ... hey 'what is that ?' ... apa tidak salah mataku ?
Ini sungguh luar biasa, ... atau kebetulan saja ? Sudah ada orang duluin saya diatas, ah, ... pasti lewat jalur lain, karena jalan yang saya lewati tidak ada jejak pada tanah yang lunak ini.
Tapi yang luar biasa untuk-ku adalah ... posisi dia berdiri, kok enggak takut jatuh, ... pakai sorban putih, sudah tua, pegang tongkat, jubah putih panjang ! Ini betul-betul diluar dugaan-ku.
Tenangkan hati. Beberapa detik saya terdiam sambil lihat kebawah, kiri-kanan dengan harapan tadi itu hanya halusinasi atau sejenisnya. Pikiran dan badan saya normal saja kok ! Maka sekali lagi saya lihat ke atas dengan harapan ... ah ... tidak ada ituh ! Mau kucek mata, takut kotor kena tanah !
Begitu nengok ke atas, eh ... mata-ku kagak salah ! Bapak baju putih itu masih ada, dan bergerak, bukan barang mati ! Kali ini saya berani sapa ... "Embah, tiasa teras ka puncak-na ?"
Dia tidak menjawab, tetapi ... menggelengkan tangan dan ... nunjuk ke ... atas dengan tangan kirinya, tangan kanan-nya memegang sesuatu !
Wow, 'I get the message !' Sekali lagi saya jawab "nuhun, embah" dan segera  memutuskan 'to withdraw', tapi tempat pijakan bekas pertamaku terlalu lunak ... jadi harus ambil posisi naik dulu di tempat baru yang belum terjamah, baru turun 2 meter diatas tempat awal. Justru disini entah bagaimana pegangan batunya lepas, melorotlah aku ketempat semula, ... dan ... batu beserta tanahnya menyapu kebawah ... sekalian bawa sandal-ku meluncur.
Waduh, keringat dingin terasa, ... untung melorot diatas jalan setapak, bukan tadi di tempat longsoran ! Setelah ketegangan hilang, terpikir ... hampir saja ... salah langkah !
Buru-buru ambil foto dari tempat yang bagus ini, nengok keatas, si-'embah' tidak ada, longsoran-nya baru saya perhatikan ... masih baru ! ... jadi sangat lunak dan memang belum aman !
Saya betul-betul berterima kasih pada yang 'Di Atas', dan kembalilah lewat jalan semula sambil sekali-sekali ambil posisi jepret pemandangan yang bagus.
Begitu sampai ke tempat pepohonan yang lebat dan agak datar, sudah melupakan kejadian tadi dan sambil tetap berhati-hati melangkah, nampak dari sebelah kanan saya gerakan dan 'dehem' seorang, yang mungkin penebang kayu. Waktu mau saya lewati, dia malah menegur duluan dan menyodorkan ... dua onggokan tanah, ... ya ... sepatu-ku itu ! What a surprise ! teriak-ku dihati.
Jawaban yang diberikan-nya sederhana waktu ku-tanya bagaimana bisa ketemu, "bapak enteu naon-naon, ngalongok aya kareta markir, sorangan wae, ... kamari aya longsor-an".
Nah jelas buat saya sekarang, dia curiga dan siap waktu dengar ada yang jatuh, dikira si 'bapa' eh, tahunya sepatunya doang ! Tinggal cari di dasar longsoran !
Penasaran saya tanya: ... "aya saha di ditu", sambil menunjuk jari ke atas, yang dia jawab ... "atos lami aya Karuhun !"
Wah, apa yang sebenarnya terjadi tadi tidak saya ceritakan padanya, namun logika-ku jelas sekali. Someone, something warned me ! Dan yang paling lucu, ... untuk kedua kalinya 'I get my shoes back !'
Begitu turun, di depan 'Kuda' ku nampak nangkring sebuah pick-up kuning dengan tiga penumpang-nya berdiri. Saya lambaikan tangan karena tahu mereka orang PU yang sedang ngerjakan jembatan di kilo 13-14. Ngobrol sana-sini sempat terdengar bahwa jalur jalan ini direncanakan atau mulai direalisir semasa pak Giri Suseno megang jabatan entah Dirjen HubDar, atau saat Menteri.
Rupanya mereka juga memperhatikan longsoran yang kelihatan jelas di atas dari jalan besar, tidak kuceritakan apa-apa pada mereka.
Teringat nun jauh di tahun 1967 saya ber-empat pernah melewati jalur ini melalui pantai, tidak terbayang akan ada jalan seperti ini, bahkan bentuk bukit, teluk dan yang kulihat dari arah berlawanan masih teringat di benak-ku. Ada juga kemajuan setelah 34 tahun ini ! Padahal pemandangan-nya bagus sekali, apalagi kalau sudah tembus ke Pameungpeuk lewat Leuweung Sancang yang penuh misteri itu.
Setelah basuh kaki dan sepatu di pinggir jalan, balik ke lokasi 'Spot' pertama untuk nyoba lihat lautnya !
Disambung lagi ...
Wassalam,  j. wardi.
 
--
--[YONSATU - ITB]------------------------------------------------------
On-line arsip : 
Moderator     : 
Unsubscribe   : 
-----------------------------------------------------------------------


Anda terdaftar di List ini dg alamat : [email protected]

Kirim email ke