----- Original Message ----- From: "Syafril Hermansyah" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Friday, December 20, 2002 1:15 PM Subject: [yonsatu] Re: Dirampok Singapura
> Bisnis saya bukan Telekomunikasi, akan tp menggunakan jasa itu secara > instens. Saya sih berpendapat bhw ini preseden yg baik dari segi bisnis, > krn berarti satu lagi monopoli perusahaan pemerintah dilepas. Ini baru pemikiran progresif. Jaman sekarang uang (modal) tidak mengenal kebangsaan. Singapura saya yakin bukan uangnya sendiri juga, dia cari lagi di international money market. Begitu juga mereka yang sekarang mulai berani invest di Indonesia, seperti Malaysia dan Cina, pasti itu modal dari orang lain. Barangkali Jepang, Eropa, Amerika, Arab, dan, yang pasti ... Yahudi. Yang penting dia investasi di sini. Berbeda dengan investasi natural resources, maka investasi infrastruktur, property dan semacamnya, hanya bisa memberi pekerjaan pada anak negeri, wujud investasinya (barangnya), untung ataupun rugi, tidak bisa dibawa pergi. Kalau bangkrut, dia rugi uang, tapi salvage value-nya tetap saja tidak bisa dibawa pergi. Kalau dia untung, namanya juga usaha, kalau untung ya wajar. Dan pintar-pintar dia membuat usahanya jadi untung. Apakah kalau diurusin para direktur BUMN pasti akan untung? Biasanya malahan rugi (BUMN mana sih yang kita dengar pernah untung? Kalau untung pun, untung 100 dibilang untung 60, lalu 20 buat bonus direksi, dan yang resmi jadi untung buat rakyat tinggal 40). Kalau soal monopoli, itu bukan urusan siapa pemilik perusahaan yang bermain di pasar, tetapi urusan regulatory policy. Bila ada perusahaan yang bermodal Singapura, atau bermodal Amerika, atau bermodal asing lainnya, atau bermodal grup Salim, atau bermodal grup Panigoro, atau pun bermodal BUMN, siapa pun, kalau terlihat mau memonopoli suatu pasar, itu harus dicegah dengan pengaturan persaingan usaha. That's the point. Ini adalah urusan Pemerintah dan Komite Persaingan Usaha. Tentunya masalah penegakan peraturan tidak kalah pentingnya. Orang paling kaya di dunia, Bill Gates, ketika perusahaannya terlihat mulai memonopoli pasar di Amerika Serikat, padahal posisi monopoli-nya itu tercapai secara alamian, bukan secara rekayasa, atau secara tata-niaga, atau secara busuk lainnya, langsung posisi monopoli-nya itu "ditembak" sama Pemerintah AS. Tidak perduli itu modal punya anak bangsa yang menjadi idola kebanggaan mereka (All American Boy). Jangan seperti di sini. Peraturan anti monopoli sudah ada, tetapi kalau ada orang model Taufik Kemas mau memonopoli pompa bensin, semua pejabat, termasuk orang Pertamina, malahan berlomba-lomba memfasilitasi keinginannya itu, untuk cari muka. Kesimpulannya: 1. Makin banyak modal asing investasi di sini makin baik. Terutama di sektor usaha yang mujud investasinya tidak bisa dibawa-bawa. 2. Monopoli itu bukan urusan dirampok Singapura atau dirampok Taufik Kemas. Tetapi urusan penegakan peraturan persaingan usaha yang sehat. Catatan tambahan: 1. BUMN adalah sumber inefisiensi dunia bisnis Indonesia, dan salahsatu "produk"-nya adalah high cost economy. Menurut saya makin banyak BUMN dijual, apalagi ke asing, makin meningkatkan efisiensi dunia bisnis Indonesia, jadi makin baik. 2. Makin berhasil menjual ke asing, makin menunjukkan keberhasilan menciptakan iklim investasi (Ini sangat berbeda dengan penjualan asset BPPN kemarin-kemarin ini, yang kebanyakan dibeli modal dalam negeri, yang sebetulnya adalah pemilik aslinya, yang membeli kembali miliknya dengan harga rata-rata 10 % dari hutangnya yang sebenarnya, dan sisa yang 90% menjadi beban anak negeri). 3. Bahkan investasi asing di bidang exploitasi sumber daya alam pun merupakan hal yang sangat positif. Adanya investor asing mau masuk ke sektor ini secara langsung menunjukkan keberhasilan pemulihan keamanan, peningkatan demokrasi dan realisasi sentralisasi (otonomi daerah) secara sehat. Lagipula perusahaan asing besar yang main di sektor sumber daya alam adalah lokomotif good corporate governance untuk seluruh dunia bisnis Indonesia (tanya Onang, Mulyadi, Iwan Poerwo, dsb.). Soal kekayaan kita katanya dikeruk dibawa ke luar negeri, kembali itu adalah soal regulatory policy dan enforcement-nya. Jangan kita mengobarkan nasionalisme katak dalam tempurung. Wasalam. --[YONSATU - ITB]---------------------------------------------------------- Copy Darat (Halal Bihalal, Natal dan Tahun Baru) akan dilaksanakan 4-5 Januari 2003, lihat footer Milis [EMAIL PROTECTED] Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net> Moderators : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Vacation : <mailto:[EMAIL PROTECTED]?BODY=vacation%20yonsatu>
