Yon-1 boleh bangga punya Jendral (yang lagi menyamar) namanya Akhmed berasal
dari kota Bukhara kalau tidak salah di Tajikistan sana. Bravo. Kita masih
tunggu analisa perkembangan selanjutnya.

Salam
Indradjaja Dalel

 -----Original Message-----
From:   Akhmad Bukhari Saleh [mailto:[EMAIL PROTECTED]] 
Sent:   Thursday, November 15, 2001 10:28 PM
To:     [EMAIL PROTECTED]
Subject:        [yonsatu] Tactical  (Re: [hankam] Grand Strategi Taliban)

  Purnomo Rusdiono wrote:
>Paling tidak ada tiga grand strategi yang saat ini dimainkan oleh Taliban
dalam meninggalkan kota Mazar Sharif dan Kabul. Karena secara logika
tidaklah mungkin aliansi utara dengan mudah menembus propinsi-propinsi di
Utara dan Kabul setelah 5 minggu berturut-turut Milisi Taliban mampu
menghadapi serangan AS dan sekutunya.
>

Ada pendapat/analisis yang lain.
Pertama, menurut analisis itu, langkah Taliban ini bukanlah langkah
strategis.  Apalagi  kalau mau dibilang grand-strategy, jauh dari itu. 
Tetapi ini hanya langkah taktis, yaitu tactical retreat.

Lalu, tactical bagaimana?  Marilah pertama-tama amati peta Afghanistan. Dari
lokasi berbagai kota yang diperebutkan di sana, akan terlihat bahwa Taliban
memang perlu mundur dari Kabul, karena jatuhnya kota Herat serta kemajuan
pasukan Aliansi Utara dari Selatan. Keadaan itu mengakibatkan kedudukan
Taliban di Kabul terancam terkena gerakan lambung musuh (encapsulated).
Antara lain, garis komando dan logistik yang utama antara Kabul dan
Kandahar, pusat kekuatan Taliban lainnya (Mullah Omar justru ada di
Kandahar), terancam akan terputus.

Dengan analisis yang sama pun, kelihatannya mundurnya Taliban sebelumnya
dari  kota Mazar-e-Syarif juga tactical retreat. Memang waktu itu Herat
belum jatuh, tetapi Taliban sudah memprediksi kota itu toh akan jatuh karena
penduduknya umumnya bukan suku Pashtun dan sangat membenci Taliban sebab
pernah ada pembantaian kaum Syiah oleh Taliban di sana.
Jatuhnya Herat pun membuat jalur komando dan logistik Taliban terancam
putus.

Putusnya garis komando dan logistik membuat posisi suatu garnisun Taliban,
apakah Kabul ataukah Mazar-e-Syarif, menjadi rawan, karena saling bantu
antar garnisun Taliban sudah sulit dilakukan mengingat adanya ancaman
round-the-clock terhadap pergerakan (konvoi) pasukan maupun supply karena
air superiority AS dan Inggris.
Setiap suatu garnizun Taliban yang stand alone, selanjutnya akan menjadi
rawan, karena di tiap tempat ada saja unsur masyarakat yang memusuhi
Taliban, baik karena masalah suku, mashab keIslamannya, maupun karena
dendam-dendam lainnya. Memang begitulah kondisi Afghanistan yang petabumi
politiknya sangat rumit.

Orang-orang di Indonesia yang tempo hari sok demo-demo mendukung Afghanistan
tidak menyadari hal ini. Katanya mau jihad ke sana, tetapi tidak tahu mau
jihad di pihak yang mana dan melawan yang mana?  Semua pihak juga Islam.
Mau melawan Amerika atau Inggris? Nyatanya sampai sekarang belum ada tentara
"kafir" itu di darat di sana!
Mereka adanya di langit tuh, sementara "laskar jihad Melayu" ini nggak bisa
terbang...

Kelihatannya tactical retreat Taliban dari Mazar-e-Syarif dan Kabul ini
untuk memusatkan perlawanan di gunung-gunung sekitar Kandahar. Dikatakan
"sekitar" karena kota Kandahar-nya sendiri pun mungkin akan dilepas, karena
di dalam suatu kota ada banyak mata-mata maupun kolone ke-V musuh, sedangkan
Taliban sendiri pada hakekatnya merupakan pergerakan purist fundamentalist
yang berbasiskan pesantren-pesantren di pegunungan itu.

Kemarin-kemarin ini ada himbauan dari berbagai pihak, termasuk Amerika, agar
pasukan Aliansi Utara tidak masuk Kabul. Tetapi nyatanya Kabul toh sekarang
secara fisik sudah dikuasai pasukan anti Taliban itu.
Analisis ini menduga Amerika memang sengaja melempar dan membesar-besarkan
issue bahwa  Aliansi Utara tidak akan masuk Kabul, dengan harapan agar
Taliban tetap bertahan di kota ini. Dan untuk bertahan di Kabul, maka
Taliban akan harus mengurangi (memperlemah) konsentrasi kekuatannya di
Kandahar.

Selanjutnya pertahanan Taliban di Kandahar yang kurang kuat akan mendorong
munculnya keberanian unsur-unsur milisia Taliban yang bukan asli orang
pesantren untuk membelot, atau bahkan memberontak, pada rezim Mullah Omar
itu.

Unsur-unsur moderat ini yang nantinya diharapkan Amerika akan mewakili faksi
Taliban dalam suatu pemerintahan baru pasca-Taliban di Afghanistan, yang
lebih American friendly. Adanya unsur Taliban ini penting bagi Amerika
karena Aliansi Utara pada hakekatnya juga bukan sahabat Amerika.  Sehingga
mereka (Amerika) sangat mengharapkan adanya balance of power dalam suatu
pemerintahan koalisi Afghanistan.

Suatu pemerintahan koalisi yang tidak kompak akan mudah mereka "atur-atur",
apalagi kalau dua pendekatan "dimainkan" berganti-ganti secara taktis,
pendekatan militer ("stick") dan pendekatan bantuan ekonomi ("carrot").
Sehingga upaya selanjutnya untuk mengkikis unsur milisia asing (Arab) yang
dimotori Al Qaeda, sukur-sukur bisa menangkap Osama, dapat dilakukan justru
dengan bantuan pemerintahan baru Afghanistan itu.

Sementara itu bagi Indonesia, kalau benar terjadi adanya keikut-sertaan TNI
dalam pasukan perdamaian di Afghanistan pasca-Taliban, ini akan merupakan
terobosan diplomasi yang gemilang. Ke dunia Islam citranya akan OK, ke
Amerika juga OK. Jadi hari-hari ini semua upaya Deplu dan Dephan seharusnya
difokuskan ke arah sini.


Wasalam.



-- 
--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]?BODY=vacation%20yonsatu>
1 Mail/day     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]?BODY=set%20yonsatu%20digest>

-- 
--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]?BODY=vacation%20yonsatu>
1 Mail/day     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]?BODY=set%20yonsatu%20digest>

Kirim email ke