Mungkin ada trouble (entah dimana?), karena E-mail ini saya kirim kemarin
dan hari ini saya coba kirim via yahoo.com, ternyata dijawab "tidak dikenal
[EMAIL PROTECTED]"..lho kok?.
Salam
Asodik
> -----Original Message-----
> From: Abdul Sodik
> Sent: 07 Januari 2002 17:12
> To: '[EMAIL PROTECTED]'; [EMAIL PROTECTED]
> Subject: Korelasi BBM dan GABAH
>
> Mungkin diantara anda ada yang tahu, mengapa BULOG (DOLOG = Depot
> Logistik) begitu primadona beritanya di mass media yang saling susul
> menyusul dengan berita seputar kenaikan BBM. Adakah korelasinya...?
>
> Kita tahu bahwa dana nonbujeter BULOG begitu besarnya (konon, triliunan
> rupah..dari mana yah kok PERTAMINA tidak punya atau punya sih?), sehingga
> "wajar" kalau banyak yang sekedar "ngiler" sampai bahkan mungkin ada yang
> lebih dari itu..sampai-sampai terseret menjadi "tersangka" dalam penyalah
> gunaan dana nonbujter tsb.
>
> Kalau isu "kenaikan BBM" lebih banyak khalayak "mudah" menuding pejabat
> PERTAMINA "korupsi" atau inefisien atau PEMERINTAH tidak becus dsb. Tetapi
> sebaliknya jika mengenai isu BULOG kok tidak ada yang menelusuri atau
> meneliti bagaimana dan darimana sumber dana segede itu yah?. Jangan-jangan
> begitu ada yang mulai meneliti ditawari agar ikut "mencicipi" dana non
> bujeter yang segede itu?!. Sementara itu petani kita yah..tetap miskin
> terus yang berbeda dengan "petani minyak" mana ada yang miskin kan? Apakah
> itu bukan berarti ada "sistim" yang membuat para petani tidak lebih
> sebagai "buruh di ladang sendiri?". Kalaupun mereka untung, tetapi tenaga
> seluruh anggota keluarga yang mulai mencakul sampai memanen tidak dihitung
> sebagai ongkos produksi...paling-paling cuma "makan tidak makan pokoknya
> kumpul"..kata para petani dengan senyum getirnya.
>
> Beberapa waktu yang lalu, saya berbincang dengan seseorang yang lagi
> "mumet=pusing" dan mengaku sedang mencoba sebagai pemasok "gabah" (padi)
> ke BULOG ....ternyata penuh liku-liku dan sungguh sangat memprihatinkan.
>
> Dari bincang-bincang tersebut saya simpulkan seperti ini:
> Coba anda bayangkan 1kg gabah kering dari tangan petani hanya di hargai
> sekitar Rp900, padahal harga gabah tsb sampai bulog sekitar Rp1500,-. Nah
> yang Rp600,- ternyata dinikmati lebih dulu oleh "pos-pos dari
> tengkulak-konsorsium pembeli-kontraktor/koperasi-BULOG". Dari tengkulak
> dijual sekitar Rp1100 ke Konsorsium pembeli, yang selanjutnya akan dijual
> ke "kontraktor/koperasi" yang mendapat kesempatan berbisnis (terdaftar
> sebagai rekanan) dengan BULOG. Sudah bisa dipastikan mereka tentunya juga
> akan mengambil keuntungan lebih dulu sebelum mereka "kasak kusuk" memberi
> "upeti" tanpa bukti hitam-putih ke oknum BULOG (yang berkompeten dengan
> urusan DO=Delivery Order), karena kalau tidak memberi upeti, maka proses
> akan terhambat. Apa itu juga "win-win solution"..weleh-weleh..itu sih TST
> (Tahu Sama Tahu...katanya).
>
> Sebetulnya pemerintah juga sudah turun tangan menaikkan harga dasar gabah,
> tetapi itu hanya hitungan di atas kertas....dan kelihatan sulit sekali
> terrealisasi. Mengapa?. Jika harga dasar gabah dinaikkan otomatis
> "pos-pos" antara petani dan BULOG tentunya juga tidak ada yang mau rugi
> kan. Semisal "harga dasar gabah" di tingkat petani dinaikkan pemerintah
> menjadi Rp1200/kg, maka kontraktor tidak akan pernah dapat barang dengan
> harga Rp1200 atau lebih rendah, karena tengkulak juga ogah membeli dari
> petani, kan tengkulakpun ingin untung. Jika kondisi semacam ini terus
> berlanjut ("kelangkaan gabah") maka BULOG tidak dapat pasokan gabah yang
> baru dari kontraktor, maka kontraktor "wajib" menggiling gabah yang ada di
> gudang BULOG untuk menjadi beras. Konon kabarnya lho.. BULOG memakai
> subsidi BBM untuk menggiling gabah-gabah yang ada di gudang BULOG, nha
> lho..itu korelasi yang perlu diferifikasi kebenarannya.
>
> Selanjutnya, bisa di tebak gabah petani kembali harganya jatuh seperti
> semula karena petani kan butuh makan dan kebutuhan lainnya selain gabah.
> Pada akhirnya para petani "menyerah tanpa syarat" kepada tengkulak dengan
> menjual gabah sesuai harga seperti semula (dari pada padi mereka tidak
> laku dijual). Lebih-lebih yang "mengijon" padi sebelum menguning dengan
> meminjami modal atau pupuk kepada petani, maka mereka lebih leluasa
> menentukan harga gabah. Disitulah para petani umumnya tidak akan pernah
> berdaya merubah nasib. Kalaupun ada, anak petani tersebut menimbah ilmu di
> perguruan tinggi dikota-kota besar misalnya.....tetapi merekapun juga
> tidak berdaya. Paling-paling mereka cuma bisa bersyukur bahwa anak petani
> tidak menjadi petani, bukannya mereka berjuang bagaimana nasib petani di
> kampungnya agar menjadi "tuan di ladang sendiri".
>
> Duh..negara kita yang negara "agraris" ternyata menyisakan nasib petani
> "AGak tRAgis dan miRIS", walau sebenarnya lebih dari "agak" yah?.
> Seharusnya sih DPR/DPRD bisa melakukan studi banding ke Thailand atau
> negara pengekspor beras, kok petani mereka bisa makmur sementara petani
> kita tetap miskin dan "terbelakang". Kalaupun mereka ke Luar Negeri,
> hasilnya yah...kemakmuran "dinikmati" untuk kalangan pejabat sendiri...
>
>
> Salam
> Asodik
>
--
--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation : <mailto:[EMAIL PROTECTED]?BODY=vacation%20yonsatu>
1 Mail/day : <mailto:[EMAIL PROTECTED]?BODY=set%20yonsatu%20digest>