mendarat di juanda sudah sore...... parkir di scramble area sebelah sisi barat juanda..........parkir disebelah  Boeing 737 yang enginenya dilepas dan kelihatan cacat di leading edge sayap kirinya....... kata personil di bawah " itu mas pesawat bouraq lagi training... pilotnya ngelamun taxi bukan ngambil garis kuning tapi garis putih......walhasil sayapnya mentok ke tiang listrik.... " weleh weleh... ada ada ajah.....setelah tie down... kami meluncur ke mess TNI AU......kali ini karena sedang menjadi rombongan pilot maka kamar messnya dapat yang ada AC-nya......... tidak seperti RON di Medan waktu ke Aceh sebagai kurawa.............
 
Semalem di Surabaya sempet makan malem bersama temen lama (rambut panjang tentunya) bernostalgia mengingat "yang belum terjadi" bukan yang "sudah sudah" he he he
 
paginya kami bersiap untuk berangkat ke Bali, flight plan mengambil route Juanda - Pasuruan - Probolinggo - Situbondo - Negara - Tanah Lot - Ngurah Rai. cuaca pagi itu cukup cerah.
 
Sebenarnya untuk menyingkat waktu kami bisa menarik garis lurus dari Juanda ke cek point Entas , tepatnya sebuah titik di lepas Tanjung Pacinan Situbondo mengikui domestic route (w-43; heading 102 degrees).
Tapi  dengan single engine terbang di atas laut kalau ada apa-apa..... he he he buat yang pernah ngrasain emergency/dead stick landing rasanya geli  di telapak kaki bila harus melewati tempat yang tidak dapat didarati (sukris sekali pernah terbang pakai ultralight pulang dari pangandaran dan terpaksa harus mendarat di tanah lapang ukuran setengah lapangan bola di kampung Cimangkok Sukabumi........ engine quit terjadi karena aliran bejana berhubungan diantara tiga tangki tidak lancar, fuel tangki kiri dan kanan di pertemuan/joint pipa tidak bisa mengalir secepat tangki tengah, begitu tangki tengah habis....he he he .....salah sukris juga kemarennya sewaktu mendarat di Margahayu tidak langsung ngecek fuel di tangki.......memang biasanya kami ngecek fuel pada waktu berangkat saja dan tentunya setelah menginap semalem fuel di ketiga tangki sudah rata lagi......sebaiknya fuel harus di cek dengan mata kepala sendiri baik sebelum dan sesudah terbang supaya tidak terjadi hal yang sama......kalau inget itu untung sekarang masih bisa nulis cerita.......perasaan mengalami engine quit kira kira sama seperti penerjun sedang demo di daerah yang kita belum kenal dan salah spotting)
 
Melewati Situbondo Captain Tagor sempat bergumam... "eh ini dia negara Situbondo yang pingin merdeka itu ", buat sukris melewati Entas inget tahun 1999 terbang naik Dakota "Den Bei" sewaktu ke Bali & Lombok untuk terjun boogie kecil kecilan....... saat itu dari daerah ini sampai Negara kami melewati cuaca yang sangat buruk, pesawat terbanting banting seperti bulu ayam di film "Forest Gum" padahal Dakota sistem kemudinya masih bener bener manual (Den Bei adalah pesawat C-47 Gunner buatan 1942 yang dulunya dipersenjatai dengan AM-M3 50 Caliber .... tidak ada auto pilot yang menjaga stabilitas........bau cockpit sangat khas karena bocornya pipa hidrolik, maklum sudah tua ....oli hidrolik dan cara kerjanya mirip sistem hidrolik mobil Citroen yang sudah tua - creeek  creeek begitu bunyinya)
 
di penerbangan ini sukris makin maklum tentang dunia penerbangan militer (nggak tahu kalau di penerbangan sipil) .......yang duduk di seat kiri (captain pilot) pangkatnya lebih senior dari yang duduk di kanan, tetapi si yunior (duduk di seat kanan) adalah berkwalifikasi instruktur dan lebih banyak jam terbangnya di dakota........pada saat menerjang badai & hujan... air hujan  masuk ke cockpit membasahi coverall pada kedua crew  tersebut sampai basah kuyup..... dilihat dari indicator pesawat naik turun, oleng kiri kanan... sepertinya yang duduk dikiri mulai kurang menguasai kemudi... oleh yunior yang notabene instruktur diberikan instruksi instruksi...... lama lama nadanya marah....lama lama bentak bentak.........lama lama tangan kirinya ikut nunjuk nunjuk attitude dan vertical speed indicator didepan tempat duduk sebelah kiri..........wah gawat......... kalau jaman dulu ada film berjudul "the longest day" yang dibintangi John Wayne.......di penerbangan ini sukris ngrasain moment "the longest day".........pada keadaan seperti itu selalu berpikir "ngapain ikutan yang beginian...... enakan tidur selimutan sarung di kos-kosan...."
 
waktu  keluar dari badai kira kira di antara gunung Sangiang dan gunung Kelatakan sebelah utara Negara - Bali Utara dengan posisi pesawat miring/bank  60 degrees.............hiiih........ selesai boogie pulang kembali ke  Jakarta sebagian penerjun pilih pulang naik airlines... takut mengalami hal yang sama.........
 
Setelah sekitar dua jam seperempat Fasi flight mendarat di Bandara Ngurah Rai...... sukris baru tahu juga abang kita penerbang Skyhawk ini rupanya belum pernah mendarat di Bali, karena pesawat tempur selalu mendaratnya di lanud utama auri seperti Madiun, Ujung Pandang,Halim, Pekanbaru.....not Ngurah Rai International........lucu juga......... 
 
Malemnya Fasi flight diundang Dan Lanud Ngurah Rai Letkol . Pnb. Anas (mantan pilot Hercules C-130) makan malem di pantai Jimbaran yang indah permai (pengunjungnya maksudnya) bersama-sama Pangkoospau II - Marsda   Djoko Suyanto, mantan Komandan Skadron  Udara 14 F-5E Tiger (Callsign Eagle 10 ); pilot Skyhawk (Callsign Thunder 35) .... juga pilot Sabre F-86..... Pak Djoko ini buat Capt. Yudhianto adalah seperti Bapak angkatnya sewaktu bertugas di skadron 14 (F-5) ...... kebetulan sekali coverall hijau yang hari itu dipakai Yudhi adalah pemberian pak Djoko sewaktu di skadron ......... menarik juga melihat pertemuan dan keakraban mereka..... beliau cerita mereka berdua harus test flight pesawat F-5 yang habis mati engine sewaktu diterbangkan pilot lain saat mereka latihan bersama di Korat AFB -Thailand.......
 
Pak Djoko Suyanto adalah salah satu dari tiga penerbang terbaik Auri yang pernah mengikuti  course di "USAF Fighter Weapon Instructor School" di Nellis Air Force Base - Las Vegas -Nevada. Nellis adalah home base dari Thunderbirds (tim aerobatic USAF) dan juga "Red Flag" sekolah Top Gun-nya angkatan udara.
Lulusan sekolah ini diharapkan menjadi seorang ahli di masalah taktik, teknik & prosedur sistem persenjataan pesawat tempur dan melewati standard tertinggi dalam  hal "officership" dan "airmanship".... beliau cerita berkesempatan mengatur penyerbuan udara dari Nellis ke Miramar-Fighter Town - sebelah utara San Diego California (Top Gun  US Navy)...........cuman biaya course ini lumayan mahal,karena baik peluru & bom yang dilepaskan oleh Pak Djoko di-bill ke kita .. kalau tidak salah angkanya mencapai US$ 500 ribu... busyet .... bisa dibelikan pesawat cessna 172 brand new full option dua biji.............
 
yang jelas sangat membanggakan kita mempunyai putra bangsa yang berpengalaman seperti itu..............." di atas langit masih ada langit...........kata dunia persilatan"
 
memang dalam kehidupan ini kita tidak boleh takabur......" biasa saja " kata Pak Adnan Mokodompit (Aves 002 & Yon I 1965 ?) selalu..... seperti tim terjun kami rata rata jumlah terjun hampir 3 ribu kali, rasanya udah hebat ......begitu ketemu Jack Jeffery/Tim Airspeed juara dunia , umur 35 tahun ......... jumlah terjun ?   16 ribu kali.............."tobaaaat  ampuun pelatih".......
 
besoknya kami rendevouz dengan Marsma TNI Pieter LD Watimena (Hawk 05) yang bertugas memimpin panitia Air Rally 2001, saat ini beliau adalah Direktur Keselamatan Terbang dan Kerja Mabes TNI AU.  menarik juga.... di tahun 1980 sukris klipping berita & foto koran Kompas tentang datangnya pesawat Hawk dari Inggris yang diterbangkan oleh pilot pilot kita.
Salah satunya adalah pak Watimena ini..........orangnya sangat periang... seperti layaknya nyong Ambon Manise.......tapi kalau sedang serius....... ati ati...........
 
wah ngelantur sukris....... sekian dulu.......
 
wassalam.....
 
sukris
 
--
--[YONSATU - ITB]------------------------------------------------------
On-line arsip : 
Moderator     : 
Unsubscribe   : 
-----------------------------------------------------------------------


Anda terdaftar di List ini dg alamat : [email protected]

Kirim email ke